Mahasiswa Semester Akhir

  • January 19, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 22 Comments

Summber gambar: favim.com

Di sudut kamar kosnya, dia sedang duduk termenung. Memikirkan tentang apa yang selanjutnya harus dia lakukan. Dia adalah mahasiswa semester akhir yang berarti sudah memasuki tahap penyusunan skripsi. Namun, dalam diamnya, dia mencari tahu apa yang membuatnya berbeda dari ribuan mahasiswa satu angkatan di kampusnya.

Seharusnya ada “kelebihan” yang dia miliki di antara ribuan mahasiswa yang lain. Tapi apa?, dia berpikir keras. Pikirannya melayang ke awang-awang, bertanya tentang “sesuatu” yang bisa membuatnya merasa lebih pantas dan berharga supaya mendapatkan peluang atau kesempatan setelah lulus nanti.

Sudah sepuluh menit dia berpikir, tetapi masih saja dia belum menemukan jawabannya. Di semester yang sudah bukan menjadi mahasiswa baru lagi ini, dia merasakan bahwa skripsi seperti hantu yang selalu menggentayangi sambil berkata, “Selesaikan aku! Cepat! Jangan malas!”. Kemudian, tiba-tiba ada sebuah rasa penyesalan yang muncul di dalam pikirannya ketika dia masih menjadi mahasiswa baru, dia tidak pernah mengikuti kegiatan apapun di kampus. Dia merasa saat itu memiliki banyak alasan untuk menolak, sehingga dia merasa seperti sibuk sendiri; hanya pergi ke kampus, lalu segera pulang ke kamar kos ketika mata kuliah selesai. Apalagi setiap ada seminar atau kuliah umum yang diadakan oleh pihak kampus, dia selalu absen dan berpikir bahwa kegiatan tersebut tidak ada hubungannya dengan fokus ilmu yang dia jalani saat itu.

Dari kejadian-kejadian yang telah dia lalui, dia berpikir telah banyak peluang yang telah dilewati dan akhirnya semester akhir pun tiba. Saat itu, dia memang mengaku lelah untuk keluar dari kamar kosnya. Bahkan, untuk pergi ke perpustakaan pun dia merasa tidak kuat karena cahaya matahari yang menembus kulit. Apalagi untuk berdiskusi memikirkan masalah kampus dan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa lainnya. Pertemanan yang dia dapat pun tidak banyak karena dia tak pernah bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa lintas fakultas.

Cukup lama dia merenungi hasil dari perbuatannya selama ini sebagai mahasiswa, pertanyaan Apa yang membuat gue berbeda dari mahasiswa satu angkatan lainnya? masih menggentayangi pikirannya.

Seharusnya, ketika ada pendaftaran sebagai pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan atau Fakultas, dia segera mendaftar. Seharusnya, ketika ada kesempatan untuk menjadi kandidat pertukaran pelajar, dia mencobanya. Seharusnya, ketika ada diskusi membahas tentang masalah terkini perihal kampus atau masalah kontemporer lainnya, dia ikut. Seharusnya, ketika ada seminar yang diadakan dari pihak kampus, dia lekas menjadi peserta sehingga bisa mendapatkan wawasan baru. Memikirkan hal-hal tersebut, hanya penyesalan yang dia rasa.

Dia sadar sekarang bahwa ketika ada orang lain yang seumurannya telah memiliki karier bagus dan memiliki jaringan pertemanan di mana-mana sehingga memudahkannya dalam menjalani segala urusan, dia masih belum menjadi apa-apa. Dia pun tak bisa mengungkapkan apa yang telah dia capai demi kebaikan dirinya, terlebih untuk kebaikan orang-orang di sekitarnya.

Setiap manusia di dunia ini menjalani aktivitas di jam, menit, dan detik yang jumlahnya sama, yaitu selama 24 jam. Di saat ada orang di luar sana berhasil menyelesaikan segala urusannya dengan baik dan membawa efek positif untuk orang lain, ternyata di sisi lain ada yang menjalani urusan pribadinya saja tidak beres. Dia menyadari bahwa dirinyalah orang yang terakhir itu.

Renungan yang dia lakukan sampai saat ini pun telah mencapai kesimpulan, bahwa:

Manusia yang berhasil di dunia ini adalah manusia yang bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya.

