Ketika Rasa Bosan Menghampiri ke dalam Sebuah Hubungan

  • February 27, 2014
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 1 Comments



Hubungan spesial yang dijalani oleh seseorang yang memiliki pasangan, secara cepat atau lambat akan menemui suatu kondisi di mana keduanya merasa jenuh. Ya, jenuh atau bosan. Biasanya yang merasa cepat bosan adalah dari pihak lelaki. Tapi, gak menutup kemungkinan bahwa pihak perempuan pun juga bisa merasakan hal yang sama. Hanya saja menurut gue sebagai lelaki, lelaki itu memiliki tingkat kebosanan yang datangnya lebih cepat daripada perempuan. Melakukan hal yang gitu-gitu aja dan berulang-ulang ketika berpacaran adalah salah satu penyebabnya. Bisa jadi, dalam waktu empat bulan, kedua belah pihak akan merasakan hal yang sering mereka lakukan itu menjadi sangat membosankan. Jika masalahnya sudah seperti itu, entah si perempuan ataupun lelaki, akan malas untuk memberi kabar, malas untuk bertemu, malas untuk memberi rasa perhatian, dan lama-kelamaan rasa untuk lebih-baik-gue-menjauh-dulu akan muncul.

Sebagai orang yang pernah merasakan dunia percintaan anak remaja, gue mengerti bagaimana rasanya ketika kondisi seperti itu datang. Kondisi yang secara gak sadar telah membuat gue menjadi merasa bosan dengan si pacar dan merasa jenuh dengan hubungan yang sedang dijalani.

Hal yang ada di dalam otak gue setiap hari adalah memikirkan bagaimana caranya untuk mengakhiri hubungan dengan si pacar tanpa harus membuatnya kecewa. Meskipun begitu, gue juga pernah merasakan berada di posisi sebaliknya, yaitu di posisi ketika gue sedang sangat sayang kepada si pacar, tapi tiba-tiba dia malah menjauh. Gue merasa semua rasa perhatian yang gue berikan, jadi terasa datar dan gak berarti apa-apa di sudut pandangnya. Itu rasanya nyesek banget, gan. Melebihi nyeseknya dari lari keliling pulau Jawa.

Nah, dari pernyataan sekilas gue di atas, kali ini gue mau sharing tentang pengalaman gue ketika merasa bosan kepada si pacar ataupun sebaliknya. Oke, langsung aja, ya.

***

Zaman SMP dulu, gue pernah punya pacar bernama Pevita Pirs. Pevita ini merupakan perempuan yang cantik, baik, dan pengertian. Pengertian di sini, maksudnya adalah dia bisa menerima apa adanya gue dan sifat aneh yang suka muncul dari dalam diri gue. Ya, gue merasa bahwa cinta itu bukan melulu tentang menjadi pasangan idaman, tapi cinta adalah ketika kita bisa menerima segala keanehan dan keunikan dari pasangan masing-masing.

Awal gue bisa kenal Pevita adalah dari teman gue. Iya, teman gue itu adalah teman satu kelasnya, tapi kami beda sekolah. Setelah gue udah kenal dekat, gue jadi berani minta nomor ponselnya. Setelah itu, gue mulai berusaha nge-PDKT-in dia lewat SMS dan tiga minggu kemudian, kami pun resmi jadian. Yeah!

Gue bisa suka ke Pevita karena gue merasa bahwa kami bisa menerima keanehan masing-masing. Beberapa hal aneh yang pernah kami lakukan bersama adalah mulai dari adu balap keong yang keongnya dibeli di depan SD, adu panco, manjat pohon jambu kemudian mengobrol di sana tentang masa depan kami berdua setelah menikah (padahal lulus SMP aja belum), sampai nelpon operator buat diisengin. Pernah saat itu, ketika kami sedang makan bakso berdua di pinggir jalan, gue iseng pura-pura kesurupan di depannya. Dia panik, si abang bakso yang melihat gue juga panik. Niat awalnya, gue cuma mau ngisengin dia yang sedang serius makan. Mungkin karena akting gue yang terlalu menjiwai, gue jadi terlihat seperti kesurupan beneran. Tanpa basa-basi, ternyata Pevita langsung menyiram gue dengan kuah bakso di mangkuknya. Byuuur, kuah bakso pun membasahi muka ganteng gue dengan indahnya. Pas gue bilang bahwa tadi cuma bercanda, gue kira dia bakal marah. Eh, tau-taunya dia malah ketawa ngakak dan minta nambah tiga porsi bakso lagi. Lapar banget kayaknya.

Tujuh bulan telah gue lewati bersama Pevita. Tapi entah mengapa, tiba-tiba rasa bosan yang ada di dalam diri gue muncul. Setiap kali Pevita mengirimkan gue SMS, gue jadi merasa malas untuk membalasnya; setiap dia menelpon, hasrat untuk menjawabnya pun gak ada; lalu pas dia ngajak gue untuk jalan berdua, alasan untuk menolak selalu ada.

