Berkunjung ke Rumah Nenek

  • July 21, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Aktivitas gue di kampus yang hanya tinggal menyusun skripsi, membuat gue ingin “kabur” sejenak untuk itu. Maksud kabur di sini adalah meninggalkan hal-hal yang berkaitan dengan skripsi dan pergi sementara ke tempat yang bisa menyegarkan otak supaya bisa kembali beraksi. Ya, ternyata menyusun BAB I, II, III, dan IV gak semudah mengetik kata-kata tersebut. Gue harus benar-benar bisa menguasai teori dan membuat alasan yang kuat tentang objek yang dipilih sebagai penelitian. Setelah semua bisa dikuasai, baru deh gue siap menyusun penelitian yang dibahas di BAB III. Sekilas info, objek yang gue teliti adalah film berjudul The Equalizer menggunakan teori dari Vladimir Propp.

Duh, sudah ya membahas tentang skripsi, kan gue mau “kabur” sejenak dari itu.

Dan, dengan cara apa gue “kabur”?

Jadi, pada April 2016 lalu, saat gue sedang berkumpul bersama teman-teman kelompok KKN (cerita tentang pembentukan kelompok KKN, pernah gue tulis di sini) untuk membahas buku laporan pasca kegiatan KKN yang belum selesai, setelah itu kami juga berencana untuk berlibur bersama ke tempat yang ada tempat pariwisatanya. Setelah dibicarakan secara bermusyawarah, akhirnya Garut menjadi tempat destinasi kami. Kami memilih Garut karena salah satu teman kami, Anissa, memiliki saudara di sana─tepatnya rumah neneknya─sehingga masalah tempat menginap selama beberapa hari sudah bisa diatur olehnya. Dia juga sudah punya beberapa rekomendasi tempat wisata yang bisa kami kunjungi, yaitu Gunung Papandayan dan Kebun Teh (yang gue lupa nama daerahnya). Oke, karena rencana untuk berjalan-jalan sudah matang, kami tinggal memilih tanggal keberangkatan.

Di grup Whatsapp, kami bermusyawarah untuk menentukan tanggal keberangkatan. Berbagai pendapat dimasukkan, sehingga setelah semua setuju, diputuskan bahwa tanggal keberangkatan adalah 18 Mei 2016.

Sayangnya, saat seminggu keberangkatan, banyak teman gue yang memutuskan untuk gak ikut karena masih ada yang mengikuti kegiatan kuliah dan ada yang memiliki urusan pribadi yang dilaksanakan sama seperti saat keberangkatan kami ke Garut. Jadi, dari delapanbelas anggota, yang benar-benar ikut adalah gue, Anissa, Enung, Dityan, Karina, dan Faizal.

Hari keberangkatan pun tiba (18/2/2016). Gue, Dityan, dan Enung berangkat dari Ciputat sekitar pukul tiga sore, kemudian menuju ke rumah Karina karena kami berempat akan berangkat dari sana ke Terminal Primajasa, Cililitan, dan akan bertemu Anissa serta Faizal yang sudah berangkat dari rumah masing-masing.

Oh, ternyata kami tiba tepat pada waktunya, meskipun saat itu sempat mengalami macet yang lumayan lama. Ya, maklumlah Jakarta. Kami tiba sekitar pukul setengah delapan malam dan terlihat pak supir bersiap memberangkatkan busnya. Tanpa disuruh, kami berenam langsung masuk ke Bus Primajasa jurusan Jakarta - Garut.

Di dalam, ternyata gak begitu banyak penumpang yang menaikkinya. Mungkin, karena kami berangkat saat hari kerja. Bus pun berangkat dari terminal dan gue duduk melihat pemandangan ibukota yang selalu ramai dengan kendaraannya. Betapa cahaya kendaraan menerangi jalanan sampai menutupi cahaya bintang saat gue melihat ke langit.

