Akhir dari Sebuah Kisah: Bagian 1

  • February 25, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


“Hei, sendirian aja?” sebuah sapaan tiba-tiba terdengar dari sampingku. Memecah lamunan yang sedang kulakukan.

“Hehe... iya, Kak,” Jawabku yang masih kaget atas kehadirannya yang tiba-tiba. Sebenarnya sih tidak tiba-tiba, mungkin karena aku saja yang saat itu sedang melamun dan tidak menyadari kehadirannya.

“Kenapa gak ikut gabung foto-foto dengan teman-teman kamu?” katanya sambil tersenyum.

“Enggak. Aku merasa kalau difoto, badanku terlalu pendek. Pasti bakal gak kelihatan. Jadi, aku memilih untuk berdiri di sini aja.” Aku menjawab dengan asal karena gugup, meskipun memang benar. Sesekali mataku melihat ke arah wajahnya. Maksud foto-foto di sini adalah saat teman-temanku sedang asyik berfoto ria mengabadikan momen kebersamaan pada malam itu.

“Oh, hehe. Kalau gitu, Kakak temenin kamu ngobrol di sini ya?”

Aku menjawab “iya”. Setelah itu, kami mengobrol beberapa menit sebelum temanku memanggil dan mengajak untuk pulang bersama.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan namaku. Aku Devi Diana Astriningtyas, seorang mahasiswi  yang sekarang sudah semester delapan. Sedangkan di percakapan awal itu, seseorang yang menghampiriku adalah Kak Adrian. Dia adalah kakak kelasku berbeda dua semester di kampus sekaligus salah satu panitia acara di malam itu. Entah bagaimana akhirnya kami bisa mengobrol berdua pada malam itu setelah lumayan lama kami saling mengenal, walaupun cuma sebentar sih mengobrolnya, setelah selesai acara Closing Ceremony ulangtahun jurusan kuliah kami yang ke empat belas. Iya, saat itu aku sedang berdiri sendirian di dekat gerbang aula yang dipakai untuk acara dan tiba-tiba saja dia menghampiriku seperti yang sudah kuceritakan di awal.

Malam itu bisa kubilang adalah malam yang paling berkesan untukku dan pasti juga teman-teman sekelasku. Selain karena ternyata kelas kami yang menjadi juara umum dalam perlombaan yang diadakan untuk memperingati ulangtahun jurusan kuliah kami, Bahasa dan Sastra Inggris, tapi juga karena aku bisa berbicara berdua dengannya. Sekilas info, perlombaan tersebut hanya diikuti oleh para mahasiswa semester dua dan dipanitiai oleh semester empat.

Aku menulis kisah ini karena aku rindu dengannya. Itu bisa terjadi karena dia pernah membuat hari-hariku terasa lebih berwarna. Sebenarnya, saat ini aku sedang sibuk menyusun skripsi. Akan tetapi, entah mengapa pikiranku jadi melayang ke masa tiga tahun lalu. Masa di saat aku masih menjadi mahasiswa baru dan pertama kali mengenalnya. Sehingga, jadilah sekarang ini aku berada di depan laptop mengetik perjalanan kisahku bersama Kak Adrian ditemani segelas teh manis hangat karena cuaca malam ini sedang hujan dan dingin. Kalau begitu, langsung saja ya aku melanjutkan kisahku.

***

Baiklah, akan kuceritakan saat awal aku pertama kali kenal dengan Kak Adrian. Aku bisa berkenalan dengannya melalui Twitter. Sebenarnya dia duluan yang mem-follow akun Twitter-ku, tapi karena saat itu aku lumayan mengenalnya karena dia adalah senior yang sering kulihat di kampus, akhirnya aku mem-followback akun Twitter miliknya. Beberapa hari kemudian, ketika aku meng-update tweet, dia mengomentari tweet-ku. Tak disangka setelah lumayan lama kami saling membalas tweet, kami pun menjadi akrab. Ya, walaupun saat itu kami masih akrab lewat Twitter, sih.

Beberapa bulan kemudian saat aku memeriksa DM (Direct Message) di Twitter, ternyata ada pesan kalau Kak Adrian meminta pin BBM (Blackberry Messenger)-ku. Awalnya, aku merasa ragu karena belum terlalu mengenalnya secara langsung, tapi karena dia adalah seniorku di kampus, aku merasa tak ada salahnya memberikan pin-ku ke dia. Dan, berawal dari percakapan di BBM-lah kami menjadi sering mengobrol sampai aku dan dia bertemu di acara ulangtahun jurusan kami.

