Di Malam yang Tahunnya Segera Menjadi Baru

  • January 05, 2016
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 2 Comments


Oh, terlihat sudah banyak tukang kembang api dan petasan yang berjualan. Oh, terlihat juga seorang tukang yang meniup-niup terompet supaya orang-orang bisa tahu bahwa dia adalah memang tukang terompet. Oh, ini adalah akhir bulan Desember yang dingin karena sudah memasuki musim hujan. Ya, pasti kehadiran tukang-tukang tersebut adalah sebagai tanda bahwa perayaan tahun baru segera dimulai.

Seandainya saja saat itu gue sedang berada di Mars, gue pasti sedang bingung mau melakukan apa di sana. Untungnya, gue sedang berada di Bumi bersama milyaran manusia lainnya yang memang sudah ditakdirkan tinggal di sana untuk mengetahui bahwa keesokan hari, tahun 2015 segera berganti menjadi 2016.

Ya, kembang api dan terompet adalah dua benda yang gak terpisahkan dalam perayaan tahun baru. Mereka yang mempunyai banyak uang, gak akan ragu membeli banyak kembang api untuk dinyalakan saat jarum panjang dan pendek jam berada di nomor 12 tengah malam dan itu berarti adalah tanda bahwa tahun telah berganti menjadi tahun yang baru. Bagi yang tinggal di kota besar, kebisingan akan sangat terasa dari ledakan kembang api, sehingga yang sedang sakit gigi diharapkan untuk pindah sebentar ke tengah hutan supaya bisa melihat kembang api dari atas pohon. Eh, bukan, supaya kepala dan giginya gak bertambah sakit maksudnya.

Jadi, dari penjelasan di atas, gue mau bercerita tentang perayaan tahun baru yang gue rasakan selama sepuluh tahun belakangan ini karena kalau tigapuluh tahun ke belakang, diri gue masih berbentuk angan-angan. Oke, langsung aja ya!

31 Desember 2005 - Perayaan tahun baru di tahun ini, yang gue ingat adalah gue diajak oleh salah satu tetangga dekat rumah untuk menonton layar tancap di dekat Stasiun Tigaraksa. Bagi yang baru lahir dan gak tahu layar tancap itu apa, itu adalah sejenis bioskop yang diadakan di tempat terbuka, tanpa tempat duduk dan tanpa popcorn, sehingga kalau hujan, jadi basah.

Saat itu, film yang diputar di Layar Tancap adalah ‘King Kong: 2005’. Cukup lama durasi film tersebut sampai gue merasa ngantuk karena saat itu gue masih kelas 6 SD yang gak terbiasa bergadang. Lalu, saat pukul 00.00 yang menandakan bahwa tahun 2006 telah tiba, gue jadi gak ngantuk lagi karena kembang api dinyalakan dan membuat telinga gue merasa bising. Itu adalah momen tahun baru yang gue ingat sampai saat ini.

31 Desember 2006 - Di malam akhir Desember 2006 yang ramai, gue sedang berada di dalam bus antar provinsi bersama Om karena Om gue itu akan melaksanakan akad pernikahannya di minggu awal Januari 2007 di rumah nenek yang letaknya di Madiun, Jawa Timur, sehingga gue ikut untuk bisa merayakannya juga. Keduaorangtua gue memutuskan untuk menyusul dua hari kemudian. 

Itu adalah pertama kali gue merasakan pergantian tahun di perjalanan. Kalau kalian ikut bersama gue saat itu, pasti akan terasa aneh karena untuk apa ikut, eh, maksudnya kalian pasti bisa melihat orang-orang sedang bersiap-siap untuk merayakan tahun baru ditemani oleh suara terompet yang gak bisa didengar karena gue berada di balik kaca bus. Namun, saat pukul 00.00 tiba, gue bisa melihat kembang api yang dinyalakan sebagai tanda awal tahun baru telah dimulai dan sebagai tanda juga kalau keesokan harinya tukang terompet dan kembang api sudah gak berjualan lagi.

