Bagi Indonesia, Peristiwa 1965 lebih dari catatan kelam masa lalu, melainkan luka mendalam yang ternyata ikut dirancang dari balik meja kekuasaan di Amerika Serikat (AS). Ketika jutaan nyawa melayang dari Jawa, Bali, hingga Sumatra, negara-negara Barat justru menyambutnya dengan sukacita. Buku The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World karya Vincent Bevins membongkar kenyataan pahit: bagaimana Indonesia pernah dijadikan "laboratorium pembantaian", dan cara berdarah ini kemudian ditiru oleh puluhan negara lain di dunia.
Vincent Bevins, seorang jurnalis asal AS, menggabungkan riset dokumen resmi, wawancara kepada para penyintas, dan analisis sosial-politik yang tajam. Hasilnya adalah rekonstruksi sejarah yang runtut, mudah diikuti, dan sangat menarik, layaknya sebuah karya literatur yang ditulis secara akademis namun tetap menampilkan gaya bahasa yang penuh empati.
Untuk menjelaskan bagaimana Tragedi 1965 di Indonesia membentuk dunia modern hari ini, Bevins membagi bukunya ke dalam lima bagian:
1. Perebutan Pengaruh Dunia: Pembentukan sistem dominasi global oleh AS (atau yang secara historis bisa kita sebut sebagai Kekaisaran AS) dalam menghadapi gelombang dekolonisasi dan lahirnya konsensus kemerdekaan di Asia-Afrika.
2. Peristiwa G30S dan Misteri di Tingkat Elite: Penelusuran ulang atas peristiwa penculikan para jenderal di Jakarta yang hingga kini masih penuh teka-teki di tingkat pimpinan.
3. Pembantaian Massal di Indonesia: Langkah militer di bawah Suharto yang menggunakan propaganda untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pengikutnya, hingga menewaskan 500 ribu sampai 1 juta jiwa.
4. Penyebaran "Metode Jakarta" ke Berbagai Negara: Bukti bagaimana cara pembunuhan massal di Indonesia ditiru oleh pemerintah militer di sedikitnya 23 negara lain dengan dukungan AS.
5. Dampaknya bagi Dunia Saat Ini: Analisis tentang bagaimana kekerasan sistematis ini memenangkan AS dalam Perang Dingin dan membentuk wajah globalisasi kapitalisme hari ini.
Matinya "Semangat Bandung" akibat Ambisi Negara Maju
Setelah Perang Dunia II, Indonesia memimpin perlawanan terhadap penjajahan Barat. Melalui Presiden Sukarno, negara-negara Asia dan Afrika berkumpul dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 1955. KAA melahirkan "Semangat Bandung", yaitu tekad negara-negara yang baru merdeka untuk berdiri sendiri; tidak mau memihak ke Blok Barat (AS) maupun Blok Timur (Uni Soviet). Indonesia dan rekannya ingin dunia yang adil, menghargai kemerdekaan, serta bebas mengelola kekayaan alamnya sendiri.
Namun, bagi pemerintah AS dan badan intelijennya (CIA) yang dibentuk pada 1947, sikap mandiri ini dianggap sebagai ancaman bagi bisnis, pangkalan militer, dan sumber daya alam mereka. Sebelum campur tangan di Indonesia pada 1965, AS sudah lebih dulu mencampuri urusan negara lain: menumpas gerakan Hukbalahap di Filipina (1954), menggulingkan pemerintahan demokratis Jacobo Árbenz di Guatemala (1954), hingga menyabotase pemilu bebas di Vietnam (1956).
Di Indonesia, saat Sukarno menolak tunduk dan mengambil alih perusahaan-perusahaan asing, CIA mulai menjalankan operasi rahasia, termasuk mendanai pemberontakan PRRI/Permesta pada 1958. Begitu cara licik ini gagal menumbangkan Sukarno, AS pun berganti taktik: mereka mendekati, memberi pelatihan, dan merangkul para perwira Angkatan Darat Indonesia untuk dijadikan alat perlawanan dari dalam.
Pembantaian Massal 1965–1966: Peristiwa Berdarah di Tanah Air
Penculikan para jenderal pada 30 September 1965 oleh kelompok militer dijadikan alasan utama oleh Mayjen Suharto untuk menjalankan aksinya. Tanpa bukti kuat yang melibatkan seluruh anggota PKI (yang kala itu merupakan partai politik sah dan berjuang lewat jalur hukum), pihak militer langsung menyebarkan propaganda dan melancarkan aksi balas dendam besar-besaran.
