Simtom Penyakit Negara Kita

Ilustrasi tentang simtom penyakit yang ditampilkan pada layar komputer.
(Sumber gambar: freepik.com)

Seandainya kamu menganggap politik Indonesia sekarang ini adalah sebentuk gangguan kesehatan bagi tubuh bangsa, saya kira kamu akan kewalahan menentukan diagnosisnya. Kadang-kadang ia tampak seperti "penyakit autoimun", di mana sel-sel yang seharusnya melindungi hukum justru menyerang akal sehat. Hari ini ia muncul sebagai demam tinggi bernama "dinasti politik" yang kian menggigil; besok ia sudah bermutasi menjadi "anemia anggaran" karena proyek-proyek mercusuar yang mulai kehabisan darah. 

Ketika kamu mencoba mengobati gejala dinasti yang kian lumrah, esoknya ia sudah berubah rupa menjadi "kelumpuhan oposisi". Kamu mungkin akan merasa letih mengejar simtom yang terus berpindah-pindah, sementara tubuh hukum kita semakin pucat dan kehilangan daya kritis.

Sekarang ini, saya tidak tahu gejala apa lagi yang sedang dipamerkan. Maksud saya, apakah kegemaran para penguasa untuk menormalisasi konflik kepentingan bisa kita samakan dengan sekadar "masuk angin" etika atau sudah masuk kategori "gegar otak moral". Ironisnya, perilaku simtomatik ini tetap saja muncul, bahkan hanya beberapa pekan setelah mereka membanjiri layar ponsel kita dengan ucapan "Selamat Idulfitri" yang penuh "ketulusan" digital.

Lalu, itu simtom apa dan bagaimana cara menyembuhkannya?

Mencari Akar di Labirin Kekuasaan

Kamu tahu bahwa satu-satunya cara efektif untuk mengusir simtom adalah dengan membereskan akarnya. Namun, di negeri ini, akar masalahnya seolah tersembunyi di dalam labirin hukum yang sengaja dibuat rumit. Saya curiga akar itu tertanam pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang legendaris itu; sebuah "pintu masuk" yang pada 2026 ini telah menjadi gerbang tol bagi normalisasi nepotisme di seluruh lini pemerintahan.

Pada zaman ketika mitos masih dianggap fakta, penyelesaian masalah serumit ini mungkin lebih sederhana. Jika sebuah negeri sakit, sesosok Dewa akan turun tangan secara dramatis: menyelamatkan atau memusnahkan. Atau, kamu hanya perlu menunggu peri dengan tongkat sakti atau ciuman dari seorang putri untuk mengakhiri kutukan. Atau, kamu bisa mengadakan sayembara, seperti yang dilakukan Dayang Sumbi.

Ketika alat tenunnya jatuh, Dayang Sumbi terlalu enggan untuk turun dan mengambilnya sendiri. Ia lebih memilih membuat janji: siapa pun yang mengambilkannya, jika lelaki akan dijadikan suami, jika perempuan dijadikan saudara. Masalahnya selesai ketika seekor anjing bernama "Tumang" yang mengambilnya. Maka, kecantikan abadi itu pun harus bersanding dengan seekor anjing.

Namun, kita hidup di tahun 2026, ketika peri sudah lama dianggap sebagai dongeng anak-anak dan sayembara politik hanya menjadi panggung bagi mereka yang punya modal besar. Meskipun begitu, keajaiban kecil terkadang masih terdengar, seperti cerita pasien kronis yang sembuh karena memiliki keinginan kuat untuk hidup.

Hilangnya Narasi yang Menyehatkan

Ada motivasi dan hasrat yang menyala di sana. Pertanyaannya: apakah masih ada hasrat kolektif yang cukup kuat untuk menyembuhkan negeri ini? Sampai saat ini, bagi saya, masa depan itu masih terlihat remang-remang. Terlalu banyak perilaku simtomatik yang membuat kita sulit menebak apa penyakit sebenarnya; atau mungkin kita sengaja dibuat bingung agar tidak pernah menemukan obatnya.

Kamu bisa berargumen bahwa kita krisis keteladanan, atau bahwa pragmatisme sudah menjadi agama baru ketika setiap otoritas diperlakukan seperti alat pengeruk keuntungan. Itu analisis yang masuk akal. Bahkan jika kamu terus mengkritik pengelolaan negeri ini dengan data Indeks Demokrasi yang kian merosot [1], kafilah kekuasaan akan tetap melaju dengan kepala tegak.

Pada versi saya, masalah utama kita adalah "kekurangan narasi yang baik". Setiap hari kita hanya dicekoki narasi buruk: korupsi yang dibalut prosedur legal, janji manis yang menguap menjadi pajak baru, sampai pembungkaman kritik lewat ruang digital. Ini adalah cerita-cerita yang tidak menyehatkan jiwa.

Antara Kewarasan dan Sayembara

Kita membutuhkan cerita yang menyembuhkan, inspirasi yang lahir dari integritas, bukan dari gimik pencitraan. Sayangnya, tidak mungkin kita mendapatkan inspirasi dari berita tentang defisit anggaran yang mendadak muncul saat proyek besar sedang berjalan, atau dari drama sengketa kekuasaan yang tak kunjung usai. Dari sana, kamu hanya akan mendapatkan kepahitan dan kemarahan.

Seorang kawan pernah berkata kepada saya bahwa yang kita butuhkan sebenarnya hanyalah "sedikit kewarasan" untuk mulai berbenah. Saya sangat sepakat. Satu-satunya sosok yang tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri adalah mereka yang mengalami kerusakan otak permanen (fisiologis maupun psikologis) sehingga tidak lagi mampu membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi.

Mungkin, ke depannya, kita benar-benar perlu melakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang berfokus pada "kesehatan otak dan nurani" sebelum seseorang diperbolehkan memegang jabatan publik. 

Namun, jika ternyata memang tidak ada lagi yang benar-benar "waras" atau "layak", dan kita sudah semalas Dayang Sumbi untuk membenahi masalah kita sendiri, mungkin tak ada jalan lain kecuali kembali ke cara lama: menyelenggarakan "sayembara". 

Barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit kronis negeri ini, kalau laki-laki akan dijadikan pemimpin, kalau perempuan akan dijadikan saudara kandung. Dan jika ternyata yang mampu melakukannya hanyalah seekor anjing, biarlah begitu. Seekor anjing yang setia pada tuannya (rakyat) jauh lebih baik daripada manusia yang hanya setia pada kekuasaannya sendiri.


________________
Sumber:
Tags

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.