Pengagum Rahasia

  • September 30, 2015
  • By Agung Wicaksono
  • 0 Comments


(September 2013)

Tik... Tok... Tik... Tok...

Suara jarum jam di kamar kos menemani kesunyian gue malam ini.

Seharusnya malam ini gue mengerjakan tugas Listening yang diberikan oleh dosen gue hari Kamis kemarin, tapi gak tahu kenapa karena tugas tersebut masih dua hari lagi dikumpulin, jadi gue malah merasa masih banyak waktu untuk menunda tugas gue itu. Iya gue tahu, menunda-nunda tugas untuk dikerjakan itu emang gak baik... tapi menurut gue, lebih gak baik lagi kalau kita menunda-nunda untuk menyatakan perasaan ke seseorang yang kita suka. Eh, kenapa tiba-tiba gue jadi galau gini. -__-

Oh iya, tadi sore pas gue sedang blog walking, gue ngebaca postingan dari @shitlicious. Setelah gue baca sampai habis, ternyata inti dari postingan tersebut adalah mengenai seseorang yang lebih memilih menjadi pengagum rahasia ke orang yang disukainya daripada mengungkapkan perasaan suka itu secara langsung.

Dari postingan tersebut juga, gue jadi merasa kalau apa yang ditulis di sana adalah gue banget. Iya, gue pernah mengalami hal tersebut saat SMA. Menjadi pengagum rahasia yang sangat rahasia ke perempuan yang gue suka. Jadi. Gue. Ternyata. Juga. Seorang. Pengecut. Huft.

Kalau ada yang belum tahu ‘Pengagum Rahasia Yang Sangat Rahasia’, itu maksudnya adalah ketika kita menyukai seseorang, tapi kita gak pernah mau mengungkapkannya secara langsung dan hanya bisa mengaguminya dari jarak yang sangat jauh. Hanya senyum kita aja yang bisa menjadi saksi betapa besarnya rasa kagum kita ketika melihatnya. Sahabat kita pun juga gak tahu kalau ternyata kita adalah pengagum rahasia ke orang yang kita suka itu. Yang tahu hanya diri kita pribadi dan Tuhan.

Nah, gimana? Bingung?

Sama.

Oke, langsung aja ya ke cerita.

***

Saat itu gue masih baru menjadi anak SMA. Penampilan gue pun juga masih alay, gak teratur, dan jauh dari kata "ganteng".

Suatu hari saat jam istirahat sekolah sedang berlangsung, gue keluar kelas untuk membeli makanan di kantin. Beberapa langkah setelah gue keluar dari pintu kelas, kemudian melangkahkan kaki untuk menuruni tangga (iya, kelas 10 ada di lantai dua) tiba-tiba gue melihat sesosok makhluk ciptaan Tuhan yang begitu cantik (menurut sudut pandang gue) melintas di hadapan gue. Gue hampir saja terpeleset gara-gara gak fokus melihat pesona yang dipancarkan dari salah satu kaum hawa tersebut.

“Eh, Cak. Kenapa lu jadi meleng gitu jalannya? Untung aja langsung gue tarik badan lu. Kalau enggak, bisa kepeleset lu ke bawah tangga,” kata teman gue sambil menarik badan gue yang hampir jatuh.

Ah, seandainya saja gue bisa berkenalan dengan perempuan yang barusan lewat di depan gue itu, kata gue dalam hati.

“Waduh, maaf maaf. Tadi gue gak sengaja melihat perempuan lewat. Kayaknya dia seangkatan sama kita, deh. Menurut gue, dia cantik,” kata gue yang langsung tersadar dari lamunan.

“Oh... perempuan yang barusan lewat itu. Iya, dia seangkatan sama kita. Dia emang cantik banget, Cak. Dari yang gue dengar sih namanya tuh Shena Fania. Itu kelasnya,” teman gue menunjuk ke kelasnya, yang ternyata mengarah ke kelas 10-3.

“Hemm... Oh iya, kita kan mau beli makanan. Ayolah langsung ke kantin!” Merasa kalau gue sudah mengetahui sedikit informasi tentangnya, gue langsung memotong pembicaraan.

