Anatomi Kekuasaan Absolut


Apakah hanya minuman beralkohol yang bisa memabukkan? Tentu saja tidak. 

Sebab, kekuasaan yang besar pun sering kali membuat seorang pemimpin secara perlahan kehilangan kendali diri dan akal sehatnya, sehingga berujung pada otoritarianisme. Melalui kacamata satire, jurnalis Norwegia Mikal Hem dalam bukunya How to Be a Dictator: An Irreverent Guide, menguliti anatomi kekuasaan para penguasa lalim di seluruh dunia. Buku ini adalah analisis tentang bagaimana institusi politik dikendalikan dan dimanipulasi demi kepentingan pribadi.

Melalui gaya bahasa yang seolah-olah memberikan "buku petunjuk", Hem memaparkan bahwa lahirnya seorang diktator modern tidak selalu diawali dengan pertumpahan darah. Sering kali, hal itu bermula dari sistem yang awalnya tampak demokratis, di mana kebebasan warga perlahan ditekan dan kekuasaan diperluas tanpa batas.

Mengorkestrasi Ilusi Demokrasi

Salah satu taktik paling menonjol yang dibahas Hem adalah penciptaan "oposisi semu". Diktator saat ini jarang menghapus institusi demokrasi sepenuhnya; mereka justru memanipulasinya agar terlihat sah di mata dunia.

Nursultan Nazarbayev menjabat sebagai Presiden Kazakhstan dari 1991 sampai 2019.
(Sumber gambar: aa.com.tr)

Kasus Nursultan Nazarbayev (Kazakhstan): Nazarbayev berhasil mempertahankan kekuasaannya selama hampir tiga dekade dengan strategi yang sangat sistematis. Ia meminta putrinya, Dariga Nazarbayeva, mendirikan partai oposisi bernama "Asar". Partai ini dirancang untuk tidak mengkritik kebijakan esensial sang ayah, dan pada akhirnya dilebur ke dalam Partai Otan, mesin politik utama Nazarbayev. Ditambah dengan monopoli media, segala bentuk kecurangan pemilu mampu diredam dengan rapi.

"Terorisme" sebagai Legitimasi Internasional

Konvoi Humvees Amerika di Irak utara saat terjadi badai pasir, 2003.
(Sumber gambar: id.wikipedia.org)

Dukungan luar negeri adalah pilar penting bagi kelanggengan sebuah rezim. Hem menyoroti kecerdikan para diktator dalam mengeksploitasi ketakutan global. Dengan mengarang narasi bahwa kelompok oposisi atau rezim yang ingin digulingkan terlibat pada jaringan terorisme, seorang penguasa bisa dengan mudah menarik simpati dan dukungan politik dari negara-negara lain. Taktik manipulatif ini terbukti ampuh mengubah lanskap pemerintahan, sebagaimana yang terjadi di Komoro (1978) dan Irak pada masa Saddam Hussein (2003).

Pelanggengan Dinasti Politik

Ilhan Aliyev menjadi Presiden Azerbaijan setelah menggantikan ayahnya, Heydar Aliyev, pada 2003.
(Sumber gambar: president.az)

Menjadi diktator ternyata tidak selalu membutuhkan perjuangan merintis kekuasaan dari nol. Privilese absolut ini sering diwariskan layaknya sebuah takhta kerajaan untuk melindungi aset keluarga dan mencegah pertanggungjawaban hukum di masa depan. Praktik dinasti politik ini terjadi di berbagai benua:

1. Azerbaijan: Ilham Aliyev meneruskan kekuasaan ayahnya, Heydar Aliyev, pada 2003.

2. Suriah: Bashar Assad mengambil alih takhta segera setelah kematian Hafez Assad pada 2000.

3. Gabon dan Togo: Ali Bongo Ondimba dan Faure Gnassingbé mewarisi kursi kepresidenan dari ayah mereka. Di Togo, transisi ini bahkan diwarnai dengan pengunduran diri sementara yang kemudian disusul oleh pemilu yang direkayasa sedemikian rupa.

Kleptokrasi: Menumpuk dan Menyembunyikan Harta

Kekuasaan absolut hampir selalu berjalan beriringan dengan penguasaan sumber daya ekonomi negara. Hosni Mubarak di Mesir memberikan contoh nyata tentang simbiosis antara politik dan bisnis. Dengan menempatkan anak-anaknya, Alaa dan Gamal, di berbagai sektor strategis serta mengisi parlemen dengan pengusaha kroni, Mubarak menciptakan iklim ketika kesetiaan politik dibeli dengan konsesi ekonomi.

Untuk mengamankan hasil jarahan agar tidak terendus publik, Hem membeberkan beberapa mekanisme favorit para diktator:

1. Suaka perbankan: Menyembunyikan dana di bank-bank Swiss atau negara-negara dengan regulasi perbankan yang sangat lemah.

2. Aset properti: Membeli real estate mewah yang tersebar di berbagai belahan dunia.

3. Investasi estetika: Mengubah uang tunai menjadi benda seni bernilai tinggi, sebuah metode yang juga dipraktikkan oleh para elit Timur Tengah seperti Emir Qatar.

Kultus Individu dan Keganjilan Penguasa

Patung Kim Il Sung dan Kim Jong Il di Korea Utara.
(Sumber gambar: commons.wikimedia.org)

Pada titik tertingginya, kekuasaan yang tidak terbatas akan memutuskan hubungan seorang pemimpin dengan realitas, melahirkan kebijakan-kebijakan eksentrik. Kekayaan negara tidak lagi hanya digunakan untuk kenyamanan materi, tetapi dihamburkan demi memuaskan ego dan "pengultusan diri" (kultus individu).

1. Propaganda visual (Korea Utara): Kim Il Sung dan penerusnya, Kim Jong Un, menghabiskan porsi besar anggaran negara untuk membangun monumen dan mencitrakan diri mereka sebagai ras Korea murni dan penuh kasih sayang.

2. Doktrinasi ideologis (Turkmenistan): Saparmurat Niyazov (Turkmenbashi) mewajibkan "Rukhnama" (Kitab Jiwa), sebuah buku berisi sejarah bangsa versinya sendiri, menjadi bacaan wajib dari tingkat sekolah dasar sampai universitas.

***

Buku How to Be a Dictator: An Irreverent Guide karya Mikal Hem pada hakikatnya adalah sebuah peringatan keras yang dibungkus dalam komedi satire. Meskipun diterbitkan pada 2012, relevansinya justru semakin kuat pada saat ini. Karya ini mengingatkan kita bahwa kediktatoran bukanlah masa lalu, melainkan ancaman konstan yang mengubah bentuk. Dari pembungkaman oposisi, pelanggengan dinasti politik, hingga penciptaan ilusi demokrasi, "kiat-kiat" para pemimpin otoriter ini menunjukkan bahwa tanpa adanya pengawasan warga yang kritis dan kebebasan sipil, kekuasaan akan selalu mencari cara untuk menjadikan dirinya absolut.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.