Jantungku Berdetak Sangat Kencang

  • December 19, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 9 Comments

Sumber gambar: autoevolution.com

Jadi, ada seorang perempuan ...

Aku melihatnya hari ini di depan toko pinggir jalan─seorang perempuan yang sudah kukenal lama─ketika aku memberhentikan mobilku dan membuka kaca bagian kanan karena lampu merah sedang menyala di sebuah jalan raya yang sering kulewati. Dia adalah perempuan yang kusuka saat SMA. Ah, sudah bertahun-tahun lamanya masa SMA berlalu, tetapi aku masih saja memikirkan dan mengenalnya. Selain itu, karena tiba-tiba aku melihatnya lagi, ternyata perasaan yang dulu kusimpan rapat, seperti ingin dibuka kembali. Jantungku mulai gugup tak menentu.

Hal yang kurasa lucu adalah ... aku merasa bahwa hari ini bukan hari terbaikku. Aku baru saja pulang dari makan siang berdua bersama perempuan yang kukenal di kantorku sebagai pendekatan yang kulakukan dan ternyata pertemuan tersebut tidak berjalan sesuai rencana disebabkan dia harus pulang lebih cepat. Ada keperluan mendadak yang tak bisa kutinggalkan, katanya kepadaku. Namun, melihat dia kembali─perempuan yang kusuka sejak SMA─, aku merasa bahwa semesta telah merencakan ini semua dan membuatku untuk tidak menyerah mendekatinya (lagi). Kejadian ini membuat wajahku menjadi merah karena rasanya seperti seluruh darah di dalam tubuhku naik ke kepala. Aku pun belum pernah mengalami sebegitu merahnya wajahku seperti sekarang ini. Ah, perasaan bahwa hari ini bukan hari terbaikku pasti salah. Tentu saja, ini adalah hari terbaikku!, aku membatin dalam hati.

Mengingat kembali ke masa itu. Aku duduk tiga bangku di belakangnya─perempuan yang kusuka sejak SMA─selama tiga tahun. Di sana di sebuah kota kecil, yang mana berarti sekolahku pun juga sederhana. Aku selalu berharap bahwa diriku memiliki keberanian untuk mengajaknya mengobrol terlebih dahulu. Namun, yang terjadi malah aku selalu menghindar saat tiba-tiba dia lewat di depanku atau aku merasa seolah-olah kalimat yang sudah kurencanakan untuk menyapanya, jadi hilang begitu saja. Itu terjadi setiap hari di sekolah, sehingga aku jarang sekali mengobrol dengannya secara akrab, meskipun kami pernah menjadi teman sekelompok dalam mengerjakan tugas. Tiga tahun aku sekelas dengannya, jadi terasa tak ada artinya.

Akan tetapi, hari ini aku bisa melihat dirinya lagi yang sedang menuju parkiran toko tak jauh dari mobilku berhenti dan kurasa dia menuju ke mobilnya. Dia sedang meletakkan semacam tas besar dan dua kantong plastik yang juga besar─entahlah apa itu karena aku tidak bisa melihatnya begitu jelas─ke dalam tempat duduk bagian tengah dan belakang mobil. Lalu, dia menuju ke kursi depan untuk mengemudi dan menjalankan mobilnya yang ternyata mengarah ke dekat mobilku. Terima kasih, Semesta! Aku merasa kembali ke masa SMA lagi!

Mengetahui lampu hijau sudah menyala. Aku langsung mengikuti mobilnya tanpa harus berpikir seribu kali. Inilah momen di mana jantungku berdetak sangat kencang. Tak kusangka, aku jadi melupakan momen makan siang berdua yang baru saja selesai kulakukan dengan perempuan yang kukenal di kantor. Kebetulan, kaca mobilku dan kaca mobil perempuan yang kusuka sejak SMA adalah kaca yang tidak begitu gelap, sehingga aku bisa melihat dirinya sedang menyetir. Kemudian, aku pun membuka kaca mobil sebelah kiri karena saat ini aku sudah sejajar dengannya di jalan karena kondisinya lumayan macet─tepatnya di sebelah kanan mobilnya. Aku merasa dia menengok ke arahku selama beberapa detik, jadi aku mencoba memberikannya senyuman. Namun sayangnya, saat aku ingin melambaikan tangan sebagai tanda untuk menyapa, dia sudah kembali fokus menyetir dan memacu kendaraannya dengan cepat, sehingga posisi mobilnya kembali berada di depanku. Aku pun terus mengikutinya dari belakang.

