Beberapa Hal yang Menghalangi Kebahagiaan

  • November 29, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: favim.com

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan. Namun, untuk mencapainya, terkadang kita menemui beberapa kendala yang bisa membuat rasa bahagia yang ada di dalam diri menjadi pudar, bahkan hilang. Kendala tersebut sebenarnya muncul karena kita yang memilihnya sendiri, bukan karena hasil dari perbuatan orang lain.

Nah, kali ini gue mau membahas beberapa hal yang bisa membuat kebanyakan dari kita sering menghalangi kebahagiaan itu muncul. Hal tersebut berdasarkan dari pengalaman gue selama ini dan mungkin di antara kalian juga ada yang pernah merasakannya. Apa saja itu?

1. Rasa cemburu dan iri

Ada suatu masa di mana saat kita melihat saudara, tetangga, atau bahkan teman terdekat yang sudah meraih kesuksesan dalam hidup. Kesuksesan tersebut biasanya yang dapat dilihat dengan kasatmata, seperti memiliki uang banyak, karir bagus, studi ke luar negeri, atau sudah bisa memenuhi segala kebutuhannya secara mandiri. Dan, kita pun bertanya-tanya, kenapa kesuksesan tersebut belum menghampiri ke kehidupan kita. Gak jarang, akibat dari pertanyaan Kenapa dia yang harus dapat hidup enak, bukan gue?, malah membawa kita secara gak sadar ke dalam rasa iri dan cemburu.

Untuk itu, sebisa mungkin kita harus bisa berpikir secara realistis dan bijaksana. Apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari diri kita sendiri. Kita boleh membandingkan kesuksesan orang lain sebagai motivasi diri supaya bisa melakukan pekerjaan atau mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi. Dengan begitu, ketika kita bisa menjauhkan diri dari rasa iri dan cemburu, kebahagiaan pun akan menghampiri dalam diri kita dalam bentuk rasa syukur.

2. Bekerja terlalu keras

Waktu yang berlalu begitu cepat, kebutuhan yang selalu meningkat, membuat kita terkadang lupa untuk menikmati hidup dan tanpa sadar kita malah menyiksa diri untuk selalu terus bekerja tanpa henti.

Gue pun pernah merasakannya. Akan tetapi, dalam kasus gue adalah terlalu keras saat mengerjakan tugas kuliah sampai lupa untuk menikmati waktu senggang. Akibatnya, apa yang gue kerjakan malah membuat gue merasa bosan dan membuang energi lebih banyak. Dari pengalaman gue itu, gue akhirnya sadar bahwa untuk menjalankan setiap pekerjaan haruslah dengan pikiran yang tenang dan bisa mengatur waktu dengan baik supaya pekerjaan tersebut bisa berjalan dengan teratur dan bisa menimbulkan perasaan nyaman. Karena ketika kita sudah nyaman dalam melakukan pekerjaan, kebahagiaan dijamin akan datang.

3. Memikirkan masa lalu

Beberapa di antara kita pasti sering mengingat-ingat kesalahan di masa lalu. Kesalahan tersebut muncul di dalam pikiran kita dan membuat kita berandai-andai seandainya saja saat itu kita bisa mengetahui kesalahan yang kita perbuat, pasti saat ini hal-hal yang diinginkan bisa tercapai lebih cepat.

Iya, pikiran masa lalu juga sering hinggap di pikiran gue. Berharap bahwa gue bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki setiap kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Namun, dari memikirkan masa lalu malah membuat gue jadi melupakan kehidupan yang sekarang. Kehidupan yang seharusnya menjadi bahagia ketika kita bisa menikmatinya, bukan terus menyesal kepada yang sudah terjadi.

Kemudian, gue berpikir lebih tenang untuk mencoba keluar dari bayang-bayang masa lalu. Akhirnya gue sadar bahwa setiap manusia di dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana cara kita menanggapi setiap kesalahan yang telah kita perbuat. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita harus bisa menganggap bahwa kesalahan yang sudah terjadi merupakan pengalaman kita supaya menjadi pribadi yang lebih baik untuk menjalani kehidupan saat ini.

