Pembicaraan Penting

  • November 01, 2018
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: favim.com

“Besok aku ingin ngomong sesuatu ke kamu tentang kelanjutan hubungan kita secara langsung.” 

Kalimat tersebut disampaikan oleh Hessa lewat pesan WhatsApp. Saya langsung terkejut dan bingung tentang pernyataannya. Tak biasanya ia seperti itu, meskipun beberapa hari itu ia memang sudah menunjukkan sikap berbeda terhadap saya. Saya berpikir ini biasa dalam suatu hubungan berpacaran, nanti juga akan baik-baik lagi jika dibicarakan dengan tenang.

Itu terjadi pada malam hari ketika saya selesai bekerja dan sudah berada di KRL tujuan arah stasiun daerah rumah saya. Dengan pikiran yang masih lelah, saya mencoba berpikir bahwa ia hanya bercanda.

“Mau ngomong apa? Tumben kamu nge-chat seperti ingin mengakhiri hubungan aja. Hehehe. Kan bisa langsung di sini (baca: WhatsApp),” balas saya yang masih mencoba berpikir positif.

“Enggak mau, besok aja aku ngomongnya. Ini penting!”

“Oh gitu. Oke, besok malam aku usahain untuk ketemu, ya. Kan, tergantung tugasku di kantor sedang banyak atau enggak,” saya merespons seperti itu karena kami memang biasa bertemu pada akhir pekan. Kalaupun ingin bertemu di hari sibuk, saya harus melihat apakah tugas yang saya kerjakan di kantor sedang banyak atau tidak supaya kami bisa bertemu tidak terlalu malam.

“Iya,” jawabnya singkat.

Wah, kalau perempuan sudah membalas singkat dan seadanya gini, pasti ada yang salah nih dari lelaki. Saya mencoba berpikir kesalahan saya, tapi tak menemukan faktor yang menunjukkan hal itu. Bahkan, selama ini saya selalu berhati-hati dalam bersikap dan berkata kepada pacar saya. Karena pikiran yang masih lelah, saya tetap mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengirim foto kucing lucu, berharap ia bisa meresponsnya dengan sukacita. Setelah saya mengirim gambar tersebut,

“Apaan sih?! Nggak lucu!” responsnya.

Saya tetap tak menyerah. Tanpa memperhatikan kata-katanya, saya lalu mengirim foto bayi imut. Saya tahu kalau Hessa sangat suka dengan foto-foto tersebut.

“Ini udah pernah dikirim. Nggak kreatif nih!” masih dengan kata-kata yang, menurut saya, menunjukkan sikap bete, ia merespons foto tentang si bayi imut.

Karena saya sudah merasa serba salah untuk mencairkan suasana, saya pun mencoba untuk tidak lagi mengirim foto kucing atau bayi imut kepadanya.

“Ini sebenarnya ada kaitannya dengan konflik yang terjadi kemarin Senin,” jawabnya secara langsung.

“Konflik apa?” tanya saya yang masih kebingungan dengan pernyataannya.

“Pokoknya ada!” katanya singkat.

Wah, karena saya sudah mulai terpancing dengan kata-katanya yang ketus seperti itu, akhirnya saya pun membalas,

“Oke, kayaknya memang lebih baik kita besok ngomong secara langsung, ya. Soalnya aneh banget kamu sekarang. Biasanya kamu suka sama foto-foto yang aku kirim, ternyata sekarang enggak.”

“Iya!”

Saya tetap memandangi dan mencerna percakapan saya dengan Hessa di WhatsApp. Merenungi tentang yang terjadi beberapa hari ini. Saya sangat yakin bahwa saya tidak melakukan kesalahan dan sesuatu yang bisa membuat ia seperti ingin mengakhiri hubungan. Apa benar hubungan kami akan benar-benar berakhir?

Karena terlalu fokus dengan masalah yang terjadi, KRL yang saya naikki tak terasa sudah sampai stasiun tujuan. Saya pun turun dan masih bingung untuk membalas apa lagi dari obrolannya. Setelah itu, saya memesan ojek untuk mengantarkan saya ke rumah. Sepanjang perjalanan, pikiran saya tetap fokus kepada Hessa dan sikapnya.

