Pernah Alay

  • December 08, 2014
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Masa alay bagi sebagian orang adalah masa di mana mereka sedang liar-liarnya dalam berekspresi. Entah itu berekspresi dalam penampilan, ekspresi dalam tulisan ketika membalas pesan via SMS atau media sosial dengan orang lain, atau ekspresi dalam berbicara. Masa tersebut terjadi minimal sekali seumur hidup, tapi ada juga sih yang terjadi selama-lamanya. Bisa dibilang alay permanen. Hiii...

Sebagai manusia yang mengalami masa pertumbuhan dalam hidupnya, gue juga pernah mengalami masa alay. Masa tersebut bisa dibilang adalah masa yang gak terlupakan sampai saat gue kuliah sekarang ini, bahkan mungkin sampai gue tua kelak. Masa yang penuh dengan ekspresi, penuh dengan keanehan yang dianggap biasa, dan dipenuhi dengan banyak gaya dalam tindakan.

Di postingan kali ini, gue akan menceritakan tentang beberapa masa alay yang pernah gue alami bertahun-tahun yang lalu. Gue menceritakan aib ini supaya teman-teman pembaca gak mengulangi tindakan yang pernah gue lakukan itu. Oke, langsung aja ya!

1. Mewarnai rambut menjadi pirang

Saat kelas 6 SD dulu, gue pernah bermimpi menjadi seorang bule. Bule yang gue maksud adalah beneran bule; seorang manusia keturunan ras Kaukasia yang memiliki kulit putih, rambut pirang, dan wajah nan rupawan. Iya, hal tersebut terjadi karena saat SD dulu gue suka menonton telenovela seperti Amigos dan Carita de Angel di mana pemainnya adalah orang-orang yang memiliki penampilan layaknya budaya Barat.

Setelah gue menceritakan keinginan gue tersebut ke teman-teman sekelas, ternyata beberapa teman gue juga punya mimpi untuk bisa mewarnai rambutnya yang hitam menjadi pirang. Wow, mendengar hal tersebut, gue langsung senang karena bukan cuma gue yang mau terlihat jadi lebih ganteng; biar seperti pria-pria bule di luar negeri sana.

Saat itu adalah hari terakhir ulangan semester ganjil. Setelah bel berbunyi tanda ulangan selesai serta tanda bahwa jam pulang telah tiba, gue dan teman-teman sekelas mulai berhamburan ke luar. Namun, salah satu teman gue yang bernama Budi tiba-tiba memanggil gue dan empat orang teman lainnya untuk berkumpul dan membicarakan sesuatu. Ternyata sesuatu tersebut adalah rencana untuk mewarnai rambut kami supaya terlihat pirang karena dia merasa kalau mewarnai rambut saat menjelang liburan sekolah, gak akan ketahuan oleh guru. Karena teman-teman lainnya setuju, gue pun ikut setuju. Entah apa yang ada di dalam pikiran gue saat itu, yang penting gue percaya kalau dengan mewarnai rambut, gue jadi terlihat tambah ganteng.

Sekitar setengah jam kemudian, kami sudah berada di sebuah ruko kosmetik di mana ruko tersebut menjual pewarna rambut. Kami pun patungan berlima untuk membeli pewarna rambut tersebut yang memang sudah kami niatkan dari awal. Gue masih ingat berapa harganya, yaitu Rp. 8.000.

Pewarna rambut sudah didapat, kami pun segera membuka dan membaginya secara rata di tempat kami biasa nongkrong. Setelah dioleskan ke rambut, kami mulai menunggu efeknya. Beberapa menit kemudian rambut gue yang tadinya hitam jadi berwarna agak kemerahan alias pirang ketika terpantul cahaya matahari. Setelah itu, gue langsung pulang ke rumah.

Kontroversi terhadap rambut gue yang agak pirang itu terjadi setelah beberapa hari mewarnai rambut. Ibu dan Bapak gue malah cuma berkomentar “Wah, rambut kamu jadi pirang gitu. Emang gak diomelin guru?” lalu gue menjawab “Kayaknya enggak, kan sebentar lagi mau libur sekolah” dan keduaorangtua gue ternyata gak marah dengan kelakuan gue tersebut. Berbeda dengan beberapa teman gue yang sering main bareng di daerah rumah; ada yang bilang gue keren, tapi ada juga yang bilang kalau gue sudah mengalami kesalahan dalam bergaul. Saat itu gue cuma berpikir kepada pendapat teman gue yang pertama kalau rambut gue diwarnai pirang begitu, gue jadi terlihat keren.