4. Kekhawatiran  akan masa depan

Sebelumnya, gue sudah membahas tentang penyesalan di masa lalu. Sekarang adalah kekhawatiran tentang sesuatu yang sebenarnya belum terjadi, yaitu tentang hidup kita di masa depan. Ya, bayangan tentang masa depan terkadang bisa membuat kita menjadi takut. Seperti yang juga sering gue rasakan. Beberapa pertanyaan seperti Apakah gue bisa mencukupi kehidupan gue nanti?, Apa gue bisa membahagiakan kedua orang tua di masa depan?, atau Apakah nanti ada seseorang yang bisa selalu mendukung gue ketika gue berada di titik terendah dalam hidup? suka muncul di dalam pikiran gue.

Dari kekhawatiran tersebut, gue mencoba untuk selalu meyakinkan diri supaya mengerjakan segala sesuatu di masa sekarang secara maksimal dan terbaik. Karena ketika kita bisa berkomitmen dengan diri sendiri dan sadar jika semua yang dilakukan dengan penuh niat baik, hasilnya pun akan berjalan dengan baik juga.

5. Mengharapkan kondisi fisik yang sempurna

Beberapa di antara kita mungkin adalah seseorang yang kurang percaya diri dengan kondisi fisik yang dimiliki. Termasuk gue, terkadang suka membandingkan kondisi fisik gue dengan orang lain yang dirasa lebih baik. Padahal, yang sebenarnya terjadi selama ini adalah kondisi fisik yang “sempurna” itu diciptakan oleh produk kecantikan atau produk yang menjual perawatan tubuh yang gak jarang membuat orang-orang ingin mempunyai kondisi wajah, gaya rambut, tinggi badan, warna kulit, dan lain-lain seperti yang ditampilkan oleh seseorang yang menjadi model si produk. 

Dengan begitu, asal tubuh kita wangi, bersih, dan berpenampilan rapi, menurut gue itu sudah cukup untuk membuat kita percaya diri dan mengabaikan setiap standar kecantikan atau ketampanan fisik yang dibuat oleh kebanyakan orang. Karena gue yakin, setiap orang itu berbeda dan memiliki kecantikan atau ketampanannya masing-masing.

Oleh karena itu, gue selalu berusaha untuk mensyukuri penampilan fisik yang gue punya supaya kebahagiaan selalu datang.

6. Menunda 

Untuk mencapai kebahagiaan, sebaiknya kita jangan menunda setiap hal atau pekerjaan untuk kebaikan diri sendiri. Kita harus bisa tegas kepada diri sendiri dan sadar bahwa menunda adalah hal yang sering mendatangkan kerugian.

Seperti yang gue rasakan saat menulis artikel ini. Karena beberapa bulan lalu gue suka menunda-nunda dalam mengumpulkan syarat sidang skripsi─yang sebenarnya jika dilakukan lebih awal, kemungkinan besar saat ini gue sudah diwisuda─sekarang gue merasakan dampaknya dari hasil menunda sesuatu yang dulu gue anggap remeh tersebut. Dengan begitu, ketika rasa untuk menunda datang, gue berusaha supaya bisa menjadi lebih tegas kepada diri sendiri dan melawan segala kemalasan yang dirasa. Karena semakin menunda sesuatu hal, meskipun itu adalah hal yang kita anggap remeh, maka kebahagiaan dan kesuksesan pun juga akan tertunda dalam hidup kita.

***

Itulah beberapa hal yang bisa membuat kebahagiaan jadi terhalang untuk muncul di dalam diri kita berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi di hidup gue. Artikel ini gue tulis bertujuan juga untuk mengingatkan diri gue sendiri yang masih suka melakukan hal-hal bodoh dalam hidup. Namun, seenggaknya dengan menulis artikel ini, gue jadi bisa mengoreksi segala perbuatan yang masih terdapat kesalahan supaya gue dan kalian yang membaca artikel ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dengan begitu, kedamaian dan kebahagiaan pun semoga selalu datang ke dalam hidup kita. Amin.

You Might Also Like

0 comments