Sekilas info, Pevita merupakan perempuan yang peka. Jadi, mungkin karena kepekaannya itu dia bisa melihat perubahan yang terjadi pada diri gue terhadapnya.

Beberapa hari kemudian, gue mulai merasa gak tega karena membuat dia jadi sering menunggu kabar dari gue. Gue jadi merasa jahat banget ke dia. Tapi, karena perasaan yang berbicara, gue jadi gak bisa berbuat apa-apa. Hati gue merasa bahwa perasaan nyaman yang dulu dirasakan bersama Pevita udah gak ada lagi. Gue pun bimbang. Di satu sisi gue udah gak merasa nyaman dengan Pevita, tapi di sisi yang lain gue gak mau dia pergi dari kehidupan gue. Dipikir-pikir bukannya semakin membaik, hubungan kami malah semakin gak jelas.

Setelah gue merasa hubungan ini harus menemui titik terang, akhirnya gue memberanikan diri untuk mengatakan ke Pevita bahwa hubungan kami harus berakhir. Rasanya memang berat. Tapi, gue gak mau membohongi perasaan sendiri, gue harus jujur. Gue gak mau membuatnya berharap lagi ke gue, seseorang yang udah gak mengharapkannya lagi.

Ya ampun, gue merasa sok ganteng banget saat itu karena udah menyia-nyiakan kasih sayang dari perempuan.

Kembali ke cerita, akhirnya Pevita bisa menerima keputusan itu, walaupun gue tau bahwa dia pasti merasa sangat kecewa.

***

Setelah putus dengan Pevita, gue merasa pikiran gue jadi lega. Gak ada beban. Gue merasa jadi tenang karena udah gak ada lagi bayangannya yang hinggap di otak. Gue juga jadi merasa bebas; gak ada lagi SMS, telpon, atau perhatian yang berlebihan darinya.

Sudah tiga bulan gue lalui tanpa dirinya, tanpa terasa bahwa kesenangan yang gue rasakan saat itu hanya bertahan sebentar. Iya, rasa senang dalam kesendirian. Gue merasa ada yang ganjil dalam diri gue setelah hidup tanpa adanya kabar dari Pevita. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidup.

Tiba-tiba, gue jadi kepikiran Pevita. Otak gue jadi banyak dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya. Gimana ya kabar dia? Sekarang dia lagi di mana? Dengan siapakah dia saat ini? Semalam berbuat apa? Apakah dia masih memikirkan gue? Pevita pun jadi trending-topic di pikiran gue. Sebenarnya saat itu ada niat untuk menghubungi dia lagi, tapi gue takut kalau dia bakal ngecuekin gue. Iya, gue merasa udah jahat banget ke dia. Dia pasti benci banget ke gue.

Semakin gue mencoba untuk berhenti memikirkan Pevita, dia malah semakin muncul di pikiran. Meskipun begitu, gue tetap memberanikan diri untuk menghubunginya. Ya, seenggaknya gue bisa tau kabar dia sekarang. Beruntung saat itu di dalam buku tulis, gue masih menyimpan nomornya yang sempat gue hapus di kontak ponsel. Dengan perasaan gugup, gue mencoba untuk menelpon Pevita.

“Ha-Halo...” (Jantung gue berdetak kencang, padahal belum dijawab)

“Iya, halo. Boleh tau ini dari siapa? (Deg! Tubuh gue jadi lemas seketika. Ternyata, Pevita udah menghapus nomor gue di kontak ponselnya)

“I-Ini a-a-aku Agung.”

“Oh, Agung... Maaf, Agung yang mana, ya?” (Gue semakin lemas, tangan gue gemetar. Ternyata, Pevita memang udah melupakan gue)

“Pevita, kenapa kamu cepat banget ngelupain aku?” (Jawab gue langsung ke inti karena merasa frustasi dengan responnya)

“Hah, Siapa?! Pevita?! Sebenarnya lo lagi ngomongin apa, sih?!” (Sial, ternyata nomornya salah sambung)

Dengan cepat gue langsung menutup obrolan salah sambung itu.

Gue segera melihat nomor yang tadi gue telpon, ternyata gue memang salah menekan nomor. Mungkin saking gugupnya. Akhirnya gue langsung menelpon Pevita yang asli, bukan Pevita abal-abal barusan.

Gue mulai menelpon Pevita. Beberapa detik kemudian, dia menjawab telpon gue. Gue senang banget karena dia masih ingat gue. Dia juga senang karena bisa ngobrol lagi dengan gue. Wah, ini benar-benar di luar dugaan. Dugaan bahwa Pevita bakal kecewa dan benci banget ke gue. Setelah kami ngobrol cukup lama, dia ngejelasin bahwa selama ini dia gak menghubungi gue karena dia terlalu gengsi untuk menelpon duluan. Yah, namanya juga perempuan.

