Mengenang Kamar Kos

  • June 03, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: favim.com

Apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang rumahnya jauh dari kampus supaya jarak tidak menghambat aktivitasnya di sana?

Mencari tempat kos.

Ya, jika jarak antara tempat kos dengan kampus itu dekat, kemungkinan besar si mahasiswa bisa memaksimalkan waktunya di kampus tanpa harus khawatir untuk buru-buru pulang ke rumah. Khawatir tidak ada angkutan umum lagi, misalnya. Atau, kalau naik kendaraan pribadi, khawatir pulang terlalu malam dan membuat konsentrasi mengemudi terganggu karena sudah mulai mengantuk, misalnya.

Dan, karena alasan itulah saya memilih untuk menjadi anak kos.

Jarak antara tempat kos saya dengan kampus bisa dikatakan dekat. Sangat dekat malah. Tapi, itu saat fakultas saya masih berada di kampus utama. Karena sejak fakultas saya pindah ke gedung baru yang letaknya di daerah lain, jaraknya jadi jauh. Sangat jauh malah.

***

Menjadi anak kos memang penuh perjuangan. Saya harus bisa mengatur keuangan yang diberikan orang tua dengan cermat supaya segala kebutuhan bisa terpenuhi. Dari mulai biaya membeli buku yang dibutuhkan untuk kuliah sampai dengan biaya makan sehari-hari. Saya pun tak menyangka, saya yang dari lahir sampai SMA selalu tinggal bersama orang tua di rumah yang nyaman dan segalanya bisa tercukupi, bisa menjadi anak kos yang segala halnya harus bisa diatur secara mandiri.

Tapi tidak terasa, hari ini (3 Juni 2017), saya harus berpisah dengan kamar kos yang sudah menemani saya sejak hari pertama masuk kuliah, yaitu pada 3 September 2012.

Karena saya sudah diwisuda pada 20 Mei 2017 lalu, jadi saya memutuskan untuk tidak memperpanjang masa aktif tempat kos. Ke kampus pun saya juga sudah jarang. Hanya tinggal menunggu pembagian ijazah saja untuk ke sana atau menghadiri sidang skripsi teman terdekat.

***

Ketika saya menutup pintu kamar kos untuk yang terakhir kalinya, ingatan saya menjadi kembali ke masa-masa saat saya masih tinggal di dalamnya. Begitu banyak kenangan yang sudah terjadi. Pengalaman yang bisa saya rasakan bersama teman-teman terdekat dan pengalaman yang saya dan Tuhan saja yang tahu. Hehe.

Ingatan tersebut dimulai di bulan pertama saya menjadi anak kos, saya masih belum betah sebenarnya hidup secara mandiri di sana. Tidak ada ibu yang memasak makanan kesukaan dan tidak ada suara merdu beliau ketika membangunkan saya di pagi hari. Saya harus berjalan keluar kamar ketika perut lapar untuk membeli makan dan alarm dari ponsel-lah yang membangunkan saya ketika pagi datang, meskipun itu sering tidak mempan membuat saya langsung membuka mata lalu segera mandi. Namun, lama-kelamaan saya jadi menikmatinya. Ya, ketika tiga sampai empat bulan hingga seterusnya, saya bisa terbiasa dengan kondisi tersebut. Ternyata, saya bisa menjadi anak kos.

Selain itu, kamar kos saya sering dijadikan tempat berkumpul beberapa teman sekelas pada masa awal-awal kuliah. Ada delapan orang, termasuk saya, berada di kamar berukuran sekitar 3 X 4 meter itu. Dengan begitu, karena hawa di dalam yang sudah gerah jadi bertambah seperti berada di padang pasir ketika banyak orang yang berkumpul, sehingga kipas angin mini saya menjadi senjata ampuh untuk mengusir kegerahan tersebut. Aktivitas yang sering kami lakukan saat itu adalah bermain game Pro Evolution Soccer (PES) di laptop saya, tapi joystick-nya hasil dari patungan. Namun, saya senang. Saya senang atas kunjungan teman-teman saya ke kamar kos karena di saat tertentu saya memang membutuhkan keramaian dan keseruan dari kehadiran mereka untuk mengusir segala kepenatan yang terjadi sehabis kuliah di dalam kelas.

