Tentang Liana dan Perasaan Cinta yang Tak Pernah Diungkapkan Kepadanya

  • May 30, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: Tumblr.com

Ini adalah kisah tentang seorang pemuda yang namanya tidak ingin disebut. Ia merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain di luar sana yang berhasil mendapatkan perempuan idamannya. Ia juga bukan pemuda yang aktif di sebuah organisasi penting di kampus, sehingga tidak banyak perempuan yang mendekatinya supaya bisa dijadikan kekasih. Ia adalah pemuda yang biasa-biasa saja. Jadi, dalam cerita ini, ia hanya ingin dipanggil “Si Pemuda”.

Selain itu, ada tokoh lain bernama Liana. Liana adalah perempuan yang menjadi perhatian utama di kisah ini. Liana adalah alasan mengapa Si Pemuda tetap merasa optimis dalam menjalani hidup. Bagi Si Pemuda, Liana juga perempuan yang selalu menghiasi pikirannya. Dengan begitu, Liana adalah mimpi yang belum terwujud sebagai bentuk realitas yang bisa membuat Si Pemuda bercita-cita agar bisa bersamanya, bisa menjadikan Liana kekasihnya, dan bisa merasakan bagaimana Liana memperhatikan dirinya.

***

Liana, seperti yang sudah disebutkan di awal, mulai dikenal di dalam pikiran Si Pemuda sejak mereka bertemu dalam acara OSPEK kampus karena mereka adalah mahasiswa baru pada tahun itu. Mereka secara tak sengaja menjadi satu kelompok, sehingga perkenalan tak dapat dielakkan di antara mereka. Sejak hari itu, Si Pemuda merasa ada suatu rasa yang berbeda kepada Liana. Entah perasaan apa, yang pasti itu bisa membuat dirinya tersenyum sendiri dan jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya.

Setelah OSPEK berlalu selama tiga hari dan akhirnya tahun ajaran baru dimulai, tak disangka bahwa Si Pemuda menjadi teman sekelas Liana yang mana berarti kesempatan untuk mendekatinya menjadi lebih besar. Awalnya, Si Pemuda berpikir bahwa meskipun berada di satu jurusan yang sama, yaitu Bahasa dan Sastra Rusia, ia akan berbeda kelas dengan Liana. Namun, semesta nampaknya telah berkonspirasi supaya Si Pemuda dan Liana tetap melanjutkan perkenalan ke tahap yang lebih serius. Karena ketika kau sekelas dengan orang yang disuka, akan banyak alasan yang muncul supaya kau dan dirinya bisa terus bersama.

Benar saja, tak lama kemudian Si Pemuda dengan mudah berkomunikasi kepada Liana membicarakan tentang suasana kelas, matakuliah, tipe dosen yang seru dan membosankan, atau perihal kampus lainnya. Di sisi lain, Liana membalas segala obrolan yang dimulai oleh Si Pemuda dengan ramah dan menyenangkan. Tak jarang, Liana tertawa karena ada kalimat-kalimat lucu yang diucapkan Si Pemuda. Mendengar suara tawa Liana, Si Pemuda merasakan kedamaian di hati. Si Pemuda merasa bahagia bisa membuat Liana tertawa di sampingnya.

Liana adalah anak kos, begitu juga Si Pemuda. Sayangnya, pada semester awal mereka sekelas, Si Pemuda jarang mengajak Liana pergi berdua untuk sekadar makan malam atau menonton di bioskop. Alasannya adalah Si Pemuda masih merasa belum mempunyai keberanian untuk mengajaknya. Si Pemuda belum siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dikeluarkan oleh Liana seandainya Liana penasaran mengapa Si Pemuda mengajaknya mengobrol di luar kampus, tidak seperti biasanya. “Ah, pengecut sekali saya!” ucap Si Pemuda dalam hati kepada dirinya sendiri.

Di dalam kelas, Si Pemuda mencoba untuk sering duduk di dekat Liana. Tak jarang, ketika dosen menjelaskan tentang materi perkuliahan di depan, Si Pemuda mencuri kesempatan untuk menatap sekilas ke arah Liana. Liana tak menyadarinya karena menganggap Si Pemuda adalah teman biasa yang sama seperti teman sekelas lainnya. Tapi, tidak bagi Si Pemuda. Liana adalah kunci. Kunci yang selama ini hilang, sehingga pintu hati Si Pemuda bisa segera dibuka dan menyambut Liana dengan sukacita.