Bekerja sama dengan kelompok masyarakat dan ormas keagamaan sayap kanan, pembantaian paling mengerikan sepanjang Perang Dingin pun terjadi. Di Jawa, Bali, hingga Sumatra, jutaan orang diburu, ditangkap tanpa proses hukum, disiksa, dan dibunuh. Begitu banyaknya korban hingga sungai-sungai dipenuhi mayat yang menyumbat aliran air.
AS pun tidak tinggal diam. Dokumen sejarah membuktikan bahwa pejabat dan intelijen AS di Jakarta menyerahkan daftar ribuan nama anggota PKI kepada militer Indonesia untuk "disingkirkan". Bagi AS, pembunuhan massal ini bukanlah bencana kemanusiaan, melainkan sebuah "kemenangan besar" untuk kelompok mereka.
"Jakarta" Menjadi Kata Sandi untuk Pembantaian
Kemenangan militer Indonesia dalam menghancurkan kelompok kiri dan mendirikan Orde Baru yang terbuka bagi bisnis asing dijadikan contoh "sukses" oleh negara-negara Barat. Sejak saat itu, kata "Jakarta" bukan lagi hanya nama ibu kota Indonesia, tetapi berubah menjadi sandi ancaman yang dituliskan di dinding-dinding kota Santiago, Buenos Aires, hingga San Salvador.
Di Cili pada 1973, sebelum kediktatoran Augusto Pinochet menggulingkan Salvador Allende, grafiti bertuliskan "Jakarta is coming" bermunculan di tembok-tembok jalanan. Tulisan itu menjadi ancaman mati bagi para aktivis kiri. Metode pembantaian massal yang terjadi di Indonesia ini kemudian ditiru dan diterapkan di banyak negara, seperti Brasil, El Salvador, Honduras, hingga Guatemala
Vincent Bevins pun menunjukkan bagaimana metode berdarah dari Indonesia ini saling terhubung dan menyebar ke seluruh dunia:
"As we have seen, in the years 1945-1990, a loose network of US-backed anti-communist extermination programs emerged around the world, and they carried out mass murder in at least twenty-three countries… There was no central plan, no master control room where the whole thing was coordinated, but I think the extermination programs in Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Columbia, East Timor, El Salvador, Guatemala, Honduras, Indonesia, Iraq, Mexico, Nicaragua, Paraguay, the Philippines, South Korea, Sri Lanka, Sudan, Taiwan, Thailand, Uruguay, Venezuela, and Vietnam should be seen as interconnected and as a crucial part of the US victory in the Cold War. The men carrying out purposeful executions of dissidents and unarmed civilians learned from one another. They adopted methods that were developed in other countries. Sometimes, they even named their operations after other programs they sought to emulate. I found evidence indirectly linking the metaphor ‘Jakarta,’ taken from the largest and most of these programs, to at least eleven countries…. But even the regimes that were never influenced by that specific language would have been able to see, very clearly, what the Indonesian military had done and the success and prestige it enjoyed in the West afterwards".
Ia juga menambahkan kesimpulan mengenai landasan kekerasan yang membentuk dunia kita saat ini:
"I am not saying that the United States won the Cold War because of mass murder… I do want to claim that this loose network of extermination programs, organized and justified by anticommunist principles, was such an important part of the US victory that the violence profoundly shaped the world we live in today."
Pelajaran Penting bagi Indonesia dan Dunia
Bagi rakyat Indonesia, membaca The Jakarta Method membuka kembali ingatan sejarah yang selama ini ditutupi oleh narasi tunggal Orde Baru. Tragedi 1965 tidak hanya menghancurkan kehidupan banyak orang hebat di dalam negeri, tetapi juga mencabut posisi Indonesia sebagai pemimpin dan pelindung negara-negara berkembang di dunia.
Pelajaran berharga dari buku ini adalah pentingnya melihat politik secara luas, bukan hanya dari dalam negeri. Jika kita melihat kondisi dunia hari ini (mulai dari ketimpangan antara si kaya dan si miskin yang makin lebar, intervensi militer Barat terus berulang, hingga krisis ekonomi), kita tidak bisa lagi bersikap acuh tak acuh.
Untuk membangun masa depan yang adil dan berdaulat, Indonesia dan negara-negara berkembang harus berani mengenali serta menolak berbagai bentuk penjajahan gaya baru. Tanpa keberanian untuk belajar dari sejarah yang kelam ini, kita akan selalu berisiko kembali menjadi korban dari "Metode Jakarta" selanjutnya.