Perjalan ditempuh sekitar empat jam. Di perjalanan, kami gak melakukan banyak hal seperti bermain karambol atau bermain petak umpet karena kami tahu itu akan mengganggu penumpang lain dan bisa-bisa kami dipaksa turun di tengah jalan. Jadi, kami hanya duduk diam sambil mengobrol dan makan lontong serta cemilan yang tadi sempat dibawakan oleh ibunya Karina.

Tanpa disadari, gue ketiduran dan tiba-tiba dibangunkan oleh Anissa karena busnya sudah sampai Terminal Garut. Kemudian, gue melihat jam di ponsel, ternyata sudah pukul duabelas tengah malam. Langsung saja gue dan lainnya mengambil ransel dan barang bawaan lainnya serta memeriksa apakah ada yang tertinggal. Ternyata, tidak. Oke, kami pun turun dari bus.

Setelah turun, para tukang ojek yang mangkal di sana menyambut dengan meriah seperti kami baru pulang dari naik haji. Salah satu tukang ojek menghampiri gue dan berkata,

“Yuk, Kang. Naik ojek saya.”

“Enggak, Bang. Makasih,” jawab gue sambil tangan kanan diangkat setinggi dada memberikan tanda untuk menolak.

“Emangnya mau ke mana gitu?” abang ojek bertanya, maksudnya ke daerah mana yang akan gue tuju.

“Eeee... Uuum... ke Rumah Nenek, Bang,” gue berkata sekenanya karena gue belum tahu nama daerah rumah neneknya Anissa. 

Setelah itu, si abang ojek berpaling dari gue dan menghampiri orang lain. Mungkin dia berpikir, “Ini anak apaan deh, ditanya mau ke mana, jawabnya ke rumah nenek. Ya Allah, maksudnya nama daerahnya, kaseeep. Kalau gitu jawabannya mah, anak baru masuk SD juga bisa. Huhu. Ah, sudahlah, cari penumpang lain aja.”

Ya, kalaupun gak begitu yang di pikiran abang ojek, berarti gue yang telah berprasangka buruk. Astagfirullah, maafkan hamba, ya Allah. Seenggaknya ada kata “kasep” yang bisa jadi alasan berprasangka baik untuk gue yang dalam bahasa Inggris artinya handsome, gak tahu deh kalau di bahasa Hungaria.

Anissa, Karina, dan Dityan yang mendengar jawaban gue tadi ke si abang ojek, jadi tertawa karena mereka berpikir bahwa gue sedang bercanda, padahal itu benar jawaban spontan yang keluar dari dalam mulut gue. Ah, sudahlah ya.

Kembali ke perjalanan. Dari terminal, kami menaikki angkot jurusan Cikajang. Terlihat yang menjadi penumpang adalah kami berenam dan ada dua penumpang lain yang gak kami kenal. Bang supir di luar masih meneriakkan kata “CIKAJAAAAAAANG!!! CIKAJAAAAAAANG!!!” ke orang-orang di sekitar terminal karena dia merasa penumpang di angkotnya belum penuh.

Sekitar limabelas menit kemudian, bang supir masuk ke dalam angkot karena dia merasa mungkin hanya segini penumpang yang ada. Mobil bergerak dan keluar dari daerah terminal, melewati daerah yang baru pertama kali gue lihat dan gak tahu nama daerahnya. Tapi, kok, ada yang aneh ya. Kenapa aneh? Ternyata setelah mobil angkot berjalan menyusuri jalan-jalan sepi, si angkot malah kembali lagi ke terminal. Itu yang membuat kami bingung. Si angkot begitu terus sampai tiga kali dan Anissa yang orang Garut pun juga bingung karena dia memang jarang naik angkot saat pergi ke Garut. Dia mulai khawatir karena si abang angkot akan melakukan tindakan negatif ke kami. Alhamdulillah, ternyata itu cuma perasaannya saja karena akhirnya si angkot berjalan ke arah yang kami tuju, meskipun kami harus membayar tarif dua kali lipat karena sudah tengah malam. Gak apa-apa lah, yang penting kami selamat sampai tujuan.