Menurut pengamatan gue, gue bisa menyukai Shena karena dia mempunyai wajah mirip seperti Kristen Stewart (yang pada saat itu memang sedang hype serial film Twilight); hidung mancung, kulit putih, dan rambut ikal berwarna hitam kecoklatan sampai melebihi bahu. Gak heran kalau gue (mungkin) adalah kesekian puluh cowok yang menyukai dirinya di sekolah saat itu.

Sesampainya di rumah, gue langsung mencari namanya di Facebook (ya, saat itu FB memang sedang booming banget). Yeah, akhirnya ketemu juga, kata gue dalam hati ketika berhasil menemukan akun FB-nya Shena setelah tiga hari tiga malam tanpa putus asa. Gue mulai mencocokan wajah cantiknya yang gue lihat pagi itu di sekolah dengan foto profilnya. Oke, ternyata cocok. Tanpa basa-basi, gue langsung nge-add akun FB-nya. Mission completed.

Beberapa hari kemudian, dia mengonfirmasi permintaan gue sebagai teman. Walau saat itu dia sedang online dan muncul di kolom chat akun FB gue, tapi gue sama sekali gak berani untuk memulai pembicaraan. Gue cuma bisa mengaguminya dari layar komputer sambil melihat dan akhirnya nge-save foto profilnya yang begitu banyak dari FB. Pengecut? IYAAA!

Hari-hari di kelas 10 telah gue lewati. Sampai sepanjang tahun itu, gue sama sekali gak pernah berani untuk mengajaknya berkenalan, maupun sekadar mengucapkan kata “Hai”. Iya, gue malu, gak percaya diri, dan minder karena saat itu gue merasa kalau bidadari seperti dia gak pantas mengobrol dengan gue yang hanya serpihan kerupuk kulit.

Gue merasa saat itu kalau diri gue memang gak ditakdirkan untuk bisa berkenalan atau pun memandangnya dari jarak yang sangat dekat. Gue pun pasrah dengan diri gue yang hanya bisa menjadi pengagum rahasia dirinya.

Di saat itu, gue yang banyak menyibukkan diri dengan bermain bersama teman-teman terdekat gue di kelas 10, akhirnya sedikit demi sedikit sudah bisa gak terlalu memikirkan Shena, walaupun masih tetap mengaguminya. Gue juga udah jarang membayangkan hal-hal ekstrem yang sering gue imajinasikan ke dia sebelum tidur. (Maksudnya, membayangkan bisa menjadi pacarnya gitu, lho).

***

“APAAA???!!!” *kamera zoom-in zoom-out ke arah muka gue* “SI SHENA BAKAL SEKELAS SAMA GUEEE???!!!” gue terkejut setengah matang karena baru mendapatkan informasi kalau perempuan yang gue kagumi dari kelas 10 itu, ternyata bakal sekelas di kelas 11 bersama gue.

“Kenapa lu, Cak? Kok suara lu tiba-tiba jadi kencang banget gitu, deh?” kata sahabat gue, Ferdi, dari balik ponselnya. Mungkin dia kaget karena mengetahui salah satu teman dekatnya tiba-tiba teriak-teriak gak jelas seperti sedang ikut uji nyali di tempat angker.

“Umm... anu... itu... tadi kayaknya speaker ponsel gue rusak. Oh iya, kalau lu, sekelas sama siapa saja di kelas 11 nanti, Fer?” gue berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Gue belum tahu, nih. Kayaknya yang dari kelas kita dulu (kelas 10 maksudnya), cuma sedikit, deh. Wah, beruntung banget lu bisa sekelas sama Shena. Gue, kalau misalnya bisa tukaran kelas, bakal gue tukar bareng lu, Cak, biar sekelas sama si Shena juga. Hahaha,” teman gue tiba-tiba jadi curhat. Ternyata dia punya selera perempuan yang bagus juga; sama seperti gue. Hehe.

“Oh gitu. Hahaha. Jangan iri ya lu. Itu udah rezeki gue. Oke deh, thanks ya atas infonya. Bye~” gue pun mengakhiri pembicaraan dengan teman gue di ponsel.