Sesampainya di rumah dan membersihkan badan, saya langsung masuk kamar. Saya tiduran di kasur sambil melihat obrolan kami di WhatsApp. Aneh, padahal beberapa hari yang lalu, kami masih mengobrol seperti biasanya. Dan, bahkan, kami masih bicara dengan seru saat saya meneleponnya di KRL ketika saya berangkat kerja.

Iya, Whatsapp dan telepon adalah dua cara kami untuk tetap bisa saling berkomunikasi. Bisa dikatakan, kami adalah pasangan LDR. Tapi, LDR di sini diakibatkan bukan karena jarak yang sangat jauh, melainkan karena kami memang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ia sibuk kuliah dan mengerjakan segala tugas di semester akhir, sedangkan saya sibuk bekerja dari pukul sembilan pagi sampai pukul enam sore. Sabtu atau Minggu adalah dua hari yang menjadi pilihan untuk kami bertemu.

Kembali kepada masalah yang sedang saya rasakan. Saya mencoba untuk memancingnya dengan mengganti foto profil WhatsApp saya yang awalnya berdua dengan Hessa, menjadi foto saya yang sedang sendirian.

“Oh, jadi foto WA kamu udah diganti supaya kamu bisa langsung mendekati perempuan lain?!” tiba-tiba ia merespons dan menyimpulkan dari dugaannya saja.

Deg! Wah, nampaknya saya telah memperparah keadaan. Niat saya hanya untuk memancing obrolan dan membuatnya bertanya secara santai, eh ternyata ia meresponsnya dengan kalimat yang sangat emosi.

“Kamu jangan berpikir negatif dulu. Aku nggak pernah ada niat kayak gitu. Aku ganti foto profil karena sikap kamu yang dari tadi tuh aneh. Mending aku ganti dulu supaya hubungan kita lebih jelas,” saya menjawab seadanya tapi sudah diliputi dengan emosi yang dari tadi saya tahan.

“Ah, alasan! Paling besok kamu langsung mendekati perempuan lain di kantor kamu!”

YA TUHAAAN, HAMBA SUDAH BINGUNG MAU MERESPONS APA LAGI YA. HADEEEH. PUSING PALA WIJA! (Keluh saya dalam hati)

“Ah, enggak juga,” saya menjawab pernyataannya yang seakan-akan saya ingin segera mendapatkan pasangan baru. Saya tidak pernah punya niat seperti itu. Lalu, saya melanjutkan, “Pokoknya sebelum kamu mengatakan sesuatu yang dari tadi kamu sembunyikan, itu tandanya kamu nggak terbuka sama aku. Kalau nunggu besok, kelamaan.”

Ia pun membalas, “Kalau aku bilang besok, ya besok!”

Karena saya merasa percuma untuk mencairkan suasana ditambah waktu sudah larut malam, akhirnya saya hanya berkata,

“Baiklah kalau itu keputusan kamu. Lebih baik kita tidur, yuk? Udah malam sekarang.”

Saya mengira bahwa ia tidak akan membalas pesan saya, tapi ternyata...

“Besok kamu harus datang pokoknya. Awas aja kalau enggak!”

Setelah membaca pesan terakhirnya, saya pun langsung tidur dan mencoba untuk tidak memikirkan masalah yang sedang dihadapi. Biarkan esok hari menjadi jawaban atas peristiwa yang terjadi hari ini.

***

Keesokan harinya, saya melakukan aktivitas pagi seperti biasa. Tapi yang menjadi terasa beda, saya jadi segan untuk mengucapkan “Selamat pagi” kepadanya seperti hari-hari sebelumnya. Ia pun juga sama, tidak mengirimkan ucapan untuk menyambut hari baru. Mungkin ia masih marah karena pesan yang dikirimkan kepada saya, belum saya balas.