Gue sudah lupa berapa hari gue mempunyai rambut yang agak pirang pada saat itu, tapi lama-kelamaan gue mulai sadar. Gue mulai menyadari kalau kelakuan alay ini membuat gue jadi terlihat bukan diri gue sendiri. Gue mulai merasa aneh. Merasa kalau penampilan gue yang dilahirkan memiliki kulit sawo matang ini gak pantas kalau dipadukan dengan rambut yang berwarna mencolok.

Saat itu untungnya masih dalam liburan sekolah, jadi setelah gue sadar kalau apa yang gue lakukan ini adalah hal yang salah, gue segera mengajak kedua teman gue yang juga sama-sama salah gaul untuk kembali ke jalan yang benar. Iya, gue mulai sadar ternyata penampilan gue bukannya terlihat tambah ganteng, malah jadi lebih mirip gembel terminal.

Ilustrasi: Gue lebih mirip yang paling kanan.

Gue dan kedua teman yang sudah mulai insaf itu akhirnya membeli pewarna rambut hitam kemudian segera mengoleskannya ke rambut. Beberapa jam kemudian, rambut gue pun kembali menjadi hitam. Gue merasa jadi diri gue sendiri lagi dan beberapa teman gue juga gak mengejek gue sebagai ‘gembel terminal’ lagi.

Dari kejadian tersebut gue jadi belajar kalau ingin mengubah diri, bukanlah penampilan fisik yang harus diubah seperti mewarnai rambut, melakukan operasi plastik di wajah, dan mengotak-atik bagian tubuh yang sudah diberikan Tuhan kepada kita agar terlihat “sempurna” di pandangan manusia, tapi penampilan inner beauty-lah yang seharusnya diubah supaya semakin baik. Gue mulai belajar untuk mensyukuri penampilan gue ini dan gak ingin kelakuan alay gue tersebut terulang kembali. Untung saja kejadian tersebut terjadi saat gue masih SD, jadi gak terlalu menjadi aib. Hehehe.

2. Merokok biar terlihat keren

Ternyata kelakuan alay gue yang ingin terlihat jadi anak keren belum berhenti saat kelas 6 SD saja, tapi berlanjut saat gue kelas 2 SMP. 

Kelakuan alay gue yang selanjutnya adalah merokok bersama teman-teman secara diam-diam supaya gak ketahuan orangtua. Jadi, saat itu adalah malam Minggu, gue sering keluar rumah untuk main bersama teman-teman yang ada di daerah komplek rumah gue. Sebenarnya aktivitas malam Minggu yang kami lakukan hanya berputar-putar komplek dan nongkrong-nongkrong gak jelas, tapi entah mengapa saat itu gue merasa seru. Nah, kemudian saat kami sudah mendapatkan tempat tongkrongan yang dianggap nyaman, kami pun mulai duduk sambil bercanda-canda. Lalu salah satu teman gue yang perokok aktif mulai mengeluarkan rokoknya dan mengajak gue serta beberapa teman yang perokok pasif untuk merokok bareng. Saat itu gue mengalami kebimbangan; bimbang karena apakah gue harus mengikuti teman gue untuk merokok atau enggak. Tapi karena teman gue yang perokok aktif itu mengintimidasi memakai kalimat “Yaelah, masa hari gini lu gak ngerokok sih, Gung? Ayolah, biar kita jadi terlihat keren!” gue yang masih gampang terhasut pun langsung mengiyakan ajakannya. Lagi-lagi, kalimat “biar terlihat keren” pun mengalahkan gue.


Gue mulai mengambil sebatang rokok teman gue itu, lalu mulai membakarnya. Hisapan pertama, gue masih baik-baik saja, tapi setelah hisapan keempat, kelima, dan keenam, tiba-tiba gue langsung batuk-batuk dan nafas gue menjadi sesak. Gue pun langsung berhenti menghisap rokok tersebut dan langsung meludahkan sisa-sisa bekas asap tembakau yang masih ada di mulut. Setelah itu, gue memberikan rokok yang gue pegang ke teman dan langsung mengambil nafas perlahan. Karena kejadian tersebut, teman-teman gue yang lagi nongkrong bareng pada menertawakan gue dan gue cuma senyum-senyum kecut ke arah mereka, kemudian tetap melanjutkan tongkrongan yang saat itu gue anggap penting banget.