Liana sebenarnya adalah tipe perempuan pendiam dan tidak banyak bicara. Bahkan, di kelas pun ia jarang sekali mengomentari argumen-argumen dosen saat mengajar dan jarang sekali maju ke depan untuk menjawab soal-soal yang jawabannya harus ditulis di papan tulis. Berbeda dengan Si Pemuda. Saat masih di tahun pertama menjadi mahasiswa, Si Pemuda merupakan lelaki ekspresif yang suka bertingkah dalam mengekspresikan sesuatu. Misalnya saja saat dosen memberikan pertanyaan kepada para mahasiswa di kelas dan ternyata hanya jawaban Si Pemuda saja yang benar sehingga dosen memberikan apresiasi dengan mengucapkan “Selamat!”, Si Pemuda langsung berdiri di samping kursinya lalu melakukan sujud syukur seperti mendapatkan kejutan uang kaget. Ketika Liana melihat tingkah Si Pemuda itu, senyum muncul di wajahnya karena Si Pemuda berhasil membuatnya merasa terhibur.

***

Waktu semakin berlalu dan tak terasa Si Pemuda dan Liana telah berada di semester dua perkuliahan. Hubungan mereka masih tetap sama; sebatas teman. Tidak ada kemajuan yang dilakukan oleh Si Pemuda supaya Liana bisa tertarik kepadanya dan menjadikannya lebih dari sekadar teman. Sebenarnya, Si Pemuda sudah berusaha agar selalu dekat dengan Liana. Dari sering mengajaknya mengobrol sampai pergi ke bioskop untuk menonton film terbaru bersama, meskipun mereka menontonnya tidak berdua melainkan bersama beberapa teman sekelas. Tak disangka, ternyata itu belum cukup. Liana bukan tipe perempuan yang bisa suka kepada lelaki yang biasa-biasa saja. Maksudnya, lelaki yang tidak memiliki jabatan di kampus dan aktif berorganisasi. Dengan begitu, kesempatan Si Pemuda untuk mendapatkan perhatian berlebih dari Liana harus ditunda dulu.

Di penghujung semester dua, ada kabar yang menyebutkan bahwa Liana sudah memiliki seorang kekasih. Ya, seperti dikatakan sebelumnya bahwa Liana menyukai lelaki yang aktif berorganisasi. Lelaki beruntung yang menjadi kekasih Liana adalah Kuncoro. Kuncoro merupakan mahasiswa dua tahun di atas Liana dan Si Pemuda. Kuncoro menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas. Itulah sebabnya Kuncoro bisa sering memamerkan keahliannya dalam memimpin, sehingga Liana tertarik kepadanya.

Mendengar kabar bahwa Liana sudah memilih lelaki selain dirinya, Si Pemuda merasa putus asa. Namun, mau bagaimana lagi. Toh, Si Pemuda walaupun menjadi seseorang yang sekelas bersama Liana, ia tidak memiliki “sesuatu” yang bisa ditunjukkan kepadanya. Si Pemuda mencoba untuk terus memendam rasa cintanya kepada Liana. Si Pemuda masih payah karena belum berani mengungkapkan perasaan itu. Terlebih lagi, Si Pemuda sudah telat karena ditikung oleh lelaki lain. Si Pemuda ingin menaikki roket lalu pergi ke Bulan saja rasanya.

***

Sekitar tiga bulan kemudian yang mana sudah memasuki semester baru, desas-desus di kampus memberi tahu bahwa Liana sudah putus dengan kekasihnya. Alasan mereka putus adalah karena Kuncoro sering merasa tak peduli kepada Liana. Padahal, Liana selama berpacaran dengannya selalu memberikan perhatian dan perlakuan terbaik kepada Kuncoro. Mungkin karena Kuncoro adalah mahasiswa sibuk dan populer, sehingga ia merasa bahwa sudah terbiasa mendapat perhatian dari para perempuan, khususnya perempuan-perempuan lain di luar sana yang mengidolakannya. Sehingga, perhatian dari Liana semakin lama semakin biasa saja di mata Kuncoro. Dengan begitu, karena sudah tidak tahan lagi, Kuncoro-lah yang mengakhiri hubungan spesial dengan Liana.

