Kentut

  • February 23, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 6 Comments

Sumber gambar: boombastis.com

Matahari perlahan tenggelam seolah-olah ia tidak bisa berenang. Padahal, oh, itu sebenarnya bukan tenggelam dalam arti masuk ke dalam air, tetapi maksudnya adalah matahari sudah menjalankan tugasnya untuk menyinari sebagian tempat di Bumi, sehingga ia harus digantikan tugasnya dengan datangnya malam. Namun, bukan itu yang ingin diceritakan.

Di belahan Bumi yang dimaksud, waktu salat magrib sudah tiba. Itu ditandai dengan suara azan yang berbunyi dari setiap masjid atau musala menggunakan pengeras suara supaya para manusia yang mengaku Islam bukan hanya di KTP, dengan kesadarannya harus menjalankan ibadah kepada Allah.

Biasanya setelah menjalankan salat magrib, di beberapa masjid atau musala mengadakan pengajian atau ceramah yang dilakukan oleh pemuka agama setempat sambil menunggu waktu salat isya dan anak-anak yang masih duduk di bangku SD atau SMP mengikuti kegiatan tersebut. Saat itu Nanto Muchlisin, salah satu anak kelas lima SD yang ikut dalam perkumpulan, bertanya kepada sang pemuka agama setelah pemuka agama tersebut selesai membahas secara singkat tentang “wudu”.

“Pak Ustaz, saya mau tanya, kenapa ya kentut itu membatalkan wudu seperti yang dijelaskan Bapak tadi?”

Teman-teman sebaya yang mendengar pertanyaan dari Nanto Muchlisin tertawa mendengarnya. Bahkan, salah satu dari mereka ada yang berteriak, “Iiiih, kan karena baulah, itu jawabannya!”

Sang pemuka agama yang sering dipanggil “Pak Ustaz” tersenyum mendengar pertanyaan dari Nanto Muchlisin dan mencoba untuk memberikan jawaban yang singkat tetapi bisa dicerna dengan baik oleh anak-anak seusia mereka.

“Mohon tenang ya, anak-anak. Itu pertanyaan bagus lho dari Nanto Muchlisin. Jadi, begini ....” Anak-anak mulai tenang dari tawanya dan mulai mendengarkan jawaban dari Pak Ustaz. “Seperti yang sudah kita bahas tadi bahwa secara filosofis wudu adalah Pintu Kesucian yang kita lalui jika ingin berkomunikasi kepada Allah secara formal. Maksud berkomunikasi di sini adalah salat dan secara formal itu maksudnya secara baik, beradab, atau pantas ya. Nah, dalam keadaan seperti itu, tentu tidak etis seandainya kita membuang gas sembarangan yang berasal dari dalam tubuh─atau bahasa sehari-harinya adalah kentut─ketika kita menghadap-Nya.”

Pak Ustaz berhenti sejenak supaya anak-anak bisa memahaminya secara perlahan.

“Contoh sederhananya seperti ini, saat kita menemui presiden secara resmi di Istana Negara, khususnya di ruang kerjanya, tentu saja kita masuk ke sana melalui pintu, kan? Nah, karena di sana kita harus berlaku sopan dan menampilkan sikap sebaik mungkin, alangkah kurang pantasnya ketika tiba-tiba saja kita kentut di depan presiden. Oleh karena itu, ketika kita ingin buang air atau kentut, kita harus keluar dulu dari ruangan tersebut. Setelah itu, saat kita ingin kembali ke ruang kerja presiden, tentunya kita masuk ke sana harus melewati pintu lagi. Kita harus melewati Pintu Kesucian yang bernama wudu kalau dalam salat.”

Anak-anak yang duduk sambil memerhatikan, memberikan respons dengan menganguk-anggukan kepalanya secara perlahan.

“Kecuali nih ya,” lanjut Pak Ustaz, “ketika kita kentut, tapi sampai keluar isi-nya juga. Itu berarti harus segera mengganti celana dan cebok sampai bersih. Lalu, kita bisa mengambil wudu lagi. Ya, kurang lebih seperti itu alasan kenapa kita harus berwudu lagi setelah kentut.”

