Bersenang-senang dengan Hobi

  • September 10, 2014
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 4 Comments


Saat kelas 2 SMP, gue pernah diajak oleh beberapa teman untuk nge-band.

“Gung, lo mau ikut kita nge-band gak?”, tanya teman gue.

“Umm... nge-band, ya? Gue sih mau aja, nge-band kan bisa bikin kita jadi terlihat keren. Tapi masalahnya tuh gue belum bisa...”, padahal gue belum selesai bicara, teman gue langsung memotong dan bilang, “Udah ikut dulu aja, masalah lo bisa atau belum bisa main alat musik, itu urusan nanti di dalam studio. Yang penting lo ikut aja dulu. Kita nge-band besok Sabtu, masih tiga hari lagi kok.”

Setelah teman gue berkata seperti itu, dengan rasa pede yang gue miliki, gue langsung mengiyakan ajakannya. Meskipun gue belum tau apa yang akan terjadi di dalam studio musik nanti kalau gue aja belum bisa memainkan alat musik.

***

Saat itu adalah hari Sabtu di bulan Februari 2008 di mana setiap hari Sabtu di SMP gue dulu cuma diisi oleh ekskul dan gak belajar sama sekali. Karena beberapa hari yang lalu salah satu teman gue mengajak gue untuk pergi nge-band, sekitar jam 9 pagi gue bersama lima teman lainnya berangkat menuju studio musik yang letaknya lumayan jauh dari SMP kami. Sebenarnya kami bisa aja menuju studio musik menggunakan angkot, tapi karena kami dulu masih suka mencari sensasi, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa truk yang lewat untuk dinaikki secara brutal (baca: nebeng). Akhirnya sekitar 20 menit kemudian, kami sampai di studio musik.

Alhasil ketika di dalam studio musik, dari enam orang (termasuk gue) yang ada, ternyata cuma tiga orang (bukan termasuk gue) yang bisa main musik. Gue bingung mau megang alat musik apa saat itu; gitar, belum tau kunci-kuncinya; bass, gue malah lebih bingung karena cuma punya empat senar; drum, lebih susah lagi karena menggunakan tangan dan kaki. Keahlian musik yang gue punya saat itu adalah mukulin galon dan membunyikan kecrekan. Jadi saat itu gue dan dua orang teman lainnya di sana cuma numpang AC (baca: ngadem), nyobain mukulin drum yang jadinya malah terdengar seperti mukul bedug, dan bercanda-canda gak jelas; sedangkan teman-teman gue yang bisa memainkan alat musik, ya nge-band. Gue pun menyesal karena, setidaknya, gue belum bisa bermain gitar.

Setelah kejadian itu, gue mulai mencoba untuk berlatih bermain gitar dengan meminjam gitar teman gue di kelas. Gue merasa dengan bisa bermain gitar, kegantengan gue bakal bertambah. Gue melihat teman-teman gue yang cuma memainkan intro lagu Kangen Band menggunakan gitar saat itu, mereka langsung dipuja dan disanjung-sanjung. Wah, ternyata jaman dulu kalau mau punya banyak teman, cuma kayak gitu caranya.

***

Pada pertengahan bulan April 2009, saat itu gue kelas 3 SMP, akhirnya gue memutuskan untuk membeli gitar karena dengan cara itu gue gak akan minjam gitar teman gue lagi. Iya, gue mau banget berlatih untuk bisa memainkan alat musik tersebut secara rutin. Gue merasa, gue gak bakal diasingkan lagi dari pergaulan. Sejak saat itu juga, gue mulai sering berlatih sampai-sampai membuat jari tangan gue kapalan dan kasar.

Sekitar dua bulan gue belajar gitar, gue pun secara berangsur-angsur bisa menguasai kunci-kunci dasar dan balok pada gitar. Saat itu, gue merasa kegantengan gue bertambah ketika akhirnya gue bisa memainkan lagu Ungu, Five Minutes, ST12, Wali, dan Kuburan Band bersama teman-teman di komplek rumah gue menggunakan alat musik yang ada, yaitu gitar dan tom-tom.


Memasuki SMA, keahlian gitar gue semakin bertambah. Sedikit demi sedikit, gue bisa memainkan lagu bernada cepat yang ketika dimainkan dengan gitar, bisa membuat jari tangan gue kusut. Ketika ada teman yang mengajak gue nge-band, gue pun dengan senang hati menerima ajakannya. Dengan begitu gue bisa merasakan bagaimana serunya bermain musik dalam satu band.

Meskipun saat itu gue sering nge-band, gue belum punya anggota band tetap. Gue nge-band bersama teman-teman cuma untuk seru-seruan, gak ada maksud untuk serius di bidang tersebut. Kalau gue sih sebenarnya ingin serius untuk nge-band, tapi karena belum ada teman yang mempunyai satu tujuan, gue pun sabar aja.


