Semut dan Cicak

  • February 03, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 15 Comments

Sumber gambar: pinterest.com

Semut dan cicak merupakan dua spesies yang berbeda; yang satu adalah serangga, sedangkan yang satu lagi adalah reptil. Akan tetapi, dua makhluk tersebut memiliki persamaan, yaitu sama-sama sering berkunjung ke kamar saya tanpa izin. Ya, gimana mau izin, si semut yang masuk ke kamar terkadang suka gak sengaja terinjak oleh saya dan saya pun gak bisa menguasai bahasa mereka. Apalagi si cicak, yang kerjaannya mangkal di tembok menunggu serangga yang bisa dimangsa dan gak jarang menjatuhkan isi perutnya ke bawah secara tiba-tiba dan langsung bersembunyi di balik lemari atau di sudut meja komputer ketika mengetahui saya ada di dekatnya.

Mungkin karena di sudut-sudut kamar saya terdapat lubang-lubang kecil misterius yang gak tahu muncul dari kapan, sehingga para semut di sana sepakat bahwa lubang tersebut dijadikan markas besar untuk menyimpan segala perlengkapan yang dibutuhkan bagi kesejahteraan umatnya. Karena kehadiran mereka di kamar, saya jadi suka melihat para semut mondar-mandir di lantai bertujuan mencari makanan yang manis atau jenis serangga lain yang lezat menurut selera mereka. Sedangkan saya, hanya melihat mereka beraktivitas dari atas kasur sambil tiduran. Terkadang, saya jadi malu sendiri karena semut saja yang tubuhnya kecil bisa tetap optimis dan berani mengambil resiko berjalan-jalan di area yang dihuni oleh manusia, yang sewaktu-waktu bisa membunuh mereka. Sedangkan saya, usaha untuk mengungkapkan perasaan ke perempuan yang saya suka saja masih sering pesimis karena khawatir menerima penolakan. Duh, saya harus berguru kepada para semut nih tentang arti keberanian. Halah.

Meskipun begitu, asal kehadiran para semut gak terlalu banyak dan gak mengganggu suasana ruangan, saya membiarkan mereka berjalan-jalan menyusuri setiap tempat di kamar saya. Dari para semut juga, saya bisa mendapatkan pelajaran tentang arti gotong royong. Suatu hari, saya pernah sengaja meletakkan potongan kue cokelat sebesar upil Pikachu untuk semut-semut yang sedang tawaf di kamar─yang belum tahu ukuran upil Pikachu, ya kira-kira berdiameter satu sentimeter dan memiliki tinggi 0,5 sentimeter lah. Setelah saya meletakkan potongan kue tersebut di area yang sering dilewati para semut, salah satu dari mereka akhirnya terpancing untuk mendekatinya. Mengetahui ada makanan yang lebih besar dari si semut, dia pun segera mencari semut lain terdekat untuk membantunya mengangkat potongan kue itu. Walaupun saya gak tahu yang dibicarakan mereka, firasat saya mengatakan bahwa semut-semut tersebut kompak dan dengan senang hati membantu kawannya agar bisa mengangkat upil Pikachu yang saya letakkan─bukan, potongan kue coklat maksudnya. Nah, itulah indahnya kebersamaan.

Dari sudut pandang lain, saya terkadang suka kesal ketika beberapa semut naik ke atas kasur dan tiba-tiba saya merasa ada yang berjalan di bagian tubuh, biasanya di kaki atau di tangan. Ya, salah satu dari mereka gak tahu mengapa bisa menyasar ke bagian tubuh saya yang gak jarang gigitannya bisa dirasakan ke seluruh area tubuh, sehingga membuat mulut ini mengeluarkan kata suci, “Faaak!”. Mungkin nih ya, mereka berpikir saya itu manis. Hehe. 