Oh, Semesta, apakah dia masih mengenalku? Sudah lama sekali sejak kami lulus SMA, kami tidak berjumpa dan mengetahui kabar masing-masing. Aku akan memberanikan diriku dan berusaha menyapanya dari jarak dekat. Aku pun sangat berharap bahwa dia akan membalas kehadiranku hari ini dengan ramah dan penuh senyuman.

***

Jadi, ada seorang lelaki ...

Aku baru saja selesai membeli bahan-bahan makanan untuk dimasak hari ini dari toko swalayan langgananku. Saat menuju tempat parkir di mana mobilku berada lalu meletakkan anakku─berumur dua tahun─yang sudah kupasangkan sabuk pengaman di tempat duduk bagian tengah serta dua kantong plastik besar belanjaan ke kursi bagian belakang, tiba-tiba saja aku merasa ada lelaki asing sedang memerhatikanku dari pinggir jalan di mana saat itu lampu merah sedang menyala. Tentu saja itu menakutkanku karena dia menatap begitu tajam dan lurus kepadaku. Kupikir awalnya dia sedang mengamati toko swalayan di belakangku, tapi ternyata tidak. Mengetahui keadaan seperti itu, aku langsung cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan langsung menyetir ke jalan raya.

Aku sudah berada di tengah perjalanan sambil menyanyikan lagu kesukaan anakku yang berada di kursi bagian tengah supaya dia tertidur. Biasanya lewat smartphone aku memainkan lagu kesukaannya. Tapi sayangnya, baterai smartphone-ku sudah habis dan entah mengapa aku lupa membawa powerbank hari ini.

Suasana jalanan saat ini lumayan padat, sehingga aku hanya bisa menjalankan mobilku secara perlahan. Namun, tiba-tiba saja anakku batuk, sehingga aku pun langsung menengok ke kursi bagian tengah. Setelah aku memeriksa kondisi anakku yang─Puji Tuhan─ ternyata baik-baik saja, aku tak sengaja melihat ke bagian kanan mobilku lewat kaca. Oh, ternyata mobil lelaki asing yang tadi sedang memerhatikanku di pinggir jalan, sudah berada di samping mobilku dan dia kulihat membuka kaca mobil bagian kiri dan terus menatapku sambil senyum─yang mana malah membuatku semakin takut. Aku mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik karena aku pun tak tahu harus menghubungi siapa─smartphone-ku sedang mati. Melihat kondisi jalanan yang sudah mulai lancar, aku langsung menancap gas supaya aku tidak sejajar lagi dengan mobil lelaki asing itu.

Di perjalanan, aku mencoba untuk berbelok beberapa kali supaya bisa menebak apakah mobil lelaki asing itu tetap mengikutiku juga atau tidak karena aku tak ingin langsung pulang dan membuat dia tahu di mana alamat rumahku berada. Ternyata benar, dia terus mengikutiku. Aku terus memacu mobilku dengan cepat dan berharap ada toko atau pom bensin terdekat yang bisa kujadikan tempat untuk mengalihkan perhatian si lelaki asing. Meskipun begitu, aku masih tetap takut untuk keluar mobil ketika sudah menemukan tempat ramai.

Beberapa menit kemudian, aku menemukan sebuah bengkel dan berinisiatif untuk pergi ke sana. Melihat ke tempat duduk bagian tengah lewat spion di atas dashboard, ternyata anakku sudah tidur dengan nyenyak. Syukurlah, dia tidak ikut merasakan apa yang sedang ibunya rasakan saat ini. Di dalam bengkel yang tempatnya lumayan luas, aku memberhentikan mobilku lalu segera menghampiri si mekanik supaya memeriksa mesin mobilku. Entahlah, mengapa aku menyuruhnya memeriksa mesin; karena hanya itulah yang ada di pikiranku sekarang ini.

