(Sumber gambar: goodreads.com)
Mengapa begitu banyak dari kita yang merasa tidak bahagia di dunia yang modern ini? Apakah karena masa lalu yang buruk, ekspektasi masyarakat yang terlalu tinggi, atau rasa tidak aman saat melihat pencapaian orang lain? Buku The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga memberikan perspektif yang menyegarkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ditulis dalam format dialog gaya Sokratik antara seorang pemuda dan seorang filsuf, buku ini menyederhanakan prinsip-prinsip psikologi Alfred Adler (seorang psikolog terkemuka sezaman dengan Freud dan Jung) menjadi panduan praktis untuk membebaskan diri dan meraih kebahagiaan sejati.
Malam Pertama: Menolak Trauma dan Kekuatan Teleologi
Salah satu gagasan kontroversial sekaligus menarik dalam buku ini adalah penolakan terhadap konsep trauma masa lalu. Di saat psikologi Freudian (Etiologi) selalu sibuk mencari hubungan sebab-akibat dari masa lalu untuk menjelaskan penderitaan hari ini, Adler membalikkan logika tersebut melalui pendekatan Teleologi; ilmu yang mempelajari tujuan dari sebuah fenomena, alih-alih penyebabnya.
Buku ini menegaskan:
“No experience is in itself a cause of our success or failure. We do not suffer from the shock of our experiences—the so-called trauma—but instead we make out of them whatever suits our purposes. We are not determined by our experiences, but the meaning we give them is self-determining.”
Bagi sebagian orang, argumen ini mungkin terdengar seperti menyalahkan korban (victim blaming). Namun jika ditelaah lebih dalam, ini merupakan psikologi keberanian. Sebagai contoh, kisah seorang pemuda yang tidak bisa keluar rumah karena kecemasan akut. Pandangan konvensional akan menyalahkan trauma masa kecilnya. Namun, Adler melihatnya dari sudut pandang tujuan saat ini: pemuda tersebut memiliki "tujuan" untuk tidak keluar rumah, sehingga ia secara tidak sadar "membentuk" rasa cemas dan takut agar tujuannya tercapai. Masa lalu tidak menentukan siapa kita hari ini; melainkan makna yang kita berikan pada masa lalu itulah yang memegang kendali.
Malam Kedua: Semua Masalah adalah Masalah Hubungan Interpersonal
Ketika sang pemuda mengaku bahwa ia membenci dirinya sendiri, sang filsuf memberikan jawaban yang menohok: kita sengaja fokus pada kekurangan diri karena kita telah memutuskan untuk tidak menyukai diri kita sendiri. Mengapa? Agar kita punya alasan untuk menghindar dari hubungan interpersonal dan risiko terluka oleh orang lain.
Adler menyatakan dengan tegas bahwa semua masalah manusia berakar pada satu hal: hubungan dengan sesama.
“To get rid of our problems, all we can do is live in the universe all alone.”
Namun karena hidup sendiri di alam semesta ini mustahil, kita harus belajar hidup berdampingan tanpa terjebak dalam kompetisi. Banyak orang gagal bahagia karena memandang dunia sebagai arena kompetisi dan orang lain sebagai musuh. Saat kita melihat kesuksesan orang lain sebagai kekalahan kita, dunia akan menjadi tempat yang berbahaya penuh dengan ancaman. Kebahagiaan sejati hanya bisa dicapai ketika kita berhenti bersaing dan mulai melihat orang lain sebagai rekan (comrades).
Malam Ketiga: Pemisahan Tugas
Inilah inti dan bagian berdampak dari seluruh isi buku. Kunci untuk membebaskan diri dari belenggu ekspektasi orang lain adalah dengan menerapkan aturan "separation of tasks" (pemisahan tugas). Kita harus selalu bertanya pada diri sendiri: "Tugas siapakah ini?"
Buku ini mengingatkan:
“Do not live to satisfy the expectations of others.”
Gangguan dan konflik interpersonal selalu terjadi karena kita mengintervensi tugas orang lain, atau membiarkan orang lain mengintervensi tugas kita. Cara termudah untuk mengetahui pemilik sebuah tugas adalah dengan melihat: siapa yang menanggung konsekuensi akhir dari pilihan tersebut?
Sebagai contoh, belajar adalah tugas seorang anak. Ketika orang tua memaksa dan memarahi anak untuk belajar demi gengsi sosial mereka sendiri, orang tua sedang mengintervensi tugas anak. Hal yang sama berlaku pada kehidupan dewasa; jika kamu bekerja hanya untuk memuaskan ekspektasi atasan atau masyarakat, kamu sedang merepresi dirimu sendiri. Tugasmu adalah melakukan yang terbaik dalam hidupmu. Mengenai apakah orang lain menyukai atau membenci keputusanmu, itu adalah tugas "mereka", bukan tugasmu. Di sinilah letak judul buku ini:
“The courage to be happy also includes the courage to be disliked. When you have gained that courage, your interpersonal relationships will all at once change into things of lightness.”
Malam Keempat dan Kelima: Komunitas serta Hidup di Sini dan Saat Ini
Menerapkan pemisahan tugas mungkin sekilas terasa egois atau membuat kita merasa kesepian. Namun, buku ini menjelaskan bahwa pemisahan tugas hanyalah titik awal. Tujuan akhir dari hubungan interpersonal adalah membangun rasa memiliki dalam komunitas (community feeling). Kita memperoleh rasa memiliki ini bukan dengan menuntut sesuatu dari dunia, melainkan dengan berkontribusi dan merasa berguna bagi sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Untuk mencapai hal ini, kita juga harus meninggalkan kebiasaan memuji (praise) maupun mencela (rebuke). Pujian sering kali menciptakan hierarki implisit; seolah-olah orang yang memuji berada di posisi yang lebih tinggi dan sedang memanipulasi orang lain. Kita harus melihat sesama manusia sebagai pribadi yang setara (equals).
Akhirnya, buku ini mengajak kita untuk memiliki keberanian untuk bahagia (the courage to be happy). Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang berada di masa depan setelah tujuan kita tercapai, bukan pula sesuatu yang dirusak oleh masa lalu.
“Your unhappiness cannot be blamed on your past or your environment. And it isn’t that you lack competence. You just lack courage. One might say you are lacking in the courage to be happy.”
***
The Courage to Be Disliked memprovokasi pembaca untuk melakukan percakapan mendalam dengan diri sendiri. Pelajaran terbesarnya sangat jelas: hidup ini sebenarnya sederhana, manusia jugalah yang membuatnya rumit. Dengan membebaskan diri dari trauma masa lalu, berhenti mencari pengakuan orang lain melalui pemisahan tugas, dan berani untuk tidak disukai, kita memegang kendali penuh atas hidup kita untuk berbahagia di sini dan saat ini juga.

