Berpikir Realistis tentang Cita-Cita

  • November 04, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: lifehacker.com

Ada hal yang kita miliki sejak kecil, yaitu cita-cita. Dengan adanya cita-cita, hidup terasa mempunyai tujuan dan harapan. Betapa hidup akan begitu monoton ketika kita tidak memasang target dalam hidup. Dan, saya merasa bahwa menjawab cita-cita sangatlah mudah─ketika ada orang yang bertanya─sewaktu saya masih berumur di bawah sepuluh tahun. Ya, karena cita-cita yang saya pikirkan saat itu adalah profesi dari orang-orang yang kebanyakan saya lihat di televisi, sehingga saya pun membayangkan betapa serunya menjadi mereka saat saya dewasa nanti. Profesi yang pernah saya jawab sebagai cita-cita saat itu adalah menjadi dalang wayang, pelukis, astronaut, penyanyi, pemain sepak bola, dan terakhir saya bercita-cita ingin menjadi Spider-Man. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur, saya jadi menyadari bahwa bercita-cita memanglah mudah, tapi saya juga harus menyadari potensi diri yang dimiliki dan kesejahteraan yang akan didapatkan. Dengan begitu, cita-cita masa kecil yang pernah saya sebutkan tersebut nampaknya adalah hal yang tidak realistis untuk diwujudkan bagi saya yang sudah berumur lebih dari dua puluh tahun dan melihat potensi yang sekarang dimiliki.

Untuk itu, kali ini untuk mengenang cita-cita yang pernah saya pikirkan saat masih kecil, saya akan menceritakan tentang alasan mengapa saya bisa memilih profesi-profesi tersebut. Setelah itu, saya bisa merenungi profesi seperti apakah yang realistis dan relevan bagi saya saat ini.

Dalang Wayang

Sumber gambar: bookgeeky.deviantart.com

Saat masih berumur sekitar lima tahun, tayangan wayang kulit sering saya tonton bersama Bapak ketika malam menjelang. Acara wayang kulit ketika itu masih sering ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi nasional, dua di antaranya yang saya ingat adalah TVRI dan Indosiar.

Pada tayangan tersebut, saya jadi bisa merasakan betapa serunya menjadi dalang wayang yang bisa dengan lihai mengatur cerita pewayangan dan mengeluarkan suara-suara yang berbeda dari setiap karakter. Saya pun mengagumi profesi tersebut dan betapa suatu hari nanti saat saya sudah besar, saya ingin mempunyai pertunjukan wayang kulit sendiri. Mengetahui hal tersebut, orang tua saya jadi membelikan dua karakter wayang kulit untuk saya mainkan di rumah, yaitu─seingat saya─Arjuna dan Bima. Walaupun saya belum memahami penceritaan wayang kulit yang sesungguhnya, saya mulai memainkan wayang pemberian orang tua saya itu sebebas imajinasi saya. Saya mulai mengeluarkan suara yang berbeda dari setiap karakter yang saya mainkan kepada sosok Arjuna dan Bima.

Akan tetapi, karena beberapa tahun kemudian acara wayang kulit di televisi semakin berkurang dan sering ditayangkan hanya pada tengah malam, saya jadi semakin melupakannya. Oleh sebab itu, karena saya jadi jarang menonton acara wayang kulit dan di lingkungan rumah saya memang tidak ada teman-teman yang berpikiran untuk menjadi dalang wayang juga, sehingga lama-kelamaan hasrat saya untuk menjadi dalang wayang semakin memudar.

Pelukis

Sumber gambar: boredpanda.com

Dinding di rumah saya yang awalnya putih bersih, mendadak menjadi banyak sesosok garis-garis tak beraturan dan ada juga yang menyerupai makhluk tapi dengan bentuk wajah yang memprihatinkan muncul di sana. Ya, itu adalah perbuatan saya saat masih berumur tiga sampai lima tahun yang suka menggambar seenaknya di tembok-tembok rumah saya. Meskipun begitu, orang tua saya tidak memarahi dan malah membantu saya untuk terus mengekspresikan kegiatan saya itu. Lalu, ketika Ibu bertanya,

“Apakah kau memang ingin menjadi pelukis saat sudah besar nanti?”

Dengan polos saya menjawab, “Iya, Bu.”

Itulah yang saya pikirkan ketika itu bahwa saya ingin menjadi pelukis dengan perilaku saya yang  sejak kecil suka menggambar. Namun, seiring bertambahnya umur, profesi pelukis yang pernah saya setujui untuk menjadi cita-cita sudah tidak terbayang di benak saya sekarang. Kesukaan saya menggambar memang masih ada sampai saat ini, tetapi untuk benar-benar mendalaminya sudah tidak lagi. Dengan demikian, cita-cita menjadi pelukis tinggal menjadi harapan semu ketika saya masih kecil.