Tanpa disangka, gue bisa kembali dekat dengan Pevita dan meminta maaf atas segala perbuatan gue di masa lalu. Perasaan yang udah terkubur lama, bisa kami rasakan kembali. Kami juga melakukan hal-hal aneh seperti dulu. Iya, gue sayang kepadanya (lagi). Tapi rasa sayang yang gue rasakan ke dia lebih banyak dari saat kami bertemu untuk yang pertama kali. Tanpa basa-basi, gue langsung meminta Pevita supaya memberikan kesempatan kedua untuk gue yang juga bermaksud mengajaknya balikan. Menata hubungan lama dengan nuansa baru. Dia pun tersenyum, kemudian menerima ajakan gue itu.

Rasa sayang gue ke Pevita semakin hari semakin bertambah. Sehari gak bertemu, rasanya seperti ada yang kurang di hidup gue. Terdengar berlebihan memang, tapi itulah cinta. Membuat hal-hal yang terlihat aneh untuk dilakukan, menjadi terlihat normal untuk dilakukan. Hampir setiap jam gue habiskan untuk memikirkan dirinya. Gue merasa bahwa dia jadi terlihat begitu spesial. Tak ada yang spesial selain dia, termasuk nasi goreng.

Perasaan gue ke dia sama sekali gak berkurang setelah tujuh bulan kami balikan. Saat itu kami kelas 3 SMP dan hampir memasuki bulan Ujian Nasional. Meskipun begitu, kami tetap bisa membagi waktu untuk jalan berdua. Malah, gue sempat berharap kalau dia merupakan perempuan terakhir yang bisa mendampingi gue sampai akhir hayat. FTV banget ya? Biarin, namanya juga cinta... monyet.

***

Keanehan tiba-tiba terlihat dari sikap Pevita suatu hari. Ketika gue SMS menanyakan dia sedang apa, jawabannya jadi singkat. Padahal biasanya, dia bisa membalas sampai lebih dari lima paragraf. Kemudian pas gue ngajak dia jalan, biasanya dia yang menghidupkan obrolan, tapi tiba-tiba dia malah jadi pendiam. Sejenak gue berpikir, jangan-jangan dia merasakan hal yang sama seperti saat gue mulai merasa bosan ke dia dulu.

Setiap hari gue memikirkan Pevita. Tapi di otak gue bertanya-tanya apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang gue rasakan. Gak enak banget rasanya. Karena gue gak mau hubungan ini mulai semakin gak jelas, gue memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu dan bertanya ke Pevita, memintanya untuk menjawab secara jujur tentang kelanjutan hubungan kami. Dengan nada agak terbata-bata dan pelan, akhirnya dia menjawab jujur bahwa dia memang udah merasa bosan dengan hubungan kami yang sekarang. Dia juga udah merasa gak nyaman untuk mempertahankannya, dan pada akhirnya... dia pun memilih untuk mengakhiri hubungan kami.

Pada hari itu, tepat tanggal 14 Februari 2009 (yang kata kebanyakan orang adalah hari kasih sayang), hati gue merasakan sepatah-patahnya hati. Saat dia mengatakan “putus”, rasanya gue mau tiduran di rel. Setelah itu, dia langsung melanjutkan:

“Makasih atas segala hal menyenangkan yang udah kamu berikan, Gung. Aku merasa bahwa hubungan kita harus sampai di sini. Maaf seandainya keputusanku udah membuat kamu kecewa.”

Dia langsung melepas genggamannya dari tangan gue, tapi tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.

“Oh iya, ini ada sekotak cokelat untuk kamu. Semoga kamu suka.”

Setelah memberikan gue sekotak cokelat bergambar hati, dia langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu segera pergi meninggalkan gue yang masih mencoba untuk menerima kenyataan. Cokelat yang diberikan darinya pun langsung gue makan. Ternyata, patah hati membuat gue jadi lapar.

Sesampainya di rumah, gue langsung tiduran di kasur. Melamun membayangkan saat gue dan Pevita masih bersama serta masih gak percaya bahwa dia bakal pergi dari kehidupan gue (lagi). Gue juga gak bisa berbuat apa-apa ketika dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Mungkin itu memang udah keputusan final untuknya. Mungkin juga itu adalah balasan untuk gue yang jelas-jelas dulu pernah melakukan hal yang sama kepada dirinya, meskipun dia gak merencanakan untuk membalasnya.

Di saat gue sedang berjuang melanjutkan hidup untuk melupakan Pevita, gue mendapatkan kabar dari teman (yang saat itu mengenalkan gue kepadanya), ternyata Pevita udah mempunyai pacar baru. Kabar itu cukup membuat gue mengalami kegalauan level siaga satu.

Walaupun gue cukup susah move-on selama beberapa minggu, perlahan gue bisa melupakan dia. Melupakan segala kenangan yang telah kami lewati berdua.

Dari kejadian itu, gue langsung sadar akan satu hal:

Dia yang meninggalkan, suatu saat akan merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan. Bahkan, rasanya jauh lebih sakit.

You Might Also Like

1 comments

  1. Jadi kalo bosen harus gimana ya? Duh bingung ��

    ReplyDelete