Keesokkan harinya, gue langsung sadar kalau gue seharusnya gak gampang terpengaruh dengan ajakan teman yang dirasa gak bermanfaat untuk diikuti. Gue langsung berjanji kepada diri sendiri untuk gak merokok lagi. Iya, kejadian tersebut adalah pertama dan terakhir kali gue merokok dan sampai saat ini gue memang gak ada niat untuk mencoba-coba rokok lagi. Kapok euy!

3. Memakai huruf gede-kecil gede-kecil ketika membalas pesan

Masa-masa saat pertama kali gue mempunyai ponsel adalah salah satu masa yang gak terlupakan. Saat itu kelas 1 SMP dan keduaorangtua gue mengizinkan gue untuk mempunyai ponsel. Awalnya, mereka gak begitu setuju karena umur gue saat itu dirasa belum cukup untuk memiliki barang mewah karena takut hanya akan membuat malas belajar (iya, zaman dulu ponsel masih menjadi barang mewah, gak seperti sekarang). Tapi, karena kebanyakan teman-teman di daerah rumah gue sudah lumayan banyak yang mempunyai ponsel, gue pun gak menyerah untuk merayu keduaorangtua gue untuk membelikannya. Akhirnya, mereka pun setuju. Mission completed!

Setelah gue mempunyai ponsel, gue jadi merasa bisa bergabung dengan teman-teman yang mempunyai ponsel juga. Saat itu, layanan internet masih belum booming, jadi media sosial juga belum populer. Hal yang paling sering gue lakukan dengan ponsel saat berkumpul bareng teman-teman adalah berbagi file musik, gambar, dan video via Bluetooth atau Infrared. Gak jarang juga kami bertukar nomor ponsel perempuan. Iya, pada zaman itu gue dan teman-teman saling bertukar nomor perempuan supaya bisa berkenalan melalui SMS. For your information, pada saat itu SMS masih menjadi layanan pesan nomor satu bagi anak muda yang ingin berkenalan dengan lawan jenis meskipun tarifnya juga masih lumayan mahal; provider yang gue pakai menarifkan Rp. 350/SMS.

Akhirnya, gue segera minta nomor perempuan dari salah satu teman gue itu. Tanpa pikir panjang, gue langsung menulis pesan ke nomor tersebut. Karena saat itu gue masih baru memiliki ponsel, gue menulis pesan masih dengan huruf-huruf yang normal, contohnya seperti ini:

"Hey, cewek. Boleh kenalan, gak?"

Tapi saat itu gue malah ditertawakan oleh teman-teman karena tulisan gue di SMS malah memakai huruf-huruf normal. Mereka bilang kalau pemilihan kata yang gue ketik saat menulis SMS seperti orang yang ketinggalan zaman. Dibilang begitu, gue jadi merasa malu dan segera menanyakan ke mereka bagaimanakah cara menulis SMS yang baik dan benar sesuai mazhab anak muda masa kini. Kemudian, salah satu teman gue berkata, 

“Jadi kalau mau tulisan SMS lu terlihat gaul, lu harus ngetik secara singkat dan setiap huruf bisa diganti dengan angka atau simbol-simbol, Gung! Contohnya nih ya, kalimat ‘Bales gak pake lama’ bisa diganti dengan ‘Lz gpl’ terus kata ‘aku’ dan ‘kamu’ bisa diganti sama ‘aQhuWh’ dan ‘QmUh’.”

“Hah, yang bener? Tapi kok malah jadi terlihat ribet dan aneh gitu, ya?” kata gue dengan memasang muka heran sambil kedua tangan gue menggenggam ponsel siap-siap untuk mengetik SMS.

“Iya, serius. Kalau gak percaya, tanya aja sama teman-teman yang lain. Tulisan SMS zaman sekarang ya emang gitu.”

Gue yang masih polos mengiyakan saja kesotoyan teman gue itu. Sejak saat itulah tulisan SMS atau chatting gue berubah menjadi lebih berseni (baca: alay). Tapi, karena pada saat itu sebagian besar anak muda yang tinggal di daerah rumah gue memang mengetik tulisan dengan gaya alay, jadi gue gak berpikiran aneh-aneh kalau tulisan gue itu memang aneh.