Si Pemuda yang mengetahui bahwa hubungan Liana dengan (mantan) kekasih sudah berakhir merasa bahagia sekaligus sedih. Bahagia, karena itu berarti ia bisa berusaha mendekati Liana kembali; dan sedih karena ternyata hati Liana disakiti oleh lelaki yang benar-benar tidak menghargai perhatiannya. Si Pemuda sebenarnya sangat iri kepada Kuncoro. Si Pemuda ingin menjadi Kuncoro. “Dasar lelaki bedebah!” kutuk Si Pemuda dalam hati kepada Kuncoro.

Dalam masa-masa Liana kembali menjomlo, ternyata Liana masih belum bisa membuka hati kepada lelaki lain. Mungkin karena masih kesal terhadap hubungan yang sebelumnya atau ingin mendamaikan hati terlebih dahulu dan ingin sendiri.

“Na, kamu terlihat murung sekitar seminggu ini? Apa ada masalah?” Si Pemuda berbasa-basi di kelas ketika suasana mahasiswa yang datang masih sedikit, meskipun sebenarnya ia tahu penyebabnya. Itu adalah seminggu setelah Liana berpisah dengan Kuncoro.

“Tidak apa-apa kok, Teman. Aku baik-baik saja,” jawab Liana dengan memasang ekspresi datar. Itu memberi tanda tersendiri bagi Si Pemuda untuk menebak jawaban yang sesungguhnya. Dan, oh, Liana memanggilnya “teman”. Teman. T-E-M-A-N. Nasib memang membawa Si Pemuda hanya sebatas teman kepada Liana. Tak lebih.

“Oh, baiklah. Mungkin, jika kamu nanti ingin bercerita tentang segala hal yang terjadi akhir-akhir ini, saya bisa mendengarkan keluh-kesahmu.”

“Iya, terima kasih.”

Dan, begitulah. Hubungan pertemanan antara Si Pemuda dan Liana mulai menjauh karena Liana mulai menutup diri dan jarang sekali berbicara dengannya. Tawa Liana yang dulu sering muncul tatkala Si Pemuda mengeluarkan candaan, jadi terasa hambar saja bagi Liana. Kuncoro-lah penyebabnya. Kuncoro-lah yang menjadi Liana seperti itu. Patah hati memang membuat seseorang yang dulu riang menjadi pemurung. “Kuncoro sialan!” kutuk Si Pemuda sekali lagi dalam hati. Tapi, ya, hanya sebuah kutukan dalam hati yang tanpa arti. Tanpa adu jotos, misalnya, untuk memberi pembalasan karena telah membuat Liana patah hati. Oh, tapi itu tidak mungkin dan tindakan bodoh untuk dilakukan. Jika Si Pemuda mengajak berkelahi Kuncoro, Si Pemuda tentu kalah karena Kuncoro adalah orang yang disegani dan pasti banyak yang mendukungnya. Bisa juga, jika nanti Si Pemuda berkelahi dengan Kuncoro, Si Pemuda-lah yang malah akan dibenci oleh Liana sebab seberapa pun Liana kesal kepada Kuncoro, Kuncoro masih memiliki ruang khusus di hati Liana. Si Pemuda pun hanya bisa mengembuskan nafas panjang.

***

Waktu semakin berlalu. Tugas kuliah satu dengan yang lainnya juga semakin berlalu. Begitu juga hubungan antara Si Pemuda dengan Liana semakin biasa saja, tidak seperti pada semester satu dan dua perkuliahan, meskipun mereka masih satu kelas. Liana juga semakin banyak yang menyukai di kalangan mahasiswa-mahasiswa antarkelas dan antarjurusan lain. Ya, karena menurut konstruksi sosial yang berlaku, penampilan fisik Liana semakin hari semakin cantik. Si Pemuda pun merasa tambah semakin putus asa, tetapi tidak dengan perasaan itu; perasaan cinta. Liana masih tetap mengisi ruang khusus di hati Si Pemuda, walaupun Liana yang mengisi hatinya hanya sebatas imajinasi karena Liana yang asli tetap tidak tahu tentang perasaan Si Pemuda yang sebenarnya.

***

Memasuki semester enam, Si Pemuda dan Liana akhirnya berpisah kelas. Itu terjadi karena fokus perkuliahan yang mereka ambil berbeda. Si Pemuda memilih untuk fokus di bidang sastra, sedangkan Liana di bidang linguistik. Itu adalah petanda buruk karena kemungkinan besar Si Pemuda tidak akan bisa sedekat seperti di semester-semester sebelumnya. Ketika masih satu kelas saja, Si Pemuda tetap tak bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kepada Liana, apalagi dengan berpisah kelas. Semakin jauh saja jarak antara Si Pemuda dengan Liana.