Untung saja bentuk semut di kamar saya itu kecil dan gak sebesar semut-semut kebun yang gigitannya bisa mengakibatkan terbentuknya benjolan di tubuh. Lalu, ketika sudah begitu, cara mengusir para semut yang hinggap di tubuh tergantung dari mood yang sedang saya rasakan. Jika mood saya sedang bahagia, saya langsung mencari si semut, mengambilnya, kemudian meletakannya di lantai tanpa ada niat menyakiti. Jika mood saya sedang biasa saja, yang saya lakukan adalah menyentilnya dari tubuh saya dan berharap si semut mendarat di permukaan dengan selamat. Namun, saat mood saya sedang kesal, tanpa basa-basi saya langsung menekan si semut yang tiba-tiba saja menggigit bagian tubuh, sehingga membuatnya berpindah hidup ke dunia lain. Semoga semut-semut yang sudah saya matikan nafasnya secara sengaja atau enggak, mereka masuk surga supaya mereka gak menuntut saya di Hari Pembalasan. Amin.

Untuk cicak-cicak yang mencari sesuap serangga di tembok kamar saya, dari mereka, saya bisa belajar tentang arti kesabaran. Ya, setiap saya mengamati cicak yang sedang berburu serangga yang memiliki sayap alias bisa terbang, si cicak pura-pura diam terlebih dulu menunggu si serangga hinggap di area tembok di dekatnya. Dia menunggu sampai waktu untuk menjulurkan lidah ke si serangga bisa akurat. “HAP!” kata si cicak dalam hati saat berhasil menangkap mangsa, meniru perkataan Saipul Jamil ketika diinterogasi oleh polisi karena kasusnya. Begitulah si cicak yang sabar. Meskipun dia gak bisa terbang, asal bisa melakukan “HAP!” dengan akurat dan teliti, serangga yang berterbangan pun bisa ditaklukan.

Untuk bagian mengesalkan dari cicak adalah ketika mereka menjatuhkan isi perutnya. Iya, kepala saya pernah menjadi korban atas tahi cicak yang jatuh dari atas yang tepatnya saya gak tahu dari mana karena tiba-tiba. Saya bisa mengetahui bahwa itu tahi cicak karena dengan tangan yang diraba ke kepala, lalu setelah dapat saya langsung menciumnya, bukan menjilatnya. Sempat hening beberapa detik sih, sampai akhirnya saya sadar dan langsung mengutuk ke si cicak serta berharap saya bisa membalasnya dengan menjatuhkan isi perut saya tepat ke kepalanya. Hiii, saya jadi geli sendiri.

Selain itu, sebenarnya saya kurang suka berhadapan dengan cicak karena merasa bentuk tubuhnya yang agak gimana gitu, licin-licin dan bikin geli. Berbeda dengan kadal, saya berani memegang dan mengelusnya. Untung saja cicak adalah reptil yang gampang kabur jika didekati, sehingga dengan bantuan sapu lidi yang saya pukul ke bagian tembok bisa segera membuatnya langsung bersembunyi ke sudut-sudut yang susah dijangkau manusia. Coba saja kalau cicak adalah reptil yang berani dan suka bawa teman-temannya untuk melakukan perlawanan ketika saya berusaha mengusirnya, mungkin saya yang bakal bersembunyi ke sudut-sudut yang gak bisa dijangkau oleh cicak. Kan, bikin repot, ya.

Pengalaman lain tentang keberadaan cicak di kamar adalah pernah suatu hari di tengah malam, saya mendengar suara, 

“Ck ck ck ck ... Uuuh~ Ck ck ck ... Uuuh~”

Awalnya saya mengira bahwa saya sedang bermimpi. Ternyata, setelah saya menyadarkan diri dan menengok ke tembok kamar di dekat saya, sepasang cicak sedang menyalurkan hasrat biologisnya kepada satu sama lain. Damn! Kamar saya dipakai buat mesum. Karena saya kesal mereka enak-enakan berdua saja dan membuat saya iri, saya langsung melaporkan kejadian itu ke Ketua RT. Enggak, maksudnya saya langsung mengusirnya sambil mengeluarkan celetukan ala Kasino Warkop, 

“Dasar monyet bau! Kadal bintit! Muka gepeng! Kecoa bunting! Babi ngepet! Dinosaurus! Brontosaurus! Kiiik!”

Dan, sepasang muda-mudi reptil tersebut pun langsung bersembunyi malu sambil menutupi mukanya. Mungkin, saat itu mereka tetap melanjutkan kenikmatan duniawi dengan mencari tempat yang lebih sunyi dan sulit dijangkau oleh manusia. Hanya Tuhan yang tahu. Setelah berhasil mengusir mereka, saya langsung melanjutkan tidur yang sempat terganggu. Lalu, pada saat saya bangun di pagi hari, saya harus mandi dan keramas karena saya bermimpi sepasang cicak yang saya lihat semalam berubah menjadi sepasang manusia yang berwujud seperti diri saya dan Scarlett Johansson.

