KKN SHARE 2015

  • October 13, 2015
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Di tahun ini, kegiatan akademis gue di kampus mulai semakin banyak karena sudah hampir memasuki semester-semester akhir, jadi tinggal dua semester lagi gue bakal menyusun skripsi. Iya, skripsi. Sebuah tugas akhir untuk mahasiswa S1 yang sering membuat getar-getir dalam mengerjakannya. Namun, yang mau gue ceritakan kali ini bukanlah tentang tata cara menyusun skripsi dengan baik dan benar. Kali ini gue mau menceritakan kegiatan lain di kampus yang gak kalah pentingnya karena kegiatan tersebut juga salah satu syarat untuk kelulusan, namanya KKN. Bukan, itu bukan singkatan dari ‘Kecil-Kecil Ngobyek’ atau ‘Kakak-Kakak Nakal’, tapi yang benar adalah ‘Kuliah Kerja Nyata’.

Terus, Kuliah Kerja Nyata itu ngapain, Gung?

Kuliah Kerja Nyata adalah sebuah kegiatan resmi dari kampus di mana para mahasiswa harus mengabdi selama sebulan di desa terpencil. Arti ‘mengabdi’ di sini, yaitu mereka harus bisa membangun masyarakat dan desa dengan ilmu yang sudah mereka dapatkan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam memilih kelompok, kampus gue memiliki kebijakan. Jadi, dalam satu kelompok maksimal beranggotakan delapan belas mahasiswa dari enam fakultas dan setiap fakultas maksimal sebanyak lima mahasiswa. Gitu.

***

Nah, sekarang gue mau menceritakan tentang awal pembentukan kelompok KKN gue.

Awal gue bisa masuk ke kelompok KKN adalah dari tawaran salah satu teman dekat gue, Deny, pada bulan Januari lalu. Awalnya, gue masih belum kepikiran untuk nyari kelompok KKN, tapi karena ada tawaran, gue pun langsung mengiyakan karena kalau gue menunda-nunda, gue takut susah mencari kelompok.

Pada saat itu karena masih libur semester, anggota-anggota yang sudah terkumpul di kelompok hanya bisa berkomunikasi lewat grup Whatsapp, belum bertemu secara langsung. Masuknya anggota kelompok saat itu juga masih belum pasti, jadi kalau merasa gak cocok bisa langsung keluar.

Setelah sebulan berlalu dan memasuki semester enam, kami berencana untuk bertemu sekalian berkenalan satu sama lain.

Di bulan Maret 2015, gue dan beberapa teman KKN akhirnya bertemu untuk pertama kali. Saat itu yang ikut berkumpul masih sedikit karena banyak yang memiliki urusan pribadi. Ketika pertama kali bertemu, kami memang masih sedikit canggung. Teman-teman yang gue kenal saat berkumpul hanya Ithessa dan Karina karena mereka adalah teman gue satu jurusan. Lalu, gue dan beberapa teman yang berkumpul mulai berkenalan satu sama lain.

Di pertemuan pertama itu, ternyata menghasilkan bahwa gue terpilih menjadi ketua kelompok KKN. Awalnya gue menolak, tapi karena dorongan dari teman-teman kelompok yang datang saat itu, akhirnya gue menerima amanah tersebut.

Terpilihnya gue sebagai ketua kelompok, membuat teman-teman yang gak datang saat itu agak kaget setelah mereka mengetahuinya lewat grup Whatsapp, tapi mereka mungkin merasa bersyukur karena, menurut gue, menjadi ketua kelompok adalah pekerjaan yang lumayan berat.

Dan, dugaan gue bahwa menjadi ketua kelompok adalah tugas yang lumayan berat terbukti benar. Gue, merupakan lelaki yang gak mudah berbicara di depan umum, harus bisa memimpin setiap rapat dan harus siap untuk mencari informasi tentang perkembangan KKN di kampus.