Sesampainya di kantor, saya mulai melihat kembali pesan Hessa yang semalam dikirim. Akhirnya saya membalas “Oke, nanti kita ketemu, ya.” Beberapa menit kemudian, ia hanya merespons “Iya”. Saya pun kembali fokus menjalani rutinitas di kantor dan mencoba untuk tidak terus memikirkan Hessa dan hubungan ini sementara waktu.

Tak terasa karena kesibukan yang melanda, sore hari datang dengan cepat. Saya berusaha untuk menyelesaikan tugas sebaik dan secepat mungkin karena saya ingin bertemu Hessa. Sekitar pukul 17.30, ia menelepon saya via WhatsApp untuk mengabarkan bahwa sehabis magrib, ia menunggu di salah satu restauran di Bintaro Plaza. Terdengar dari nada suaranya, ia nampaknya masih kesal dan saya pun mengiyakan dengan nada datar. Kesibukan di kantor sudah membuat saya bisa mengontrol emosi. Jangan sampai karena masalah pribadi, performa saya bekerja jadi menurun.

Pekerjaan saya pun selesai, saya sudah membereskan perlengkapan di meja kerja dan bersiap menemui Hessa.

***

Saya ke Bintaro Plaza menggunakan KRL. Sepanjang perjalanan, saya memikirkan hubungan saya dengan Hessa. Saya memang sering mengalami kesulitan dalam membaca pikiran perempuan. Jadi, perasaan waswas menghampiri saya. Saya khawatir hubungan kami tidak akan kembali baik-baik saja. Memori kebersamaan kami muncul di pikiran saya selama saya menuju ke tempat yang dijanjikan.

Selama di perjalanan juga, Hessa menghubungi saya via WhatsApp, tapi saya sengaja tak mengangkatnya. Saya merasa sedang tidak ingin berbicara di telepon. Lagipula, jarak saya ke tempat yang kami janjikan juga hampir sampai.

Saat itu malam sudah semakin menampakkan kegelapannya. Lampu-lampu pinggir jalan dan lampu dari kendaraan menerangi langkah kaki saya. Dari Stasiun Pondok Ranji sampai Bintaro Plaza, memakan waktu sekitar sepuluh menit. Dari sepuluh menit itu juga, pikiran saya membayangkan apa yang akan terjadi ketika kami bertemu.

Sesampainya di Bintaro Plaza, saya langsung menghubungi Hessa.

“Aku udah di Bintaro Plaza nih,” kata saya dengan memandang sekeliling. Saat itu, tidak banyak orang yang sedang mengunjungi mal.

“Yaudah, langsung aja ke Saloria, restauran yang udah kita janjiin buat ketemu. Kamu ke mana aja sih? Dari tadi aku hubungi kamu, malah nggak diangkat?” Hessa merespons dengan nada kesal.

“Oke, aku ke sana, ya. Nggak apa-apa. Tadi aku lagi malas ngomong aja,” jawab saya singkat. Setelah menutup telepon, saya pun langsung ke tempat yang dimaksud.

Sesampainya di Saloria, ternyata bangku sudah terlihat penuh oleh para pelanggan. Saya mengira di restauran yang menjadi tempat kami bertemu akan sepi juga. Karena kalau sepi, saya jadi merasa lebih nyaman untuk berbicara dengannya. Tapi, tak apalah. Saya mulai melihat satu per satu orang di sana. Akhirnya, Hessa pun terlihat oleh saya.

Ia memakai kerudung berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga. Selain itu, kemeja lengan panjangnya pun juga senada dengan warna kerudungnya dan memakai celana jins berwarna biru. Ia terlihat cantik seperti biasanya. Namun dilihat dari penampilannya, malah sangat kontras dengan sikapnya ketika mengobrol via WhatsApp sehari lalu. Ia seperti ingin menunjukkan kebahagiaan ketika bertemu saya. Tapi, saya mencoba untuk tidak terlalu optimistis terlebih dahulu. Terkadang, apa yang saya harapkan malah tidak sesuai dengan kenyataan.

