Senyap yang Lebih Nyaring


Saya baru mengenal karya sastra pada 2014 setelah dua tahun sebelumnya saya masuk kuliah jurusan Sastra Inggris. Agak lama saya bisa memahami mana buku berkategori sastra dengan yang bukan. Memang masih ada banyak perbedaan tentang makna sastra itu sendiri, tapi sepemahaman singkat saya, buku sastra yang sering saya baca memiliki isu berat yang ingin disampaikan. Lagi-lagi, arti tentang “isu berat” di sini masih bisa diperdebatkan. Tapi menurut pemahaman saya lagi, "isu berat" tersebut adalah tentang kemanusiaan, maksudnya, membahas tentang apa yang manusia rasakan dengan lingkungan dan dirinya sendiri. 

Untuk itu, buku dari Eka Kurniawan berjudul Senyap yang Lebih Nyaring cocok untuk dijadikan referensi bagi siapa pun yang suka kepada pembahasan tentang karya sastra. Sebelumnya, saya sudah membaca empat buku fiksi milik Eka, yaitu O, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Manusia Harimau, dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta melalui Mimpi. Jadi, ini adalah buku nonfiksi pertama dari Eka yang saya baca.

Sebenarnya tulisan-tulisan yang ada di buku ini berasal dari blog pribadinya dari tahun 2012 sampai 2014. Meskipun begitu, pembahasan yang disajikan memang relevan untuk dibaca kapan pun. Pandangannya di sini, selain ia adalah penulis, adalah tentang penilaiannya terhadap penulis lain yang berasal dari berbagai negara, sebut saja Haruki Murakami, Roberto Bolano, Cervantes, Ernest Hemingway, dan masih banyak lagi. Para penulis tersebut sangat memengaruhi karya Eka dan pemikirannya selama ini. Selain itu, ia juga menyampaikan pandangannya terhadap dunia perbukuan, salah satunya di judul Bagaimana Menilai Buku tanpa Membacanya?. Ia berpendapat bahwa ketika membeli buku, seseorang seperti membeli kucing dalam karung karena kita mengeluarkan uang untuk sesuatu yang belum kita ketahui apa isinya. Jika kita merasa cocok dengan buku tersebut atas rekomendasi teman atau ulasan dari internet, kita beruntung; sedangkan ketika buku yang dibeli ternyata isinya mengecewakan, berarti kita kurang beruntung.

Dari buku yang memiliki jumlah halaman 352 ini, ternyata saya merasa cocok dan senang terhadap isi yang dibahas, sehingga saya pun menjadi pembeli buku yang beruntung.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.