Dalam catatan para penjelajah tua, kita sering mendengar tentang kota-kota yang hilang di balik kabut, tempat di mana waktu seolah membeku dan hukum-hukum dunia luar tidak berlaku. Korea Utara sering dipandang melalui lensa yang sama: sebuah "Hermit Kingdom" yang mistis sekaligus mengerikan. Namun, melalui lembar-lembar buku A Capitalist in North Korea, kita diajak menelusuri jejak Felix Abt, seorang saudagar farmasi asal Swiss yang menghabiskan tujuh tahun hidupnya bukan sebagai pengamat dari kejauhan, melainkan sebagai pemain di dalam labirin tersebut. Ia adalah seorang kapitalis yang mencoba menanam benih efisiensi di tanah yang secara ideologis mengharamkannya.
Di dunia yang penuh dengan mata-mata dan tirai besi ini, Abt harus belajar menari dalam irama yang ganjil. Selain sebagai pebisnis, ia adalah seorang penyintas budaya. Di sana, privasi adalah barang mewah yang nyaris punah, di mana setiap gerak-gerik dipantau oleh mata negara yang tak pernah berkedip. Namun, ironinya, statusnya sebagai orang asing memberinya semacam "lampu ajaib", seperti akses internet dan kemewahan di tempat-tempat khusus pejabat, yang bagi warga biasa mungkin terdengar seperti dongeng dari planet lain. Ini mengingatkan kita bahwa bahkan di tempat yang mengaku paling setara sekalipun, garis pemisah antara yang berpunya dan yang tidak tetap terlukis dengan tajam.
Selain itu, buku ini menyingkapkan tabir ekonomi yang koyak sejak tiang penyangga utamanya, Uni Soviet, runtuh dan meninggalkan Pyongyang dalam ketidakpastian. Abt menggambarkan perjuangan mengelola perusahaan farmasi di tengah keterbatasan yang menyesakkan; mulai dari kurangnya tenaga ahli sampai pasokan listrik yang datang dan pergi seperti hantu. Menjalankan bisnis di sana ibarat mencoba menyalakan api di tengah badai salju. Meski demikian, ada sebuah pergeseran sunyi: Korea Utara mulai melirik modal asing. Mereka mulai menerima para kapitalis dengan tangan yang masih ragu dan pengawasan yang tetap mencekik, seolah-olah sedang meminum obat pahit demi kesembuhan yang belum pasti.
Ketidakpastian ekonomi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan realitas perut yang lapar. Sejak jatuhnya blok Timur, Korea Utara mengalami kemunduran industri yang hebat. Sebagai contoh, laporan dari Reuters menyebutkan bahwa meskipun ada upaya digitalisasi dan modernisasi terbatas di beberapa sektor, infrastruktur dasar seperti pasokan energi tetap menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan manufaktur dan kesehatan di sana [1].
Sejarah manusia memang selalu menjadi medan laga antara ambisi dan kenyataan. Kemajuan sebuah bangsa sering diukur dari sejauh mana mereka berani membuka jendela dan membiarkan cahaya luar masuk. Namun, di bawah langit Pyongyang, cahaya itu masuk dengan sangat hati-hati, melalui filter-filter ketat yang dipasang oleh rezim. Ketidakadilan ekonomi dan isolasi yang terjadi selama puluhan tahun telah menciptakan jurang yang dalam, tetapi seperti kata para bijak, kegelapan yang paling pekat sekalipun tak akan mampu memadamkan satu nyala kecil lilin.
Felix Abt, dengan segala hak istimewa dan kesulitan yang ia temui, adalah saksi bahwa di tengah sistem yang kaku, interaksi manusiawi dan logika pasar tetap mencoba mencari celah untuk bernapas. Ia memperlihatkan bahwa negara yang dijuluki "Hermit Kingdom" itu adalah panggung di mana manusia-manusia di dalamnya tetap mencoba bertahan hidup, mencintai, dan mencari makan di antara bayang-bayang kekuasaan yang besar. Pada akhirnya, kita belajar bahwa tembok setinggi apa pun tidak akan pernah benar-benar bisa menghentikan arus perubahan, meski ia mengalir sepelan tetesan air di atas batu karang.
_________________
Sumber:

