Di Gubuk Sederhana

  • December 19, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: cabinlivingmag.com

“Guru, tolong beri aku nasihat apapun kepadaku hari ini tentang hidup,” seorang anak berumur tujuhbelas tahun yang berasal dari tengah kota tiba-tiba datang dan berkata kepada seorang petapa yang hidup serta banyak menghabiskan waktu di dalam hutan. Ternyata, sang petapa sudah dianggap guru oleh anak muda tersebut.

“Ah, kau. Kukira kau sudah tak ingin datang ke sini lagi. Nasihat? Nasihat apa yang kau inginkan dari orang tua yang hidup di dalam hutan seperti ini, anak muda?” jawab si petapa. Ia sedang duduk di bawah pohon dekat gubuk sederhananya. Pagi itu, ketika matahari baru memancarkan sinarnya dan burung-burung bernyanyi dengan merdunya, tiba-tiba ia kedatangan tamu. Ya, si pemuda yang berasal dari tengah kota.

“Aku tahu, sebenarnya kau adalah orang yang bijaksana dan pernah menjabat sebagai Menteri di kerajaan. Kau menetap di hutan ini karena kau telah muak dengan kehidupan di kerajaanmu yang penuh dengan kemunafikan. Dengan begitu, kau merasa bisa menikmati hidup dengan tenang dan bahagia di sini. Aku tahu cerita ini dari temanku yang kemarin mengajakku ke sini. Dan, kau tahu bahwa kemarin aku meremehkan nasihat-nasihatmu dan berkata bahwa kau adalah orang tua yang sok tahu,” si pemuda berhenti sejenak. Kemudian, ia melanjutkan, “Sebagai permintaan maaf, ini aku membawakanmu satu lusin buku terbaik yang kubeli kemarin malam karena kudengar kau memiliki banyak koleksi buku di gubuk sederhanamu itu. Oleh karena itu, aku pun berkesimpulan pasti kau sangat suka membaca buku.”

Sang petapa mendengarkan perkataan si pemuda dengan tatapan ramah dan sesekali menganggukan kepala. Ia pun menerima buku-buku yang diberikan dari si pemuda dari ranselnya.

“Ah, terima kasih banyak. Sebenarnya kau tak usah meminta maaf. Aku juga manusia yang masih suka berbuat salah. Jadi, masalah yang kemarin kita anggap saja sebagai pelajaran hidup dan semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Tentang temanmu itu, sebenarnya kami hanya teman yang suka berdiskusi. Kami sering mendiskusikan masalah apa pun. Seperti yang kau lihat kemarin. Ya, seperti itulah.”

Sang petapa kemudian bangkit dari duduknya. Tubuhnya yang kurus itu ia gerakkan ke kanan dan ke kiri bermaksud untuk merenggangkan tubuhnya. Lalu, ia pun mengajak si pemuda untuk duduk di teras gubuk sederhananya.

“Kau mau minum apa? Teh? Kopi? Air putih? Biar aku buatkan,” di depan pintu masuk, sang petapa menawarkan si pemuda minuman. Si pemuda diam sejenak, kemudian berkata,

“Kopi saja, Guru.”

“Hahaha. Jangan panggil aku Guru, itu terlalu membuat jarak di antara kita. Aku juga masih bodoh dan selalu belajar tentang kehidupan. Panggil saja aku Waskito. Dirimu, siapa namanya? Aku lupa.”

“Baik, Eyang Waskito. Namaku Firman.”

“Ya sudahlah, terserah dirimu saja kalau ingin memanggilku Eyang. Hehe.”

Sang petapa yang ternyata bernama Waskito itu pun masuk ke dalam gubuknya untuk membuat minuman bagi mereka berdua. Di luar, suara burung-burung yang bertengger di dahan pohon saling menyapa, membuat suasana terasa ramai bagi yang ingin mendengarnya.

***

Beberapa saat kemudian Firman dan Eyang Waskito sudah saling duduk berhadapan di sisi meja bulat. Eyang Waskito menyeruput kopi hitam pekat dari dalam cangkir. Firman juga begitu, meminum kopi yang dibuatkan untuknya perlahan karena masih panas.

“Baiklah, Firman. Aku sebenarnya bingung harus memberikan nasihat tentang hidup yang seperti apa. Jadi, kurasa aku bercerita dari pengalamanku saja ya.”

“Iya, siap, Guru. Eh, maksudku Eyang.”

“Baiklah kalau begitu. Pertama, jangan pernah meletakkan semua telur dalam satu keranjang saja. Karena, jika keranjangnya jatuh, maka semua telur yang kamu miliki akan pecah.”

Merasa masih bingung, Firman bertanya, “Maksud Eyang bagaimana?”