Dengan tekad yang kuat dari hasil kesalahan di masa lalu, dia pun akhirnya sadar dan segera memperbaiki diri dan berusaha menjadi mahasiswa yang bisa membawa perubahan bagi dirinya sendiri─dan berharap untuk orang lain juga. Semoga waktu bisa memaafkan.

You Might Also Like

22 comments

  1. mengutip peribahasa arab bahwa waktu itu layaknya pedang. Kalau tidak bisa memanfaatkannya dengan baik maka bisa membunuhmu loh. Kita bergerak ke depan yak, dan waktu tidak pernah berjalan mundur. Dan kalau masih berleha-leha maka akan ketinggalan banyak dengan lainnya.

    Memang benar, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. tetapi kalau tidak bisa memanfaatkan waktu gimana caranya bermanfaat untuk sesama?

    bukan waktu yang memafkan tetapi dirimu di masa depan. karena apa yang terjadi di masa depan tergantung apa yang kamu lakukan hari ini.

    Semangat untuk membuat diri menjadi lebih baik yak.
    #kok aku ngomel panjang lebar sih? maklum aku pernah ada di posisimu ^^v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukannya. :D

      Sebenarnya ini terinspirasi dari curhatan temen dan dari beberapa masalah yang dia alami, ternyata gue pernah merasakannya. Hehe.

      Delete
  2. Renungan yang ngena banget .
    Dari renungan tersebut, kita dapat mengambil manfaat dan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik ^^

    Beberapa bulan yang lalu, aku juga seperti "dia". Berpikir keras, berpikir kenapa aku tidak mengambil ini, dan itu. Ikut ini dan itu. Tapi hidup itu pilihan. Sekarang adalah sebuah pilihan di masa lalu. Jadi, kedepannya perlu lebih bijak dalam menentukan pilihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hidup adalah sebuah perjalanan. Dan, sebisa mungkin kita harus bisa memaknai segala hal yang sudah terjadi sebagai pelajaran hidup.

      Delete
  3. Sama persis kaya gue. Habis kuliah pulang. Kata org2 kupu-kupu. Kuliah pulang. Kuliah pulang.

    Skrg yg jdi pertanyaan di post ini. Gak ada ngasih solusi buat berubahnya? Cara berubahnya gmana? Kan dia udah smester akhir?
    Mana bisa ikut ukm lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Solusinya memang gak ditulis secara langsung di sini supaya pembaca bisa menyimpulkannya sendiri. Tapi, di postingan gue sebelumnya berjudul "Menjadi Mahasiswa Baru", gue pernah menceritakan pengalaman pribadi di kampus dan mungkin itu bisa menjadi informasi tambahan.

      Delete
  4. hahaha biasa nih mahasiswa tingkat akhir mikirin masa depannya sambil nyesal keputusan di masa lalu. Gue juga gini sih, mikir kenapa dulu gak begini, kenapa gak begitu. galau sama masa depan sendiri. Tapi ya hadapi aja, jangan putus semangat, yakin aja jalan yang kita pilih pasti bener dan bisa sukses \o/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setuju. Jadi, pengalaman masa lalu yang dianggap kurang maksimal dalam memanfaatkan segala kesempatan, bisa segera diubah menjadi lebih baik di masa sekarang.

      Delete
  5. kayaknya kebanyakan emang kayak gitu yak. terlalu fokus memikirkan banyaknya kesalahan yg diperbuat d masa lalu tanpa sbuk membenahi hal yg memang bisa diperbaiki.
    tapi yah namanya juga penyesalan, selalu datang di akhir kan. klo yang diawal kan namanya pendaftaran. ya kan? eh he he
    ga lucu ya? maap

    terus paragraf terakhirnya gimana itu? dia bukannya tinggal nyelesain skripsi aja ya atau gmna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di paragaf terakhir secara tersirat maksudnya memaksimalkan apa yang bisa dikerjakan sebaik mungkin untuk masa depan, yaitu--dalam kasus di atas--adalah dengan menyelesaikan skripsinya segera supaya waktu yang berjalan gak terbuang percuma.

