Kelas Sastra

  • March 07, 2015
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Libur semester selama dua bulan sudah berlalu, semester baru yang gue jalani pun akhirnya tiba. Sebenarnya libur yang gue jalani kemarin sama seperti libur-libur kuliah sebelumnya, tapi kegiatan kuliah semester ini lah yang jadi terasa berbeda. Kok bisa? Jadi karena di semester enam ini di jurusan gue telah memasuki masa konsentrasi, gue dan beberapa teman sekelas harus berpisah.

Konsentrasi yang ada di jurusan gue, Bahasa dan Sastra Inggris, ada tiga, yaitu linguistik, sastra, dan penerjemahan (translasi). Jadi, dari ketiga konsentrasi tersebut, setiap mahasiswa harus memilih sesuai keinginannya supaya saat sudah tiba saatnya menyusun skripsi, kami bisa lebih mudah fokus dalam penelitian. Dari ketiga konsentrasi tersebut, sebenarnya sama saja; jadi gak ada yang namanya konsentrasi untuk mahasiswa yang pintar ada di konsentrasi A dan mahasiswa yang biasa-biasa aja ada di konsentrasi B atau C.

Saat kertas daftar untuk pemilihan konsentrasi dibagikan, gue memilih konsentrasi yang pertama adalah sastra dan kedua adalah linguistik. Setelah pengumuman tiba, ternyata pilihan konsentrasi pertama gue diterima. Iya, gue masuk konsentrasi sastra. Alasan gue memilih sastra adalah karena dari yang gue rasakan selama belajar mata kuliah sastra di dua semester (semester empat dan lima), gue merasa kalau cara belajar sastra lebih menggunakan imajinasi. Maksud ‘imajinasi’ di sini adalah cara berpikir yang semaunya asal dilandasi dengan bukti. Contoh, saat gue ingin menjawab makna dari salah satu kata atau kalimat dalam suatu karya sastra, asal gue bisa memberikan bukti dan penjelasan yang jelas, jawaban gue pun bisa diterima. Jadi gue merasa kalau sastra merupakan ilmu yang fleksibel.

Pada minggu pertama gue masuk kelas sastra, dosen-dosen dari setiap mata kuliah sudah memberikan gambaran tentang apa yang akan kami lakukan untuk kegiatan belajar selama satu semester ini. Ya, karena di semester ini sudah memasuki masa konsentrasi, jadi kami dituntut untuk lebih banyak membaca karya sastra dibandingkan semester-semester sebelumya; dan yang pasti semua karya sastra yang dibaca semuanya berbahasa Inggris.

Ya, waktu sangat cepat berlalu. Gak terasa udah hampir tiga tahun gue duduk di bangku kuliah dan masuk ke jurusan Sastra Inggris. Ternyata banyak banget ilmu-ilmu baru dalam bahasa Inggris yang gue dapatkan selama menempuh di jurusan tersebut dan gue merasa kalau pelajaran bahasa Inggris saat di SD sampai SMA hanyalah permulaan karena belum ada apa-apanya.

Oke, gue siap dengan semester baru ini karena dari jadwal yang ada, di tahun depan gue sudah mulai masuk ke dalam tahap penyusunan skripsi. Semoga nilai-nilai mata kuliah gue memuaskan dan gak ada yang mengulang, sehingga gue bisa lulus tepat waktu (aamiin!). 

Terus setelah lulus S1 mau ngapain?

Kalau bisa lanjut ke S2 atau gue mencari pengalaman dulu untuk bekerja menggunakan kreativitas dan ilmu yang gue punya.

You Might Also Like

0 comments