Perdebatan Kontemporer

  • April 09, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: theconversation.com

Perdebatan ini dimulai dari sebuah status Facebook yang diperbarui oleh salah satu warganet yang merasa setuju dengan suatu teori. Kemudian, dikomentari oleh warganet lain yang merasa tidak sependapat dengan statusnya.

[Warganet  Satu]
“Jadi, kau memercayai Teori Darwin?”

[Warganet Dua]
“Ini bukan tentang kepercayaan karena teori ilmiah bukanlah agama. Singkatnya, teori adalah model yang menjelaskan suatu fenomena, lalu disusun berdasarkan bukti atau informasi yang telah diketahui. Sampai ada informasi atau pembuktian baru yang menunjukkan bahwa teori yang dimaksud salah, maka teori tersebut merupakan alat terbaik yang dapat digunakan manusia untuk memahami dan menyelesaikan sebuah masalah secara ilmiah.”

[Warganet  Satu]
“Namun, Teori Darwin mengatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera. Jadi, kau setuju dengan pernyataan tersebut? Asal tahu saja, ya, kera adalah binatang, sedangkan manusia diciptakan pertama kali berwujud sepasang Adam dan Hawa. Apakah Adam dan Hawa adalah hasil evolusi? Tentu saja tidak!”

[Warganet Dua]
“Nampaknya kau tidak memahami apa itu ilmu pengetahuan dan bagaimana ilmu pengetahuan itu berperan dalam kehidupan kita, ya, kan?

Adam itu siapa? Yang mana? Apa?

Di mana bukti keberadaannya? Bukti yang menunjukkan bahwa awalnya di bumi ini tak ada manusia, kemudian tiba-tiba saja muncul sepasang manusia yang jatuh dari langit dan berkembang biak sampai tujuh milyar seperti sekarang ini. Coba mana buktinya?!

Lalu, bagaimana kau menjelaskan fakta bahwa manusia bisa mempunyai begitu banyak macam ras dengan berbagai macam sifat genetik pula, padahal berasal dari nenek moyang yang sama. Bagaimana bisa terjadi hal tersebut kalau bukan akibat dari evolusi?

Kuuingatkan sekali lagi, ya, teori adalah model kerja terbaik yang manusia miliki karena bisa menjelaskan sebuah fenomena menggunakan fakta-fakta nyata yang bisa diamati.

Nah, sekarang jika kau ingin membantah teori evolusi, silakan kau buat penjelasan memakai semua fakta yang sudah diketahui dan sudah terbukti, sehingga membuat kita bisa memahami asal kejadian makhluk hidup serta menjawab pertanyaan seputar perkembangan makhluk hidup. Dengan begitu, tak perlu susah-susah berdebat kusir di sini. Coba selesaikan pernyataan itu terlebih dahulu!

Ngomong-ngomong, Bung, belajarlah membedakan antara keyakinan dengan pengetahuan. Jangan dicampur dan jangan pula diperlakukan sama, letakkan masing-masing pada tempatnya.”

[Warganet  Satu]
“Nih ya, kuberi tahu. Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan secara khusus. Lalu, proses penciptaan tersebut melalui pertemuan sperma dan ovum dari sepasang laki-laki dan perempuan. Itu sudah dijelaskan dalam Surat Alqiyamah ayat 37. Dan, kau bertanya ‘Bukti keberadaannya mana?’. Ya ampun, apa kau tidak memercayai adanya Adam? Ini saya hanya ingin mengetahui sudut pandangmu saja, ya.”

[Warganet Dua]
“Lha, yang saya tanyakan tadi itu bukti, bukan masalah percaya atau tidak. Coba kaulihat lagi, apa ada kata yang belum kaumengerti dari pernyataan saya sebelumnya tentang ‘Jangan mencampurkan dan memperlakukan sama antara kepercayaan dan pengetahuan’?