Ya, di kelas 11 saat itu, gue masuk jurusan IPS. Gue memang berminat di jurusan tersebut, tapi ada satu hal lagi yang gue syukuri saat itu... ya seperti yang kalian tahu, ternyata gue bakal sekelas dengan Shena, perempuan yang sudah gue kagumi hampir dua semester penuh dan akhirnya gue pun bakal bisa dekat dengannya, setidaknya bisa mengatakan “Hai!” dari jarak dekat. Yuhuuu!

***

Libur semester selama dua minggu akhirnya berlalu. Saat itu adalah awal Juli 2010 dan gue udah siap untuk memulai kelas baru, teman baru, dan suasana yang baru.

Sesampainya di sekolah, gue gak sengaja berpapasan dengan Shena lagi tepat di depan gerbang. Namun sayangnya, dia jalan terburu-buru dan gak melihat gue. Gue merasa maklum, karena saat itu baru pertama masuk sekolah dan kami juga belum saling mengenal.

Bel sekolah berbunyi. Para siswa masuk ke kelasnya masing-masing, terlihat juga para siswa baru SMA memasukki ruangan kelasnya. Entah mengapa, gue merasa pesimistis kalau gue gak bisa mendekati Shena, tapi seenggaknya gue akan berusaha mendekatinya perlahan.

Gue akhirnya sampai di kelas. Terlihat masih asing saat itu karena hanya beberapa teman dekat yang gue kenal yang berasal dari kelas 10. Saat Bu Guru juga sudah memasukki kelas kami, 11 IPS-4, beliau langsung mengatakan untuk segera memilih ketua kelas di kelas kami yang baru ini. Setelah tiga puluh menit berlalu untuk bermusyarah, akhirnya yang terpilih menjadi ketua kelas adalah Shena dan Andri. Ya, kalian gak salah baca kalau Shena-lah yang menjadi ketua kelas kami; perempuan yang gue suka.

Satu bulan berlalu, gak terasa gue, Shena, beserta teman sekelas lainnya perlahan sudah menjadi dekat. Meskipun pada awal obrolan, gue masih suka merasa canggung, tetapi lama kelamaan gue dan Shena jadi seru untuk mengobrol. Gue pun senang.

***

(September 2015)

Kabar mengejutkan tiba-tiba terdengar di telinga gue. Kabar tersebut adalah mengenai status hubungan Shena dengan seseorang. Ternyata, dia sudah gak jomblo lagi. Lebih lengkapnya, dia berpacaran dengan Andri. Iya, Andri teman sekelas gue yang juga merangkap sebagai wakil ketua kelas. Saat mendengar kabar itu, rasanya tubuh gue langsung lemas karena itu berarti kesempatan gue menjadikan Shena pacar semakin kecil untuk terealisasi. Kenapa? Karena dia terlihat bahagia dengan Andri. Dan gue, berusaha untuk gak berharap menjadi pacarnya; menjadi pengagumnya saja sudah cukup. Ah, kasihan sekali nasib gue.

Di bulan September 2010, gue berusaha untuk move-on dari Shena dan mencari perempuan lain untuk didekati. Dan, setelah kurang lebih dua minggu melakukan pendekatan, gue berhasil mendapatkan pacar. Dia bernama Thalita dan merupakan adik kelas gue. Hubungan kami saat itu berhasil menghapus ambisi gue untuk menjadikan Shena sebagai pacar.

Sayangnya, walaupun gue sudah mempunyai pacar saat itu, rasa kagum gue kepada Shena masih tetap sama, gak berubah sama sekali. Hubungan gue bersama si pacar pun berakhir di awal Desember 2010, yang mana saat itu membuat gue kembali merasakan menjadi anak SMA yang suka galau. Ya, gue memang begitu saat SMA.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya gue naik ke kelas 12. Dan, gue masih tetap mengagumi Shena. Pada saat itu ada kejadian ketika kelas IPS harus diacak lagi kelasnya. Meskipun gak adil karena para guru hanya mengacak kelas IPS, kelas IPA enggak, akhirnya gue dan teman-teman sesama IPS harus menerima keputusan tersebut. Yang lebih parahnya lagi, gue dan Shena harus berpisah kelas. Dia di kelas 12 IPS-1, sedangkan gue di 12 IPS-3. Itu merupakan kejadian yang membuat gue gak terima saat itu karena sejak gue berpisah kelas dengannya, gue merasa gak bisa menjadi dekat lagi seperti saat kelas 11.