Tulisan alay gue itu bertahan dari kelas 1 SMP sampai dengan 1 SMA. Untung saja saat itu gue mempunyai teman dekat di SMA yang gak alay, jadi sedikit demi sedikit gue menjadi sadar kalau apa yang gue lakukan selama ini adalah hal yang berlebihan. Akhirnya saat kelas 2 SMA, cara mengetik gue di ponsel sudah menjadi normal sepenuhnya dan gue terlepas dari predikat ‘alay’.

4. Update status di media sosial setiap menit

Memasuki masa SMA, media sosial seperti Facebook sudah mulai populer, kemudian disusul oleh Twitter. Tapi, saat itu kebanyakan orang lebih memilih menggunakan FB untuk berkomunikasi melalui dunia maya. Gue yang gak mau dianggap sebagai anak muda yang ketinggalan zaman, mulai membuat akun FB juga.

Saat itu di bulan Agustus 2009, gue mulai membuat akun FB yang masih aktif sampai sekarang. Tapi bedanya, saat itu gue menggunakan FB seperti kebanyakan orang yang sedang kecanduan. Setiap hari gue mulai mencari akun-akun perempuan untuk di-add, gue gak berpikir apakah akun berfoto profil perempuan tersebut asli atau palsu; yang penting gue punya banyak teman. Pemakaian huruf dalam mengetik status pun masih alay, seperti yang gue jelaskan di poin tiga sebelumnya. Dan dalam sehari, gue bisa memperbarui status lebih dari sepuluh kali. Kebanyakan status yang gue update pada zaman dulu adalah status-status yang gak penting banget, misalnya:

“Duh, laper beud nich.”

“Aqu mw mamam dlu eeaa.”

“Lagi ngambil nasi nich.”

“Lagi ngunyah makanan nich. Cemungudht, qaqa!”

Dan lain-lain.

Benar-benar status yang gak penting banget untuk di-share.

Selain menulis status, gue juga suka mengajak ngobrol teman-teman FB gue yang perempuan di kolom chat. Entah itu siapa, gue langsung mengajak kenalan. Gak jarang saat itu, perempuan yang gue kenal lewat FB menjadi akrab dan kami melanjutkannya ke SMS atau suka saling menelepon (kalau lagi banyak pulsa). Yah, namanya juga kenal di dunia maya, jadi gue gak pernah bertemu dengannya dan gue mengetahui wajahnya hanya dari foto profilnya di akun FB-nya.

Kebiasaan berkenalan dengan perempuan secara random di kolom chat FB gue itu bertahan sampai kelas 2 SMA karena gue sudah merasa bosan berhubungan dengan orang yang gak jelas. Sejak saat itu, gue juga sudah jarang mengajak ngobrol orang-orang di kolom chat FB kecuali teman-teman di SMA atau teman lama yang gue kenal.

Bertahun-tahun telah berlalu. Dan sekarang di tahun 2014 ini, akun FB gue sudah jarang banget gue periksa. Gue sudah malas karena sekarang banyak aplikasi media sosial di ponsel (yang sekarang sudah pintar) yang gue rasa jauh lebih baik untuk berkomunikasi selain di FB. Tapi gue pernah iseng memeriksa kronologi akun FB gue di tahun 2009 sampai 2010, gue jadi suka ketawa sendiri. Iya, karena gue sering memperbarui status-status yang gak penting seperti yang udah gue ceritakan sebelumnya. Dan sekarang, gue tinggal mengenang masa-masa alay itu.

***

Itulah beberapa kisah tentang ke-alay-an gue di masa lalu. Kebanyakan sikap alay yang gue punya dulu adalah dari hasil bergaul dari teman-teman yang alay juga. Gue pun menyimpulkan bahwa alay adalah perilaku yang menular. 

Sekarang gue sudah hidup seperti orang normal lagi; gak ada tulisan huruf gede-kecil saat mengetik pesan, mulai belajar menjadi dewasa, dan gak mudah terpengaruh teman yang mempunyai kebiasaan buruk. Iya, hidup adalah sebuah proses di mana dalam kehidupan pasti ada kejadian-kejadian yang dirasa bodoh saat dilakukan di masa lalu. Akan tetapi, tanpa adanya kejadian bodoh tersebut, kita gak akan pernah bisa belajar untuk menjadi seseorang yang lebih cerdas dalam bertindak. Dengan begitu, kita akan mempunyai kenangan atau pengalaman untuk diceritakan kepada anak-cucu kita kelak. Intinya, jangan malu karena pernah mengalami masa alay; karena masa tersebut adalah proses seseorang untuk menjadi lebih baik di masa depan.

You Might Also Like

0 comments