Bagaimana Saya Mengikuti Perkembangan Ponsel

  • December 08, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: dealnews.com

Teknologi memang akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Salah satunya dalam perkembangan ponsel. Ya, benda yang kebanyakan berbentuk persegi panjang ini memang ajaib betul. Bagaimana tidak, sebagian besar manusia di zaman sekarang pasti memiliki benda ini dan betapa kehadirannya itu sendiri seperti bagian penting pada organ tubuh. Bisa dikatakan, jika seseorang tidak memiliki ponsel pada zaman kontemporer ini, ia akan ketinggalan informasi dan akan sulit untuk berkomunikasi dengan kerabat yang tinggal di belahan bumi lain.

Ponsel yang sudah bertebaran sekarang pun memiliki spesifikasi lebih canggih daripada di zaman sebelumnya. Dengan adanya sistem operasi seperti Android, lebih khusus lagi iOS, peranan ponsel sekarang membuat aktivitas manusia menjadi lebih mudah. Salah satunya dengan adanya aplikasi transportasi daring yang membuat penggunanya bisa memesan ojek atau taksi hanya dengan menekan layar di ponsel masing-masing, lalu si tukang ojek atau si supir pun akan tiba. Bandingkan dengan layanan ponsel yang ada pada lima belas tahun lalu. Layanan yang paling canggih paling hanya bisa melakukan miscall dengan nomor tersembunyi ke pengguna lain.

Setelah saya ingat kembali, ternyata ponsel yang saya miliki mengalami peningkatan dari pertama kali saya membelinya sampai dengan yang terbaru. Alasannya adalah untuk kebutuhan hidup supaya tidak tertinggal zaman. Dengan begitu, saya pun bisa terus mengikuti perkembangan zaman yang semakin hari semakin canggih.

Sony Ericsson K310i

Sumber gambar: myrealmobile.com

Pada akhir 2006 lalu, jumlah teman yang memiliki ponsel di daerah rumah saya semakin meningkat. Padahal, saat itu saya masih kelas 1 SMP dan peran ponsel di kehidupan saya tidak begitu penting-penting banget. Karena ternyata semakin hari kebanyakan teman saya ketika berkumpul membahas fitur-fitur di ponselnya dan saling bertukar nomor ponsel, saya pun─yang saat itu belum mempunyai ponsel─menjadi tidak tahan dan merasa iri. 

Zaman telah berkembang, pikir saya, sehingga teman-teman saya dulu yang kalau bermain bisa tetap seru tanpa kehadiran ponsel, ternyata sekarang genggaman mereka malah tidak bisa lepas dari benda tersebut. Beberapa hari kemudian, saya langsung bilang ke Ibu untuk membelikan saya ponsel yang kekinian (pada zaman itu). Awalnya, orang tua saya menolak untuk membelikannya karena mereka merasa bahwa saya─yang masih berumur dua belas tahun─masih belum perlu mempunyai ponsel. Tapi, karena saya tetap merayu mereka dengan alasan supaya saya tidak dijauhi pergaulan sekitar, akhirnya mereka setuju untuk membelikannya.

Sekitar Januari 2007, di salah satu mal di Karawaci, akhirnya saya membeli ponsel. Ponsel saya tersebut adalah Sony Ericsson K310i. Itu adalah ponsel pertama yang saya miliki. Karena kehadiran ponsel tersebut, saat saya berkumpul dengan teman-teman di daerah rumah, saya bisa mudah mengikuti pergaulan di sana. Saya pun bisa mengikuti obrolan mereka yang sering membahas fitur-fitur di ponsel masing-masing. Beberapa fitur yang sering saya bahas dengan mereka adalah seperti kualitas kamera, jumlah memori internal, dan cara pengiriman file lewat Bluetooth atau Infrared. Dan, tentang cara pengiriman file-lah yang masih membekas di pikiran saya. Alasannya, karena pada saat itu fitur di ponsel saya hanya memiliki Infrared. Sehingga jika ingin mentransfer atau menerima data, saya harus menempelkan ponsel saya dengan ponsel teman secara berdekatan dan sejajar. Karena ketika arahnya berubah sedikit, data yang dikirim pun akan gagal. Sungguh masa-masa penuh perjuangan.