31 Desember 2007 - Itu adalah malam yang dingin dan mendung. Gue sedang berada di daerah rumah bersama teman-teman dekat yang berniat bergadang untuk menikmati malam pergantian tahun. Gak lama kemudian, tanda mendung yang daritadi muncul di awan, menjadi kenyataan untuk turunnya hujan. Kami yang sedang bercanda-canda, akhirnya memutuskan untuk berteduh di area musala. Karena terasa dingin, kami masuk ke dalamnya. Bisa dibilang, itu adalah pertama kali gue menikmati malam tahun baru di dalam musala, meskipun niatnya untuk meneduh. Hehe. Gak ada kembang api apalagi terompet yang berbunyi karena itu tadi, orang-orang pasti lebih memilih berdiam di dalam rumah karena malam sedang hujan. Seingat gue, setelah lumayan kami meneduh di dalam musala, satu per satu dari kami dijemput oleh orangtua masing-masing yang khawatir.

31 Desember 2008 - Gue, Fariz, dan Dio sedang berada di sepeda motor masing-masing bertujuan untuk berjalan-jalan di sekitar daerah Adiyasa supaya bisa menikmati keramaian malam tahun baru. Selain berjalan-jalan, kami juga mampir sebentar ke rumah gebetan Fariz, kalau gak salah bernama Nova. Di sana, kami mengobrol sebentar sambil bercanda-canda ala anak SMP labil, kemudian melanjutkan perjalanan. Itu adalah pengalaman gue merasakan tahun baru seperti anak remaja lainnya yang suka berjalan-jalan mengendarai motor sambil berkunjung ke rumah cewek. Sayangnya, seingat gue, kami memutuskan pulang sebelum pukul 00.00, jadi gue merasakan bunyi kembang api yang menandakan tahun baru tiba di depan rumah.

31 Desember 2009 - Di sebuah tempat rental Playstation yang berukuran kurang lebih 5 X 5 meter, ada sekitar lima orang remaja yang sedang bermain PS 2 sambil menikmati malam pergantian tahun baru. Ya, salah satu remaja itu adalah gue. Saat itu gue sudah menjadi pelajar SMA kelas 1 dan merasa malas berjalan-jalan dan lebih memilih bermain PS bersama teman-teman yang sama-sama gak punya pacar dan sama-sama gak keren. Selain itu, Facebook juga sedang booming dan gue memanfaatkannya untuk meng-update status tentang nasib gue yang meprihatinkan karena gak ada cewek yang mengajak merayakan malam tahun baruan bersama. Seperti pengalaman tahun baru sebelumnya, saat pukul 00.00 tiba, bunyi kembang api dan terompet mulai bersuara dengan brutalnya.

31 Desember 2010 - Untuk perayaan malam tahun baru di tahun ini, ada peningkatan, karena gue merayakannya bersama teman-teman alumni SMP. Di sana, kami membakar ayam yang sudah dipotong dan tentu saja mati, serta banyak makanan yang disediakan untuk dihabiskan bersama-sama. Gak seperti tahun sebelumnya yang cuma bisa main Playstation. Dan, saat jam menunjukkan pukul 00.00, kami melihat kembang api yang dinyalakan oleh orang-orang yang rela uangnya dihabiskan untuk membeli kembang api yang bagus dan bisa dinikmati oleh orang-orang yang ingin.

31 Desember 2011 - Awalnya gue lebih milih menghabiskan malam tahun baru dengan bermain game di kamar, tapi tiba-tiba salah satu teman dekat rumah mengajak gue untuk ikut bakar-bakar. Bakar-bakar yang dimaksud adalah ngebakar daging kambing yang sudah ditusuk, sehingga bernama sate. Di sana, gue dan teman-teman lainnya jadi menikmati makan malam bersama-sama sambil melihat kembang api yang berwarna-warni sehingga cahaya bintang gak terlihat pada pukul 00.00 sebagai tanda bahwa orang-orang harus mengganti kalender lamanya menjadi yang baru.