Astronaut

Sumber gambar: geni.com

Gemerlap bintang di langit malam sering membuat saya takjub. Itu saya rasakan ketika kalender masih menunjukkan tahun 1999 dan betapa bintang-bintang masih bisa saya lihat di lingkungan rumah saya. Karena saya menyukai gemerlap bintang, saya pun jadi suka menonton tayangan yang membahas tentang bintang-bintang, planet-planet, pokoknya yang berkaitan dengan suasana luar angkasa.

Setelah saya mengetahui bahwa profesi yang pekerjaannya mengelilingi ruang angkasa adalah astronaut, saya akhirnya memilih astronaut sebagai cita-cita saya selanjutnya. Saya membayangkan jika sudah besar nanti, saya bisa mengendarai roket ke Bulan dan bisa mendarat di sana seperti Neil Armstrong. Saya bisa melayang-layang karena tidak adanya gravitasi. Dengan memakai pakaian khusus luar angkasa, saya bisa melihat Bumi dari atas sana. Saya bisa melihat bintang-bintang secara langsung di awang-awang. Ya, begitulah, saya ingin melayang bebas sambil menikmati kebesaran alam semesta.

Tapi itu dulu ketika saya masih berumur di bawah sepuluh tahun. Karena kalau saya tetap menuruti cita-cita saya itu sekarang, saya bisa dipastikan tidak diterima menjadi astronaut. Selain karena faktor tinggi badan, lebih baik biaya agar menjadi astronaut saya gunakan untuk membeli buku. Karena dengan membaca buku yang berkualitas, imajinasi saya bisa menembus luar angkasa tanpa hambatan. Hehe.

Penyanyi

Sumber gambar: pixabay.com

Pada Agustus 2004 silam ketika ada lomba menyanyi di lingkungan RT rumah saya, saya mencoba untuk mendaftar menjadi peserta. Tanpa disangka, entah para juri memang sedang kurang enak badan saat itu sehingga pendengarannya jadi terganggu, saya diputuskan menjadi juara pertama lomba menyanyi tingkat SD oleh mereka. Meskipun itu hanyalah lomba yang diikuti oleh beberapa anak di lingkungan RT, hasrat saya supaya suatu hari nanti menjadi penyanyi menjadi semakin meningkat. Ya, saya pernah bercita-cita menjadi penyanyi profesional yang lagu-lagunya akan disukai oleh masyarakat luas.

Penyanyi favorit saya saat itu adalah Ariel Peterpan. Dengan gaya kerennya di atas panggung dan bisa menghipnotis penonton setiap ia bernyanyi bersama teman-teman satu band-nya, saya jadi membayangkan betapa ketika saya sudah besar nanti bisa menjadi seperti dirinya. 

Akan tetapi, cita-cita yang tidak diimbangi dengan latihan yang serius akan memudar juga pada akhirnya. Ya, setelah saya menyadari bahwa semakin bertambahnya umur, suara saya tidaklah semerdu yang diharapkan, akhirnya cita-cita saya menjadi penyanyi adalah keinginan masa kecil yang kemungkinan besar sulit untuk terwujud. Dengan begitu, sekarang saya menjadi sadar diri dan lebih memilih menjadi gitaris ketika ada beberapa teman dekat yang mengajak saya untuk nge-band.

Pemain sepak bola

Sumber gambar: zerochan.net

Jika kau sudah hidup di Bumi dan menjadi anak SD di awal 2000-an, kemungkinan besar kau mengetahui serial anime Kapten Tsubasa yang ditayangkan oleh TV7 (sekarang Trans7) setiap pukul−seingat saya−enam sore. Karena sering menonton Kapten Tsubasa, dengan mudahnya saya memutuskan−dari sekian banyak cita-cita yang sudah saya sebutkan sebelumnya−menjadi pemain sepak bola. Ya, saya ingin menjadi terkenal seperti Tsubasa yang akhirnya bisa bermain di klub Eropa.

Saya masih ingat tahun 2003 lalu, ketika itu di daerah rumah saya setiap tahun mengadakan kompetisi sepak bola antar RT yang pemainnya adalah anak-anak SD dan SMP. Karena pada waktu itu saya sudah kelas empat tapi fisik saya tidaklah terlalu tinggi dan skill sepak bola saya pas-pasan, saya pun jadi jarang dipilih mengisi skuat utama di RT tempat saya tinggal. Cukup sedih dan membuat saya pesimistis tentang cita-cita saya menjadi pemain sepak bola profesional seperti Tsubasa yang nampaknya tidak akan tercapai.

Namun, di suatu pertandingan selanjutnya, karena di tim RT saya sedang kekurangan pemain, saya akhirnya dipilih untuk mengisi tim inti. Awalnya saya menganggap bahwa saya akan ditugaskan menjadi gelandang tengah seperti Tsubasa atau penyerang seperti Hyuga, tetapi ternyata saya ditugaskan untuk menjadi penjaga gawang. Ya, dengan kondisi tubuh saya yang tidak begitu tinggi, saya diberi amanat untuk menjaga dan menghalau bola supaya tidak ada yang masuk ke gawang tim saya. Karena saya berpikir bahwa itulah kesempatan yang saya punya untuk menunjukkan kemampuan bermain bola, akhirnya saya menerimanya. Beberapa teman setim saya juga ada yang meragukan apakah saya nanti bisa menangkap bola yang jaraknya tinggi.

