Unai Emery sang Raja Liga Europa.
(Sumber gambar: x.com/EuropaLeague)
Pada Kamis (21/5/2026) dini hari WIB, Unai Emery sekali lagi membuktikan bahwa Liga Europa adalah takdirnya. Di Stadion Besiktas Park, Istanbul, Aston Villa yang dipimpinnya menundukkan SC Freiburg dengan skor telak 3-0 dalam final Liga Europa. Gol Youri Tielemans (sepakan voli), Emiliano Buendia, dan Morgan Rogers menjadi penutup manis perjalanan panjang Villa. Bagi Emery, selain sebagai trofi kelima kalinya di kompetisi tersebut, ini juga rekor yang membuatnya tak tertandingi sebagai “Raja Liga Europa”.
Hubungan Emery dengan Liga Europa memang sudah terasa seperti cerita cinta abadi. Sebelum Aston Villa, ia mengantarkan Sevilla juara tiga musim beruntun (2013/14, 2014/15, 2015/16), sebuah pencapaian fenomenal yang kemudian ditiru Zinedine Zidane bersama Real Madrid di Liga Champions. Pada 2021, Emery kembali menunjukkan keampuhannya saat membawa Villarreal (klub yang sebelumnya tak pernah meraih trofi besar) mengalahkan Manchester United di final. Hanya sekali ia gagal di final, yaitu ketika menangani Arsenal dan kalah dari Chelsea pada 2019. Kini, dengan lima gelar bersama tiga klub berbeda (Sevilla, Villarreal, Aston Villa), Emery mengungguli Giovanni Trapattoni yang hanya memiliki tiga trofi. Pelatih aktif lainnya seperti Diego Simeone, José Mourinho, Rafael Benitez (masing-masing dua gelar), dan Ange Postecoglou (satu gelar) masih jauh di belakang. Bahkan Emery kini sejajar dengan Carlo Ancelotti dan José Mourinho sebagai pelatih yang mengoleksi lima trofi turnamen antarklub Eropa terbanyak.
Keberhasilan di Istanbul bukan hasil kebetulan. Emery menjadikan laga final seperti “rumahnya sendiri”. Pengalaman berada di banyak final memberinya kepercayaan diri luar biasa. Villa bermain menekan sejak menit pertama, meski pertahanan Freiburg sempat solid. Ketika kebuntuan pecah di akhir babak pertama melalui Tielemans, gelombang serangan Villa tak terbendung lagi. Gol Buendia dan Rogers di babak kedua menyudahi perlawanan lawan. Namun, di balik taktik yang brilian, ada resep kesuksesan yang lebih dalam.
Emery bukan sekadar pelatih kepala di Aston Villa; ia adalah manajer dengan kewenangan penuh. Ia terlibat langsung dalam rekrutmen pemain, penyusunan visi jangka panjang klub, bahkan pengaturan jadwal penerbangan tim untuk pertandingan Liga Europa agar pemain memiliki waktu pemulihan dan adaptasi optimal; sesuatu yang jarang dilakukan pelatih biasa. Di internal klub muncul istilah “Emery time”: sesi latihan yang lebih panjang, hari libur yang minim, dan dedikasi total dari para pemain yang tiba pagi hari dan pulang larut malam. Emery menuntut disiplin dan juga membangun ikatan emosional yang kuat.
Dengan kemenangan ini, Unai Emery pun menegaskan statusnya sebagai pelatih paling sukses sepanjang sejarah Liga Europa. Bagi Aston Villa, gelar ini adalah bukti bahwa klub yang selama ini dikenal sebagai tim papan tengah Inggris, kini siap bersaing di level tertinggi Eropa. Bagi Emery, ini adalah mahkota baru di kariernya yang sudah penuh prestasi. Liga Europa memang seakan-akan miliknya; dan malam di Istanbul membuktikan bahwa cerita cinta itu belum berakhir.

