Kisah dari 7-Eleven

  • July 08, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: insideretail.asia

Bagi generasi milenial, tempat nongkrong merupakan salah satu pendukung untuk berjalannya pergaulan. Dengan adanya tempat nongkrong, para anak muda bisa menghabiskan waktunya untuk mengobrol, berkumpul, dan bisa juga internetan gratis jika ada Wi-Fi di sana. Dan, salah satu tempat nongkrong yang ingin saya ceritakan kali ini adalah 7-Eleven (Sevel).

Seperti yang saya baca dari berita terbaru bahwa seluruh gerai Sevel pada Juni 2017 ini sudah ditutup. Salah satu alasannya─dikutip dari tempo.co─adalah:

"Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan gerai 7-Eleven atau Sevel tutup akibat bisnis model mereka tak sesuai dengan kondisi Indonesia. Ia melihat margin yang tipis dan volume penjualan yang rendah membuat Sevel tutup."

Dari berita tersebut, saya tak akan membahas lebih lanjut tentang kondisi Sevel yang tutup total dan belum ada kejelasan apakah suatu hari nanti akan dibuka lagi dengan konsep yang baru atau tidak. Semoga bisa mendapatkan keputusan terbaik.

Pada tulisan kali ini, saya ingin menceritakan tentang kenangan saya dengan Sevel. Sevel yang saya maksud adalah yang ada di dekat kampus yang dibuka sekitar akhir tahun 2012 dan itu juga berarti dekat dengan tempat kos saya, yaitu di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Padahal, awalnya saya mengira bahwa Sevel hanya ada di DKI Jakarta, ternyata di daerah yang bukan Jakarta tetapi masih di dekatnya, Sevel bisa dibangun.

Oke, jadi inilah beberapa kenangan saya dengan Sevel.

1. Tempat nongkrong saat masih awal semester perkuliahan

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa Sevel adalah tempat yang sering dijadikan anak muda untuk nongkrong atau memburu Wi-Fi. Pertama kali saya menjadikan Sevel sebagai tempat berkumpul adalah pada Mei 2013. Saya masih ingat, malam itu saya, Deny, dan Padel berkumpul di sana untuk mengobrol hal-hal yang saya sudah lupa. Dengan membeli beberapa cemilan dan minuman ringan, kami mengobrol sampai sekitar satu setengah jam. Dan, meskipun sudah larut malam, beberapa anak muda masih tetap bertahan di sana untuk mengobrol, memandang laptopnya (mungkin sambil menjelajah dunia maya menggunakan Wi-Fi gratis), atau hanya merokok sendirian menikmati keheningan malam.

Sejak saat itu, ketika saya dan beberapa teman bingung mencari tempat untuk berkumpul selain di tempat kos saya, kami memilih Sevel sebagai alternatifnya. Meskipun begitu, kami sering sadar diri dan tidak akan berlama-lama di sana ketika cemilan atau minuman yang kami beli sudah habis. Ya, karena jika terlalu lama berada di Sevel, tetapi tidak diimbangi dengan pembelian jajan yang banyak, itu ternyata menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan Sevel terus merugi. Apalagi yang memanfaatkan Wi-Fi gratis secara terus-menerus.

2. Membuat minuman bernama Slurpee dan makan ciki yang ditambah saus keju

Minuman khas di Sevel adalah Slurpee. Itu adalah minuman yang penyajiannya dicampur-campur sesuai selera tergantung ukuran gelas yang kita ambil, yaitu ada ukuran kecil dan besar. Dengan menekan tombol yang tersedia di mesin, kita bisa memilih varian rasa apa saja yang kita inginkan untuk dicampur.