31 Desember 2012 - Di malam tahun baru ini, gue merayakannya dengan bermain game di kamar karena teman-teman gue yang lain sudah mempunyai acaranya masing-masing. Lalu, di tahun ini juga, gue sudah menjadi mahasiswa. Jadi, kalau pada awal tahun baru di tahun sebelumnya, gue sudah menikmati liburan, di tahun baru ini gue harus kembali ke kosan supaya keesokan paginya gak kesiangan mengikuti UAS di kampus.

31 Desember 2013 - Ini adalah pertama kali gue merayakan malam tahun baru jauh dari keduaorangtua karena saat itu gue masih menjalani UAS yang terakhir. Sebenarnya bisa saja gue pulang ke rumah, tapi karena gue mengetahui kalau suasana kereta akan penuh sesak dengan orang-orang yang pulang dan ingin berkumpul bersama keluarga, akhirnya gue gak memaksakan diri untuk pulang dan lebih milih menikmati malam tahun baru di kosan. Ternyata, anak kos yang merasakannya bukan hanya gue, tapi Padel, teman sekelas di kampus, juga. Jadi, karena Deny, yang teman sekampus juga, gak punya acara di luar untuk menikmati malam tahun baru, jadi dia mengajak gue dan Padel untuk menginap di rumahnya. Ya, jadi kami bertiga saat tepat pukul 00.00, sudah berdiri di lantai dua rumah Deny untuk melihat kembang api yang bercahaya dan berbunyi nyaring sambil meratapi nasib kami yang tanpa pacar.

31 Desember 2014 - Sama seperti di tahun sebelumnya, karena masih ada UAS di akhir tahun, gue jadi menikmati malam tahun baru di kosan. Namun, karena Deny masih gak punya acara tahun baruan di luar, jadi gue diajak lagi menginap di rumahnya seperti tahun sebelumnya. Saat itu, teman kampus yang ikut adalah Aliza, jadilah kami bertiga di lantai dua rumah Deny menikmati kembang api yang menyala dari setiap pelosok jalanan sambil membayangkan apakah di tahun depan kami masih tetap merayakan pergantian tahun sama seperti di tahun ini.

31 Desember 2015 - Di akhir tahun ini bertepatan juga dengan semester akhir gue kuliah. Meskipun masih UAS, tapi gue dan beberapa teman dekat lainnya meluangkan waktu untuk bisa menikmati malam pergantian tahun bersama. Setelah dimusyawarahkan, kami memutuskan menikmatinya dengan bakar-bakar makanan di rumah Mega karena kalau bakar-bakar ban pasti dimarahi.

Yang ikut adalah gue (yang ganteng kata orangtuanya), Icha (yang lagi pendekatan ke Padel), Padel (yang lagi pendekatan ke Icha), Mega (yang menjadi tuan rumah), Alfan (yang katanya punya pacar), Vani (yang punya pacar bernama Budi), Budi (yang punya pacar bernama Vani), Babeh (yang sebenarnya bernama Fadli dan menjadi panutan bagi kami), dan Dodi (yang bukan gitaris Kangen Band).

Di sana, kami membakar sosis dan daging ayam yang sudah dimutilasi. Setelah selesai dibakar, kami langsung memakannya bersama-sama. Setelah itu, kami menyalakan kembang api yang bunyinya menyebabkan gue jadi menutup telinga. Itu adalah malam pergantian tahun yang seru dan kami berharap di malam tahun baru selanjutnya, kami sudah menjadi sarjana. Amin.








***

Nah, itulah sepuluh tahun terakhir gue menikmati perayaan malam pergantian tahun; seru dan memiliki kesan setiap tahunnya. Dan, kembang api dan terompet adalah alat mutlak yang pasti hadir untuk menambah ramai suasana.

Oh, tahun yang sedang baru, semoga perayaan ini gak membuat kami menjadi orang yang lupa diri, melainkan supaya kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

You Might Also Like

2 comments

  1. 31 desember 2013 dan 31 desember 2014 adalah moment terjomblo menghabiskan tahun baru. hahaha

    ReplyDelete