Sejak pertemuan kami di hari itu, aku dan Kak Adrian semakin dekat dan sering membalas pesan. Aku merasa kalau dia adalah pria yang humoris karena setiap kami melakukan obrolan di BBM, aku sering tertawa dibuatnya. Iya, dia bisa sekali merangkai kata-kata sehingga menjadi kalimat lucu. Kutebak, kamu pasti akan berpendapat sama denganku kalau mengenalnya.

Namun, saat kami secara tiba-tiba berpapasan di kampus, aku masih agak malu untuk menyapanya. Untung saja Kak Adrian sering menyapaku terlebih dulu, jadi aku bisa membalasnya dengan senyuman atau balas menyapanya dengan “Hai juga, Kak”.

Semakin hari, kami semakin suka curhat dan saling menceritakan diri kami masing-masing via Whatsapp atau BBM. Aku mulai menceritakan tentang alasanku memilih kampus negeri ini sebagai tempat melanjutkan jenjang pendidikanku, kemudian tentang keluargaku, kebiaasanku, dan masih banyak lagi. Dia juga begitu, menceritakan tentang dirinya, keluarganya, dan hal-hal seru lainnya. Pokoknya aku senang bisa mengobrol dengannya.

Pacarku? Iya, aku memang sudah mempunyai pacar saat itu dan hubungan kami baik-baik saja. Aku juga sudah menceritakan mengenai kedekatanku dengan Kak Adrian. Aku menjelaskan kepada Ferdi, itu nama pacarku, untuk tidak selalu berpikir negatif tentang kedekatanku kepada lawan jenis karena yang terpenting komunikasi antara kami tetap berjalan. Iya, aku dan Ferdi bisa dibilang menjalani LDR (Long Distance Relationship) karena rumah dan kampus kami yang berjauhan. Kami juga jarang bertemu, tapi setiap kali bertemu dia selalu mengajakku ke tempat yang kusuka.

Sudah, ya, bercerita tentang Ferdi. Intinya, hubungan kami saat itu baik-baik saja. Dan, mengenai status hubungan Kak Adrian, dia mengatakan bahwa dia sedang single. Mengetahui hal itu, aku menjadi lega karena tidak akan ada wanita lain yang cemburu seandainya Kak Adrian mengobrol denganku via Whatsapp atau BBM.

***

Dua minggu setelah percakapan di acara ulangtahun jurusan kami malam itu, Kak Adrian mengajakku untuk mengobrol berdua.

“Bagaimana kalau kita bertemu di Kafe Mangkuk?” tanyanya via Whatsapp. Aku yang saat itu sedang tak sibuk dan tak ingin pulang cepat, mengiyakan ajakannya.

“Baik, Kak. Aku langsung ke sana aja, ya?” balasku segera. Aku yang saat itu sedang bersama teman-temanku di ruang kelas, langsung berpamit diri dengan alasan ada urusan lain yang harus kuselesaikan.

“Iya, kamu langsung tunggu di sana aja. Kakak udah di jalan menuju ke Kafe Mangkuk, nih.”

Aku sudah sampai di Kafe Mangkuk. Ternyata, di sana suasananya mulai sepi karena kebanyakan mahasiswa sudah pulang. Aku segera mencari meja dan tempat duduk untuk menunggu Kak Adrian.

Untuk yang bertanya-tanya apa itu Kafe Mangkuk, itu adalah kafe yang terletak di dalam kampusku. Sepengetahuanku, kafe tersebut dinamai ‘Mangkuk’ karena bentuknya yang memang seperti namanya. Kalau kamu tahu mangkuk dan bentuknya, pasti akan terbayang bagaimana bentuk bangunannya. Kafe tersebut buka dari sekitar pukul sembilan pagi sampai pukul tiga sore.

Sekitar lima menit kemudian, dia datang mengenakan sweater baseball putih yang lengannya berwarna hitam, kaos hitam bergambar kucing memakai kacamata hijau sebagai dalamannya, dan celana jeans berwarna biru tua. Kurasa dia tampak pas dengan penampilannya. Eh, mengapa aku jadi membicarakan pakaiannya. Kembali ke cerita. Jadi, aku langsung mempersilakannya duduk di depanku.

“Udah lama di sini?” Kak Adrian bertanya kepadaku sambil mendorong kursi di depanku untuk dia duduk.

“Belum lama, kok, Kak, sekitar lima menit. Kakak gak kuliah?”

“Hari ini gak ada jadwal, jadi dari tadi ada di kosan. Hehe. Kalau kamu, ada kegiatan apa aja di kampus hari ini?”

“Kalau aku tadi abis ngerjain rekaman buat tugas semester mata kuliah Speaking. Tugasnya disuruh jadi penyiar radio gitu, tapi tugas kelompok. Oh iya, ada kejadian lucu hari ini, lho, Kak,” aku berkata sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

“Kejadian apa emangnya, Dev? Kayaknya lucu banget sampai kamu senyum-senyum gitu.”

“Iya, jadi kejadiannya, kan, aku dan teman-teman kelompok nyari tempat sunyi untuk rekaman, ya. Terus, aku dan teman-teman dapat ruangan kosong, ruangan itu biasanya dipakai buat tangga darurat di lantai empat. Nah, pas kami udah masuk dan nutup pintunya biar suara yang ada di luar gak kedengaran, tau gak apa yang terjadi setelahnya, Kak?” aku bertanya supaya Kak Adrian penasaran dengan ceritaku.

“Umm... enggak, Dev,” katanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Ternyata kami terkunci di dalam, Kak. Huuu... sedih banget. Untung aja, ya, ada salah satu temanku di luar. Jadi, aku dan beberapa teman sekelompokku di dalam bisa teriak minta dibukain. Dan, akhirnya kebuka juga. Alhamdulillah,” dengan ekspresi yang agak malu aku melanjutkan cerita sambil sedikit tertawa.

“Hah? Serius?! Hahaha. Untung ada teman kamu ya di luar, kalau enggak, bisa tinggal di sana sampai malam,” Kak Adrian tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan supaya orang-orang di dalam kafe tidak mendengarnya.

“Huuu... Kakak lebay,” aku mencubit tangannya karena gemas sudah menertawakanku.

Setelah aku menceritakan pengalaman “sial”-ku tadi, ternyata Kafe Mangkuk bersiap mau tutup. Kenapa aku bisa bilang begitu? Terlihat dari para pegawainya yang sudah menaikkan kursi ke atas meja. Mungkin, itu memang cara halus mereka untuk “mengusir” kami yang masih berada di dalam.

Kami pun memutuskan untuk pindah tempat ngobrol ke Sevel dekat kampus.

Setibanya di sana dan membeli beberapa makanan ringan, kami mulai melanjutkan cerita. Aku dan Kak Adrian saling bercerita tentang diri masing-masing dan kejadian-kejadian unik yang pernah dialami.

“Waktu itu aku pernah lho, Kak, naik Commuterline ternyata gak sampai ke tujuan,” kataku kepadanya setelah dia menceritakan kalau commuterline adalah transportasi yang dia pakai untuk berangkat ke tempat kos dan pulang ke rumahnya.

“Kok bisa gitu, Dev?”

“Iya, jadi saat itu aku berdua sama temanku, Dian, mau main ke rumah temanku satu lagi namanya Rika. Rumah Rika tuh di daerah Cisauk. Dan, pas kami udah sampai Stasiun Serpong naik Commuterline, ternyata ada pemberitahuan dari pegawai stasiunnya kalau Commuterline-nya bakal balik lagi ke arah Stasiun Tanah Abang, padahal aku dan temanku belum sampai di stasiun tujuan. Langsung aja karena gak mau kebawa balik lagi, kami langsung turun dan nanya ke petugas keamanan stasiun. Akhirnya, kami dikasih tahu Commuterline yang benar, Kak. Hehe.” Dengan panjang lebar aku menceritakan pengalamanku. Dia, kulihat, sangat memperhatikan saat kubercerita.

“Oh begitu, makanya sebelum naik tanya-tanya dulu ke petugas stasiun. Padahal, stasiun kamu itu tinggal satu lagi, lho. Tapi gak apa-apa, karena kejadian itu kan kamu jadi tahu kalau gak semua Commuterline punya tujuan yang sama. Kayak apa, ya? Hemm... kayak hubungan yang harus berpisah karena sudah berbeda prinsip. Hahaha,” katanya yang menurutku dia malah mengaitkannya ke hubungan percintaan manusia, yang kemudian kupikir ada benarnya juga.

Tak terasa ternyata waktu berlalu sangat cepat. Kami yang saat itu datang pukul tiga sore, memutuskan untuk pergi dari Sevel pukul lima sore. Namun sebelum pulang, kami salat Asar dulu di masjid kampus. Dan setelah selesai, aku pulang menaikki angkot tujuan rumahku.

Jika kamu bertanya alasan kenapa Kak Adrian tidak mengantarku pulang adalah karena tidak apa-apa dan aku memang tidak mengharapkannya. Aku bisa pulang sendiri, selagi cuaca masih cerah dan suasana jalanan ramai. Dan, mungkin karena Kak Adrian tidak membawa kendaraan ke tempat kosnya. Karena pernah kutanya tentang hal itu, lalu jawabannya adalah kalau membawa kendaraan pribadi akan memakan waktu lebih lama ke tempat kos dan menghabiskan tenaga lebih banyak.

Di angkot, aku segera mengabari ibuku kalau aku sudah berada dalam perjalanan pulang dari kampus, kemudian mengabari Ferdi juga sambil menanyakan aktivitasnya di hari itu seperti yang kami lakukan biasanya.

***

Memasuki bulan Juli yang mana adalah bulan Ramadan di tahun 2014 Masehi, tepatnya di hari ketiga puasa, Kak Adrian mengajakku untuk buka bersama. Aku pun menyetujuinya karena hari itu aku juga ada rapat mengenai acara ELF Camp untuk mahasiswa baru yang akan masuk nanti. Sekilas info, ELF (English Letters is Fun) Camp adalah acara taaruf bagi mahasiswa baru di jurusanku supaya mereka bisa saling mengenal dengan teman-teman seangkatannya dan mengenal para seniornya. Dan, kamu juga harus tahu bahwa dari ELF Camp, aku pertama kali melihat Kak Adrian, lebih tepatnya di acara api unggun yang mana acara itu semua peserta harus ditutup matanya sambil bergandengan dengan peserta lain, lalu berjalan ke dekat api unggun. Ternyata, yang aku gandeng saat itu adalah tangan Kak Adrian. Aku pun kaget ternyata senior juga masuk ke dalam barisan para peserta. Nah, dari acara itulah tidak kusangka bisa mengenalnya hingga bisa mengobrol berdua di acara ulangtahun jurusan yang kuceritakan di awal.

Kembali ke berbuka puasa bersama, kami berbuka di restauran depan kampus bernama Herman’s Culinary setelah kami salat Magrib terlebih dulu di masjid di dekatnya. Awalnya, aku mengajak Kak Adrian untuk berbuka puasa dengan sop buah, tapi tiba-tiba aku tersadar bahwa dia tidak menyukai buah sejak masih bayi, sehingga membuatku segera membatalkan ajakan tersebut. Kami memilih Herman’s Culinary karena tempat makan lainnya sudah ramai oleh pengunjung yang ingin berbuka puasa dan kurasa karena itu adalah tempat yang memang terjangkau juga oleh kami yang berjalan kaki.

Di sana, seperti pertemuan sebelumnya, kami bercerita tentang kejadian atau pengalaman hidup masing-masing sambil menunggu pesanan yang belum datang. Untuk kali ini, aku bercerita banyak tentang pengalaman asmaraku, salah satunya adalah cerita tentang kejadian saat mantanku datang ke rumahku supaya bisa bertemu denganku.

“Jadi, menurutku lucu lho, Kak, kejadiannya,” aku mulai menceritakan pengalaman tentang mantanku itu.

“Lucu gimana, Dev?”

“Iya, jadi pas dia (maksudnya: mantan pacarku) datang ke rumah, aku langsung kabur dari rumah biar gak ketemu dia.”

“Wah, bisa gitu. Semoga gak kabur ke gunung kemudian lari ke pantai, ya, biar gak seperti puisi di film AADC. Hahaha. Kamu kabur ke mana?” tanyanya sambil kulihat ada ekspresi menahan tawa.

“Kaburnya gak jauh sih, Kak. Aku kabur ke rumah saudara yang letaknya kurang lebih 50 meter dari rumahku, yang sebelumnya aku bilang ke Ibu supaya gak ngasih tahu keberadaanku di sana. Untung Ibu setuju sama rencanaku.”