Selain itu, karena adanya ponsel, saya jadi bisa mendekati perempuan yang saya suka di kelas. Ia adalah siswi pindahan dari Jakarta yang memilih untuk melanjutkan kelas 1 SMP pada semester dua di sekolah dekat rumah saya. Berawal dari kenalan karena ia baru pindah, akhirnya kami saling bertukar nomor ponsel. Hari demi hari, kami menjadi dekat dan sering membalas SMS. Sekadar informasi, tarif mengirim satu SMS di provider yang saya gunakan pada waktu itu adalah Rp350 dan mendapatkan bonus sekitar 25 pesan ke sesama provider setelah sepuluh kali mengirim SMS. Cukup menguras uang jajan saya sebenarnya. Tapi karena itu untuk pendekatan ke perempuan yang disuka, saya rela melakukannya. Sayangnya, hasil akhir pendekatan saya kepada dia ternyata tidak sesuai yang saya harapkan.

Kembali pada Sony Ericsson K310i. Itu adalah ponsel berbentuk minimalis, tetapi cukup berjasa besar bagi saya ketika masa-masa SMP. Dengan jumlah memori internal hanya 18 Mb, saya harus mampu mengatur data supaya bisa diisi dengan MP3, foto, video, aplikasi, dan game. Jadi, jika ternyata ada pemberitahuan bahwa memori sudah hampir penuh, saya harus merelakan beberapa file yang saya punya untuk dihapus.

Dan, pada ponsel ini hasrat saya untuk bermain game menjadi meningkat setelah mengetahui layanan internet. Pada 2008, seingat saya harga kuota internet sebesar 10 Mb adalah sekitar Rp2500, tapi sudah cukup banyak untuk mengunduh beberapa game dalam seminggu. Oleh karena itu, hari-hari saya diisi dengan bermain game sampai orang tua saya memberitahu agar saya tidak terlalu banyak berinteraksi dengan ponsel dan lebih baik menghabiskan waktu untuk berinteraksi bersama teman-teman di luar rumah.

Jika kamu juga sudah menjadi anak SMP pada 2008, kemungkinan besar kamu masih ingat bahwa pada masa itu di konter penjual pulsa, mereka juga menjual berbagai konten seperti gambar, video, lagu, aplikasi, dan game yang bisa diisi di ponsel. Dengan harga Rp5.000, kita bisa mendapatkan tiga judul lagu atau lima buah wallpaper atau dua aplikasi/game. Ya, saya merasa bahwa bisnis berjualan konten ponsel cukup menjanjikan ketika itu. Sedangkan kalau sekarang, kemungkinan besar tidak akan laku karena sudah banyaknya layanan internet yang bisa mengunduh segala macam jenis konten lewat ponsel pintarnya masing-masing.

GVON 950

Sumber gambar: akhdian.net

Semakin berjalannya waktu dan seringnya digunakan, ponsel Sony Ericsson saya semakin mengalami penurunan kualitas. Dengan begitu, saya pun memutuskan untuk membeli ponsel baru supaya bisa mengikuti perkembangan zaman yang dinamis. Dan, ponsel yang saya pilih selanjutnya adalah GVON 950.

Entah kenapa saya bisa memilih tipe ponsel tersebut. Seingat saya karena tergiur dengan tampilan dan spesifikasinya yang dipajang oleh tetangga saya di etalase di mana ia menjalankan bisnisnya sebagai konter pulsa dan menjual berbagai jenis ponsel. Terlebih lagi, itu adalah ponsel layar sentuh yang menurut saya sangatlah keren dan jika saya menunjukkannya ke teman-teman sekitar, tingkat kegaulan saya akan bertambah pada saat itu. Lalu, pada Mei 2010 saya resmi berganti ponsel ke GVON 950.

Meskipun saat itu ponsel Blackberry sudah mulai merajalela dan menjadikan penggunanya disegani oleh warga sekitar, saya tidak tergiur olehnya. Sebenarnya bukan tidak tergiur, tapi saya sadar diri bahwa harga Blackberry saat itu sama dengan harga bayar SPP SMA saya selama tiga tahun. Jadi, karena saya tidak ingin menjadi anak yang hobinya menghabiskan uang orang tua untuk barang yang dibeli hanya supaya bisa bergaya di depan teman-teman, saya pun memilih ponsel yang biasa saja.

Ponsel GVON 950 yang saya gunakan itu memiliki spesifikasi yang lebih baik dari Sony Ericsson K310i, yaitu dari segi memori eksternal yang bisa saya isi sampai 1 Gb dan saya bisa mengirim atau menerima data via Bluetooth. Selebihnya, sama saja fitur yang ada seperti untuk berinternet, ber-SMS, mendengarkan musik, dan menelepon.