Alhamdulillah, ketika permainan berlangsung, saya bisa bermain maksimal menjadi seorang kiper. Saya bisa menepis beberapa tendangan lawan dengan tangan, kaki, bahkan wajah yang terinspirasi dari penjaga gawang Nankatsu, yaitu Wakabayashi Genzo. Begitu juga penampilan saya ketika menjadi kiper saat itu, saya memakai topi agar mirip seperti dirinya. Ya, meskipun saya kemasukan empat gol dan tim saya tidak mencetak gol samasekali ke gawang lawan yang itu tandanya bahwa tim kami kalah, saya tetap merasa bangga mendapatkan pengalaman tersebut.

Tapi itu adalah kisah ketika saya masih menjadi anak SD. Seiring berjalannya waktu, ternyata fisik saya kurang cocok untuk menjadi pemain sepak bola profesional. Terlebih, saat saya masuk SMA, saya harus memakai kacamata akibat rabun jauh yang saya derita. Dengan begitu, cita-cita saya agar menjadi pemain sepak bola profesional, bukanlah profesi yang realistis saat ini. Tetapi tenang, kalau bermain sepak bola atau futsal hanya untuk bersenang-senang bersama teman-teman terdekat, saya masih suka melakukannya. Selain itu, saya juga masih suka bermain sepak bola lewat videogame.

Spider-Man

Sumber gambar: imdb.com

Mungkin ini adalah cita-cita paling realistis yang pernah saya harapkan ketika masih SD. Ya, saya pernah bercita-cita menjadi Spider-Man. Itu diakibatkan setelah saya menonton film Spider-Man yang dibintangi Tobey Maguire. Film tersebut dirilis pada 2002, tetapi saya baru bisa menonton film tersebut lewat VCD pada 2003. Saya takjub dengan kemampuan Spider-Man yang bisa melayang menggunakan jaring di tangannya dan memanjat gedung-gedung yang sangat tinggi. Selain itu, ia juga suka menolong orang-orang yang sedang mengalami kesusahan; kesusahan seperti diganggu orang jahat ya, bukan kesusahan secara finansial.

Meskipun  begitu, saya menyukai Spider-Man karena saya merasa bahwa sosok Peter Parker adalah cermin dari diri saya sendiri. Ya, saya adalah tipe orang yang pemalu, kurang keren, dan kurang jago mengungkapkan perasaan ke perempuan yang disuka. Itulah yang menyebabkan ketika saya mengamati tokoh Peter Parker, saya bisa memahami pergulatan jiwa yang dialami olehnya.

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa Spider-Man adalah tokoh fiksi. Di samping itu, di tempat tinggal saya, tidak ada gedung-gedung tinggi yang dibangun supaya saya bisa melayang menggunakan jaring laba-laba. Apalah jadinya ketika Spider-Man tinggal di daerah rumah saya yang lebih banyak terdapat sawah dan kebun, kemampuannya untuk melayang dan berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya tidak akan berguna. Dan, kemungkinan besar jaring laba-labanya malah akan lebih berfungsi untuk digunakan menjadi bahan dasar benang, kemudian dijual ke pasar dan diolah menjadi bentuk pakaian. Eh, ternyata berguna juga ya menjadi Spider-Man karena bisa memajukan ekonomi masyarakat sekitar.

***

Itulah beberapa cita-cita yang saya inginkan ketika saya masih berumur sekitar lima sampai sepuluh tahun. Di masa tersebut, hidup seakan belum ada beban dan belum banyak pertimbangan. Beberapa pertimbangan yang dimaksud adalah apakah ketika saya memilih profesi ini kesejahteraan saya akan terjamin; apakah potensi yang dimiliki saya sekarang memang cocok dengan profesi yang diinginkan; apakah saya bisa benar-benar setulus hati menjalankan profesi tersebut. Oleh karena itu, sekarang saya tinggal mengenangnya saja profesi-profesi yang sudah saya sebutkan di atas. Karena sekarang, profesi yang menjadi idaman saya adalah yang berkaitan dengan tulis-menulis, seperti menjadi jurnalis, peneliti sastra dan budaya, editor, penerbitan buku, atau yang seperti itulah. Itu diakibatkan karena ketika saya kuliah, saya memilih Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Di sana, saya mendapatkan ilmu tentang sastra dan dunia kepenulisan oleh para pengarang dan penulis terkenal, sehingga saya merasa cukup seru juga untuk mendalami ilmu yang sudah saya dapatkan untuk diterapkan menjadi profesi. Dan, begitulah, sekarang saya terus berlatih menjadi apa yang saya harapkan. Kalaupun belum tercapai menjadi profesi yang saya inginkan, saya bisa menekuni profesi lain dan semoga saja saya juga bisa menikmatinya.

You Might Also Like

0 comments