“Di dalam kehidupan, kalimat yang kuucapkan tadi maksudnya bisa berlaku untuk investasi bisnis maupun percintaan. Jika kau ingin menanamkan modal, jangan tanamkan modal itu hanya di satu perusahaan. Karena seandainya perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan, modal yang kau tanamkan pun akan hilang semua,” berhenti sejenak untuk menyeruput kembali kopinya, “Lalu dalam hal percintaan, maksudnya adalah jangan memberikan cinta yang kau miliki hanya untuk satu orang saja karena jika kau kehilangan dia, maka kau akan kehilangan segalanya. Apalagi, orang tersebut hanyalah pacar yang belum tentu akan kau nikahi. Jadi, sebisa mungkin kau harus bisa membagi cintamu itu untuk kedua orang tua, teman-teman terdekatmu, dan siapa pun orang-orang yang kau kenal di sekitarmu. Iya, supaya ketika pacarmu tiba-tiba saja memutuskan hubungan denganmu, kau masih punya  banyak kebahagiaan yang tersisa.”

“Wah, aku baru menyadarinya.”

Eyang Waskito memandang ke arah depan gubuknya, Firman serius mendengarkan apa yang beliau ungkapkan dari dalam mulutnya.

“Jatuh cinta itu sedikit-sedikit, jangan sekaligus. Karena, cinta membutuhkan proses dan waktu untuk saling memahami satu sama lain. Sehingga ketika kita jatuh cinta secara sedikit-sedikit, itu akan membuat kita merasakan manis-pahitnya proses jatuh cinta yang terjalin kepada pasangan dan membuat kita mengerti tentang makna jatuh cinta itu sendiri,” kata Eyang melanjutkan.

Diam sejenak untuk berpikir, Eyang Waskito mengangkat cangkir kopinya lagi untuk diminum.

“Ah, nikmatnya kopi di pagi hari. Selanjutnya, ketika kau bisa menjadi pintar, sebisa mungkin jadilah yang terpintar. Namun, seandainya kau belum mampu menjadi yang paling pintar, setidaknya kau bisa paham untuk membedakan antara baik dan buruk dalam kehidupan supaya tidak merugikan orang lain. Karena, jika tidak bisa menjadi pintar, janganlah menjadi bodoh. Iya, banyak orang yang sebenarnya bodoh, tapi merasa pintar, sehingga mereka dengan bangga menyebarkan kebodohan yang mereka punya ke khalayak ramai.”

Firman mengaduk kopinya sambil mengusir seekor lalat yang tiba-tiba terbang di atas cangkirnya. Eyang Waskito ternyata sudah menghabiskan kopinya. Beliau pun melanjutkan,

“Ketika kau ingin mencoba sesuatu untuk kebaikkan kariermu, tetapi ada orang yang mengatakan kepadamu, ‘Santai sajalah, toh kau masih muda!’. Jangan dengarkan perkataan itu.” 

“Aku belum mengerti, apa ada yang salah dari kalimat itu, Eyang?”

“Iya, ada yang salah karena itu adalah kalimat racun. Kalimat yang mengajak kaum muda supaya tidak cepat-cepat berkembang. Jika kau memerhatikan di sekeliling bagaimana seorang pengusaha muda atau atlet muda, mereka adalah orang-orang yang mengabaikan umur mudanya demi mencapai kesuksesan sedini mungkin. Seandainya kau sudah menemukan passion dan merasa kau harus memulainya sekarang, lakukanlah sekarang juga. Jangan menunggu sampai tua karena kita tidak mengetahui kapan umur kita akan berakhir.” 

Firman merenung mendengarkan kata-kata dari Eyang Waskito. Untung saja hari itu adalah hari libur sekolah, sehingga tak menjadi masalah ketika ingin berlama-lama menghabiskan waktu di gubuk sederhana.

Akan tetapi, saat Eyang ingin melanjutkan percakapan, “Ya ampun, aku baru ingat bahwa hari ini aku harus memanen buah-buahan yang aku tanam di ladang sampai petang nanti. Maafkan aku, anak muda, aku tidak bisa melanjutkan perbincangan kita pagi ini. Kurasa kau bisa datang lagi besok.”

Mendengarkan pernyataan dari Eyang Waskito, Firman langsung mengiyakan dan bergegas untuk pulang dan bertekad supaya hari itu dia mulai melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi hidupnya.

“Iya, tidak apa-apa, Eyang. Aku dipersilakan berkunjung lagi ke sini pun sangat bersyukur. Terima kasih banyak atas kata-katamu yang membuatku jadi sadar. Dan, terima kasih juga atas maaf yang kauberikan kepadaku atas kelancanganku kemarin.”

Mereka pun bersalaman. Firman kembali pulang ke rumahnya. Eyang Waskito masuk ke gubuk untuk mengambil beberapa peralatan, lalu berangkat ke ladangnya yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Suara burung-burung dari pepohonan yang masih bersuara menandakan pagi yang cerah untuk menutup kisah mereka.

You Might Also Like

0 comments