Perayaan Tahun Baru, Katanya

  • January 01, 2017
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 18 Comments

Sumber gambar: wallpaperswide.com

Hingar-bingar di luar rumah sudah tak bisa dielakkan. Perayaan Tahun Baru, katanya. 

Kata siapa? 

Kata sebagian orang yang ingin merayakan. Merayakan pergantian tahun dan disertai doa supaya di tahun berikutnya bisa menjadi lebih baik, sedangkan di tahun sebelumnya menjadi introspeksi diri. Itu masih kata mereka.

Suara terompet dan letupan kembang api seakan sudah menjadi properti wajib untuk meramaikan pergantian tahun. Ramai, seru, menyenangkan, bagi mereka yang sedang bahagia. Berisik, bising, mengganggu, bagi mereka yang sedang sakit gigi, misalnya. Ah, itu semua tergantung kita menyikapinya saja.

Namun, di sini dia, di dalam kamar yang sering ditiduri jika mengantuk dan tiba-tiba bisa diubah menjadi ruang makan jika malas pergi ke meja makan. Dia menikmati kesunyian di balik gemerlap dan hebohnya perayaan malam tahun baru di atas tempat tidurnya. Menikmati setiap detik dengan merenung tentang apa yang sudah dicapainya selama ini. Bingung memang. Untuk apa hidup ini jika terus dipikirkan, tapi jarang dieksekusi supaya menjadi kenyataan.

Sebenarnya, beberapa temannya ada yang mengundangnya untuk merayakan pergantian tahun bersama, tetapi dia menolak dengan alasan: kurang enak badan. Mungkin benar dia sedang tak enak badan atau ... jangan-jangan hanya alasannya saja untuk menghindar dari mereka. Mereka yang adalah beberapa teman yang tinggal dekat dari rumahnya. Teman yang sudah dia kenal sejak kecil. Akan tetapi seiring waktu berjalan, dia merasa bahwa pergaulan di sekitar rumahnya sudah tidak seru lagi untuk diikuti karena hanya berisi haha-hihi tanpa makna dan bercandaan yang sudah tak dia lagi mengerti. Ah, sudahlah, membaca buku-buku favorit di atas tempat tidur ternyata lebih seru, katanya dalam hati.

Dia melihat jam dinding yang kedua jarum panjangnya sudah sejajar ke angka duabelas. Oh, ternyata sudah pukul 00.00 WIB. Lalu, dia memejamkan kedua matanya sejenak dan tak mempedulikan suara ramai di luar rumahnya karena itulah waktunya kembang api bernyanyi riang. Entah apa yang dia katakan, hanya bibirnya saja yang terlihat komat-kamit, mungkin membaca doa ... atau malah menghafal rumus. Yang pertama lebih masuk akal.

Doa?

Doa sebelum tidur?

Doa diberikan jodoh?

Eh, bukan, doa supaya di tahun baru masehi ini menjadi pribadi yang lebih baik. 

Ah, egois nih? 

Lho, bagaimana bisa egois?

Doakan untuk sesama juga dong. Doa untuk kebaikan masyarakat yang saat ini mudah tersulut emosi hanya karena perbedaan supaya selalu diberikan ketenangan hati. Doa untuk penyebar berita hoax di media sosial atau di mana saja supaya mereka disadarkan akan perbuatannya yang tak jarang menimbulkan masalah besar. Doa untuk kaum yang mengaku beragama, tetapi malah suka merusak atas dasar hawa nafsunya sendiri supaya mereka bisa sadar dan bersikap secara damai. Doa untuk mereka yang masih menganggap bahwa dengan melempar bom ke rumah ibadah adalah perbuatan suci supaya segera disadarkan dan dibersihkan dari pikiran sesat tersebut. Doa untuk ... pokoknya yang berkaitan dengan kemanusiaan deh.

Siap, katanya.

Siap apa?

Siap medoakan yang tadi sudah disebutkan, lanjutnya.

Dia melihat jam dinding lagi, sudah pukul 00.07 WIB di tahun yang baru. Kemudian, dia tersadar bahwa sejak saat itu kalendar yang saat ini dipajang di kamarnya harus diganti dengan kalender yang menunjukkan tahun 2017. Dan, ternyata dia belum memilikinya.

You Might Also Like

18 comments

  1. Intinya dia nggak ikutan ngerayain tahun baru yang penuh kembang api, terompet dan segala macamnya.. oh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dia lebih memilih tinggal di kamarnya menikmati kesunyian. Hehe.

      Delete
  2. Wiii mantep tahun baruan ga ikutan jedag jedug justru di manfaatkan untuk merenung :)
    Moga doa lu buat tahun baru ini kekabul ya gungwicaks ..
    gue ga tau lagi mau ngomong apa,
    cuma mau ngingetin untuk cepet-cepet beli kalender baru..
    Buruaan jangan sampai kehabisaaan !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, semoga doa kita semua yang baik-baik untuk tahun ini dikabulkan. Aaamiiin.

      Sip, gue udah dapet kalender 2017 dikasih dari orang tua. Haha.

      Delete
  3. Keren nih, memang pergantian tahun itu bagusnya untuk merenung, intropeksi diri :)

    Semoga yang baca tulisan ini semakin sadar :)
    Terus berbagi dan menginspirasi ya mas (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Semoga semakin bertambahnya umur kita, kita juga semakin sadar untuk lebih bijaksana dalam bersikap.