Oh iya, saya memilih untuk sendirian tinggal di kamar kos karena saya memang tipe orang yang lebih banyak menyukai keheningan. Keramaian dan keseruan memang perlu dari kehadiran teman-teman lain, tetapi saya juga butuh banyak waktu untuk melakukan aktivitas lain sendirian tanpa khawatir merasa terganggu dari suara orang lain. Bisa dibayangkan jika saya memilih untuk tinggal bertiga atau berempat dalam satu kamar, suasana menjadi ramai dan waktu saya untuk sendiri pun jadi tidak ada.

Semakin berjalannya waktu dan semester yang juga semakin bertambah, teman-teman saya di kampus yang berkunjung ke kamar kos saya jadi berkurang. Itu karena sudah banyak di antara kami yang menemukan tempat seru untuk berkumpulnya masing-masing. Tetapi tidak dengan Alfan, Aliza (Ijal), Deny, dan Padel. Mereka berempat adalah teman terdekat saya─yang sejak tahun pertama kuliah sampai saya lulus─sering main ke kamar kos saya. Bahkan, kamar kos saya sudah dianggap seperti markas pertemuan bagi kami berlima.

Kami berlima menghabiskan waktu di kamar kos saya dengan bermain PES, menonton film di laptop, bercanda meledek satu sama lain atau meledek segala hal yang kami anggap seru, sampai membicarakan tentang mahasiswi cantik di kampus, atau membicarakan tentang hal yang hanya kami saja yang mengerti. Mungkin karena kesamaan dari obrolan dan selera kami itulah yang menjadikan pertemanan kami bisa langgeng sampai sejauh ini.

***

Selain itu, saya sering mendapatkan pertanyaan dari salah satu teman di kampus,

“Gung, lu kok betah deh tinggal di sana (maksudnya tempat kos), padahal kan suasananya gerah banget dan susah sinyal?”

Jawabannya adalah: 

1) Jarak yang sangat dekat dengan gedung fakultas saya saat itu, sehingga saya bisa sesuka hati bolak-balik ke kamar kos jika ada barang yang tertinggal atau jadi bisa menunggu sambil tiduran di kamar kos seandainya ada jeda perkuliahan yang cukup lama.

2) Air di tempat kos cocok dengan kulit saya, sehingga saya tidak merasa ada yang aneh ketika mandi atau mencuci muka. Karena setahu saya dari pengalaman teman yang anak kos juga, ia pernah merasa bahwa kondisi air di tempat kosnya agak bau dan terasa aneh di kulit, sehingga ia pun memutuskan untuk pindah.

 3) Untuk masalah sinyal, provider saya memang kurang cocok di sana, sehingga saya harus keluar kamar dulu supaya bisa mendapatkan sinyal. Meskipun dampaknya adalah saya jadi sering tertunda untuk mendapatkan pesan dari grup WhatsApp atau personal karena pending. Namun, itu bukanlah masalah besar bagi saya. 

4) Karena daerah tempat kos saya suasananya ramai sampai larut malam, saya pun jadi tak perlu khawatir ketika tiba-tiba perut terasa lapar dan ingin membeli makanan di luar ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

5) Suasana kamar kos saya memang lumayan gerah. Itu karena letak bangunannya yang terlalu dekat dengan bangunan lainnya, seperti perumahan gang sempit yang ada di Jakarta, sehingga keluar-masuknya udara jadi kurang lancar. Tapi itu tidak masalah, selama ada kipas angin di kamar, kegerahan yang melanda bisa disingkirkan

6) Alhamdulillah, dari pertama saya indekos sampai terakhir masa tinggal, saya tidak mengalami hal-hal seperti kemalingan atau tetangga kos yang terlihat bertingkah aneh bagaikan kelompok teroris.

