Ketika...

  • April 25, 2014
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments


Udah lumayan lama gue gak meng-update tulisan di blog. Tugas kuliah yang akhir-akhir ini bermunculan sering menyita waktu gue untuk membuka laptop dan mengetik sesuatu di blog ini. Tapi setidaknya, gue masih tetap menulis di buku catatan pribadi untuk menyalurkan ide-ide yang ada di dalam pikiran.

Hemm... kali ini gue mau menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu nih. Kejadian yang membuat gue dan teman-teman sekelas merasa serba salah.

Jadi, awalnya gue dan teman-teman sekelas gak tahu kalau ada tugas dari mata kuliah Z (nama mata kuliah disamarkan demi terjaganya perdamaian dunia) yang mana sebenarnya tugas tersebut sudah diberi tahu empat minggu yang lalu. Dosen mata kuliah Z merupakan seorang wanita yang sibuk, jadi beliau jarang hadir untuk mengajar di kelas kami karena banyak urusan penting lain yang harus dikerjakan. Mungkin karena kami sudah terlanjur santai karena merasa bu dosen akan jarang hadir, kami pun jadi mengabaikan tugas yang diberikan beliau.

Kejadian awal terjadi di hari Selasa minggu lalu ketika dosen meminta kelompok pertama untuk mempresentasikan materi yang sudah mereka baca ke depan kelas. Kelompok pertama langsung bingung karena mereka baru sadar kalau ada tugas di mata kuliah Z. Gue dan teman-teman lainnya juga berpikir kalau pada saat itu gak ada tugas sama sekali yang akan dibahas. Kami berpikir pada pertemuan saat itu adalah melanjutkan materi dari buku paket dan membahasnya secara bersama-sama, tapi ternyata tidak. Akhirnya, teman-teman gue di kelompok pertama maju menghadap dan mengatakan kepada bu dosen bahwa mereka sama sekali belum mengerjakan tugas presentasinya. Seketika, bu dosen langsung memasang ekspresi muka kecewa kepada kami sekelas.

Saat itu, gue merasa bahwa bu dosen sudah terlanjur kecewa dan agak malas untuk melanjutkan perkuliahan. Namun, karena beliau masih punya kesabaran, beliau memberikan kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan meminta presentasi selanjutnya dilaksanakan sesuai dengan perintah yang diberikan di pertemuan mendatang. Setelah menjelaskan sedikit materi, beliau langsung menyudahi perkuliahan.

Gue yang saat itu merasa bertanggung jawab karena menjabat sebagai ketua kelas, hanya bisa memberikan masukan supaya prentasi selanjutnya dilakukan sesuai dengan perintah.

***

Pertemuan mata kuliah Z berikutnya pun tiba, yaitu di hari Selasa minggu ini. Kelompok kedua yang mendapat giliran untuk presentasi sudah siap untuk menjelaskan materi di depan kelas. Gue merasa kalau di pertemuan saat itu semuanya akan berjalan baik-baik aja, gak ada lagi kekecewaan dari bu dosen. Akan tetapi ketika bu dosen bertanya, "Makalah presentasi kelompoknya mana?" kepada beberapa teman gue di kelompok kedua, kebingungan kembali menghampiri mereka. Sebenarnya yang bingung bukan dari teman-teman kelompok kedua aja, tapi juga gue dan teman-teman yang lainnya. Ya bisa ditebak, bu dosen langsung marah ketika kelompok kedua mengatakan kalau mereka gak membuat makalah yang diminta. FYI, gue dan teman-teman benar-benar gak tahu kalau presentasi yang ditugaskan juga harus membuat makalah, kami mengira kalau presentasinya hanya berdiskusi dari buku paket yang diberikan. Seketika bu dosen berdiri dari tempat duduknya, mengambil tasnya dari atas meja, kemudian meninggalkan ruang kelas kami dengan ekspresi muka negatif (baca: cemberut). Nampaknya bu dosen sudah mencapai puncak kemarahan. Kami hanya bisa diam untuk sesaat.

Entahlah, padahal gue merasa bahwa semua teman gue di kelas selalu memberikan yang terbaik dalam setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Terbukti, sudah empat semester ini kami gak pernah dan berusaha untuk selalu menghindari kejadian negatif terhadap dosen, setidaknya sampai kejadian yang gue jelaskan di atas terjadi. Ya, semua terjadi begitu cepat tanpa diduga-duga.

Di pertemuan mata kuliah Z berikutnya adalah kelompok gue yang akan maju. Gue berharap gak ada lagi kesalahpahaman dan semuanya akan berjalan lancar sesuai yang diharapkan karena gue merasa waswas kalau kelas kami dianggap melakukan kesalahan terus-menerus, nilai pun akan berkurang terus-menerus.

You Might Also Like

0 comments