Oke, langsung gue singkat ya ceritanya. Jadi, tiba-tiba ada momen yang buat gue merasa bahagia saat itu. Pada saat Januari 2012, ada sesi pemotretan untuk Buku Tahunan Sekolah (BTS). Dan, tanpa diduga, gue diajak oleh panitia BTS untuk menjadi salah satu model contoh Pakaian Kurang Rapi yang akan dimasukkan ke BTS. Meskipun gue mendapatkan model yang negatif, ternyata pasangan gue untuk berfoto adalah positif. Pasangan gue itu adalah Shena. Iya, Shena. Gue pun sangat bersyukur karena bisa berpasangan dengan dia. Yeah!

Ya, benar saja. Setelah Buku Tahunan Angkatan gue dibagikan saat perpisahan SMA bulan Juni 2012, foto gue bersama Shena terpajang bersama beberapa pasangan lain yang menjadi contoh Pakaian Kurang Rapi.

Sampai saat ini, gue selalu menjaga BTS gue supaya gak rusak atau warnanya menjadi luntur. Kenapa? Karena di dalam buku tersebut terdapat foto gue dan Shena yang diabadikan di dalam BTS SMA, yang seenggaknya, Shena bisa melihat foto gue sedang bersamanya di halaman depan. Alhamdulillah. Terimakasih, ya Allah.

***

Sampai saat gue selesai menulis tulisan ini di bulan September 2015, Shena masih menjadi perempuan yang gue kagumi. Meskipun gue merasa dia sudah melupakan gue karena siapalah-gue-bagi-dirinya, tetapi gue merasa ya-biarkan-sajalah-yang-penting-gue-suka. Dan, gue masih sering melihat aktivitasnya di Instagram.

Mengenai Instagram, gue ada cerita lagi nih. Jadi, saat awal gue mengikuti akun Instagram  milik Shena, dia gak langsung mengikuti balik akun gue. Meskipun begitu, gue merasa gak apa-apa karena gue memang bukan pengemis "followback-nya ya, qaqa". Namun, saat itu di sekitar Februari 2015, gue pernah berinisiatif untuk mensketsa figur Shena dan mengunggahnya di akun Instagram milik gue. Gue melakukan itu memang karena gue suka dan bahkan gak berharap dia akan nge-like. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, ternyata dia menyadari kalau gue telah mensketsa dirinya dan dia mengatakan terima kasih di kolom komentar, lalu mengikuti balik akun Instagram gue. Finally, she noticed me again. Dan, dari kejadian itu gue mendapatkan hikmah kalau ingin mendapatkan perhatian dari perempuan atau supaya dia segera mengikuti balik akun media sosial milik gue tanpa harus menjadi pengemis followback, caranya yaitu dengan membuat “sesuatu” yang bisa membuat si perempuan itu berkesan, salah satunya seperti yang gue lakukan: membuat sketsa.

***

Dan, kalau pembaca ingin tahu awal tulisan ini dibuat adalah gue memulai tulisan ini dari September 2013, yang mana artinya gue membutuhkan dua tahun untuk menyelesaikannya karena terkadang gue bingung harus memasukkan cerita apa saja tentang Shena. Ya, tulisan ini selesai pada September 2015.

Intinya, menurut gue, mengagumi perempuan secara diam-diam itu memang terkadang menyiksa. Ya, karena dia gak akan tahu bahwa kehadiran dirinya di dunia ini telah berpengaruh besar terhadap kebahagiaan orang yang mengaguminya. Akan tetapi, bagi gue yang masih zero ini, bisa pernah dekat dengan Shena yang sudah menjadi hero (karena dia sekarang mendapatkan beasiswa di Rusia) merupakan sebuah anugerah terindah bagi gue.

Untuk menutup tulisan ini, gue mengutip perkataan dari salah satu penulis favorit gue, Surayah @pidibaiq:

“Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu.”

You Might Also Like

0 comments