Saat SMA juga, untuk pertama kalinya gue bersama teman-teman sekelas (10-7) lolos dalam seleksi lomba band dan bisa tampil di acara pensi tahunan yang diadakan oleh sekolah kami sendiri, saat itu pensinya diadakan di bulan Juni 2010. Meskipun begitu, ada satu kejadian yang gak akan pernah gue lupakan sampai sekarang saat gue menjadi gitaris untuk kelas gue di acara pensi tersebut. Kejadiannya adalah ketika band kelas gue sedang tampil, secara tiba-tiba pas di pertengahan lagu, strap gitar yang gue pakai lepas di bagian kiri dan membuat gitar yang gue mainkan hampir jatuh. Seketika dengan ekspresi wajah panik, gue tetap memainkan gitar dan orang-orang yang menonton kami mulai tertawa. Walaupun ada salah satu panitia yang membenarkan strap gitar gue yang lepas, ternyata gak bertahan lama dan tetap aja masih lepas sehingga membuyarkan konsentrasi gue dalam mengiringi lagu. Dari kejadian tersebut gue mendapatkan pengalaman; periksalah kelengkapan dan kekencangan strap gitar sebelum tampil, jangan sampai ketika sedang seru-serunya perform, tiba-tiba strap gitar yang dipakai lepas.

Setelah gue lulus dan akhirnya masuk perguruan tinggi, ternyata gue banyak menemukan teman-teman yang ahli di bidang musik. Dari sana gue bisa belajar bermain gitar menjadi lebih baik.

Momen saat SMA yang pernah gue lalui saat perform menjadi gitaris, terulang lagi ketika gue kuliah. Pada bulan Mei 2013 lalu, gue dipercaya oleh teman-teman sekelas untuk mengisi posisi gitar dalam band kelas kami, @ELD_B12, untuk mengikuti lomba perayaan ulang tahun jurusan kami, Bahasa dan Sastra Inggris, pada malam puncak. Sehari sebelumnya kami berlatih sampai sore untuk persiapan dan akhirnya pada saat giliran kelas kami tampil, gue bersama lima teman lainnya berhasil membawakan lagu My Chemical Romance yang I don’t love you dan lagu ulang tahun aransemen kelas kami sendiri dengan begitu lancar dan heboh; membuat para penonton ikut ramai-ramai bernyanyi. Pokoknya, itu merupakan momen yang berkesan bagi gue, dan mungkin bagi teman-teman gue juga.

***

Suatu hari di bulan Juni 2014 kemarin, gue bersama empat teman sekelas lainnya yang sering ngumpul bareng di kampus; Aliza, Alfan, Deny, dan Padel, berencana ingin membentuk sebuah band. Awalnya emang dikira cuma bercanda, tapi lama-kelamaan kami menyadari kalau ternyata itu adalah ide yang fantastis.

Niat kami untuk membentuk sebuah band pun udah ada, tapi masih ada yang kurang nih. Apakah itu? Ya benar, nama band. Lumayan cukup lama kami memikirkan nama untuk band kami --yang waktu itu latihan aja baru dua kali-- dengan susah payah.

Saat itu kami berada di ruang kelas kosong untuk mendiskusikan nama band kami. Kami membentuk meja bundar seperti rapat penting di kantor-kantor.

“Oke, guys... kita di sini untuk mendiskusikan nama band kita yang udah terbentuk dua minggu yang lalu. Walaupun kita pas latihan masih lebih banyak bercandanya, tapi kita harus tetap semangat. Lihat Kangen Band, dari penjual cendol, mereka bisa jadi personel band terkenal karena si Andika punya poni yang cetar membahana. Apalagi pas gue lihat di infotainment, Andika diberitain punya pacar banyak banget... sampai lima! Bayangin, guys! Kita aja nyari satu cewek susah banget!” kata Alfan yang bukannya ngasih ide untuk nama band, malah terpesona dengan Andika ‘Kangen Band’.

Tak lama kemudian, usulan pertama diberikan oleh Deny,

“Oke, setelah gue pikir-pikir... gimana kalau nama band kita tuh "Hari Yang Menyenangkan"? Biar band kita bisa selalu senang,” Deny berkata dengan muka serius.

Gue, Aliza, Padel, dan Alfan seketika hening.

Sekitar 10 detik kemudian.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!” seketika tawa kami lepas begitu saja ketika kami menyadari kalau nama yang diberikan oleh Deny seperti nama grup anak TK yang masih suka nyanyi-nyanyi di dalam kelas sambil bertepuk tangan.

“Hah, sial... malah ketawa. Yaudah deh, gue keluar dari band aja kalau gitu,” tiba-tiba Deny kesal dengan tawa kami yang menggelegar.

