Mengantre Pizza

  • April 16, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: redbubble.com

Rabu sore (12/4/2017) yang biasa saja. Saya yang sedang tidur saat itu, tiba-tiba mendengar ketukan dari pintu bagian luar kamar kos sambil memanggil nama saya.

“Gung... Gung!”

Samar-samar suara yang saya dengar karena masih setengah sadar. Setelah diam sebentar, tahulah bahwa itu adalah suara salah satu teman terdekat saya, Deny. Lantas, saya pun membuka pintu kamar.

“Iya, Den?” masih dengan ekspresi muka seperti orang mabuk.

“Tadi di grup WhatsApp, Icha ngajakin jalan, nih. Katanya dia lagi gabut. Ikut, yuk?” ajak Deny sambil masuk.

“Oh, jalan. Ayolah! Gue juga lagi gak ngapa-ngapain di kosan. Tapi, gue lihat gak ada kabar apa-apa deh di WhatsApp.”

“Lha, sinyal lu di kosan, kan, emang memprihatinkan, Gung, jadi belum masuk pesannya. Hahaha.”

Mengetahui bahwa sore itu kami akan pergi jalan seperti yang sudah kami lakukan biasanya, saya segera bersiap-siap. Lalu, saya dan Deny segera menuju kampus karena di sana dia memarkirkan mobilnya.

Beberapa saat kemudian, datang teman kami, Ijal, yang ternyata ketika itu sedang berada di kampus juga dan mengabarkan ingin ikut. Bertiga, kami langsung menuju kosan Icha untuk menjemputnya.

Sesampainya di sana, Icha sudah menunggu di depan gang. Oh, ternyata ada Tami juga. Jadi, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Jumlah kami menjadi berlima sekarang.

Tujuan kami saat itu adalah ke salah satu mal yang berada di Bintaro. Di dalam mobil, kami bermusyawarah ke tempat makan mana yang akan dituju.

“Menurut info yang gue dapat, ada kedai pizza yang baru dibuka nih di Bintaro Plaza. Apa kita ke sana aja? Namanya P-Pizza (bukan nama sebenarnya),” tanya Deny memulai percakapan dan matanya tetap fokus menyetir.

“Boleh tuh. Gue pernah baca di internet kalau bentuk dan penyajian pizza-nya beda, gue jadi pengin nyobain,” kata Icha menyetujui.

“Oh, P-Pizza. Itu udah ada di mal yang ada di dekat rumah gue di Kota Tangerang. Gue udah pernah ngerasain. Menurut gue sih emang enak soalnya pizza-nya khas gitu,” Tami menambahkan untuk mendukung jawaban Icha.

Ijal, yang memilih duduk sendirian di kursi paling belakang, hanya diam dan gak merespons obrolan kami. Entah apa yang dilakukannya saat itu di sana. Mungkin sedang menghafalkan nama-nama Nabi di dalam hati. Saya juga hanya mengiyakan saja obrolan tersebut karena referensi saya tentang tempat makan terkenal dan dikagumi oleh generasi milenial memang sedikit karena kebanyakan referensi tempat makan versi saya adalah warteg, warung pecel, dan warung kopi dekat kampus. Jadi, tempat makan bernama P-Pizza baru saja saya dengar saat itu.

Mal yang kami tuju sudah terlihat, Deny segera memarkirkan mobilnya di sana. Suasana mal bisa dikatakan cukup ramai, padahal bukan akhir pekan. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda seperti kami. Tetapi, ada juga yang masih memakai seragam sekolah, sehingga jadi mengingatkan saya pada zaman dahulu ketika saya masih SMA dan pernah sehabis selesai sekolah bukannya langsung pulang ke rumah seperti yang diperingatkan oleh ibu, malah pergi ke bioskop untuk menonton film bersama beberapa teman dekat. Ya, saat SMA, saya memang sok-sokan berlagak young, wild, and free.

Kembali ke cerita awal. Kami pun segera masuk ke dalam mal dan mencari letak P-Pizza berada. Sekitar lima menit kemudian dan sudah menemukan letak kedai pizza tersebut karena terlihat jelas dari logo yang dipasang, ternyata...