      Delete
  4. Jadi, apakah yang gue lakukan untuk bersenang sejenak bersama teman-teman gue, dimana gue jarang banget ngelakuin hal tersebut, itu salah? #ea #abaikan

    Bagus postingannya sob, menginspirasi, membuat berpikir dua kali, membuat merenung. Keliatan, tulisan lu didasari kegelisahan hati dan pemberontakan pikiran lo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersenang-senang sejenak bersama teman-teman gak salah kok, yang penting bisa bertanggung jawab dan gak merugikan orang lain. Dan, kalau bisa bertambah ilmu sehabis dari ngumpul-ngumpul itu. :D

      Wah, makasih. Semoga bisa diambil yang baiknya dari yang gue tulis.

      Delete
  5. Whehehe cerpen yang bagus gung, eh ini cerpen bukan ya. Aku juga gak terlali suka sih perayaan perayaan tahun baru gitu. Semakin tua usia, emang euforia taun barunya semakin biasa aja.

    Tapi lumayan juga sih buat ajang kumpul kumpul sama teman atau keluarga. Kalo keluargaku sih kemarin bbqan, mumpung aja gitu pada libur akhir taun dan pada kumpul di kampung. Kan gak setiap hari bisa formasi lengkap gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan cerpen, lebih ke ungkapan sebenarnya. Hehe. Iya, saat masih SD sampai SMA, gue juga suka keluar pas malam tahun baru untuk melihat berbagai momen yang diselenggarakan. Tapi, seiring bertambahnya umur, gue jadi lebih berpikir apakah momen tersebut "bermanfaat" untuk gue hadiri atau enggak.

      Iya, jika ada keluarga atau teman dekat yang mengajak untuk menghabiskan waktu bersama, sebisa mungkin harus ikutan. Karena menghabiskan waktu bersama orang-orang yang meskipun sedikit jumlahnya tapi "berkualitas", itu lebih seru. Kalau kasus tulisan di atas, teman-teman di dekat rumahnya lebih banyak membicarakan hal-hal yang dirasa gak "berkualitas" bagi dirinya, sehingga dia lebih memilih untuk membaca buku di rumah.

      Delete
  6. Sama, saya juga nggak ngerayain tahun baru dengan petasan, cukup makan diluar sekitaran jam 9 dan masuk saat udah jam 11, ngerayainnya di kamar sambil nulis blog tersayang.

    Paling suka bagian ini, nggak tahu kenapa :
    Doa untuk penyebar berita hoax di media sosial atau di mana saja supaya mereka disadarkan akan perbuatannya yang tak jarang menimbulkan masalah besar. Doa untuk kaum yang mengaku beragama, tetapi malah suka merusak atas dasar hawa nafsunya sendiri supaya mereka bisa sadar dan bersikap secara damai. Doa untuk mereka yang masih menganggap bahwa dengan melempar bom ke rumah ibadah adalah perbuatan suci supaya segera disadarkan dan dibersihkan dari pikiran sesat tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena setiap orang punya keseruannya sendiri-sendiri untuk merayakan setiap momen (dalam kasus ini adalah perayaan tahun baru), jadi ada yang lebih memilih di rumah atau keluar untuk menyaksikan kembang api dan sebagainya.

      Doa tersebut muncul karena dari sekian banyak kejadian yang gue amati selama 2016 kemarin, isu agama lebih banyak disorot dan memang sangat sensitif, sehingga gak jarang menimbulkan konflik. Semoga di 2017 ini keadaan di Indonesia semakin membaik dan masyarakatnya bisa lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan.

      Delete
  7. Benar, media sosial ini harsunya digunakan untuk menjalin silahturahmi. Bukannya menebar kebencian di mana-mana. Duh, kasus pembakaran wihara itu juga kan berawal dari status kebencian seorang. Dia yang iseng menebar kemarahan malah ditanggapi oleh orang-orang fanatik yang pendek akal. Beuuuh.

    Selamat tahun baru yak :)
    kalendernya minta ke PMI aja sekalian donor darah :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, istilahnya "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Dan, gue berharap di 2017 ini netizen bisa lebih cermat dan bijak dalam membaca dan merespons setiap berita, sehingga jika ada berita hoax gak mudah terhasut.

      Selamat tahun baru juga! :)
      Iya, ini udah dapet kok, tapi dari orang tua dan gak tau mereka dapet dari mana. Hehe.

      Delete
  8. Intinya sih tidak ikut merayakan tahun baru dengan gelegar kembang api atau sebagainya. Malah intropeksi dan mendoakan. Emang seharusnya begitu sih. Semoga kita bisa lebih baik. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa kejadian di hidup ini adalah pilihan. Seperti merayakan tahun baru, ada yang memilih untuk menghabiskannya di rumah, ada juga yang memeriahkannya di luar. Tapi itu gak masalah, yang penting bisa dilakukan dengan tanggung jawab dan bijaksana.

      Iya, cerita di atas, dia lebih memilih merayakan tahun baru di dalam kamar untuk introspeksi diri.

      Aaamiiin.

      Delete
  9. aku malah seumur hidup belom pernah merayakan tahun baru yang kayak gitu.. org lain kan kayaknya ngeplan banget pergi keluar kota, taun baruan di club atau lainnya.. aku sih gak pernah. gatau kenapa, kurang tertarik :D tapi tahun baru 2017 ini aku bakar2 ikan sih sama keluargaku haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut gue, itu cuma masalah kebiasaan dan selera setiap orang dalam memilih merayakan tahun baru mau kayak gimana. Yang penting dalam setiap momen yang dirayakan, diusahakan bisa "bermakna" dan membawa kebahagiaan bagi bersama. Seperti yang Fuji lakukan bersama keluarga di malam tahun baru 2017 kemarin, yaitu bakar-bakar ikan. :)

      Delete