***

Sayangnya, hubungan saya dengan beberapa tetangga antarkamar kos bisa dikatakan tidak dekat-dekat banget. Ya, selama saya hampir lima tahun indekos di sana, saya hanya kenal muka tetangga saya dan jarang mengobrol bersama mereka. Sekali pun ada tetangga kos yang saya kenal, itu adalah Alfan; teman dekat yang sudah saya bahas sebelumnya karena di semester empat sampai delapan akhirnya ia pun memutuskan untuk jadi anak kos supaya bisa memaksimalkan waktunya di kampus akibat jarak rumahnya yang juga jauh seperti saya.

***

Di lingkungan kamar kos saya juga lumayan banyak berkeliaran kucing tak bertuan. Pada bulan pertama saya tinggal, beberapa kucing terkadang dengan seenaknya buang air besar di luar kamar saya. Bisa ditebak, yang terjadi adalah lingkungan di luar kamar jadi bau. Untung saja tukang kebersihan di sana bisa segera membuang kotoran tersebut ke tempat yang layak setiap pagi. Meskipun begitu, ternyata semakin hari jumlah kucing di sana semakin berkurang, mungkin mereka pergi ke tempat lain untuk buang air yang lebih nyaman. Sehingga, pada bulan-bulan terakhir saya indekos, jumlah kucing di sana hanya tinggal dua ekor, yaitu induknya dan satu anaknya yang berwarna putih. Setiap malam, ketika saya punya makanan yang saya pikir mereka menyukainya, seperti sisa daging ayam atau gorengan, saya sering kasih ke para kucing tersebut. Jadi, mengetahui saya sering memberi mereka makan, setiap saya datang ke tempat kos, si kucing sering menghampiri saya sambil berkata,

“Meong! Meong! Meong! Meooong! (artinya: Ya, daripada saya nyolong ikan asin tetangga ya, lebih baik saya mengeong ke kamu. Selain halal, saya nggak harus lari-lari dikejar yang punya ikan asin. Bisa kali ngasih makanan sisa kayak semalam. Pliiis!)” 

Tapi karena terkadang saya tidak membawa makanan sama sekali dan di kamar kos juga tak ada makanan yang tersedia, saya langsung membalas, 

“Meong! Meeeeooooong! Meong meong meong! Meooong! (artinya: Maaf, cing. Saya lagi nggak ada makanan, nih. Coba deh ke warung pecel lele di seberang jalan sana, pasti banyak makanan yang tersisa buat kalian makan. Serius!)”

Dan, si kucing pun hanya menjawab,

“Meong! (artinya: Yaudah deh!)”

***

Pintu kamar kos sudah saya kunci rapat dan itu tandanya saya harus segera menyerahkan kembali kunci─yang selama hampir lima tahun saya simpan baik-baik di dalam tas─ke pemilik kamar kos. Perasaan saya jadi sedih karena harus berpisah dengan kamar yang sudah memberikan banyak kenangan dan pelajaran untuk hidup mandiri. Kenangan yang bisa saya ceritakan dengan yang tidak. Kenangan yang membuat saya jadi mengingat tahun pertama kuliah dan keseruannya. Selain itu, karena kamar kos saya adalah saksi bisu tentang segala hal yang saya lakukan di sana. Meskipun begitu, hidup harus terus berjalan. Saya harus memulai kisah baru lagi dalam hidup; kamar kos saya adalah salah satu kisah yang selesai di dalamnya. Doa saya untuk kamar kos yang pernah ditinggali oleh saya adalah:

Semoga kau mendapatkan penghuni yang lebih baik dan si penghuni bisa betah dalam segala kelebihan dan kekuranganmu.

Ini lagi berantakan aja, biasanya... lebih berantakan. Hehe.

Suasana kamar kos di hari terakhir.

You Might Also Like

0 comments