Gue lupa di rapat yang ke berapa, tetapi setelah agak lama menentukan apa nama kelompok KKN kami, kami pun menyetujui kalau kelompok kami bernama KKN SHARE. SHARE yang merupakan kata dari bahasa Inggris yang artinya ‘berbagi’ memiliki akronim yang kami buat sendiri, yaitu Sosial, Humanis, Aktif, Religius, dan Edukatif. Dan, kami berharap nama kelompok kami tersebut adalah doa baik untuk kegiatan selama di desa.

Kelompok kami, setelah banyak yang ke luar dan masuk, akhirnya secara pasti beranggotakan 18 orang yang terdiri dari 9 mahasiswa dan 9 mahasiswi dari enam fakultas, yaitu Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ushuludin, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Setelah lebih dari sebulan gue mondar-mandir ke kantor PPM (Pusat Pengabdian Masyarakat) untuk mengumpulkan berkas, akhirnya berkas-berkas persyaratan kami diterima dan telah legal untuk mengikuti kegiatan KKN.

***

Di Minggu yang tenang untuk beristirahat, tiba-tiba gue mendapatkan pesan Whatsapp dari salah satu teman kelompok, Meydha, yang isinya adalah ternyata pembagian desa sudah dilaksanakan dan kami bisa memilih desa mana yang menjadi tempat untuk mengabdi lewat AIS. Dengan cepat, gue langsung membuka laptop untuk berinternet, kemudian memasukkan nomor AIS gue karena pemilihan desa hanya bisa dilakukan oleh ketua kelompok.

Daftar desa yang akan dipilih sudah muncul di layar laptop gue yang mana desa-desa tersebut terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor. Gue segera bertanya ke teman-teman kelompok via grup Whatsapp untuk memilih desa. Setelah sepakat, akhirnya kami memilih Desa Caringin, Kabupaten Bogor, karena kami merasa bahwa jika mengabdi di sana, kami bisa merasakan suasana sejuk dan asri serta bisa melihat pemandangan indah di puncak.

Dua hari kemudian, ternyata ada kesalahan pada pembagian desa yang dipilih lewat AIS. Jadi, yang awalnya satu kelompok hanya bisa memilih satu desa, terjadi kesalahan satu desa bisa dipilih lebih dari satu kelompok. Dan, desa yang kelompok gue pilih menjadi salah satu desa yang terkena kesalahan. Setelah menunggu informasi dari pihak PPM, ternyata kelompok gue yang tersisih dari pemilihan Desa Caringin, sehingga kami harus memilih desa baru untuk mengabdi.

Cukup lama gue dan beberapa teman kelompok berunding saat itu di dekat kantor PPM untuk memilih desa lagi sebagai tempat mengabdi. Dan, ternyata desa yang masih bisa dipilih hanya ada di Kabupaten Tangerang. Beberapa teman gue ada yang pesimis untuk mengabdi di salah satu desa di sana karena mereka merasa cuaca di sana sangat panas dan gak bersahabat. Sedangkan gue, berpendapat gak masalah karena merasa semua desa sama saja. Akhirnya, kami memilih Desa Pasirgintung sebagai desa peganti pilihan pertama untuk mengabdi.

Meskipun masih ada rasa kurang puas dari teman-teman kelompok karena memilih Desa Pasirgintung, ternyata dari desa tersebutlah kami bisa mengalami pengalaman-pengalaman yang berkesan dan gak terlupakan.

Pemilihan desa sudah, melengkapi persyaratan untuk KKN juga sudah, jadi agenda selanjutnya adalah memutuskan untuk melakukan survei bagaimana keadaan desa di sana.

Survei pertama, kami melakukannya pada bulan Mei beberapa hari setelah pemilihan desa. Survei kedua, kami lakukan saat bulan puasa. Ya, meskipun pada survei saat itu kami masih belum bisa mendapatkan informasi yang akurat tentang kondisi dan permasalahan desa, perlahan kami bisa mendapatkan informasi dari pihak desa via SMS.

