Instagram dan Path

  • February 15, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments

Sumber gambar: 123rf.com

Media sosial yang sudah bertebaran saat ini adalah hasil dari penemuan manusia yang merasa ingin selalu berhubungan dengan sesamanya, meskipun tempat mereka yang berjauhan dan gak bisa bertatap muka secara langsung di satu tempat. Kemudian, sejak munculnya media sosial, manusia gak harus bersusah-susah lagi mengetahui keluarga, teman, atau orang yang mereka kenal yang berada jauh di sana dengan bertemu secara langsung. Hanya bermodalkan ponsel pintar dan internet yang kini sudah dijual dengan harga seminimal mungkin, setiap orang kemungkinan besar bisa membelinya dengan mudah.

Media sosial seperti Twitter dan Facebook adalah salah dua media sosial yang pertama kali gue kenal. Gue sudah memakai mereka sejak tahun 2009, tepatnya saat gue masih kelas 1 SMA. Namun, seiring perkembangan zaman yang terus berkembang dan rasa ingin tahu manusia yang selalu hadir supaya bisa membuat hidup ini semakin nyaman, maka muncullah media sosial baru dan fitur yang selalu diperbarui juga.

Untuk Twitter dan Facebook, gue sudah sering membahasnya di blog. Jadi, sekarang gue mau menceritakan dua media sosial lain yang gak kalah populernya, yaitu Instagram dan Path. Oke, langsung saja ya!

1. Instagram

Instagram adalah media online yang fokus utamanya untuk berbagi foto dan video oleh penggunanya. Dengan fitur publik atau privasi yang ditawarkan, membuat si pengguna bisa membagi foto atau video apa saja yang mereka sukai. Namun, untuk fitur video, Instagram hanya memberikan batas maksimal 15 detik untuk ditampilkan.

Gue membuat akun Instagram pada April 2012. Alasan mengapa gue membuatnya adalah setelah penasaran melihat salah satu teman sekelas di SMA yang sedang asyik menggunakannya, lalu gue bertanya kepadanya tentang Instagram itu jenis media sosial yang seperti apa. Setelah mendengar penjelasannya, gue merasa bahwa media sosial tersebut cukup keren dan akhirnya gue memutuskan untuk membuat akun Instagram pribadi juga. Karena saat itu gue masih memakai ponsel biasa, jadi gue meminjam ponsel pintar teman gue itu supaya bisa mendaftar. Dia pun mengizinkannya. Setelah selesai mendaftar untuk membuat akun Instagram, gue memainkannya sebentar dan mengunggah satu foto selfie gue untuk memberi tahu bahwa gue sudah eksis di sana. Dan, itu adalah pertama dan terakhir gue menggunakan Instagram sebelum mempunyai ponsel pintar.


Sumber gambar: norebbo.com

Selama medio April 2012 sampai Februari 2014, akun Instagram gue masih berisi satu foto selfie yang pernah gue upload karena gue belum mempunyai ponsel pintar pribadi. Namun, setelah gue membeli ponsel pintar pada awal Maret 2014, gue mulai sering membukanya lewat aplikasi.

Saat itu, gue masih bingung ingin mengisi akun gue dengan jenis foto seperti apa karena setelah gue melihat teman-teman yang akunnya gue ikuti, kebanyakan foto mereka adalah foto keren yang diambil saat bepergian ke gunung, pantai, dan tempat-tempat indah lainnya. Sedangkan gue, lebih banyak menghabiskan waktu di kamar tidur. Jadi, gue mengunggah foto seadanya dan sangat gak penting sebenarnya untuk ditampilkan di Instagram. Salah satu foto gak penting yang pernah gue unggah adalah foto kobokan warteg (yang sekarang sudah gue hapus). Saat itu, gue masih gak peduli dengan komentar atau pendapat orang-orang yang mengikuti akun gue, jadi saat menampilkan foto kobokan, gue masih merasa santai.

Seiring berjalannya waktu, karena gue ingin membagi foto-foto yang enak dilihat, gue mulai mencari-cari foto jenis apa yang populer di Instagram. Gue membuka kolom Explore dan melihat-lihat banyak foto yang diunggah. Lalu, setelah beberapa saat gue perhatikan, akhirnya gue menyimpulkan bahwa jenis foto yang populer adalah foto selfie, pemandangan alam, dan sketsa. Untuk foto selfie, gue gak memilihnya karena sadar dengan penampilan wajah gue sendiri. Hahaha. Begitu juga foto pemandangan alam, gue bukanlah tipe orang yang suka bepergian ke tempat-tempat keren, sehingga kedua jenis foto itu gue abaikan. Namun, foto jenis ketiga, gue langsung mempertimbangkannya. Iya, salah satu hobi gue adalah menggambar atau membuat sketsa. Jadi, untuk mengisi koleksi foto di Instagram pribadi, gue memutuskan untuk mengunggah hasil gambar yang gue buat. Dan, itu masih berlangsung sampai saat ini. Alhamdulillah, banyak yang menyukai hasil gambar gue itu, daripada foto kobokan warteg.

2. Path

Path adalah media yang menyediakan fitur kepada penggunanya supaya mereka bisa membagi atau menginformasikan kegiatan apa saja yang sedang mereka lakukan. Secara gak langsung, dalam pandangan subjektif gue, Path adalah media yang kurang lebih seperti Facebook, bedanya hanya pada jumlah teman yang bisa ditambahkan.


Sumber gambar: nowtes.com

Gue mengenal Path juga jauh saat belum mempunyai ponsel pintar, yaitu dari beberapa teman di kampus yang sering meng-update aktivitasnya di media sosial tersebut. Pendapat gue menyimpulkan bahwa setelah gue lihat, itu adalah media yang biasa-biasa saja. Namun, karena saat itu gue merasa kalau gak mempunyai akun Path akan dijauhi oleh pergaulan dunia, jadi sekitar setahun setelah gue mempunyai ponsel pintar tepatnya pada Februari 2015, gue memutuskan untuk membuat akun Path dan mencoba keseruan apa yang bisa didapatkan di sana.

Ya, benar saja, setelah gue mendaftarkan diri sebagai salah satu pengguna, fitur yang gue anggap mirip seperti Facebook muncul di benak gue. Gue merasa bahwa mengetahui jenis lagu, buku, atau kegiatan yang sedang dilakukan oleh seorang teman adalah hal yang kurang penting. Meskipun jika gue melihat dari sudut pandang berbeda, kegiatan mereka bisa gue jadikan sebagai informasi untuk menambah wawasan mengenai jenis lagu, buku, dan tempat-tempat keren yang belum gue ketahui sebelumnya.

Mungkin, jika gue mempunyai akun Path saat masih SMA, gue bakal menggunakannya secara maksimal untuk berbagi aktivitas gak penting sampai yang gak penting banget di sana karena gue merasa saat itu adalah masa-masa di mana diri gue ingin selalu eksis di mata orang lain. Akan tetapi, karena sekarang gue adalah mahasiswa yang merasa malas meng-update segala aktivitas yang dilakukan setiap hari, akhirnya gue memutuskan untuk menghapus akun gue dari dunia per-Path-an. Ya, sekarang gue sudah gak menggunakannya lagi.

***

Itulah cerita gue tentang Instagram dan Path. Meskipun keduanya adalah dua media sosial yang saat ini sering dipakai oleh manusia kontemporer agar diakui keeksisannya, gue lebih memilih Instagram yang gue gunakan sampai sekarang. Sedangkan Path, gue kurang suka karena secara gak langsung membuat penggunanya untuk selalu menginformasikan segala aktivitas yang sedang dilakukan.

Segitu dulu yang bisa gue tulis kali ini, semoga tidak bermanfaat untuk jawaban Ujian Nasional.

You Might Also Like

0 comments