Oke, saya sudah cukup melihat pernyataan-pernyataanmu. Keteguhan hatimu memang mengagumkan. Sayangnya, kau tetap bersikeras menjadi pandir dalam membaca jawaban-jawaban yang saya berikan, semata-mata untuk membalas dan menjabarkan argumen selanjutnya yang muncul dalam pikiranmu; bukan untuk memahami maksud saya. Lantas, kau masih berani mengatakan bahwa kauingin mengetahui sudut pandang saya?”

[Warganet  Satu]
“Duh, duh, mengapa kau masih menanyakan sesuatu yang bahkan sudah ada di dalam ajaran agamamu? Apa kau sebenarnya hanya ingin menguji wawasan saya? Dan, yang lebih menyedihkannya lagi, kau bertanya ‘Adam itu siapa?’. Ya ampun, kau sedang mabuk? Sehingga, kau jadi tak setahu itu? Lalu, kau bertanya tentang bukti? Bukti adanya Adam, maksudnya? Oh, apakah kau tak memahaminya dalam agamamu sendiri?”

[Warganet Dua]
 “(Sabar, diriku, sabar. Anggap saja ini ujian supaya menjadi pribadi yang lebih baik)

Oke, saya jelaskan ya maksudnya. Saya masih tak tega saja menyebutmu ‘tolol’, khawatir kau akan tersinggung. Namun, jika dilihat dari pertanyaan dan pernyataanmu sebelumnya, nampaknya kau memang pantas disebut... ya, ‘seperti itu’. 

Awalnya, kaubertanya apakah saya memercayai teori evolusi atau tidak. Lantas, saya jawab bahwa teori evolusi adalah hasil penelitian yang menjelaskan tentang asal kejadian spesies yang ada di bumi ini, sehingga memudahkan kita yang sedang menggeluti bidang tersebut. Ini adalah teori yang sudah dibuktikan oleh fakta dan logika. Dan, sekali lagi saya mengingatkan bahwa ini adalah pengetahuan, bukan kepercayaan.

Akan tetapi, selanjutnya kaumenyatakan ‘Kera adalah binatang, sedangkan manusia yang diciptakan pertama kali adalah Adam dan Hawa. Apa Adam dan Hawa hasil dari evolusi? Tentu tidak!’

Pertama, manusia memang binatang, hanya saja otak yang ada pada manusia lebih berkembang, sehingga bisa lebih mudah mempelajari segala sesuatu di alam ini, lebih banyak menyimpan informasi, dan lebih bisa melakukan tugas yang rumit.

Kedua, kaubertanya, tetapi sudah menggunakan pernyataan ‘Tentu tidak!’. Jadi, kauingin tahu pendapat saya tentang evolusi atau ingin mendikte saya supaya harus setuju denganmu bahwa evolusi itu salah karena agama tidak pernah menyebut tentang evolusi?

Kaumengatakan ingin mengetahui sudut pandang saya. Lantas, saya sudah memberikan sudut pandang saya sejak awal bahwa teori ilmiah merupakan pengetahuan, bukan kepercayan. Namun, kau terus saja menyanggahnya. Dengan begitu, yang seharusnya bertanya ‘Kau sedang mabuk?’ itu saya, bukan kau.

Jangan-jangan, ternyata kau yang tak memahami arti ‘sudut pandang’, seperti kau tak memahami perbedaan antara pengetahuan dengan kepercayaan.

Selanjutnya, kau, kan, bertanya tentang evolusi, berarti ini tentang ilmu pengetahuan, bukan tentang agama. Jadi, mengapa kaumenyatakan ‘Oh, apakah kau tak memahaminya dalam agamamu sendiri?’

Dari awal topik pembicaraan ini, kan, tentang pengetahuan. Pengetahuan butuh bukti konkret. Jika kau tak setuju mengenai teori evolusi dan ingin menggantinya dengan teori-Adam-yang-jatuh-dari-langit, ya silakan saja; tapi kau juga wajib menunjukkan buktinya. Bukti bahwa evolusi itu salah, melainkan yang benar adalah bukti bahwa Adam yang jatuh dari langit. Yang tertulis di kitab suci itu bukan bukti, tetapi klaim─dan, klaim ini masih perlu dibuktikan. Contohnya saja ketika kitab menyatakan bahwa mayat Firaun tenggelam di dasar laut. Kemudian, ilmu forensik yang meneliti mumi Firaun membuktikan bahwa mayatnya memang benar pernah tenggelam di dasar laut karena ditemukannya kandungan garam di tubuhnya, ini baru yang namanya bukti.