Sejak putus dengan Kuncoro, Liana seakan tetap menutup hati kepada lelaki lain. Liana tidak memiliki pacar sampai semester enam. Begitu juga dengan Si Pemuda; tetap jomlo dari semester satu karena masih terus mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Liana. Akan tetapi, setiap niat di hati sudah bulat untuk melakukannya, Si Pemuda malah segera menunda niat tersebut sampai tak terasa ternyata ia dan Liana sudah tak sekelas lagi. “Dasar bodoh kau, anak muda! Itulah akibatnya jika sering menunda-nunda mengungkapkan perasaan” adalah ungkapan yang berasal dari bisikan di sisi kiri Si Pemuda. Seharusnya, Si Pemuda mengikuti lirik dari lagu Endah dan Rhessa yang berjudul When you love someone, yang kata-katanya seperti ini: 

When you love someone, just be brave to say 
that you want her to be with you
When you hold your love, don’t ever let it go 
or you will loose your chance to make your dreams come true

***

Sejak berpisah kelas itu, Si Pemuda menjadi jarang mendapatkan kabar terbaru tentang Liana. Ya, meskipun mereka masih satu fakultas. Itu bisa saja terjadi ketika mereka sudah sibuk dengan tugas kuliahnya masing-masing. Selain itu, pesan yang dikirimkan oleh Si Pemuda untuk menanyakan kabar ke Liana via WhatsApp, selalu tidak dibalas. Mungkin Liana malas merespons atau ternyata banyak yang mengirim pesan seperti itu juga dari lelaki lain, sehingga Liana bosan. Entah. Berpikir negatif terkadang terasa mudah saat keadaan memang mendukung. Persetan dengan motivasi yang selalu mengimbau kita agar selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu.

Semester enam pun berlalu. Dan, tiba-tiba saja kabar mengejutkan terdengar ke telinga Si Pemuda.

“Bung, apa kau tahu bahwa Liana sudah mempunyai kekasih baru? Ya, perempuan yang sudah kausukai sejak awal kita masuk kuliah itu. Tak kusangka, sejak putus dari Kuncoro sekitar dua tahun lalu, ia baru bisa move-on,” kata teman terdekat Si Pemuda. Beberapa teman terdekatnya memang sudah mengetahui bahwa Si Pemuda menyukai Liana sejak lama.

“Wah, kok saya baru tahu, ya! Haha. Ya sudahlah, biarkan saja. Saya juga sudah tak begitu suka-suka banget kok ke dia!” jawaban yang sangat bullshit yang dikatakan oleh Si Pemuda. Ia masih tetap dan terus menyukai Liana. Dalam hatinya pun, Si Pemuda mengutuk kekasih baru Liana. Si Pemuda segera ingin tahu siapa lelaki yang bisa menaklukan hati Liana yang setelah sekian lama terkunci rapat itu. Bahkan, Si Pemuda yang sudah lama mengenal Liana pun tak berani melakukannya, sehingga perasaan yang dahulu sudah ada masih terus dipendam.

***

Dialah Aljunaedi atau biasa dipanggil Al. Al adalah mahasiswa kampus lain yang sebenarnya masih dekat dengan kampus Si Pemuda dan Liana. Namun, kenyataan bahwa Al adalah mahasiswa satu tahun di bawah Si Pemuda-lah yang membuatnya terkejut dan agak membuatnya kesal. Si Pemuda merasa ia telah dikalahkan oleh junior. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata Al adalah mahasiswa yang memiliki jabatan penting di kampusnya. Al adalah Ketua Mahasiswa Pencinta Alam. Ya, dengan jabatan yang dimilikinya, alam seakan takluk kepada Al, begitu juga dengan perempuan yang disukainya. Dan, perempuan yang dapat ditaklukannya adalah Liana. Liana, yang bagi Si Pemuda, adalah seperti alam liar yang tak bisa diprediksi, sehingga ia selalu takut untuk menghadapinya.

***

Si Pemuda nampaknya sudah merasa bosan dengan kisahnya sendiri. Ya, ia sudah lelah dipecundangi oleh hidup. Ia ingin kisah tentang dirinya dengan Liana dipercepat saja.