Sumber gambar: abcactionnews.com

Pada saat pertama kali saya main ke Sevel bersama teman-teman terdekat, saya belum tahu cara membuat Slurpee karena khawatir salah menekan tombol dan rasanya jadi aneh. Namun, setelah ada salah satu teman yang membelinya, saya pun jadi ikutan dan minta untuk diajari cara membuat campuran-campuran apa saja supaya rasanya jadi enak. Ternyata, caranya cukup gampang karena hanya dengan menekan tombol-tombol yang tersedia dan bisa mengira-ngira supaya tidak tumpah, Slurpee yang kita inginkan pun akan keluar dan siap diminum.

Selain itu, di sana juga ada tempat khusus untuk menambah saus keju ke dalam ciki yang kita beli. Awalnya, saya mengira bahwa akan ada bayaran tambahan untuk saus tersebut, ternyata tidak. Tapi, itu saat masih tahun 2013 sampai 2015. Karena mulai akhir 2016, saya mendengar kabar dari teman yang masih suka nongkrong di sana, saus keju yang dulu gratis, sekarang harus bayar. Dan, mungkin itu adalah salah satu tanda bahwa Sevel akhirnya menutup gerai di semua cabang karena penurunan penghasilan.

3. Menjadi tempat untuk PDKT

Saya masih ingat, ketika itu pertengahan Juni 2014 saya mengajak perempuan yang saya suka─sebut saja Devi─ke Sevel untuk mengobrol sekaligus sebagai pendekatan. Saya mengajaknya ke sana karena kafe kampus sebagai tempat awal kami bertemu, sudah mau ditutup pada pukul tiga sore. Awalnya, saya mengajak Devi ke tempat makan yang berada di dekat kampus, tapi ia menolak karena masih merasa kenyang dan tidak ingin makan makanan berat, sehingga tempat yang saya pikir cukup nyaman untuk melanjutkan obrolan adalah di Sevel.

Ketika sampai di sana, ternyata sudah banyak anak muda yang menempati kursi-kursi yang disediakan di lantai dua, khususnya yang berada di area merokok, sehingga saya mencari tempat di dalam dan beruntungnya kami menemukan dua kursi kosong. Dengan ditemani dua ciki ukuran besar yang tentunya sudah ditambah saus keju, kami mengobrol tentang kehidupan kami masing-masing selama hampir dua jam. Itu adalah momen PDKT yang masih membekas di pikiran saya. Jadi, ketika saya membaca berita bahwa Sevel sudah ditutup total, pikiran saya langsung tertuju kepada masa PDKT ke Devi.

4. Membeli makanan pada pukul tiga pagi

Sekitar pertengahan tahun 2016, saya sedang sibuk mengerjakan skripsi yang pengerjaannya sering dilakukan di kamar kos dari selepas isya sampai azan subuh berkumandang. Tapi, karena saking seriusnya mengerjakan─bercanda, malah saya sering tergoda untuk bermain game atau menonton film─saya jadi suka lupa untuk makan malam. Ya, karena merasa bahwa waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam, saya masih saja santai mengetik skripsi. Tanpa disadari, saya merasa seperti terhipnotis agar tak lepas dari terus menatap layar laptop. Sehingga ketika melihat jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Wow. Pantas saja perut saya sudah merasa lapar karena cemilan yang saya sediakan juga sudah habis. Saya pun segera keluar kamar kos untuk mencari makan.

Saya baru sadar bahwa tukang nasi goreng yang suka mangkal di depan tempat kos hanya sampai sekitar pukul satu dini hari, itu juga kalau belum habis dibeli. Jadi, ketika saya keluar, suasana sudah sangat sepi. Hanya sesekali suara kendaraan terdengar di jalan raya. Untung saja kamar kos saya dekat dengan Sevel yang buka 24 jam. Saya pun langsung pergi ke sana untuk membeli popmie. Dan, betapa Sevel telah meringankan kericuhan cacing-cacing di perut saya, sehingga kelaparan yang melanda bisa segera teratasi.

***

Itulah beberapa momen yang pernah terjadi kepada saya yang melibatkan Sevel setelah saya membaca berita bahwa seluruh gerai Sevel di Jakarta dan sekitarnya resmi ditutup.

You Might Also Like

0 comments