Ramai banget. Sampai para pengunjung yang ingin memesan pizza di sana harus mengantre panjang.

Ya, suasana antrean yang kami lihat saat itu sungguh luar biasa. Menurut ke-sotoy-an saya, panjang antreannya sampai sekitar lima puluh meter, sehingga jadi menutupi jalan masuk ke ruko-ruko lain di sebelah P-Pizza.

“Mantap banget antrean pizza udah kayak mau masuk nonton konser Coldplay,” ucap saya yang bahkan belum pernah merasakan mengantre untuk masuk ke konser Coldplay.

“Iya, jadi mau lanjut atau enggak nih kita? Gue udah lapar soalnya,” Icha berkata sambil menunjukkan raut muka yang cukup bete melihat antrean panjang tersebut. Dan mungkin kalau ikut mengantre, cacing di dalam perutnya keburu melakukan demo besar-besaran.

“Kayaknya karena nih tempat makan baru dibuka, deh, makanya jadi begini. Tapi, bingung gue juga, nih pizza pakai ilmu apaan ya bisa jadi seramai ini? Tempat makan di dekatnya pasti bakal iri. Hahaha,” ujar Deny yang langsung memfoto keramaian tersebut lewat ponselnya. Mungkin ingin diunggah ke media sosial lalu mengabarkan fenomena yang sedang dilihatnya.

Tami lebih memilih untuk pergi membeli segelas es krim di kedai kecil Emcede yang berada di dekat P-Pizza karena tiba-tiba saja ingin. Ijal masih tetap diam dan mungkin saat itu dia sedang mulai menghafalkan nama-nama Pahlawan Nasional di dalam hati.

Tami sudah kembali membawa es krimnya, yang saya lupa rasa apa, kemudian bertanya,

“Kita jadi makan di mana nih? Kalau dilihat dari antreannya, bakal lama banget.”

Kami masih berpikir dan menimbang-nimbang untuk makan di mana. Lima belas menit berlalu. Fenomena antrean pizza di depan kami terus bertambah panjang. Terakhir kali saya ikut mengantre sampai panjang begitu saat saya mengantre bensin di SPBU dan mengantre wahana permainan di Dufan. Kalau untuk mengantre makanan yang saya rasa gak penting-penting banget dan bisa dilakukan di lain hari, seperti pada hari itu, saya memang akan memilih untuk mencari alternatif tempat makan lain.

Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di kedai pizza lain yang menurut saya sudah terkenal karena bahkan pernah menjadi perbincangan hangat di televisi dan media sosial oleh masyarakat akibat ikut terbawa kasus arus utama dan untungnya saja gak ada aksi pemboikotan selanjutnya terhadap tempat makan tersebut. Ya, benar, kami memilih untuk makan di Fitsa Hats.

Tiba di FH, kami mulai memesan pizza dan minuman yang kami pilih masing-masing. Lalu setelah datang pesanan kami, kami pun menikmati pizza─yang sudah menjadi makanan favorit dari kebanyakan masyarakat kontemporer─sambil mengobrol tentang kehidupan sehari-hari dan tentunya tentang fenomena antrean panjang orang-orang yang ingin makan pizza yang terjadi pada hari itu. Sejenak, kami bisa melupakan niat kami untuk makan di P-Pizza. Mungkin di lain hari ketika euforia dari orang-orang sudah mereda dan kami gak harus ikut antrean panjang.

Hari sudah mulai gelap ketika kami keluar dari FH. Kami memutuskan untuk pulang. Karena pintu keluar mal arah kami pulang melewati kedai P-Pizza, kami jadi bisa melihat lagi fenomena antrean sebelumnya. Ternyata, dari pertama kami masuk mal dan merasakan perut yang lapar sampai sudah kenyang sehingga mata kami mulai mengantuk, antreannya masih tetap panjang seperti awal kami melihatnya. Bahkan, kami bisa melihat ada beberapa remaja yang masih memakai seragam sekolah ikut mengantre sambil duduk di lantai dan bercanda-canda sesamanya akibat dari antrean yang lambat maju ke depan. Wow. Para Pencinta Pizza Militan memang patut diacungi jempol.

You Might Also Like

0 comments