Dengan adanya daya penyimpanan sebesar 1 Gb, akhirnya saya bisa menyimpan koleksi lagu, foto, dan video lebih banyak dari sebelumnya. Dengan begitu, ketika ada perkembangan lagu terbaru, saya bisa langsung mengoleksinya ke dalam ponsel. Cukup membuat saya bahagia dengan fitur yang ada.

Selain itu, kenangan lain yang saya ingat dari ponsel tersebut adalah ketika mendekati adik kelas (perempuan) di SMA lewat Facebook dan berlanjut via SMS. Ya, atas jasa ponsel GVON 950, saya bisa mendapatkan hati perempuan yang saya suka.

Di samping kenangan indah, ada kenangan dari kejadian kurang beruntung juga. GVON 950 saya itu pernah tercebur ke dalam parit di daerah sawah ketika saya sedang menjadi pengawas dalam acara pengesahan ekskul di SMA yang dilaksanakan di luar sekolah. Cukup membuat saya kaget karena itu terjadi ketika saya sedang menunduk dan tiba-tiba ponsel─yang saya letakkan di dalam kantong baju bagian dada─terjatuh ke dalam parit yang airnya sangat keruh sehingga saya susah untuk mencarinya. Untung saja saat itu ada seorang ibu petani yang melihat ponsel saya tercebur, ia pun langsung membantu saya mengaduk-aduk air untuk menemukan si ponsel. Alhamdulillah, ponsel saya ditemukan, lalu saya berterimakasih kepadanya. Efek dari kejadian itu, ponsel saya jadi tidak bisa berfungsi selama satu hari.

Memasuki kuliah, saya masih tetap memakai GVON 950. Sebenarnya ponsel saya itu sudah tidak bisa mengikuti perkembangan zaman karena kebanyakan teman saya di kampus sudah memakai ponsel pintar Android atau iPhone. Salah satunya dalam hal berkomunikasi via teks. Teman-teman saya sudah jarang menggunakan SMS karena sudah beralih ke WhatsApp atau BBM atau LINE, sedangkan fitur GVON 950 saya hanya bisa mengirim pesan via SMS. Dengan begitu, cukup membuat saya berpikir untuk segera mengganti ponsel biasa ke ponsel pintar yang bisa diisi berbagai aplikasi. Saya pun memutuskan untuk mengganti ponsel pada awal Maret 2014.

Samsung Ace 3

Sumber gambar: amazon.com

Saya harus mengikuti perkembangan zaman dalam hal berkomunikasi agar tidak tertinggal informasi seputar kampus. Karena komunikasi yang sudah dilakukan oleh teman-teman saya di sana adalah lewat WhatsApp atau BBM atau LINE, sedangkan ponsel saya waktu itu hanya bisa ber-SMS, saya pun memutuskan untuk mengganti ponsel dari yang biasa ke Android.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya baru menggunakan ponsel pintar pada Awal Maret 2014. Sebenarnya saya merasa telat juga karena baru memutuskan mengganti ponsel pada tahun itu karena sebelum bulan itu, saya jadi tidak bisa ikut meramaikan grup WhatsApp yang dibentuk oleh teman-teman di kelas atau teman-teman terdekat saya.

Ponsel Android yang saya pilih saat itu adalah Samsung Ace 3. Dari spesifikasi yang ditawarkan, saya merasa sudah cukup untuk menunjang aktivitas saya dalam berkomunikasi. Beberapa spesifikasi yang ada di dalamnya adalah RAM 1 Gb, memori internal 2 Gb, dan resolusi kamera sebesar 5 Mp (belakang) dan VGA (depan).

Saya pun mulai mengunduh WhatsApp, BBM, dan LINE ke dalam ponsel. Saya langsung merasa ada perbedaan dari yang biasanya bertukar pesan lewat SMS berganti menjadi tiga jenis aplikasi obrolan tersebut. Karena kalau lewat SMS, kita akan terkena tarif pengiriman tambahan jika melebihi karakter yang ditentukan; sedangkan jika lewat WhatsApp atau BBM atau LINE, yang kita habiskan adalah kuota internet yang kita punya, jadi tidak harus memotong pulsa lagi. Saya jadi merasakan manfaat dari kehadiran ponsel pintar yang ternyata bisa menghemat pengeluaran untuk pulsa.