Jadi, semester enam berganti ke tujuh, delapan, sembilan, lalu sepuluh. Dan, tahukah kau pada semester sepuluh itu, Si Pemuda akhirnya diwisuda? Sedangkan Liana, terakhir kali Si Pemuda dengar tentang kabar akademisnya, Liana masih sibuk mengerjakan skripsi. Sebenarnya Si Pemuda ingin diwisuda sejak lama supaya bisa meninggalkan kampus yang sebenarnya dicintainya, tapi karena ada faktor perasaan kepada seorang perempuan yang tak bisa dimilikinya, ia merasa sudah cukup berada di sana. Si Pemuda ingin segera pindah dari kampusnya itu. Ingin memulai hidup baru. Ingin melupakan Liana, meskipun itu rasanya mustahil. Liana masih tetap mengisi ruang khusus di hatinya. Iya, Liana yang itu, Liana yang masih berstatus sebagai kekasih Al. Hubungan Liana dengan Al ternyata cukup langgeng, tidak seperti saat bersama Kuncoro.

Namun, sehari setelah perayaan wisuda selesai, ada dorongan yang kuat dari hati Si Pemuda supaya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Liana. “Ungkapkan saja! Meskipun Liana masih memiliki seorang kekasih! Lagipula, ia masih sebatas pacar, bukan suami istri. Ungkapkan saja perasaanmu yang sudah kaupendam sejak lama itu!” bentak suara yang tiba-tiba terdengar dari sisi kanan Si Pemuda. 

***

Jadi, inilah Si Pemuda sedang berjalan membawa sebuah kado─berisi lukisan sosok Liana yang digambarnya sendiri menggunakan pensil kualitas terbaik dan di gambar di atas kertas terbaik serta sudah dibingkai rapi─karena jarak antara tempat kosnya dengan tempat kos Liana tidak terlalu jauh. Ia berencana, ketika kado itu diberikan, perasaan yang selama ini dipendamnya juga segera diungkapkan. Untuk masalah jawaban, apakah Liana benar-benar menjawabnya atau akan mengacuhkan Si Pemuda, itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah ungkapan yang sangat berarti baginya karena ia harus menunggu sampai lulus kuliah dan baru memiliki keberanian. Impian-impiannya selama ini tentang Liana agar bisa bersamanya, bisa menjadikan Liana kekasihnya, dan bisa merasakan bagaimana Liana memperhatikan dirinya sudah bukan menjadi prioritasnya. Si Pemuda ingin menjadi lelaki yang bisa menyikapi segala sesuatunya secara dewasa dan realistis saat ini.

***

Oh, ternyata rencana tinggallah rencana. Saat menyebrangi jalan menuju tempat kos Liana yang ternyata sedang ramai oleh kendaraan bermotor sore itu, salah satu pengemudi mobil lupa memperbaiki remnya. Sehingga ketika Si Pemuda melintasi jalan raya yang tidak ada jembatan penyebrangan itu, ia ditabrak mobil tersebut. Tubuh dan kepala Si Pemuda mengalami luka berat yang mengakibatkannya meninggal di tempat. Lukisan yang dibawanya pun terbelah menjadi dua karena terlempar sekitar sepuluh meter ke jalanan. Dunia menjadi gelap dan kosong bagi Si Pemuda. Namun, perasaan Si Pemuda kepada Liana masih tetap sama; ia masih dan terus mencintai Liana, perempuan yang ia sukai sejak pertama masuk kuliah, sampai maut memanggil Si Pemuda.

Di sisi lain, Liana yang menjadi perhatian utama di kisah ini wajahnya sedang pucat dan ingin pingsan karena mengetahui Al menabrak seorang lelaki yang sedang menyebrang jalan ketika ia memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk mengantar Liana pulang ke tempat kosnya; sehabis mereka selesai pergi makan berdua di restauran. Mobil Al memang sudah lama tidak dibawa ke bengkel dan remnya agak blong. Kaca depan mobilnya pun retak akibat tabrakan itu dan orang-orang sudah mulai mengelilingi mobilnya. Beruntung, Al dan Liana tidak apa-apa. Begitu juga dengan deretan mobil dan motor di belakang mereka yang tidak mengalami tabrakan beruntun karena sudah siap siaga menjaga jarak. Al dan Liana segera diamankan oleh warga setempat. Akan tetapi, setelah Liana mengetahui bahwa korban tak selamat yang ditabrak adalah Si Pemuda─seseorang yang pernah menjadi teman sekelasnya di kampus dan membuatnya sering terhibur dengan tingkah lakunya─ia merasa dunia ini menjadi gelap seketika.

You Might Also Like

0 comments