Setelah itu, aku menjelaskan bahwa aku tidak ingin bertemu mantanku karena dia adalah tipe orang yang aneh. Dan, keanehan apa yang sudah dia perbuat. Hanya aku dan Allah yang tahu. Beberapa saat kemudian, pesanan kami datang, kami pun segera memakannya supaya habis dan aku bisa bercerita lagi ke Kak Adrian.

Setelah makanan yang kami pesan habis, dia mulai menceritakan tentang kejadiannya di hari ini.

“Tahu gak, Dev, kalau hari ini tuh kakak gak sahur?”

“Kok bisa, Kak?” kataku yang kaget mendengarnya sambil menunggu kelanjutan ceritanya.

“Iya, jadi karena malam kemarin Kakak dan teman-teman abis ngumpul-ngumpul di kosan, mungkin karena lelahnya ngobrol dan bercanda-canda, jadi pas waktu sahur Kakak gak mendengar alarm yang dipasang di ponsel, dan jadi kesiangan, deh. Padahal, orangtua kakak juga udah nyoba ngehubungi, tapi tetap aja Kakak pulas tidur. Yah, nasib anak kosan. Hehe.”

Mendengar ceritanya, aku menjadi kasihan dan khawatir tentang kesehatannya. Khawatir siapa tahu saja akibat tidak sahur, dia akan sakit maag, sehingga mengganggu puasanya. Oleh sebab itu, aku langsung berinisatif untuk menghubunginya juga via ponsel supaya dia bisa bangun sahur mulai besok.

“Kalau gitu, besok pas waktunya sahur, aku nelepon Kakak supaya bisa bangun, ya? Jaga-jaga siapa tahu aja besok Kakak masih capek karena pertemuan kita malam ini.”

“Duh, Kakak jadi merasa gak enak, nih. Tapi, boleh banget. Makasih, ya. Oh iya, kata kamu di chat kita beberapa hari yang lalu, pas bulan puasa seperti ini, kamu ikut bantu-bantu ibu kamu. Bantu-bantu apa?”

“Iya, sama-sama, Kak. Oh itu, bantu-bantu di rumah makan punya Ibu. Pas bulan puasa, kan, orang-orang lebih banyak yang beli saat malam sampai sahur, jadi aku ikut bergadang bantu ngejualin bareng Ibu dan dua orang pegawainya.”

“Wah, keren! Semangat ya!”

Suara mobil dan motor yang melintas di luar restauran ditambah lampu yang berwarna jingga, membuat suasana terasa menjadi melankolis. Entah ada hubungannya atau tidak, yang pasti aku merasa senang saat aku bisa menumpahkan segala isi hati ke Kak Adrian karena dia adalah, menurutku, pria yang bisa membuat obrolan dan suasana menjadi seru. Kalau kamu menganggapku terlalu berlebihan menilai dia, itu sah-sah saja, karena itu adalah pendapatmu, dan yang pasti kamu harus tahu juga bahwa aku punya pendapat pribadi dan kamu tidak boleh memaksakan pendapatmu itu kepadaku.

Malam semakin larut dan jam dinding di restauran menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Aku dan Kak Adrian memutuskan untuk pulang dan terdengar suara imam di masjid lewat speaker-nya sedang membacakan bacaan salat Tarawih. Maafkan kami ya Allah yang telah melewatkan salat Tarawih pada malam itu karena, menurutku, orang-orang yang sedang mengadakan buka puasa bersama memang kemungkinan besar akan melewatkan salat Tarawih dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Iya, sama seperti yang kulakukan bersama Kak Adrian.

Setelah sampai di luar restauran, Kak Adrian meminta untuk mengantarku pulang menaikki angkutan umum. Tapi, segera aku menolaknya karena khawatir dia akan kelelahan dan akhirnya sakit, sehingga tidak bisa berpuasa keesokkan harinya. Ingat, ya, itu bukan pernyataan kode supaya aku benar-benar minta diantarkan, tapi itu memang benar. Aku adalah wanita pemberani dan mandiri, serta selagi masih banyak penumpang yang berjenis kelamin wanita juga di dalam angkutan umum, itu tidak masalah bagiku. Oleh sebab itu, aku memilih mana angkutan umum yang pantas kunaikki. Meskipun kulihat ekspresi Kak Adrian menjadi tidak enak karena aku melarangnya untuk mengantarku pulang, aku bisa meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Tak lama kemudian, mobil angkutan umum yang sesuai dengan keinginanku datang, yaitu yang banyak diisi oleh penumpang wanita, aku pun segera menaikkinya dan mengucapkan salam perpisahan kepada Kak Adrian.

