Kehilangan Abadi dan Suara dari Dasar Laut


Setelah Pulang mengajak pembaca menyaksikan luka pengasingan pasca-1965, Leila S. Chudori kembali menghadirkan tragedi nasional yang tak kalah kelam melalui novel Laut Bercerita. Kali ini, sorotan jatuh pada Peristiwa Mei 1998; kerusuhan mahasiswa yang menumbangkan rezim Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa. Namun, Leila tidak hanya merekam huru-hara jalanan atau jatuhnya Soeharto. Ia menggali lebih dalam: bagaimana negara “menghilangkan” suara-suara kritis, bagaimana keluarga hidup dalam batas antara harapan dan kenyataan, serta bagaimana cinta dan kenangan tetap bertahan meski jasad telah tenggelam di laut. Kata "Laut" dalam Laut Bercerita adalah saksi bisu sekaligus juru bicara bagi mereka yang suaranya direnggut.

Dua tokoh utama menjadi pusat cerita: Biru Laut dan adiknya, Asmara Jati. Biru Laut adalah mahasiswa sastra yang berbakat menulis dan memasak, tetapi yang paling menonjol adalah pikiran kritisnya. Ia bergabung dengan kelompok aktivis Wirasena; sekelompok mahasiswa yang berbeda latar belakang dan kepribadian, namun menyatu dalam satu tekad: menentang kediktatoran Orde Baru. Novel ini unik karena Biru Laut menceritakan kisahnya sendiri sebelum dan sesudah kematian. Pada Maret 1998, ia dan tiga kawannya (Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon) disergap, diculik, disekap di tempat rahasia, diinterogasi, dipukul, digantung, dan disetrum. Pertanyaan yang terus diulang hanyalah satu: siapa yang berdiri di belakang gerakan mahasiswa? Leila dengan berani menghadirkan suara Biru Laut dari dasar laut yang sunyi setelah ia dibunuh dan dibuang ke laut. Dari sana, ia bercerita tentang rasa sakit, keputusasaan, dan paradoks perjuangan: mati demi kebebasan, tapi jasadnya tak pernah ditemukan.

Sementara itu, Asmara Jati mewakili sisi yang ditinggalkan. Berbeda dengan kakaknya, ia mahasiswa kedokteran yang memilih “perjuangan” dengan cara menyembuhkan orang di daerah terpencil. Awalnya ia tidak setuju dengan aktivisme Biru Laut karena khawatir kuliah dan masa depan kakaknya terganggu. Namun, perlahan ia memahami api yang membakar hati Laut. Ketika Mei 1998 meledak dan Laut hilang tanpa kabar, Asmara terpaksa menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat. Beberapa teman seperjuangan Laut dilepaskan, tapi Laut tidak kunjung pulang. Yang paling menyayat adalah sikap orang tua mereka. Setiap Minggu sore, meja makan tetap disiapkan empat piring: untuk ayah, ibu, Biru Laut, dan Asmara. Meski hanya tiga orang yang duduk, piring keempat selalu ada; simbol harapan yang tak mau mati. Ayah dan ibu menolak menerima kenyataan bahwa anak sulung mereka telah tiada.

Di tahun 2000, Asmara bergabung dengan Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana. Bersama Anjani (kekasih Laut) dan keluarga korban lainnya, ia mencari jejak, mendengar testimoni, dan menuntut kejelasan. Di sini, Leila menunjukkan bahwa kehilangan bukan hanya soal jasad yang tak ditemukan, melainkan juga luka yang tak pernah sembuh di hati keluarga. Novel ini penuh dengan adegan-adegan kecil yang menghancurkan: masakan kesukaan Laut yang tetap dihidangkan, kursi kosong di meja makan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Kekuatan Laut Bercerita terletak pada kisah yang berlapis. Leila menggunakan sudut pandang orang pertama dari Biru Laut (baik saat masih hidup maupun setelah mati) bersama perspektif Asmara dan tokoh-tokoh lain. Suara Laut dari dasar laut merupakan suara manusia yang masih penuh emosi: marah, sedih, dan penuh tekad. Pembaca diajak merasakan penyiksaan di sel bawah tanah, kekosongan di dada keluarga, dan keteguhan mereka yang terus mencari keadilan. Tokoh-tokohnya, seperti dalam Pulang, tetap sederhana dan memiliki karakter yang kuat: Biru Laut yang idealis, Asmara yang penuh kasih, orang tua yang keras kepala dalam harapan, dan sahabat-sahabat yang saling menguatkan.

Selain sebagai catatan sejarah Mei 1998, novel ini merupakan protes halus sekaligus doa. Leila mengingatkan bahwa di balik statistik “orang hilang” ada nama-nama, ada keluarga yang setiap hari menyiapkan piring kosong, ada cinta yang tak luntur meski tubuh telah menjadi bagian dari laut. Laut yang dulu menelan jasad Biru Laut kini justru menjadi tempat ia bercerita (kepada kita, kepada dunia) bahwa kebenaran tak bisa dibungkam selamanya.

Laut Bercerita melengkapi Pulang dengan sempurna. Jika Pulang berkisah tentang mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air, novel ini bicara tentang mereka yang dihilangkan dari tanah airnya sendiri. Leila S. Chudori sekali lagi membuktikan bahwa fiksi sejarah bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk menyembuhkan dengan cara yang paling manusiawi: mendengar suara-suara yang pernah dibungkam. Di akhir novel, laut tetap bercerita. Dan selama kita masih mau mendengar, harapan untuk keadilan belum benar-benar tenggelam.


_________________
Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori bisa dibeli di sini:

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.