Tentang Hujan

  • January 14, 2014
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments



Hujan. Gue sangat suka dengan hujan. Entah mengapa di saat musim hujan tiba, gue sering merasakan hal-hal yang berbeda. Hal yang disebut dengan kenangan. Kenangan-kenangan yang telah lama bersembunyi di balik ingatan, tiba-tiba datang lagi.

Hujan. Membuat gue mengerti akan dua hal: disukai dan dibenci. Disukai, karena hujan datang di waktu yang tepat, di kala kekeringan melanda suatu tempat misalnya. Dibenci, karena hujan datang di waktu yang tidak tepat, di kala seseorang sedang mengharapkan cuaca cerah karena ingin pergi berlibur misalnya. Ya, setiap manusia memang mempunyai cara bersyukurnya masing-masing.

Hujan. Gue suka mendengar rintik-rintik air yang berasal darinya. Rintik-rintik yang mempunyai irama tersendiri. Irama yang membuat hati gue terasa tenang dan damai. Setiap gue susah tidur ketika malam tiba, gue akan merasa bahagia ketika bisa mendengar suara rintik hujan turun. Ya, mungkin hanya gue sendiri yang bisa merasakannya, entah yang lain.

Hujan. Masyarakat yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, sering dilanda kecemasan ketika musim hujan tiba. Cemas karena banjir kemungkinan akan terjadi. Padahal, kecemasan itu sebenarnya berasal dari kebiasaan kita sendiri. Salah satunya membuang sampah sembarangan. Sampah bertebaran di sungai-sungai, membuat arus air menjadi tak lancar. Semoga hujan tidak dijadikan kambing hitam atas terjadinya banjir yang sering melanda kota-kota besar di Indonesia. Hujan tidak salah, kita yang salah. Jangan membenci hujan ya.

Hujan. Setiap tetes air yang berasal darinya merupakan berkah tersendiri yang diberikan oleh Tuhan untuk seluruh makhluk hidup di muka bumi. Menghidupkan tanah-tanah yang tandus dan masih banyak lagi hal-hal positif karena adanya hujan.

Hujan. Ketika gue masih SD dan SMP, gue sering bermain hujan-hujanan bersama teman-teman. Kami begitu gembira. Berlarian ke sana ke mari, tak peduli dengan dingin yang dirasa. Apalagi ketika hujan tiba di saat gue dan teman-teman sedang bermain sepakbola, permainan pun menjadi semakin seru. Rumput lapangan menjadi licin, banyak yang terpeleset. Tapi entah mengapa suasana gembira semakin muncul di antara kami. Ah, hujan memang menyenangkan ya.

Hujan. Gue jadi teringat saat SMA. Saat musim hujan tiba seperti sekarang ini. Rumah yang letaknya jauh dari sekolah, memaksa gue dan Bapak berangkat naik motor memakai jas hujan. Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah gue bisa melewati jalanan yang dipenuhi dengan air. Tak jarang membuat sepatu dan kaos kaki yang gue pakai menjadi basah. Iya, gue lupa mengapa di saat berada di perjalanan, gue masih memakai sepatu, bukan sandal. Padahal kan sepatu bisa gue letakkan di dalam tas, ketika sudah sampai sekolah, baru dipakai.

Hujan. Masih saat SMA. Gue jadi teringat dengan mantan (pacar) ketika kami sedang duduk berdua. Saat itu gue kelas XI dan dia kelas X. Sebenarnya banyak teman dari mantan (pacar) gue itu yang juga duduk di antara kami, menunggu hujan reda. Tapi entah mengapa suasana hujan yang begitu tenang membuat gue merasa hanya berdua; merasa hanya ada gue dan dia, tak ada yang lain. Di tengah hujan yang turun, kami membicarakan tentang aktivitas kami di sekolah sambil menatap wajah satu sama lain. Begitu damai. Begitu hangat. Tuh kan, hujan sudah membuat kenangan lama teringat kembali.

Hujan. Ibu selalu menasihati ketika gue kehujanan, gue harus segera mandi dan berkeramas. Kalau tidak, katanya, gue akan terkena flu. Tapi menurut gue, flu itu bukan diakibatkan karena terkena air hujan, melainkan karena daya tahan tubuh gue aja yang kurang kuat. Air hujan begitu bersih dan penuh dengan rahmat, gak mungkin bisa menyebabkan sakit.

Hujan. Pelangi selalu muncul setelah hujan berhenti. Iya, pelangi yang mempunyai cahaya warna-warni itu. Indah sekali, bukan? Menurut gue, hujan juga merupakan pembawa keindahan. Hujan dan pelangi, tak dapat dipisahkan.



Hujan. Suasana yang kau berikan memang begitu menyejukkan hati dan pikiran. Tuhan, terimakasih telah menciptakan hujan. Sebagai makhluk yang tidak bisa hidup tanpa hujan (baca: air), hamba begitu bersyukur atas ciptaan-Mu.

You Might Also Like

0 comments