Di perjalanan, seperti biasa, aku menghubungi orangtuaku di rumah bahwa aku sudah menuju perjalanan pulang─meskipun pada siang hari aku sudah mengabarkan mereka bahwa aku akan pulang malam untuk buka puasa bersama─lalu mengabarkan Ferdi tentang diriku yang habis mengadakan buka puasa bersama dengan teman. Ya, teman, karena aku bingung harus mengatakan apa tentang statusku dengan Kak Adrian. Jika dikatakan hanya “teman”, tapi menurutku itu “lebih” dan kalaupun “lebih”, aku masih mempunyai pacar saat itu dan tidak mau mengkhianatinya yang bisa dikatakan bahwa kami memang jarang bertemu. Terlebih lagi, akhir-akhir ini aku dan Ferdi sering berbeda pendapat, sehingga aku menjadi kesal.

***

Saat itu memang sedang libur semester kuliah, jadi setelah buka puasa bersama malam itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kak Adrian via Whatsapp. Meskipun begitu, obrolan kami tetap seru seperti biasanya dan membuatku merasa senang dari balasan yang dia kirim. Dan, semakin lama perasaan itu semakin muncul, perasaan yang dinamakan “kenyamanan”. Aku bisa berkata begitu karena, menurutku, rasa nyaman muncul ketika aku bisa mengungkapkan segala isi hati tanpa khawatir dan saat aku membutuhkan “pundak” untuk “bersandar”, orang itu ada untukku. Kemudian, rasa nyaman yang kurasa dari Kak Adrian itu cukup, tidak kurang dan tidak lebih, sehingga itu yang bisa membuatku terus merasa bahwa dia adalah pria yang cocok untuk hidupku, dalam arti: karena Ferdi akhir-akhir ini sering membuatku kesal dan entah sampai kapan hubunganku dengannya akan terus berlanjut. Sudah, ya, aku sudah malas membahasnya.

Untuk mencegah kebosanan yang dilanda dalam obrolan, Kak Adrian pernah membuat rekaman suara lalu dikirim via BBM. Setelah kudengar, ternyata itu adalah suara nyanyian yang lucu, maksudku bukan suara Kak Adrian, tetapi suara yang di-edit menjadi seperti suara Minion─makhluk kecil berwarna kuning yang terdapat di film Despicable Me. Aku langsung menanyakan tentang suara yang dikirimkannya itu:

“Kok suaranya bisa lucu gitu, sih, Kak? Aku bukannya fokus ke makna lagunya, jadi fokus ke suaranya. Hahaha,” kataku lewat pesan di BBM.

“Itu sengaja karena kalau pakai suara asli Kakak, bisa-bisa bukannya enak didengar, malah bisa bikin telinga kamu mimisan,” jawabnya dengan asal-asalan.

“Bukan begitu. Maksudku, pemilihan lagunya udah enak, lagu Bruno Mars yang Just the Way You Are. Tapi, suaranya itu lho yang jadi Minion. Hahaha. Itu beneran suara Kakak?”

“Iya, beneran suara asli, tapi direkam pakai aplikasi di ponsel, jadi suaranya bisa berubah gitu. Buktinya sebelum lagunya dinyanyikan, Kakak nyebut nama kamu, Devi, ini lagu spesial untuk kamu. Semoga kamu mendengarkannya gak sambil menutup telinga, ya, karena tahu suaranya bakal kacau.

Setelah kudengarkan lagu kirimannya lagi, aku baru menyadari bahwa lagu tersebut memang buatannya dan ada namaku disebutnya.

“Oh iya, bener, Kak. Lucu. Aku suka. Makasih, ya,” aku segera membalas pesannya.

Ah, Kak Adrian, selalu saja bisa membuat hal sederhana menjadi unik dan tak terpikirkan sebelumnya, tanpa aku duga-duga dan minta. Sayangnya, saat aku menulis cerita ini, lagu kirimannya sudah tidak ada karena ponselku yang kugunakan saat itu sudah rusak dan aku lupa untuk memindahkan terlebih dulu semua file di dalamnya.

BERSAMBUNG

You Might Also Like

0 comments