Menjawab Pertanyaan 'Kapan Lulus?'

  • May 26, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: www.sbs.edu

Perayaan wisuda adalah hari yang paling ditunggu bagi sebagian besar mahasiswa yang sudah menunaikan tugas akhir. Ya, saya mengatakan “sebagian besar” karena saya pernah mengenal mahasiswa yang beranggapan bahwa perayaan wisuda tidaklah penting karena hanya berlangsung sebentar dan setelah itu orang yang merayakannya akan menjadi pemurung disebabkan tidak tahu harus apa setelah wisuda karena belum mendapatkan pekerjaan atau belum tahu mengerjakan apa setelahnya. Namun, biarlah dia beranggapan seperti itu. Setidaknya pendapat pribadi tersebut tidak merugikan dan berefek kepada kelangsungan hidup saya, jadi bebas-bebas saja. Jika kamu memang yakin bahwa setiap momen besar harus dirayakan, rayakanlah.

Perayaan wisuda yang sudah saya tunggu, akhirnya berlangsung pada 20 Mei 2017 kemarin. Saya pun bisa merasakan bagaimana memakai toga; topi sakral yang hanya bisa dipakai oleh mereka yang sudah berjuang melewati ujian skripsi dan bagaimana terkadang penyusunan skripsi menguji kesabaran serta keteguhan para mahasiswa yang mengerjakannya. Dan, saya rasa wajar saja setiap orang ingin merayakan kelulusannya di acara wisuda dan itu juga sebagai tanda bahwa kehidupan nyata sudah berada di depan mata.

Namun, sebelum acara wisuda berlangsung, saya dan beberapa teman yang namanya berada di daftar calon wisudawan harus mengikuti gladi resik pada 18 Mei 2017. Acara gladi resik wisuda berisi tentang bagaimana kita harus bersikap saat acara berlangsung nanti dan cara berjalan menghadap rektor. Saya awalnya mengira bahwa ketika bersalaman dengan rektor sebagai simbol bahwa kita resmi menjadi wisudawan, ya biasa saja bersalaman seperti yang dilakukan pada aktivitas umumnya. Tapi, ternyata tidak. Posisi badan kita harus lurus berada di depan rektor, kemudian kepala ditundukkan sedikit supaya rektor bisa memindahkan tali toga yang awalnya di sebelah kiri menjadi berada di kanan, setelah itu diakhiri dengan bersalaman.

Dua hari kemudian, acara wisuda pun berlangsung.

Saya dan para calon wisudawan lainnya sudah berbaris sejak pukul setengah tujuh pagi. Suasana kampus juga sudah ramai didatangi oleh keluarga calon wisudawan untuk melihat anak atau kakak atau adik atau siapa saja anggota keluarga dalam merayakan hari di mana mereka diharapkan akan menjadi orang yang bermanfaat dan berguna setelah acara wisuda selesai. Selain itu, para pedagang bunga dan pedagang aksesoris untuk hadiah wisuda tak ingin melewati momen tersebut supaya dagangan mereka bisa laku keras.

Sekitar pukul delapan, kami mulai memasuki auditorium sebagai tempat berlangsungnya acara, kemudian menduduki kursi yang sudah diberikan nomor supaya tidak tertukar. Itu adalah momen yang baru pertama kali saya rasakan. Di sana, saya bisa melihat barisan para petinggi kampus, seperti para dekan, para wakil rektor, dan rektor itu sendiri. Saya merasa bahwa para petinggi kampus, khususnya rektor, bagaikan dewa yang tidak bisa dilihat langsung pada hari-hari biasa. Jadi, ketika kita ingin melihat rektor, kita harus hadir pada acara-acara besar saja. Ya, sejak pergantian rektor pada 2015 lalu, saya baru pertama kali melihat secara langsung rektor kampus saya pada hari perayaan wisuda. Berbeda ketika saya masih bersekolah di SD sampai SMA, saya bisa saja melihat kepala sekolah di kantor guru atau saat dia mengelilingi lingkungan sekolah untuk memantau aktivitas belajar mengajar tanpa saya harus hadir pada perayaan-perayaan besar sekolah.

Setelah peresmian para wisudawan selesai, saya keluar ruangan dan bertemu dengan kedua orang tua dan berfoto seperti yang dilakukan para wisudawan lainnya.

Bertemu dengan orang tua selesai, saya pun langsung menuju ke teman-teman terdekat saya dan betapa kehadiran mereka memang menambah kebahagiaan ketika merayakan momen-momen penting.

Sehari setelah acara wisuda selesai, saya jadi berpikir bahwa menjadi seorang sarjana diharapkan bisa membawa perubahan di tempat tinggalnya supaya menjadi lebih baik. Seperti ketika saya dan teman sekelompok lainnya melakukan kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa tempat kami mengabdi dua tahun lalu. Para warga di sana menganggap bahwa kami adalah sekelompok mahasiswa yang bisa membawa perubahan positif di daerah mereka. Dengan begitu, ilmu-ilmu yang dimiliki diharapkan bisa dipraktikkan di desa supaya lingkungan mereka dapat “tertular” menjadi pribadi yang bisa memandang bahwa pendidikan sebagai suatu hal yang penting bagi kelangsungan hidup. Itu diakibatkan karena di sana masih banyak warga yang menganggap bahwa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan hal yang kurang perlu. Sehingga setelah lulus SMA, banyak orang tua yang meminta anak-anaknya untuk langsung bekerja. Dan, dari pengalaman tersebut, bagi saya pribadi adalah contoh nyata yang harus bisa dicari solusinya oleh para sarjana supaya ilmu yang dimilikinya benar-benar bermanfaat di lingkungan sekitar dan membawa pengaruh positif bagi para pemuda lainnya. 

***

Setelah selesai menempuh strata satu, saya berencana untuk melanjutkan ke strata dua. Kalaupun belum terlaksana, saya bisa bekerja terlebih dahulu sambil mengumpulkan uang atau mengikuti jalur beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Ya, itu saja sementara rencana saya setelah wisuda strata satu. Setidaknya, pertanyaan “Kapan lulus?” sudah bisa saya jawab dan tinggal menantikan serta memberikan banyak alasan untuk menjawab pertanyaan abadi selanjutnya yang (biasanya) ditanyakan oleh keluarga besar, yaitu: 

“Kapan nikah?”















You Might Also Like

0 comments