      Delete
  6. Wuiih keren nih. Jadi pengen tau perasaan temen2 saya yang ceritanya hampir sama kaya diatas, saat mereka skripsi dlu gimana ya. Emang benar sih, ikut seminar, workshop, organisasi dll banyak membuat perubahan yang signifikan. Walaupun tidak terlalu menonjol di akademik, setidaknya bisa bersosialisasi baik dengan yang lain. Alhasil, ketika ada masalah, bnyak orang yang siap bantu.
    Masih belum terlambat kok. Dan jangan terlalu menganggap skripsi itu menyeramkan. Itu semua hanya karangan mahasiswa2 terdahulu tentang skripsi. Padahal kalo kita menyikapinya dengan positif ya InsyaAllah akan ada jalannya. Nice post :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisah di atas ditulis berdasarkan sudut pandang seseorang yang menyesal gak memanfaatkan kesempatan saat di kampus supaya kita sadar bahwa bersosialisasi itu penting. Hehe. Dan, masalah skripsi memang sebenarnya bisa diselesaikan tepat waktu jika kita bisa tegas kepada diri sendiri. :)

      Delete
  7. Dulu pas Jaman-jamanya kuliah gue selalu ikutin kegiatan yang menurut gue seru.
    Alesan gue ikut berbagai program soalnya gue males terus-terusan belajar di kelas wqwq ..
    Btw ada tuh kegiatan kuliah yg ampe sekarang masih gue geluti yaitu Pencinta Alam, semoga kegiatan ini bisa bermanfaat buat lingkungan sekitar deh :)

    Makasih renunganya ya, sedkit menampar tapi tidak terlalu sakit.
    Intinya kita harus memanfaatakn waktu sebaik mungkin, jangan sampai menyesal di kemudian hari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, selagi kita bisa memanfaatkan waktu untuk mendapatkan ilmu selain di dalam ruang kelas, harus kita lakukan sebaik mungkin, contohnya seperti Pecinta Alam yang lu pilih.

      Delete
  8. Wah ada jg toh ga akhirnya menyesal karena ga ngikutin kegiatan2 ama organisasi di kampus :)

    Mungkin dia nanti bs ikut organisasi yg di luar kampus stelah lulus nanti, hehe siapa tau dia msh ngidam...

    Makasih renungannya, saya jd ikutan sadar. Kalau kita di dunia ini memang harus banyak menebar manfaat. Bukan begitu kn bro? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, karena kita hidup di dunia ini gak sendirian dan sebisa mungkin peran kita di dalam masyarakat setelah menempuh pendidikan di kampus bisa berguna dan bermanfaat bagi sekitar kita.

      Delete
  9. gue juga cukup menyesal ketika nggak banyak yang bisa gue lakukan di kampus, tapi sukurnya di akhir masa2 kuliah gue ikutan BEM UNIV dan gue baru merasakan bahwa gue beneran kuliah setelah ikut organisasi..

    penyesalan ini gue harap jadi pelajaran buat mahasiswa di luar sana,, mbok ya kuliah itu jangan kupu-kupu, ikut2i lah seminar atau organiasai yang keren dan bisa bikin relasi kita luas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Dengan bergabung untuk ikut organisasi atau kegiatan di luar kelas, selagi itu bisa memberikan pengalaman berharga dan menambah teman, kenapa harus menolak ikut. Hehe.

      Delete
  10. aku pun merasa jika ikut organisasi atau semacam seminar buat ngalihin rasa bosan, eh jd tambah plus plus, dpt temen, lebih dianggap, pikiran pun jd gak picik, legowo, dan lbh bijak menghadapi masalah yg dtg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berorganisasi memang banyak manfaatnya ketika kita bisa aktif di dalamnya.

      Delete
  11. Kayaknya ini reminder buat gue supaya banyakin kegiatan kalo nanti kuliah. Pasti bakal malu kalo ada temen yg udah maju dan kita sendiri belom jadi apa-apa, karena kita sendiri pun gak berbuat apa-apa buat diri sendiri. Gue gak pernah ikut organisasi atau komunitas apa-apa pas sekolah, hasilnya keliatan beda pas gue bandingin diri gue sama temen yg ikutan organisasi. Intinya sih mereka lebih maju daripada gue, dan nyeselnya baru sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, akan terasa beda banget ketika kita mengikuti organisasi dengan yang enggak. Oleh karena itu, sebelum terlambat, sebaiknya kita memanfaatkan waktu untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.

      Delete