Dari sebuah Novel 'Max Havelaar'

  • March 14, 2015
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Gue baru saja selesai membaca novel klasik abad 19 yang berjudul ‘Max Havelaar’ karya Multatuli. Gue membeli buku tersebut di pertengahan bulan Februari 2015 lalu saat berkeliling di rak-rak Gramediakarena saat membeli buku, terkadang gue gak mempersiapkan ingin membeli buku apa. Melihat beberapa buku yang dipajangyang kebanyakan adalah buku-buku novel teenlitgue merasa bosan dengan genre buku tersebut, jadi gue ingin mencari buku yang lebih “serius” dan menambah wawasan gue. Dan secara gak sadar, gue berdiri di depan rak buku bagian novel-novel klasik. Dari sana gue melihat salah satu buku yang gak asing menurut gue. Ya, buku yang sudah gue katakan di awal, 'Max Havelaar'.

‘Max Havelaar’ adalah judul buku yang pernah gue baca dari salah satu bab di buku paket pelajaran Sejarah saat SD. Dalam buku paket itu, seingat gue, mengatakan kalau buku yang ditulis Multatuli (atau nama sebenarnya adalah Eduard Douwes Dekker) merupakan buku yang fenomenal pada zamannya karena berisi tentang kekejaman para penjajah Belanda dan pejabat pribumi yang menindas rakyat kecil di daerah Lebak, Banten. Kekejaman tersebut sebenarnya gak banyak yang mengetahui, tapi karena buku yang ditulis dari Multatuli itulah akhirnya bisa terungkap.

Novel tersebut pembawaannya bisa dikatakan sedikit konyol tapi juga serius. Konyol karena ditulis dari dua sudut pandang orang pertama yang berbeda; jadi saat kita membacanya, akan terjadi perseteruan dari dua sudut pandang tokoh, yaitu dari sudut pandang Droogstopel dan Stern. Lalu serius, karena dalam bab-bab berikutnya akan menceritakan perjalanan hidup Max Havelaar selama menjabat sebagai Asisten Residen Lebak. Namun, ada juga di dalam salah satu bab yang menceritakan tentang gambaran kehidupan salah satu orang pribumi miskin--bernama Saidjah--ketika ditindas oleh penjajah Belanda dan bagaimana dia berjuang keras menjalani hidup dan kisah cintanya.

Akan tetapi setelah membaca novel tersebut sampai habis, gue lebih tertarik kepada kisah hidup Max Havelaar sendiri selama menjabat di pemerintahan. Dia merupakan orang yang sangat menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Dan karena sifatnya itu, dia rela hidup secara sederhana (atau bisa juga dikatakan 'serba kekurangan') bersama istri dan anaknya. Sebenarnya dia bisa saja hidup berkecukupan seperti kehidupan para pejabat Belanda lainnya di Banten, tetapi karena dia tahu mereka melakukan cara yang gak sewajarnya untuk memperkaya diri, dia pun memutuskan untuk gak melakukan hal yang sama seperti itu. Dia lebih fokus untuk mengabdikan diri demi terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera di daerah Lebak.

Yah, namanya juga kehidupan. Di saat ada satu orang “benar” tinggal di lingkungan yang kebanyakan dihuni oleh orang-orang yang “gak benar”, orang “benar” tersebutlah yang akan kalah. Itulah yang sebenarnya terjadi kepada Max Havelaar di dalam bukunya. Di saat dia memperjuangkan kesejahteraan rakyat, dirinya malah yang dianggap “melenceng” dan melanggar dari kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh pejabat Belanda pada masa itu (pemerasan dan penindasan). Dengan sikap idealisnya itu, akhirnya dia yang kalah dan disingkirkan dari jabatan pemerintahan, sehingga dia harus kembali ke Belanda dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan.

Dari buku tersebut gue bisa belajar bahwa menjadi orang jujur dan bersifat adil merupakan tindakan yang sulit untuk dilakukan ketika gak ada orang yang sama-sama mendukung hal baik itu. Melihat kondisi pemerintahan di Indonesia saat ini, gue jadi bisa merasakan bagaimana orang jujur dan adil yang mempunyai jabatan terkadang gak bisa berbuat apa-apa saat ada masalah-masalah yang melanda seperti korupsi dan hal-hal “kotor” lainnya. Gue jadi sadar, kalau ingin membentuk suatu lingkungan yang “baik”, para penghuni di lingkungan tersebut harus dihuni oleh orang-orang yang “baik” juga, sehingga kehidupan yang selama ini diidam-idamkan pun bisa dengan mudah tercapai, seperti yang tertulis di Pancasila sila kedua: “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. 

Akhirnya, kita pun menghadapi sebuah pertanyaan,

“Sudahkah kita menjadi orang jujur dan berani melawan ketidakadilan?”

You Might Also Like

0 comments