Menemukan Kembali Hening di Tengah Bising

Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi karya Desi Anwar.
(Sumber gambar: goodreads.com)

Pada zaman kontemporer ini, layar gawai sering menjadi pemandangan pertama yang menyapa kita saat membuka mata dan menjadi hal terakhir yang kita tatap sebelum tidur. Kita hidup di dunia yang menuntut kita untuk selalu aktif dan terhubung. Ponsel pintar di genggaman tangan menawarkan kenyamanan, hiburan tanpa batas, dan rangsangan visual yang membuat kita terus-menerus tertarik. Namun, di balik segala kemudahan tersebut, kita dihadapkan pada sebuah ironi: semakin kita terhubung dengan dunia maya, semakin kita terasing dari dunia nyata. Melalui bukunya yang berjudul Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi, Desi Anwar menghadirkan sebuah pengingat sekaligus ajakan untuk sejenak melepaskan diri dari jerat digital tersebut.

Ilusi Keterhubungan Semu

Kehidupan online dan media sosial memang memberikan ilusi bahwa kita tidak pernah sendirian. Kita bisa terhubung dengan siapa saja di belahan bumi mana pun, bahkan dengan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Akan tetapi, keterhubungan maya ini sering mengorbankan interaksi fisik yang sesungguhnya. Kita menjadi jarang merasa bosan, tetapi di saat yang sama, kita kehilangan kemewahan untuk sekadar duduk diam dan melamun. Dunia maya membuat kita betah berlama-lama menggulir layar, membaca cuitan atau status yang kerap kali tidak esensial, sampai kita lupa bagaimana cara mengobrol secara mendalam dan menatap mata orang-orang terdekat yang ada di hadapan kita. 

Seni Mengapresiasi Hidup

Dalam penjelasannya, Desi membagi perenungannya ke dalam dua bagian utama, yang pertama adalah "Mengapresiasi Hidup dan Kehidupan". Buku ini tidak bermaksud menolak kemajuan teknologi, melainkan mengingatkan bahwa kehidupan online tidak seharusnya merampas kesenangan hidup "di sini dan saat ini". Ia mengajak kita untuk meletakkan gawai dan kembali melibatkan panca indra secara utuh. Kita diundang untuk menikmati keindahan sekitar dari mata, telinga, sentuhan, dan perasaan kita sendiri; bukan melalui lensa kamera, emoji, atau teks. Hal-hal sederhana seperti mendengarkan musik sambil menikmati kopi pagi, merapikan tempat tidur, berjalan-jalan menghirup udara segar, atau menyapa tetangga di halaman rumah adalah bentuk apresiasi kehidupan yang sering luput karena kita terlalu sibuk menatap layar.

Menyelami Diri Melalui Keheningan

Bagian kedua dari buku ini berfokus pada "Seni Kehidupan", di mana kita diajak untuk merenung dan mengelola emosi. Di tengah informasi yang mengalir deras setiap detiknya, Desi menantang kita untuk berani bersikap tidak peduli (ignorant) terhadap update terbaru di media sosial. Terlepas dari rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out), ada kedamaian yang bisa ditemukan ketika kita merangkul keheningan. 

Salah satu cara terbaik untuk melatih keheningan dan fokus ini adalah melalui kegiatan membaca, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku:

"Sesungguhnya, membaca itu merupakan latihan bagi otak, dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, memotivasi menjadi kreatif, memuaskan rasa ingin tahu, dan membuka pikiran dengan cara-cara yang tidak dapat dilakukan oleh kehidupan sehari-hari. Namun, yang terpenting ketika akan membaca, Anda merasa dunia menjadi hening, Anda fokus dan tidak bolak-balik terganggu oleh pikiran-pikiran sendiri atau berbagai gangguan dari gawai sekitar, lepas dari tekanan mungkin, kamu akan jadi merasa nyaman bahkan mungkin bahagia." (hlm. 57)

Kesimpulan: Berani untuk Offline

Pada akhirnya, Going Offline adalah sebuah peta perjalanan untuk kembali ke pusat eksistensi kita sebagai manusia. Mengurangi ketergantungan pada gawai mungkin terdengar sulit di awal, tetapi hal ini bisa dilatih sedikit demi sedikit secara rutin. Dengan sesekali memutus koneksi internet, kita justru sedang membangun kembali koneksi yang paling penting: koneksi dengan alam sekitar, dengan orang-orang yang kita cintai, dan yang terpenting, dengan jati diri kita sendiri yang sering tenggelam dalam kebisingan dunia maya. Menjadi offline merupakan langkah sadar untuk menemukan kembali kendali atas hidup dan kebahagiaan sejati, bukan sebuah kemunduran.

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.