Dua Sudut Pandang di 'Laut Bercerita'


Setelah menyelesaikan novel Pulang, saya pun langsung membaca Laut Bercerita. Jika sebelumnya berfokus kepada kerusuhan September 1965, di novel ini bercerita tentang Peristiwa Mei 1998. Dengan dua karakter utama dan yang menjadi sudut pandang, Biru Laut dan Asmara Jati, saya jadi bisa merasakan bagaimana kisah-kisahnya disampaikan.

Biru Laut adalah mahasiswa yang berbakat dalam menulis dan memasak. Selain itu, ia juga memiliki pikiran kritis sehingga—ketika masuk kuliahia bergabung dengan kelompok aktivis penentang Pemerintah Orde Baru bernama Wirasena. Di kelompok ini, ia bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang memiliki satu visi dan misi, meskipun dengan sifat dan karakter yang berbeda. Namun, yang membuat novel ini membuat dada sesak adalah Laut menceritakan kisahnya sebelum dan setelah ia dibunuh oleh para tentara, yang mana kemudian ia ditenggelamkan ke laut. Jadi, saya bisa membayangkan rasa sakit dan keputusasaan Laut saat menerima penyiksaan di dalam sel bawah tanah.

Asmara Jati adalah adik perempuan Laut. Berbeda dengan kakaknya, ia merupakan mahasiswa kedokteran yang memilih "perjuangan"-nya dengan menyembuhkan orang-orang yang sakit di daerah terpencil. Mengetahui Laut memilih untuk menjadi aktivis, Asmara cukup tidak setuju dengan keputusan itu karena khawatir kegiatan kuliahnya akan terganggu. Meskipun ada benarnya, secara perlahan ia bisa memahami tekad Laut yang sangat ingin menumbangkan Orde Baru. Lantas, ketika Peristiwa 1998 pecah, tiba-tiba saja ia tidak mendengar kabar Laut lagi. Padahal beberapa teman seperjuangannya sudah ada yang dilepaskan dari tahanan tersembunyi. Yang membuat hati Asmara semakin sedih adalah sikap ayah dan ibunya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak sulungnya hilang, bahkan bisa dipastikan tewas. Setiap hari, di meja makan, akan ada empat piring yang disiapkan, meskipun hanya ada tiga orang di sana. Sebab, ayah dan ibunya masih berharap dan menantikan Laut yang siapa tahu akan kembali sehingga mereka bisa berkumpul dan makan bersama lagi.

***

Novel yang cukup menyadarkan saya tentang salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia yang sampai sekarang masih kompleks untuk dijelaskan, apalagi yang berkaitan dengan para korban yang "hilang". Lantas, setelah selesai membaca novel ini, saya langsung mencari informasi tambahan di Internet tentang Peristiwa 1998.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.