Setelah bertemu, saya langsung duduk di hadapannya.

“Hey, kenapa tadi nggak diangkat teleponku?” ia langsung bertanya untuk memecah keheningan.

“Duh, ini kok rame banget ya sama orang-orang. Aku suka malas kalau ingin ngomong serius, tapi banyak suara,” jawab saya tanpa menghiraukan pertanyaannya. Seperti yang sudah saya bilang bahwa restauran yang kami pilih sedang ramai saat itu.

“Iya, nggak tahu kenapa. Tadi aku mau milih meja yang belakang supaya bisa lebih kondusif untuk kita ngomong, ternyata udah penuh juga. Ya udah, aku pilih di sini aja. Lagipula, suara mereka juga nggak terlalu berisik, kok. Pertanyaanku belum dijawab? Aku masih penasaran. Aku pikir kamu nggak akan datang ke sini,” ia berkata sambil menatap mata saya dengan tajam. Saya mencoba untuk tenang.

“Oh oke, nggak apa-apa kalau gitu. Enggak, lah, aku usahain untuk datang. Kan ini untuk kejelasan hubungan kita juga. Kayak yang udah aku bilang tadi, aku lagi nggak mood untuk ngangkat telepon kamu. Lagian semalam pas aku ngajak ngobrol, sikap kamu ngeselin gitu. Aku ajak bercanda, malah dijutekin. Aku juga nggak merasa berbuat salah sama kamu,” saya langsung mengeluarkan uneg-uneg tentang sikapnya akhir-akhir ini.

“Iya, nanti aku jelasin ya. Mending kita pesan makanan dulu supaya nggak kemalaman,” jawabnya singkat. Saya mengiyakan, meskipun sudah tak sabar untuk menunggu penjelasannya.

Kami memanggil pramusaji restauran. Si pramusaji datang, kemudian memberikan daftar menu ke atas meja kami.

Saya melihat-lihat menu yang tersedia. Tiga menit kemudian, saya memilih mi goreng dan es teh lemon sebagai hidangan untuk malam itu. Sedangkan Hessa, ia memilih nasi goreng spesial dan juga es teh lemon.

“Jadi penjelasan yang kamu maksud untuk diomongin malam itu apa?” saya langsung mengajukan pertanyaan supaya rasa penasaran saya segera hilang. Saya kurang suka dengan sesuatu yang tidak pasti, apalagi menyangkut dengan hubungan berpacaran.

“Iya, sabar aja dulu. Sehabis makan, nanti kita omongin. Tapi nanti kamu jangan kaget, ya. Itu aja udah petunjuknya,” jawabnya dengan serius. Raut wajahnya pun masih terlihat jutek ke saya.

“Oke kalau begitu,” saya merespons dengan singkat. Hati saya sudah deg-degan, tapi saya mencoba untuk tetap terlihat tenang.

Tidak banyak yang kami bicarakan selama menunggu makanan yang kami pesan. Lima menit kemudian, kami pun melihat pramusaji membawakan hidangan pesanan kami. Kami segera menyantap makanan tersebut tanpa mengobrol seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Keramaian suara di dalam restauran mulai berkurang. Meskipun begitu, orang-orang masih terlihat lumayan banyak. Saya melihat jam di ponsel, sudah menunjukkan pukul 20.37. Saya juga sudah selesai menghabiskan makanan saya, Hessa juga demikian. 

Saya mulai melihat wajahnya, ia menyadarinya. Ia pun langsung berkata,

“Seperti yang udah aku janjiin, aku bakal ngejelasin tentang masalah semalam setelah kita selesai makan.”

Jantung saya bertambah deg-degan. Saya tidak banyak berbicara dan hanya merespons, “Iya”.

“Jadi sebenarnya, aku seperti merasa ada yang salah dengan hubungan ini. Kamu udah mulai nggak peka. Apalagi beberapa hari ini kamu suka telat membalas pesanku karena kesibukan kamu. Masa kamu sibuk terus sampai lupa menikmati hidup sih?” lanjutnya. Ia langsung mengungkapkan perasaan yang akhir-akhir ini ia rasakan.

