Gedung Baru Fakultas

  • May 03, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: goconqr.com

Menurut pendapat saya, perbedaan antara mahasiswa yang malas dengan yang rajin adalah dari tingkat semangatnya untuk menuju kampus. Bagi yang rajin, jarak kampus bukanlah menjadi masalah untuk ditempuh, meskipun cuaca sedang tidak mendukung atau terbatasnya transportasi yang dimiliki, sehingga berjalan kaki adalah pilihan satu-satunya supaya sampai ke sana. Sedangkan bagi yang malas, letak kampus yang jaraknya ditempuh sepuluh langkah kakinya saja, kemungkinan besar akan terasa sulit dilaksanakan dan ada saja alasan untuk menundanya. Oleh karena itu, menjaga semangat agar terus menyala memang membutuhkan api di dalam diri yang harus terus berkobar.

Tipe mahasiswa malas yang saya sebutkan di atas, nampaknya adalah refleksi diri saya sendiri. Sejak gedung fakultas tempat saya berkuliah pindah ke tempat yang berjarak sekitar satu kilometer dari kampus utama, hasrat untuk pergi ke kampus jadi semakin berkurang. Untung saja, kegiatan saya di sana hanya tinggal mengurusi surat-surat dan tanda tangan dari petinggi jurusan serta beberapa dosen untuk keperluan wisuda, sehingga perpindahan gedung fakultas tersebut tidak terlalu berdampak pada aktivitas perkuliahan seandainya saya masih belajar di ruang kelas.

Pengumuman perpindahan gedung fakultas terjadi sekitar akhir Februari 2017 lalu. Saya mendengar kabar tersebut dari grup WhatsApp. Alasan yang saya dengar adalah konon fakultas saya ingin menambah beberapa jurusan baru dan ruangannya tidak mencukupi di gedung lama. Setelah saya mendengar kabar tersebut, saya sebenarnya merasa bersyukur. Karena bagi diri saya pribadi, saya sudah tak ada aktivitas perkuliahan yang saya jalani, sehingga saya tak harus pindah tempat kos yang lebih dekat dari sana. Namun, yang saya sayangkan adalah ternyata tempatnya yang jauh dari kampus utama, sehingga saya merasa fakultas saya sekarang seperti terisolasi dari suasana keramaian mahasiswa-mahasiswi fakultas lain.

Kembali ke topik. Ternyata, setelah saya memikirkan penyebab kemalasan saya, ada dua hal yang membuat saya menjadi malas menuju ke gedung baru fakultas, yaitu jarak indekos saya yang lebih dekat dengan kampus utama menjadi sangat jauh menuju ke gedung baru; dan alasan selanjutnya adalah karena saya tidak membawa kendaraan pribadi.

Saya memilih tempat kos yang sudah saya tinggali sejak September 2012 silam adalah karena jarak yang sangat dekat dengan kampus utama, yang juga itu berarti dekat dengan gedung fakultas saya yang lama. Dengan jarak yang dekat, saya merasa bahwa saya tidak harus buru-buru berangkat ke kelas jika ada jadwal mata kuliah pagi. Selain itu, ketika ada tugas yang tertinggal di kamar kos, saya bisa langsung mengambilnya segera dengan berjalan kaki. Namun, setelah gedung fakultas pindah, saya harus mempersiapkan berkas-berkas yang ingin dibawa dengan seteliti mungkin untuk keperluan persyaratan wisuda. Dengan begitu, ketika ada satu hal saja yang tertinggal atau harus diperbaiki, saya harus kembali lagi ke tempat kos saya. Dengan jarak satu kilometer, berarti sekitar lima belas menit waktu yang saya butuhkan dengan berjalan kaki, sehingga setengah jam total yang kira-kira saya perlukan untuk pergi ke fakultas dan kembali ke tempat kos.

Kejadian yang saya maksud terjadi sekitar dua minggu lalu. Saat itu saya pergi ke perpustakaan fakultas untuk mengumpulkan skripsi berbentuk CD. Sayangnya, ketika sampai di sana, pengurus perpustakaan mengatakan bahwa skripsi saya belum diberi watermark logo kampus sebagai syarat sah pengumpulan, sehingga CD tersebut dikembalikan lagi ke saya dan harus segera diperbaiki. Karena jarak yang jauh tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk kembali keesokan harinya. Ya, saya malas untuk kembali lagi pada hari itu, padahal bisa saja segera saya perbaiki.

Kejadian lainnya adalah ketika saya ingin meminta tanda tangan ke petinggi jurusan. Kehadiran mereka sukar ditebak sekarang, sehingga ketika saya datang, mereka sering memiliki urusan lain di luar kampus dan saya pun tak bisa bertemu dengan mereka. Perjalananan saya pun terasa menjadi sia-sia. Oleh karena itu, saya menjadi malas ke kampus untuk meminta tanda tangan dan akhirnya sering menunda-nunda dalam menyelesaikan berkas-berkas keperluan kelulusan.

Alasan selanjutnya adalah saya tak membawa kendaraan pribadi ke tempat kos. Jarak rumah saya yang sangat jauh dari kampus membuat saya lebih memilih menaikki kereta listrik karena pertimbangan waktu yang relatif cepat dan saya tidak perlu capek-capek mengendara. Akan tetapi, ternyata sangat terasa juga ketika gedung fakultas saya pindah ke tempat yang letaknya lumayan jauh. Saya jadi tak bisa bolak-balik seenaknya seperti saat gedung fakultas masih berada di kampus utama dan letaknya sangat dekat dengan indekos saya. Memang, teknologi telah menghadirkan kita aplikasi transportasi online yang bisa kita pesan kapan saja dengan tarif yang setara dengan jarak yang ditempuh. Dengan uang sepuluh ribu rupiah, sebenarnya saya bisa berangkat ke fakultas baru dengan memakai ojek online. Akan tetapi, uang segitu cukup besar bagi anak kos seperti saya, sehingga saya lebih memilih memakainya untuk makan siang. Hehe.

***

Itulah dua alasan saya yang sebenarnya tidak penting-penting banget tentang efek pindahnya gedung fakultas ke tempat yang baru. Saya menulis ini untuk menyadarkan diri saya sendiri supaya jangan malas dan sesegera mungkin menyelesaikan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk wisuda. Jarak tak menjadi masalah seharusnya, begitu juga dengan cara menuju ke sana; berjalan kaki atau menaikki kendaraan. Diri saya sendirilah yang menjadi masalahnya. Saya masih sering tergoda kepada kemalasan dan terus mengikutinya.

Sumber gambar: antaranews.com

Saya seharusnya malu kepada anak-anak SD yang tetap berjuang menuju sekolahnya, meskipun jarak yang jauh dan jalanan yang rusak, bahkan harus menyebrangi jembatan yang rusak pula. Mungkin mereka mengeluh, tetapi saya rasa keluhan mereka sering tertutupi dengan kegembiraan ketika bisa mendapatkan ilmu baru dan semangat mereka yang tak pernah padam dalam menggapai cita-cita. Itulah contoh konkret tentang anak-anak yang rajin.

Oke, jadi inilah keluhan dari saya dan dinasihati oleh diri saya sendiri. Semoga dengan begitu saya bisa menghilangkan sifat malas yang ada dalam diri dan sadar bahwa sebenarnya kehidupan saya masih lebih beruntung dibandingkan dengan anak-anak lain yang menempuh sekolah saja harus berjuang melewati sungai dan mereka tetap merasa bahagia.

You Might Also Like

0 comments