Maaf, ya, seandainya dari awal semua pernyataanmu ini tentang agama, saya merupakan tipe manusia yang mempertanyakan agama saya (dan agama lain juga) sebelum meyakininya. Saya bukan orang pandir yang secara fanatik langsung memilih agama Z untuk diyakini hanya karena saya dilahirkan dari keluarga yang beragama Z. Kalau memang kau tak pernah mempertanyakan agamamu, bisa dikatakan bahwa kau tak benar-benar mengimaninya. Kau hanya ikut-ikutan saja, seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.

Jadi begini, saya ulangi lagi berharap membuat kaupaham dengan pernyataanku. Kau tak memiliki bukti, kan, bahwa Adam itu ada? Mengidentifikasi Adam saja kau tak mampu. Dia hidup di periode kapan? Di mana? Budayanya seperti apa? Di mana jasadnya ditemukan? Bagaimana karakteristik fisiknya? Bagaimana sejarahnya Adam dan Hawa yang hanya satu etnis, di satu tempat, kemudian bisa tersebar di berbagai pelosok dunia dan membuatnya menjadi bermacam-macam etnis kalau tidak ada evolusi─seleksi alam dan mutasi?

Jadi, kesimpulannya kau─dan seluruh umat manusia─pun tak mempunyai pengetahuan konkret tentang Adam dan hubungannya terhadap asal terjadinya kehidupan. Kau hanya yakin saja. Gitu. Jika kau tak memiliki bukti bahwa manusia itu jatuh dari langit berarti itu cuma keyakinan pribadi kau sendiri. Dan, misalnya hanya keyakinan pribadi, berarti itu bukan pengetahuan. Itu tak bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan sifat dasar spesies. Contohnya saja, seperti Mengapa ada manusia yang bermata biru sebelah dan cokelat sebelah? Apa jawabannya... Karena Adam jatuh dari langit? Mengapa manusia ada yang berhidung pesek, berhidung mancung, berambut hitam, berambut pirang? Lantas, jawabannya adalah Karena Adam jatuh dari langit?

Kisah tentang manusia yang berasal dari Adam, tak membawa kita lebih memahami alam ataupun bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di alam sehubungan dengan makhluk hidup. Sampai di sini, apa kau sudah memahami tentang perbedaan antara pengetahuan dan keyakinan?

Jadi, seandainya kauingin memercayai bahwa manusia pertama adalah Adam, ya itu urusanmu. Terserah. Namun, jangan pernah memaksakan bahwa itu adalah pengetahuan yang harus disetujui oleh semua orang. Kuharap kau bisa meletakkan keimanan dan pengetahuan pada tempatnya masing-masing.”

***

Perdebatan itu berakhir dengan saling memblokir akun masing-masing karena salah satu di antara mereka tetap bersikeras tak bisa menerima pendapat yang lain. Huruf-huruf yang mereka tekan pada tombol keyboard supaya membuat argumen-argumen yang bisa menjatuhkan argumen lawan, hanya membuat jari-jari mereka pegal. Perdebatan liar di media sosial memang kemungkinan besar tak membawa kesimpulan terbaik bagi kedua belah pihak, meskipun di satu pihak telah menjelaskannya secara rinci dan sebaik mungkin. 

Seandainya ada waktu luang, sebaiknya mereka bertemu di dunia nyata saja dan mengopi-ngopi sambil diselingi candaan ringan tanpa ada yang saling menjatuhkan satu sama lain. Hidup ini pun mungkin jadi terasa lebih indah.

You Might Also Like

0 comments