Sesampainya di daerah rumah neneknya Anissa, yaitu Cikajang, bisa dilihat oleh kami bahwa jalan raya sudah sangat sepi dan hanya satu-dua truk yang melintas karena waktu menunjukkan pukul satu malam. Dan, untuk merayakan momen saat kami sudah sampai Garut, kami pun berfoto dulu.

Pukul 01.00 WIB

Petualangan dimulai!

Dari jalan yang gak gue tahu namanya itu, hanya membutuhkan sekitar enampuluh langkah (ya kalau lebih atau kurang mohon dimaklumi karena tujuan kami bukan untuk menghitung langkah) untuk memasuki gang, sehingga kami pun sampai di depan rumah neneknya Anissa.

Dengan lima kali ketukan ke Rumah Nenek sambil mengucapkan salam, akhirnya Nenek membuka pintu dengan mata sayup-sayup karena memang sudah tengah malam kami datang ke rumah beliau. Beliau pun mempersilakan kami untuk masuk dan satu jam kemudian kami sudah tiduran di ruang tamu sambil menonton TV, padahal nanti pagi kami akan melaksanakan pendakian ke Gunung Papandayan.

Gak terasa, azan subuh berkumandang dan gue masih belum tidur, tetapi teman-teman gue yang lain terlihat sudah memejamkan mata dengan tenangnya. Selesai salat, gue langsung tidur karena tiba-tiba mengantuk. Dan, saat bangun, ternyata waktu menunjukkan pukul sembilan pagi.

Teman-teman yang lain juga sudah pada bangun dan sarapan. Gue pun langsung bergabung dengan mereka. Kira-kira satu setengah jam kemudian, dengan pakaian yang tebal dan berbeda dari pakaian tidur tadi, kami sudah siap untuk pergi ke Gunung Papandayan.

Singkatkan cerita lu, Gung! Oke, siap!

Dari Rumah Nenek, kami memakai mobil untuk ke sana dan itu adalah pertama kali bagi gue mendaki gunung. Di sana, banyak orang yang juga sama seperti kami, yaitu orang-orang pendaki yang memakai jaket tebal dan membawa ransel gunung yang tebal juga. Bedanya, bawaan kami lebih sedikit karena kami gak berniat untuk berkemah di gunung, tetapi hanya mendaki sebentar, kemudian turun lagi. Hehe.

Dan, ini dia beberapa penampakan kami saat mendaki Gunung Papandayan!

Menjadi "normal" untuk sementara.

Gue seperti anak hilang jongkok sendirian.

Nah, ini baru gue gak kayak anak hilang.

I AM FREEEEEEE!!!

Kepala gue merusak pola yang seharusnya membentuk lingkaran. Maafkan kekhilafanku, teman-teman!

Ngebolang, euy!

Asap belerang, baunya bisa dicium secara langsung di sana.

Sama, ini juga masih berpose di dekat asap belerang.

Lebih dekat.

Pas banget nih udah kayak poster band-band jadul.

Meskipun ngemil di gunung, bungkusnya jangan dibuang sembarangan ya dan harus dimasukkan dulu ke dalam tas, baru deh nanti dibuang ke tempat sampah yang ada di pos masuk.

Ah, rindunya!

Langkah kaki ini pun terasa lelah dan sore sudah tiba. Kami pun turun dari pendakian gunung melewati jalan seperti pertama mendaki tadi. Oh, jadi seperti ini rasanya; seru dan menantang. Ya, seru karena bisa menikmati pemandangan alam dan merasakan hawa gunung yang gak akan bisa gue dapatkan saat berada di Ciputat, serta menantang karena gue harus berhati-hati saat melewati medan jalan yang berbatu.

Sesampainya di bawah, perut yang hanya diisi dengan cemilan seadanya yang dibawa saat mendaki, akhirnya terbayarkan dengan makan nasi bersama di saung dekat pos pemberangkatan. Setelah itu, kami membeli oleh-oleh khas Garut, kemudian kembali ke Rumah Nenek.

