Kover Batman & Spider-Man: New Age Dawning karya J.M. DeMatteis.
(Sumber gambar: goodreads.com)
Cerita pada komik ini dibuka dengan Vanessa Fisk (istri tercinta Wilson Fisk alias Kingpin) menderita penyakit kanker yang tak bisa disembuhkan. Demi menyelamatkan nyawa sang istri, Kingpin rela beraliansi dengan sosok paling berbahaya di dunia bawah tanah, Ra's al Ghul (pemimpin League of Assassins yang fanatik terhadap visinya tentang "penyucian" peradaban).
Ra's al Ghul menawarkan penyembuhan, tetapi dengan syarat: New York City harus ditenggelamkan ke dasar laut. Kingpin pun tampak menyetujui rencana tersebut; tetapi apakah ia benar-benar berpihak pada Ra's?
Sementara itu, Batman dan Spider-Man kembali dipersatukan. Kali ini karena Kingpin sendiri yang secara diam-diam menghubungi Spider-Man dan menyelundupkan keduanya ke markas Ra's al Ghul. Adegan tak terduga ini menjadi ini dari jalan cerita: sang penjahat besar ternyata adalah penyusup yang merencanakan kehancuran Ra's dari dalam.
Lalu, klimaks dalam cerita pun terungkap ketika Ra's al Ghul adalah sosok yang menyuntikkan virus buatan ke tubuh Vanessa. Ternyata, kanker tersebut adalah senjata biologi yang dibuat agar Kingpin bisa dikendalikan. Pengkhianatan ini pun menghancurkan aliansi mereka dan memicu permusuhan yang dramatis.
Di akhir cerita, tak disangka Talia al Ghul (anak Ra's) diam-diam mengirimkan antidot untuk Vanessa melalui Batman dan Spider-Man; aksi kecil yang memperlihatkan bahwa kebaikan bisa hadir bahkan di tengah kompleksitas antara dua penjahat besar.
***
Yang membuat Batman & Spider-Man: New Age Dawning menarik adalah keberaniannya menempatkan penjahat sebagai penggerak utama jalan cerita. J.M. DeMatteis tidak hanya menggunakan Kingpin sebagai antagonis, ia menjadikannya sebagai tokoh penting yang membantu dua superhero kita dalam menyelesaikan misinya.
Selain itu, dinamika antara Batman dan Spider-Man juga menjadi daya tarik tersendiri. Ketika Batman menampilkan kesan suram dan kaku, Spider-Man membawa ekspresi jenaka melalui kata-katanya. DeMatteis menggunakan kontras ini bukan untuk lelucon semata, tetapi untuk menunjukkan bagaimana dua pendekatan terhadap kepahlawanan bisa saling melengkapi.
***
Subplot Talia dan Vanessa pun memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan pada format one-shot. Percakapan mereka tentang kesetiaan, cinta, dan harga yang harus dibayar untuk melihat sisi baik seseorang terasa jujur dan manusiawi.
Satu-satunya kelemahan yang cukup terasa adalah format one-shot-nya sendiri. Banyak momen emosional yang berpotensi dikembangkan lebih jauh (terutama resolusi karakter Kingpin dan relasi Batman-Talia) tetapi harus diselesaikan dalam halaman yang terbatas. Ra's al Ghul pun sebagai penjahat utama juga sedikit tereduksi oleh plotting Kingpin yang begitu dominan, sehingga sosoknya lebih seperti pion dalam skema yang lebih besar daripada ancaman utama.
Namun demikian, ketika Ra's al Ghul tertawa mengakui kekalahannya dan memuji kepintaran Kingpin adalah salah satu momen penjahat terbaik pada komik crossover era 1990-an. Ini menunjukkan kepercayaan diri DeMatteis dalam menulis karakter: bahwa penjahat yang kalah dengan elegan jauh lebih berkesan daripada yang kalah dengan amarah.