“Hahaha.. bercanda, Den. Lagian nama yang lo kasih terlihat imut banget. Coba aja lo bayangin saat kita mau manggung nanti, penampilan udah terlihat kayak rocker, ehh pas dipanggil sama pembawa acara ‘Inilah band selanjutnya... Hari Yang Menyenangkan!’. Yang ada nanti kita malah joget SKJ. Coba kasih nama yang agak kerenan gitu, pake bahasa Inggris aja deh,” kata Aliza.

Cukup lama kami berpikir di kelas untuk menemukan nama band kami yang cocok, tak terasa ternyata empat semester berlalu begitu saja.

“Oke, gue tau!” seru Alfan memecah keheningan.

“Udah ketemu nih nama band kita? Namanya apa, Fan?” kata gue sambil membersihkan sarang laba-laba yang ada di sekitar rambut karena saking lamanya kami berpikir.

“Gimana kalau nama band kita tuh kayak My Chemical Romance atau Panic! At the Disco, jadi walaupun lebih dari satu kata, tapi enak buat disingkat. Jadi gue punya pendapat kalau nama band kita adalah Say Hello to Strangers!”

“Wah, boleh juga tuh... tapi harus ada maknanya,” Deny berkata dengan tatapan berbinar-binar.

“Jadi artinya gini...” Alfan mulai menaikki meja dan berdiri layaknya seorang proklamator yang ingin mendeklarasikan kemerdekaan. “Kata ‘say hello’ kan artinya menyapa dan ‘strangers’ yang berarti orang asing dalam bentuk jamak. Jadi, kalau digabungin bisa membentuk makna bahwa musik kita tuh bisa mudah didengar dan menyapa ke semua orang. Iya, jadi musik yang kita mainkan itu bisa diterima oleh orang-orang yang sama sekali gak mengenal kita. Intinya sih, band kita itu bisa diterima oleh semua orang yang masih asing dengan kehadiran kita. Gitu.”

“Keren tuh! Keren artinya! Oke, gue setuju,” gue mengiyakan penjelasan yang Alfan berikan.

Deny, Padel, dan Aliza juga setuju.

Sejak saat itu, akhirnya band kami bernama Say Hello to Strangers. Kami juga membuat akun twitter band kami dengan nama @SH2SOfficial, silakan yang mau ngeblokir. Lho?


Jadwal kami latihan band adalah setiap hari Jumat. Kenapa? Karena pada hari itu, studio musik langganan kami memberikan diskon 50%, jadi kalau di hari biasa tarifnya Rp. 30.000. Ya, namanya juga masih merintis karier, jadi kami memilih waktu yang lebih efisien untuk keadaan finansial kami yang rata-rata adalah anak kos ini. Hehehe.


Semoga juga band yang dibentuk oleh gue, Aliza, Alfan, Deny, dan Padel ini bisa bertahan lama ya... karena cuma lewat band ini kita bisa berkumpul, berkarya, dan seru-seruan bareng.

***

Oke, itulah pengalaman gue di bidang musik. Dari yang awalnya gue belum bisa bermain gitar, tapi karena ada kemauan yang tinggi untuk bisa, akhirnya gue pun bisa. Ya, walaupun sampai saat ini gue juga gak merasa jago dan terus tetap belajar menguasai kunci-kunci gitar yang masih belum gue tau, tapi setidaknya latihan gitar yang sering gue lakukan berhasil. Hehe. Sebenarnya jangan hanya dalam bermain gitar ya, tapi dalam keahlian-keahlian lainnya juga.

Inti dari postingan gue kali ini adalah ketika kita ingin menguasai suatu keahlian (misalnya menulis, bernyanyi, menggambar, bermain gitar, dan lain-lain), sebaiknya kita gak gampang menyerah untuk melakukannya. Lakukanlah secara rutin untuk menjadi terbiasa dalam keahlian tersebut. Awalnya emang terasa sulit, tapi kalau dilakukan secara terus-menerus, pasti akan terasa mudah. Yang penting ikuti aja prosesnya. Iya, kita bisa karena kita berproses. Nikmatilah proses tersebut.

You Might Also Like

4 comments

  1. keren kaa.. gw baru latian gitar, tp krna suarany dh berubah n gw gk bisa nytemnya n gk da yg mau nytemin jd gw brenti -_-.. sedih bgt :-(

    ReplyDelete
  2. Aku kira nama band nya "Bercanda Band" karena kebanyakan bercanda :p akakkak keren, hampir sama kaya film Korea "Hallo Strangers". Semoga sukses ya Ka Wicak Cs buat Band nya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya kalau bercanda, emang setiap kakak dan temen2 band ngumpul pasti bercanda, Yun. Tapi yang penting bisa tau waktu untuk serius dan bercanda aja. Hehe

      Aamiin..
      Sukses juga untuk masa depan kamu, Yun! :))

      Delete