Ilustrasi kesenjangan finansial.
(Sumber: magnific.com)
Setiap bulan, cerita yang sama terus berulang. Gaji masuk ke rekening, namun dalam hitungan hari (bahkan jam) nominalnya langsung menyusut drastis. Setelah dipotong tagihan listrik, sewa tempat tinggal atau cicilan, biaya makan sehari-hari, pendidikan anak, serta bantuan untuk orang tua, angka di m-banking hanya tersisa secukupnya.
Sebagai bagian dari kelas menengah, ada perasaan ganjil yang sering menghampiri: kita bekerja keras setiap hari, pergi pagi-pulang malam, menekan pengeluaran sebisa mungkin, tetapi mengapa kondisi finansial rasanya begini-begini saja? Kita tidak tergolong miskin karena masih bisa makan dan membayar kebutuhan harian, tetapi kita juga jauh dari kata aman apalagi kaya. Pendapatan yang diperoleh habis hanya untuk menopang hidup saat ini, tanpa meninggalkan sisa yang berarti untuk membangun aset masa depan.
Nampaknya, perasaan "usaha maksimal, hasil minimal" ini bukanlah hanya masalah kegagalan personal dalam mengelola keuangan, melainkan cerminan dari realitas struktur ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia.
Dua Realitas yang Saling Bertolak Belakang
Ketika mayoritas masyarakat kelas menengah harus memutar otak agar gaji cukup sampai akhir bulan, realitas di perekonomian masyarakat kelas atas menunjukkan pemandangan yang bertolak belakang.
Berdasarkan data Forbes [1], total kekayaan 50 orang dan keluarga terkaya di Indonesia pada 2025 melonjak hingga US$ 306 miliar, naik sekitar 16,4 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun. Taipan kawakan seperti R. Budi dan Michael Hartono (US$ 43,8 miliar) serta Prajogo Pangestu (US$ 39,8 miliar) terus mengokohkan posisinya, didampingi nama-nama baru dari sektor infrastruktur digital dan pusat data seperti Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman.
Mengapa kekayaan mereka bisa melonjak begitu cepat sementara masyarakat biasa kesulitan menabung?
Jawabannya terletak pada "kepemilikan aset". Orang-orang kaya tidak sekadar mengandalkan pendapatan bulanan. Kekayaan mereka tertanam dalam bentuk saham, bisnis, properti, dan infrastruktur. Ketika nilai perusahaan atau harga saham naik, nilai kekayaan mereka otomatis terdongkrak. Aset ini pun memproduksi pendapatan baru (passive income) yang bisa diinvestasikan kembali.
Fenomena ini dikenal sebagai Matthew Effect atau prinsip ketika mereka yang sudah memiliki modal awal akan mendapatkan akses dan keuntungan yang jauh lebih besar untuk melipatgandakan kekayaannya.
Jurang Aset dan Ancaman Ketimpangan Generasional
Sebaliknya, bagi kelas menengah, menumpuk aset adalah perjuangan yang cukup berat. Pendapatan harian habis dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Banyak dari kita juga terjebak sebagai sandwich generation, yang harus menopang generasi di atas (orang tua) sekaligus generasi di bawah (adik atau anak-anak).
Ketimpangan ini terlihat mencolok ketika kita melihat data penguasaan aset secara nasional [2]:
- 10% penduduk terkaya di Indonesia menguasai 59,4% total kekayaan nasional.
- 1% penduduk teratas menguasai sekitar 19,9% kekayaan.
- Sementara 50% penduduk terbawah hanya menguasai 2,5% kekayaan.
Tak heran jika posisi kelas menengah semakin menyedihkan. Data menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah di Indonesia menyusut drastis dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 46,7 juta orang pada 2025 [3]; artinya ada sekitar 10,6 juta orang yang "turun kelas" menjadi kelompok rentan miskin.
Kondisi ini menciptakan jurang yang sulit disempitkan dan berisiko diturunkan ke generasi berikutnya. Seorang anak yang lahir dari keluarga beraset banyak sudah memiliki "titik start" yang jauh di depan; memiliki akses pendidikan terbaik, jaringan bisnis, dan modal usaha. Sementara anak dari kelas menengah harus memulai segalanya dari nol, bertarung dari titik awal yang sama kerasnya dengan orang tua mereka.
Menatap Masa Depan
Pertumbuhan ekonomi baru terasa berdampak saat manfaatnya tersebar luas, alih-alih menumpuk pada pemilik modal besar. Selain itu, keberhasilan ekonomi diukur langsung dari terciptanya ruang bagi kelas menengah dan pekerja untuk mengumpulkan aset, mengamankan finansial, dan meningkatkan taraf hidup secara konsisten.
Perjuangan untuk meraih stabilitas finansial tetap terasa berat selama kebijakan publik belum berfokus pada pemerataan aset dan perlindungan rakyat. Meski begitu, memahami ketimpangan sistemik ini memberi kita kepastian bahwa kesulitan hari ini adalah tantangan nyata yang harus diselesaikan lewat kebijakan yang lebih adil.
_________________
Sumber:
[1] https://www.forbes.com/lists/indonesia-billionaires/
[2] https://wid.world/country/indonesia/
[3] https://money.kompas.com/read/2026/09/02/163226626/81-tahun-merdeka-indonesia-makin-kaya-tapi-kelas-menengah-tertekan

