Akurapopo

  • May 20, 2014
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 2 Comments


“Mahasiswa juga manusia. Mahasiswa juga makhluk yang tidak sempurna. Mahasiswa juga membutuhkan proses untuk menjadi lebih baik. Mahasiswa juga mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.”

Oke, kata-kata di atas adalah curhatan gue untuk kejadian hari ini (20/05/2014). Kejadian yang membuat gue, malah bukan hanya gue, tetapi mungkin juga teman-teman sekelas lainnya yang merasakan perlakuan yang gak begitu enak dari sifat dosen yang gak suka menghargai usaha baik mahasiswanya.

Perlakuan yang gak begitu enak? Sebenarnya ada apa sih, Gung? Kata-kata lo kayaknya menunjukkan ekspresi negatif gitu kepada salah satu dosen?

Ya, benar banget. Gue sedang menunjukkan rasa negatif kepada salah satu dosen. Dosen yang mempunyai sifat mau benar sendiri tanpa mendengarkan pendapat dari mahasiswanya.

Coba deh bayangin ketika lo sudah berusaha melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin dalam mengerjakan tugas, tetapi yang lo dapatkan adalah sebuah kritikan yang gak membangun, malah sebuah kritikan yang membuat lo menjadi down dan merasa "untuk apa sih gue udah berusaha mengerjakan tugas dengan baik kalau ujung-ujungnya gue malah gak dihargai?".

Ya, kejadian yang gue ceritakan di atas terjadi di hari ini ketika gue dan teman-teman sekelas disuruh mengumpulkan tugas kuliah yang tugasnya membuat laporan dari kegiatan seminar yang dihadiri seminggu lalu. Tapi, setelah dikumpulkan dan tugas dari kelompok gue diperiksa pertama, ternyata tugas kami ditemukan lumayan banyak kesalahan oleh si dosen. Dosen tersebut, panggil saja ‘Bu Rik’, memarahi kelompok gue seakan-akan kalau kami adalah mahasiswa yang gak bisa diandalkan. Seakan-akan, kami juga adalah Mahasiswa yang selama ini kerjaannya bermalas-malasan tanpa mengerti mata kuliah yang diajarkan olehnya. Padahal, dari awal beliau mengajar gue dan teman-teman sekelas sampai hari ini, gue merasa kalau beliau hanya memberikan ilmu yang sedikit kepada kami. Mengapa? Karena selama mata kuliah berlangsung, kami hanya disuruh membaca buku paket yang diberikan, kemudian mengerjakan latihan-latihan, setelah itu dibahas ketika mata kuliah Bu Rik tiba. Namun, ketika dibahas dan salah satu dari kami menjawab soal dengan salah, Bu Rik langsung mem-judge kami dengan sudut pandang negatif. Ya, terlihat dari bagaimana komentar yang diberikan terhadap kami. Salah satu contohnya,

“Duh, dasar kamu ini ya gak ngerti-ngerti materi yang udah saya ajarin!”

Padahal, kenyataannya beliau hanya sedikit mengajarkan setiap materi yang dibahas. Kami memahaminya secara sendiri. Walaupun kami sudah lumayan paham dengan materi yang dibahas, tetapi kami masih butuh bimbingan lagi untuk memahaminya secara jelas dan tuntas. Bukannya di-judge dengan perkataan-perkataan yang meremehkan.

Entahlah, gue merasa kurang begitu suka kepada dosen yang gak menghargai proses. Proses seseorang dalam memahami sesuatu ilmu yang baru dikuasai. Meskipun terkadang dalam sebuah proses, ditemukan kesalahan-kesalahan. Ya, kesalahan agar menjadi lebih baik.

Kembali ke cerita.

Jadi, ketika tugas laporan gue diperiksa dan ditemukan lumayan banyak kalimat yang tersusun secara kurang benar, Bu Rik langsung memarahi kami dan mengatakan kalau apa yang kami pelajari selama ini gak menghasilkan apa-apa. 

Setelah memberikan komentar negatif terhadap hasil laporan tugas kelompok gue, Bu Rik pun mengancam kepada kami sekelas kalau misalnya kami mengerjakan tugas yang gak membuat hatinya puas lagi, kami gak akan diluluskan di mata kuliahnya. WOW. SADIS. BANGETZ.

Seketika itu, gue hanya diam. Sudah malas untuk berkata-kata, apalagi menanggapi perkataan dari Bu Rik. Kalaupun gue berani menanggapi dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada beliau, yang ada mungkin gue benar-benar gak bakal diluluskan. Hiii... jangan sampai, deh. Ya, karena gue selalu ingat pepatah sesat dari planet seberang,

“Dosen selalu benar, mahasiswa selalu salah. Ketika dosen melakukan kesalahan, ingatlah pernyataan kalau dosen selalu benar.”

You Might Also Like

2 comments