Saya hanya terus menatap wajah cantiknya. Pernyataannya tentang saya yang sering sibuk di kantor memang benar, tapi tidak dengan “lupa menikmati hidup”. Karena kehadirannya, hidup saya malah lebih berwarna dibandingkan dengan diri saya yang dulu masih menjomlo.

“Iya, aku minta maaf karena aku dirasa kurang peka dan terlalu sibuk. Tapi setiap hari, aku selalu membalas pesan kamu di WhatsApp secepat mungkin ketika pekerjaanku udah beres. Kan, aku juga harus bisa membagi waktu. Jadi, menurut kamu, baiknya hubungan kita bagaimana? Soalnya semalam, kamu merasa kayak ingin mengakhiri,” kata saya dengan nada pasrah.

“Oh, begitu. Tapi akhir-akhir ini kamu emang udah berubah. Aku nggak tahu kenapa kamu bisa kayak gini, padahal dulu kamu bisa membagi waktu dengan baik. Masalah semalam, aku emang udah kesal, apalagi ditambah pas kamu ganti foto profil kamu jadi sendirian. Selain itu, kamu nggak peka karena setiap aku kesal, malah kamu ngebercandain aku. Jadi, hubungan ini kayaknya susah deh untuk diterusin. Sekarang, aku mau bilang...” ia berhenti sejenak sambil matanya menatap serius ke arah saya. Saya menjadi tambah deg-degan dan tak bisa berkata apa-apa lagi karena kalimat terakhir yang diungkapkannya. Saya merasa putus asa.

“SELAMAAAT ULANG TAHUUUUN, SAYAAANG!!!” lanjutnya dengan nada sukacita. Wajahnya yang tadi terlihat muram, menjadi gembira. Ia juga tersenyum melihat saya.

DEG! Saya jadi tambah tak bisa berkata apa-apa. Saya masih belum memercayai apa yang ia ungkapkan.

“Ya ampuuun!!! Ini beneran?” saya bertanya dengan ekspresi bego.

“Iya, Sayang. Dari tadi aku cuma ngerjain kamu supaya kamu kesal dan nggak memikirkan kalau ini adalah kejutan. Hahaha,” ia tertawa sambil mengambil sesuatu dari bawah meja. Setelah diletakkan ke atas, itu adalah kue. Kue tart cokelat dengan krim putih di atasnya. Selain itu, ia juga memberikan saya kado.

“Wah, makasih banyak, ya. Aku sadar hari ini hari lahirku, tapi aku nggak pernah berharap ada kejutan seperti ini. Aku jadi terharu,” kata saya dengan nada terbata-bata karena masih terkejut dengan apa yang ia lakukan.

“Iya, makanya dari Sabtu lalu sebenarnya aku udah mancing-mancing kamu supaya kamu kesal. Hahaha. Ternyata, ujung dari kekesalan itu aku buat pas Selasa kemarin. Aku sebenarnya mau ketawa ketika kamu udah berusaha untuk mencairkan suasana dengan ngirimin gambar kucing lucu dan bayi imut, tapi aku nggak nyerah untuk bikin kamu bete. Hahaha.”

Dari pernyataannya itu, saya pun langsung ikut tertawa. Saya tak menyangka bahwa ia akan membuat kejutan seperti ini. Saya bahagia dengan semua yang telah ia lakukan, meskipun awalnya memang terasa menyebalkan.

Kami pun melanjutkan obrolan pada malam itu dengan sukacita. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Kami pun pulang dengan senyuman-senyuman yang menghiasi wajah kami berdua. Malam yang tadi saya rasakan begitu membosankan, menjadi cerah dan sejuk karena kehadiran Hessa.

***

Malam itu, pada 17 Oktober 2018, saya sudah berumur 24 tahun. Dan, dengan adanya Hessa yang berumur lebih muda empat tahun dari saya, saya jadi ikut terus merasa muda. Hehehe.


You Might Also Like

0 comments