Setelah bulan puasa usai, kami segera menyiapkan perlengkapan dan segala hal yang akan dibawa ke Desa Pasirgintung. Dan, saat H-1 pelaksanaan kegiatan KKN, kami sudah siap untuk berangkat.

***

Hari yang ditunggu-tunggu dari bulan Januari kemarin akhirnya tiba, saat itu adalah awal Agustus 2015 dan kami berangkat ke Desa Pasirgintung untuk melaksanakan pengabdian. Sangat banyak barang bawaan untuk ke sana, sehingga lima mobil pribadi dan satu mobil bak dikerahkan.

Oh iya, selama di desa, kami tinggal di sebuah rumah kontrakan yang ukurannya lumayan besar. Bahkan, gue sempat berpikir kalau kami sedang mengadakan liburan. Hehe.

Oke, lanjut ke cerita. Sesampainya di rumah KKN kami, kami segera membereskan barang-barang bawaan dan menatanya supaya terlihat rapi.

Satu sampai tiga hari di sana, kami masih bersantai-santai karena menunggu acara pembukaan di kecamatan terlebih dulu. Salah satu momen santai bersama saat awal-awal kedatangan kami di sana adalah pergi ke Pasar Malam menggunakan odong-odong. Oh iya, sebenarnya odong-odong tersebut sebelumnya kami gunakan juga untuk mengantar kami ke kecamatan dalam pembukaan KKN karena jumlah motor di kelompok kami hanya dua.

Kembali ke Pasar Malam. Di sana, kami memutuskan untuk melihat-lihat dan kemudian menaikki beberapa wahana. Ada yang takut, ada juga yang bersemangat menaikki wahana. Gue adalah salah satu yang ingin menaikkinya, sedangkan beberapa teman gue yang takut disebabkan mereka merasa kalau pengaman wahana di sana gak sesuai standar keselamatan. Setelah gue naik, ternyata memang benar. Saat itu gue menaikki wahana sejenis Kora-Kora di Dufan, tapi bedanya di Pasar Malam pengamannya hanya sebuah besi untuk pegangan tanpa ada pengaman lain untuk menahan berat tubuh. Bisa dibayangkan saat wahana itu bergerak semakin cepat, gue dan beberapa teman yang naik hanya bisa berteriak karena pengaman kami kalau dilepas bisa membuat kami terjatuh. Wow. Super. Sekali.

Setelah selesai, kami pun kembali ke Rumah KKN menaikki odong-odong yang kami sewa.

***

Keesokkan harinya, kami sudah mulai menjalankan proker kami masing-masing. Proker pertama saat itu adalah mengajar di sekolah-sekolah yang terletak di Desa Pasirgintung. Dan, mengajar di kelas adalah pengalaman baru bagi gue. Kelas yang gue ajarkan adalah di tingkat SD dan SMP. Kesabaran dalam mengajar memang sangat dibutuhkan ketika ada salah satu murid yang tingkahnya gak bisa diam. Seketika, gue jadi teringat saat gue masih SMA dan ada guru magang yang kebagian mengajar di kelas gue. Cerita sedikit, jadi guru magang tersebut adalah mahasiswi dari salah satu universitas di Serang dan saat pertama kali masuk untuk mengajar ke kelas, pernah gue bercandain bersama teman-teman dengan menjawab nama yang gak sesuai dengan absen. Karena kejadian masa lalu itu, saat gue yang akhirnya menjadi guru magang, gue dapat merasakan bagaimana kesabaran memang diuji dalam menghadapi murid-murid yang usil.

Hari demi hari gue jalani selama KKN. Gue jadi mulai bisa memahami karakter teman-teman sekelompok. Kami perlahan sudah mulai terbiasa hidup bersama dan mengalami suasana-suasana seru. Komunikasi dengan warga sekitar juga sudah bisa berjalan, walaupun masih ada beberapa warga yang belum mengetahui keberadaan kami.

Selama 30 hari di sana, kebiasaan gue dalam hidup ikut berubah seiring berjalannya waktu. Gue, yang suka bermalas-malasan, akhirnya bisa menjadi orang yang bisa dibilang lumayan rajin; dari mulai mencuci piring, menyapu lantai, sampai membersihkan pikiran (lho?!).

