Pengikut di Media Sosial

  • November 16, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Follower atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti pengikut, merupakan salah satu elemen penting di dalam sebuah dunia baru bernama media sosial. Biasanya, keeksisan seseorang bisa ditebak melalui seberapa banyak pengikut yang mereka punya. Selain itu, bahkan sekarang para pengusaha sering mengiklankan produk mereka melalui para pemilik akun berpengikut banyak, biasanya adalah para selebritas.

Berbicara tentang pengikut di media sosial. Gue punya pengalaman tentang hal tersebut, tepatnya saat gue baru mengenal media sosial. Gue mulai mengenalnya pada 2009 lalu ketika baru masuk SMA. Media sosial pertama yang gue punya adalah Facebook, kemudian Twitter, setelah itu berlanjut ke Instagram.

Pada saat itu, gue merasa bahwa jika gue mempunyai banyak teman atau pengikut di media sosial adalah hal yang keren dan bisa membuat gue menjadi terkenal seperti para selebritas. Sehingga setiap kali gue masuk ke Facebook, tanpa ragu gue langsung menambahkan orang-orang─yang kebanyakan adalah perempuan─sebagai teman. Begitu juga Twitter, gue mengikuti beberapa akun dan memintanya supaya mereka─orang-orang yang gue ikuti─untuk mengikuti balik akun milik gue (istilahnya: follback). Dan, gak jauh berbeda dengan Instagram.

Seiring berjalannya waktu dan mencoba untuk berpikir lebih bijaksana, gue sadar bahwa gue sudah cukup tahu untuk memilih siapa dan apa yang gue ikuti, khususnya di ranah media sosial. Gue pun berpikir, untuk apa gue memaksa orang lain untuk mengikuti balik akun Twitter atau Instagram jika apa yang gue tampilkan di sana gak sesuai dengan selera mereka dan untuk apa memiliki banyak teman di Facebook jika di sana masih sama rasanya seperti orang asing dan gak saling kenal karena memang dari awal niatnya hanya mengejar keeksisan semu yang gue jelaskan di awal, tanpa ada maksud untuk mengenal lebih jauh. Esensi dari media sosial yang sebenarnya untuk berbagi informasi bermanfaat dan tentunya untuk bersosial jadi terasa gak tercapai. Sejak saat itu, gue gak akan meminta orang lain untuk mengikuti balik akun media sosial yang gue punya, termasuk ke teman yang sudah gue kenal, kecuali mereka mengikuti akun gue karena keinginannya sendiri.

Jadi, gue sekarang berprinsip bahwa bermain media sosial harus cerdas dan bijaksana. Gak boleh asal mengikuti orang atas nama gak-enak-kalau-gak-diikuti-balik atau yang hanya menampilkan hal-hal negatif (contoh: menyebarkan provokasi atau berita hoax dan berkeluh kesah setiap menit) karena di zaman digital ini kehidupan di dunia maya dan nyata sudah saling bersinggungan. Dampaknya gak bisa dianggap remeh. Dengan begitu, jumlah pengikut atau teman di media sosial yang gue punya sekarang bukanlah ukuran keeksisan bagi diri gue. Dan, gue berharap bahwa keeksisan setiap orang diukur dari seberapa bermanfaatnya informasi yang diberikan kepada orang lain yang sudah mengikuti atau berteman dengannya di media sosial.

You Might Also Like

0 comments