Ketika melihat ke arah belakang. Ya Tuhan, mobil lelaki asing yang mengikutiku sejak aku keluar dari toko swalayan ternyata sudah berhenti di dekat bengkel─tepatnya, di pinggir jalan. Inilah momen di mana jantungku berdetak sangat kencang saat mengetahui keberadaannya yang dari tadi terus saja mengikutiku. Mungkin hari ini adalah hari sialku!, aku membatin dalam hati.

Aku segera mengambil anakku yang masih berada di dalam mobil lalu menggendongnya keluar. Dia masih tidur pulas rupanya. Masih dalam keadaan panik, aku langsung meminjam charger kepada salah satu pegawai bengkel supaya bisa mengisi baterai smartphone-ku di sana, kemudian aku bisa menelepon.

“Baik, Bu. Tiga anggota kami segera ke tempat di mana Ibu berada dan siap memeriksa lelaki asing yang dari tadi mengikuti mobil Ibu secara mencurigakan. Terima kasih atas laporannya dan tetaplah selalu waspada. Selamat siang.”

Suasana hatiku jadi lumayan tenang. Jadi, sebelum aku menelepon suamiku yang sedang berada di tempat kerjanya, aku lebih dulu menelepon kantor polisi.

You Might Also Like

9 comments

  1. ya Allah, kasihan sekali. Si pria tidak tahu kalau cintanya sejak SMA sudah punya suami dan anak. Coba dia nanya baik-baik, pasti dia enggak akan dikira pencuri atau dilaporin polisi sama si perempuan.


    ReplyDelete
  2. sedih ngebaca yang "jadi ada seorang perempuan" rasa di hati sudah bergebu-gebu namun si doi tak menghiraukan. dan awalnya aku mengira ini cerita nyata kamu.

    tapi aku sedikit tercengang baca yang "jadi ada seorang lelaki" ternyata menceritakan sudut pandang yang cewek. aku kira ini cerita kamu beneran T_T

    ReplyDelete
  3. wqwq.
    gue ga tau sih ini sebenernya cerita sedih apa lucu.
    gue ngebayngin gimana jadinya kalo si cowo ditangkep polisi terus dia curhat di polsek.
    lagian si jadi cowo tinggal ngomong aja susah.


    *emang susah sih gue aja pernah kayak gitu tapi ga sampe dilaporin polisi :v

    ReplyDelete
  4. Kok jadi ribet gini ya urusannya. Kasian juga kan kalo sampe ditangkep gara-gara lagi stalking hahaha. Tapi ceritanya masih gantung nih :(

    ReplyDelete
  5. HOAH WHAT A NICE PLOT TWIST!!
    Kasihan juga ya si cowok itu, berarti selama di SMA dia ngga dianggap ada alias invisible sama si cewek itu. Heu. Itu dari ceritanya, terkesan bukan lupa tapi emang ngga tahu itu orang siapa. Yah sedih.
    Udah nikah dan punya anak juga, sia2 lah si cowok ngejar2 lagi :(

    ReplyDelete
  6. Yah kasihan dong si cowok orang dia emang nggak pernah dianggep cuman mau nyapa aja malah dikira penguntit...jdi membayangkan ap yg akan terjadi selanjutnya. Ditangkep deh tu cowok. Bagus nih ceritanya! Keep doing!

    ReplyDelete
  7. Memang awalnya juga udah hari yang sial yah buat si lelaki itu. Sampe nanti dia juga bakal ditangkep polisi. Sungguh lelaki sial.

    ReplyDelete
  8. Ini cerita thriller, apa komedi? Entah kenapa aku tertawa atas kesialan si lelaki tadi, selamat menikmati hari terbaikmu! :)

    ReplyDelete
  9. Wah seru nih ceritanya, kasihan si lelaki itu. Lagi asyiknya dengan masa lalu sehingga emngikuti perempuan yang pernah disukai semasa sekolah. Malah berujung dengan polisi. Tetapi memang sih, kok gak ikut berhenti di bengkel dan keluar untuk menemui si perempuan itu dan menanyakan apa yang terjadi. Sekalian menegaskan bahwa dia temannya. Hahahaha.

    Kasihan oh lelaki yang tak berani mengungkapkan isi hati.

    ReplyDelete