Selain itu, seperti biasa saya bisa mendekati perempuan yang saya suka dengan mudah karena hadirnya aplikasi obrolan di ponsel saya. Saya jadi bisa mengirim pesan dengan kalimat-kalimat yang cukup panjang tanpa harus khawatir terkena tambahan biaya seperti ketika dulu saya masih menggunakan SMS. Apalagi dengan adanya fitur pengiriman gambar, memudahkan kita untuk bisa meramaikan obrolan dengan gambar-gambar yang ingin dikirim.

Lebih lanjut, pada September 2015, saya masih ingat itu adalah pertama kali saya memakai ojek daring yang mulai booming. Dengan mengunduh aplikasinya di Playstore, saya sudah bisa memanggil si pengendara ojek tanpa harus repot menghampirinya. Dan, dengan tarif yang lebih terjangkau dari ojek konvesional, saya─sebagai anak kos pada saat itu yang tidak membawa kendaraan pribadi─sering menggunakannya untuk bepergian ke tempat-tempat yang jaraknya lumayan jauh.

Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata ponsel Samsung saya mengalami kelambatan dalam pengoperasian. Ya, setelah dipakai kurang lebih tiga setengah tahun, mulai terjadi kendala seperti aplikasi yang sedang dijalankan sering mengalami crash, sentuhan layar yang sudah melambat dalam merespons, dan tiba-tiba si ponsel suka me-restart sendiri. Dan, pada 27 November 2017 kemarin, ponsel saya itu benar-benar mengalami eror total sehingga tidak bisa digunakan. Mungkin masih bisa, tapi harus dibawa ke tukang servis. Karena saya merasa kalau diperbaiki akan menghabiskan dana yang lumayan besar, saya pun memutuskan untuk membeli ponsel baru.

Xiaomi Mi A1

Sumber gambar: amazon.com

Erornya ponsel saya ternyata berdampak signifikan dalam kehidupan. Ya, kehadirannya sudah begitu penting bagi saya untuk berkomunikasi kepada teman-teman dan mendapatkan informasi lewat internet. Sehingga, selagi saya mencari informasi tentang jenis ponsel yang ingin saya beli selanjutnya, saya berhenti sementara untuk memegang ponsel pintar dan beralih ke ponsel cadangan yang hanya bisa SMS dan menelepon.

Pada 2 Desember 2017 lalu, ponsel Android bernama Mi A1 menjadi pilihan saya selanjutnya. Dengan harga yang lumayan, ponsel tersebut sudah memiliki spesifikasi yang lebih baik dan canggih dari ponsel saya sebelumnya. Beberapa fitur yang ditawarkan adalah jumlah memori internal mencapai 64 Gb, layar yang cukup besar, resolusi kamera sebesar 15 Mp (belakang dan depan), dan RAM sebesar 4 Gb. Dengan begitu, sekarang saya mulai beradaptasi lagi untuk mengenal perkembangan ponsel pintar yang semakin hari semakin mengalami kemajuan dalam segi fitur. Semoga ponsel Mi A1 saya sekarang bisa bertahan lama dan membuat saya mengalami pengalaman yang lebih seru di dalam kehidupan.

***

Itulah empat tipe ponsel yang saya gunakan selama satu dekade terakhir. Masing-masing memiliki kegunaannya sendiri berdasarkan zaman yang telah saya rasakan. Pada ponsel pertama dan kedua saya, fiturnya masih sederhana. Sedangkan ponsel ketiga dan keempat, spesifikasinya sudah mengalami perkembangan yang sangat signifikan untuk menunjang kebutuhan saya dalam berkomunikasi dan berinternet. Selain itu, setiap ponsel yang saya gunakan punya cerita dan kenangannya masing-masing, kecuali ponsel saya yang terakhir yang baru saya gunakan.

Saya memang cukup jarang berganti ponsel karena saya bukan tipe orang yang mudah tergoda ketika ada ponsel pintar terbaru yang dirilis. Jika ponsel yang saya pakai masih relevan dan bisa mengikuti perkembangan zaman, saya akan tetap menggunakannya sampai ponsel tersebut rusak dan tidak bisa digunakan samasekali. Dengan begitu, saya merasa bahwa hadirnya ponsel memang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup manusia kontemporer.

You Might Also Like

0 comments