Makan bersama. Supaya apa? Supaya perut kenyang dan terasa kebersamaannya.


HARI KEDUA.

Di hari kedua ini gak banyak aktivitas yang dilakukan, selain menonton TV, tiduran, mengobrol di ruang tamu saat pagi sampai siang. Akan tetapi, pada sore hari sekitar pukul setengah empat, kami mempunyai agenda, yaitu berkunjung ke kebun teh dan berkeliling menggunakan motor sewaan.

Hawa sejuk dan dingin bersatu ketika hembusan angin menyentuh wajah gue saat motor digas secara cepat. Ditambah pemandangan kanan dan kiri yang diisi dengan pepohonan yang bisa menenangkan pikiran saat dilihat. Gue benar-benar merasa lupa dengan segala keruwetan hidup dan hal-hal yang bisa membuat pikiran terasa berat. Ingin rasanya gue membawa pemandangan tersebut ke daerah tempat kos gue yang berada di Ciputat supaya saat mengerjakan skripsi, pikiran gue bisa tenang. Haha.

Oke, sudah cukup berkhayalnya, kembali ke cerita.

Setelah sampai, di kebun teh yang gue lupa nama daerahnya itu, kami langsung menikmatinya sambil berfoto ria. Ini penampakannya.

Trio Kwek Tiaow. Wkwkwk.

"Kupejamkan mata ini, mencoba tuuuk meluuupakaaan~ Segala keeenangan indah, tentang dirimu, tentang mimpiku~"

Oke, siap?... 1... 2... 3... Cekrek!

Kepala diarahkan ke atas langit, dada dibusungkan, lalu berkata dalam hati, "Pegel juga ya leher!"

Penampakan.

Bayangkan dan resapi pemandangannya, lalu katakan, "Nikmat yang mana lagi yang kau dustakan?".

Sore pun datang lagi, yang menandakan bahwa sebentar lagi matahari selesai bertugas. Dari menikmati suasana kebun teh, kami kembali ke Rumah Nenek ditemani hembusan angin sore yang membuat siapa saja merasa hidup ini, oh, indah jika disyukuri.

Sesampainya di Rumah Nenek, kami kembali berkumpul sambil mengobrol tentang rencana pulang ke ibukota esok hari. Seakan-akan, kami gak ingin pulang, tetapi itu harus karena banyak tugas yang menanti di sana untuk kembali disentuh.

Kami berencana pulang pada keesokan harinya, yaitu Sabtu sore (21/5/2016). Akan tetapi, ternyata saat kami sudah siap berangkat dari Rumah Nenek menuju terminal, kami menelpon ke pusat informasi terminal dan mendapatkan kabar bahwa bus yang akan kami naikki sudah berangkat dan itu juga adalah bus terakhir tujuan Garut - Jakarta. Kalau mau naik, kami harus menunggu sampai besok pagi. Ternyata, takdir memberi kami waktu untuk menikmati Garut sampai satu malam lagi.

Karena kami merasa gak enak dengan neneknya Anissa yang sudah memberikan kami fasilitas yang nyaman dan aman selama kami tinggal di sana, kami pun memutuskan tetap berangkat supaya kami gak menunda-nunda waktu keberangkatan lagi. Tetapi, itu bukan berangkat ke terminal, melainkan ke rumah sepupu Nisa yang letaknya di perkotaan. Kami memutuskan untuk menginap di sana karena jaraknya dekat terminal.

Keesokan paginya, yaitu Minggu (22/5/2016), kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada Garut. Gak lupa juga gue, Enung, Karina, Dityan, dan Faizal mengucapkan terima kasih ke Anissa dan seluruh saudaranya yang sudah bersedia menerima kami tinggal di rumahnya selama berada di sana. Oh, itulah indahnya memiliki banyak teman!

***

Kami pun berharap setelah perjalanan ini, akan ada petualangan seru lainnya yang menanti untuk dijelajahi. Tunggu saja, ya!

You Might Also Like

0 comments