Anak-anak yang tinggal di dekat Rumah KKN kami juga sudah bisa berbaur bersama. Mereka jadi sering belajar dan bermain bersama kami. Kami pun dengan keahlian-keahlian yang sudah kami dapatkan selama di perkuliahan, kami ajarkan kepada mereka supaya mereka bisa mendapatkan pengetahuan baru setelah mengunjungi Rumah KKN kami.

Berbagi memang indah. Itulah yang gue dan kemungkinan besar teman-teman sekelompok lainnya rasakan. Di sana, ternyata proker-proker yang telah kami buat beberapa bulan sebelumnya diterima dengan antusias oleh warga. Dengan begitu, proker kami berjalan dengan lancar. Mulai dari seminar, mengajar di sekolah dan TPA, melatih tari daerah, melatih keterampilan, menyediakan tong sampah, sampai meremajakan musala serta mengadakan plang jalan.

Kami pun memiliki proker yang ternyata itu adalah pertama kalinya warga Desa Pasirgintung bisa melaksanakannya, yaitu saat kami mengadakan Upacara Kemerdekaan Indonesia ke-70 bersama warga desa. Ketua BPD Pasirgintung, Pak Rosyid, pun sangat mendukung kegiatan tersebut dengan mengizinkan salah satu lapangan kepunyaannya untuk dipakai dalam upacara. Semoga dengan begitu, kegiatan upacara yang kami adakan bisa terus berlangsung sampai seterusnya oleh warga desa, meskipun kami sudah gak berada di sana lagi.

***

Gak terasa, saat itu akhir Agustus telah tiba. Di hari sebelum kami pulang, kami mengadakan acara dengan memakai panggung sederhana sebagai acara penutupan. Di acara tersebut, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak desa yang telah membantu, memberikan hadiah dan cinderamata, menampilkan keahlian-keahlian dari anak-anak yang telah kami ajari selama di sana, serta hiburan dangdut. Kami pun merasa bahagia karena ilmu yang kami berikan telah bermanfaat kepada mereka.

Pada keesokkan harinya (30 Agustus 2015), kami mengemas dan merapikan barang-barang untuk persiapan pulang. Terlihat anak-anak di Desa Pasirgintung merasa sedih karena mengetahui kami akan pulang ke rumah masing-masing, begitu juga kami yang merasa sedih harus meninggalkan mereka dan segala pengalaman yang kami rasakan selama di sana.

Meskipun berpisah, silaturahmi harus tetap berjalan. Dan, betapa bersyukurnya kami telah mendapatkan pengalaman dan keluarga baru di sana. Semoga perpisahan kami di Desa Pasirgintung adalah awal dari silaturahmi yang terus dan selalu terjaga sampai kapanpun bagi kami sebagai kelompok serta bagi masyarakat di sana. Amin.

Itulah sedikit cerita yang gue tulis selama melakukan KKN di Desa Pasirgintung, sebuah desa di mana telah memberikan gue dan teman kelompok lainnya banyak cerita dan pengalaman yang berkesan, sehingga kami pun bisa menceritakannya kepada anak dan cucu kami kelak.

Sebelum menutup postingan ini, gue berterimakasih kepada teman-teman kelompok KKN SHARE: Deny, Karina, Enung, Ithessa, Meydha, Dityan, Bilqis, Zae, Faizal, Annisa, Nanda, Peni, Abdul, Gusti, Rosi, Dwi, dan Novi. Karena dengan adanya kalian, kelompok KKN kita bisa melakukan kegiatan dengan baik dan lancar, serta keseruan yang gak terhitung yang telah kita lakukan selama di Desa Pasirgintung.

KKN SHARE memang nice!

Ini adalah beberapa foto KKN SHARE yang ada di laptop gue karena semua foto kegiatannya belum gue minta ke Enung atau Faizal. Hehe.
















You Might Also Like

0 comments