“Tapi, Pak Ustaz, kalau aku lagi di ruangan bersama presiden, terus tiba-tiba aku cepirit gitu bagaimana, Pak? Masalahnya, aku nggak bawa celana ganti,” Nanto Muchlisin bertanya lagi, tapi ini lebih menjurus ke imajinasi liarnya.

“Yah, itu mah derita kamu, Nan. Langsung pulang saja sono, terus minta cebok sama mamake!” salah satu temannya dengan cepat merespons pertanyaan dari Nanto Muchlisin.

“HAHAHAHAHAHAHA!!!” suara gelak tawa dari anak-anak yang mendengar, langsung menggema di musala.

Pak Ustaz yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, kemudian langsung mengimbau supaya menurunkan volume suara mereka agar tidak mengganggu tiga bapak-bapak yang sedang membaca Alquran di sekitar mereka.

“Sudah-sudah, sekitar lima menit lagi azan isya berkumandang. Lebih baik kita sekarang bersiap-siap untuk berwudu, yuk? Jika di antara kalian sudah ada yang batal,” ajak Pak Ustaz yang segera berdiri dari duduknya kepada anak-anak di depannya, lalu ia berjalan ke tempat wudu.

Meskipun begitu, anak-anak yang mendengar ajakan Pak Ustaz tidak semuanya langsung menuju ke tempat wudu, beberapa ada yang mengobrol tentang episode Upin-Ipin, ada yang berlari-larian, dan ada yang bermain ABC Lima Dasar. Yah, namanya juga anak-anak, yang sebagian hidupnya masih didominasi dengan aktivitas bermain dan berimajinasi. Sedangkan Nanto Muchlisin langsung menuju ke toilet musala untuk segera mengeluarkan isi dari dalam perutnya karena sebelum salat magrib tadi, ia makan sambal goreng kentang buatan ibunya yang rasanya lumayan pedas. Oh, itulah sebabnya mengapa ia bertanya tentang kentut. Karena ia menyadari bahwa ketika rukuk pada rakaat ketiga salat magrib tadi, kentut dari dalam tubuhnya tanpa bisa dikendalikan keluar secara tiba-tiba dan tanpa suara. Untungnya, ia berada di barisan paling belakang, sehingga yang mencium baunya hanya ia sendiri dan mungkin beberapa temannya yang satu barisan tapi tidak menyadarinya. Walaupun begitu, dengan polosnya ia tetap melanjutkan salatnya karena merasa tanggung sudah rakaat terakhir. Setelah sadar bahwa perbuatannya salah, ia pun berharap bahwa Malaikat bisa memakluminya supaya tidak mencatatnya ke dalam perbuatan dosa. Dan, hanya suara Plung! yang menemani Nanto Muchlisin di dalam toilet.

You Might Also Like

6 comments

  1. Suka banget sama tulisannya,, :)

    Sebenarnya nggak usah ribet nanyain kenapa kentut membatalkan wudlu, cukup taat saja sama tuntunan-Nya insaAllah selamat dunia-akhirat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih komentarnya, Mas. :)

      Tapi menurut saya pribadi, dalam menjalankan perintah agama, kita juga harus mengetahui maknanya supaya kita gak beragama secara "buta" dan hanya ikut-ikutan orang. Mungkin terlihat sepele menanyakan "Mengapa kentut bisa membatalkan wudu?", tapi ketika kita bisa memaknainya dalam kehidupan sehari-hari, seenggaknya itu bisa menambah keyakinan kita bahwa agama itu (dalam hal ini adalah perintah untuk berwudu) mengajarkan kita supaya selalu mencintai kebersihan dan kesucian tubuh. Wallahualam bishawab. Dari saya yang masih dan terus selalu belajar tentang agama.

      Delete
  2. Lu kentut yah? Buruan gih wudu ! Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedang hadas besar nih, jadi harus mandi wajib dulu. Haha.

      Delete
  3. Setuju dengan mas Agung, meskipun spele tapi perlu tahu juga maknanya. Siapa tahu kelak ketika berkeluarga anak tanya, sebagai ortu tntu harus menjawab. Dengan tahu maknanya, tentu kita akan tersadar, bahwa hal itu memang benar2 membatalkan wudlu..

    Thank sharingnya mas, bagus dibuat cerita seperti ini. Mungkin bisa dijadikan salah satu alternatif cerita sama anak-anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga tanggapannya. Semoga bisa bermanfaat. :)

      Delete