***

Itulah pengalaman saya selama ini tentang semut dan cicak. Meskipun jika dipikir-pikir, untuk apa juga memikirkan mereka. Namun, yang pasti mereka telah mengajarkan saya tentang keberanian dan gotong royong ala semut dan kesabaran serta imajinasi dari kenikmatan duniawi ala cicak. Ya, inilah hidup yang bisa kita ambil segala hikmahnya jika ingin, kecuali kalau kita sedang malas.

You Might Also Like

15 comments

  1. Iya juga ya... jadi cicak harus sabar nungguin nyamuk. Tapi mereka juga ngajarin persaingan loh. Ketika banyak nyamuk, mereka bakal berebut satu sama lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya, baru sadar. Gue juga pernah melihat dua ekor cicak yang bersaing kayak gitu.

      Delete
  2. HAHAHAHAHA, ngakak gua baca tulisannya ini.

    Memang betul semut adalah hewan yg saling mensupport sesama kawan, dan gua juga nggk terlalu menghiraukan semut jika memang nggk mengganggu.

    Klo cicak aku pernah kejatohan cicak, kata org pertanda buruk, tapi gua gk percaya :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin pertanda buruk bagi si cicak karena pasti badan dia sakit banget karena jatuh dari langit-langit atau tembok. Hehe.

      Delete
  3. Widih, celetukannya udah khas ya mas. hehe

    Pengalaman yang luar biasa mas Agung. Tidak semua orang bisa memikirkan seperti itu lho. Keren!

    Dan kali ini dapat pelajaran berharga dari apa yang dituliskan mas Agung. Terus berbagi dan menginspirasi lewat blog ini mas.

    Mudah dipahami nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang jika bisa menginspirasi. Semoga kita bisa saling berbagi hal-hal yang jarang dipikirkan oleh kebanyakan orang. :)

      Delete
  4. Hm, nah ini nih yang bagus, Tuhan memang menciptakan semua makhluknya untuk bisa diambil hikmahnya oleh manusia, makhluk yang paling sempurna dan ditakdirkan jadi pemimpin di muka bumi. Mas Agung ini menyadarkan kita semua tentang arti kekompakan dari semut dan kesabaran dari cicak. Sesuatu yang kita lihat sehari-hari tapi kadang luput dari pengamatan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semoga kita bisa melihat segala alam semesta ini dari berbagai sudut pandang supaya kita bisa mengambil segala hikmah tersembunyi di dalamnya. :D

      Delete
  5. kamu hebat bisa belajar banyak dari dua hewan itu, kalau aku mah boro-boro belajar dari mereka, liat mereka aja rasanya pengen ngebunuh, apalagi cicak asli ngeselin banget kalau doi udh boker sembarangan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang, kita semua pasti punya beberapa reptil atau serangga yang kita pikir seharusnya mereka gak perlu hadir di dunia. Hehe.

      Delete
  6. Hahahhaha aku ngakak pas baca cicak lagi melakukan hasrat biologis. Ya gakpapa sih itu hak mereka halah
    Pengalamanmu aneh juga, masa mimpi cicaknya berubah jadi manusia :) hhaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, sama. Gue juga suka bingung sama pengalaman diri sendiri yang aneh ini. Haha.

      Delete
  7. Keren Gung. Menurut gue kehidupan sejati adalah ketika kita bisa belajar dari hal2 kecil yg bahkan luput dari perhatian orang lain.
    .
    .
    Btw, cicak juga mengajarkan gue bahwa pengorbanan itu selalu ada ketika kita pengen sesuatu. Contohnya Sabar sprti yg lo bilang, dan pengorbanan untuk selamat dari maut dengan mengorbankan ekornya..

    Keren lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Semoga kita bisa mengambil segala pelajaran dari keadaan di sekitar kita.

      Delete
  8. Wtf! Segala cicak yang lagi menyalurkan hasrat biologisnya juga di amati. Haha menarik-menarik. Lanjutkan

    ReplyDelete