Galau itu Gaul?

  • December 18, 2013
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 2 Comments



Hari gini siapa sih yang gak kenal galau?

Ya, galau, adalah kata yang biasa digunakan anak muda zaman sekarang untuk mengekspresikan perasaannya yang sedang gak menentu, bisa dibilang bingung untuk memutuskan pilihan. Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti pernah merasakan galau, entah galau karena orang yang disayang, galau karena tugas sekolah/kuliah, galau karena gak ada satu orang pun yang nge-Like status FB-nya, dan masih banyak lagi galau-galau yang lain. Terus ada juga orang-orang yang saking bangga dengan rasa galaunya, mereka sampai bikin slogan:

Galau itu gaul.

Sampai saat ini gue pun belum ngerti maksud slogan di atas. Sejenak gue berpikir, apa maksudnya tuh kalau mau jadi anak gaul kita harus sering nyilet-nyilet tangan sambil duduk di bawah shower? Apa karena demi ingin mendapatkan status anak gaul masa kini kita harus minum obat nyamuk cair sambil lari-larian?

Jadi kalau anak galau ketemu anak galau lainnya, mereka bakal bilang,

“Yoiii deh, mulut lo banyak banget keluar busa overdosis? Ehh, tangan lo juga banyak bekas sayatan silet? Seriuuus, lo ghauwl beudzz, brooo..”

Serius, random banget.

Sebenarnya sih bukan cuma manusia biasa aja yang bisa galau, superhero pun bisa. nih contohnya, Spiderman yang punya kekuatan laba-laba pun punya kebiasaan galaunya tersendiri. Kalau dia udah gak ada kerjaan menolong orang-orang yang dalam bahaya, dia suka ngegalau di pinggir jalan. Merenung di bawah tiang listrik. Pantang pulang sebelum mendapatkan banyak uang receh.

Sebagai manusia normal, terkadang gue juga suka galau. Tapi gue bersyukur karena setidaknya gue galau gak se-ekstrem orang-orang yang udah gue tulis di atas. Gue masih bisa bersikap biasa aja. Ketika gue lagi galau, biasanya gue melampiaskannya dengan tidur. Atau kalau gak bisa tidur, gue nelponin operator seluler. Ngebahas tentang masalah global warming atau sejarah terbentuknya negara Zimbabwe.

Setiap orang mempunyai cara galaunya masing-masing. Tapi yang selama ini gue perhatiin, beberapa orang senang mengungkapkan kegalauannya lewat social-media. Ya, terutama di social-media seperti twitter dan facebook. Lebih sering yang gue lihat sih di facebook soalnya setiap kali gue ngebuka akun facebook gue dan ngelihat beranda, pasti ada beberapa orang yang nge-update status galau. Yang lebih parahnya lagi, waktu itu gue pernah ngelihat status galau yang isinya ancaman untuk bunuh diri. Anehnya, dia gak mati-mati dan masih selalu update status. Penonton pun kecewa.

Selain status galau yang isinya ancaman bunuh diri, beberapa orang juga suka nulis status galau menggunakan bahasa Inggris yang mungkin dia sendiri gak tau apa artinya. Biasanya sih ngutip dari lagu-lagu terkenal. Gue juga gak tau kenapa lirik lagu bahasa Inggris tuh laku banget dijadikan materi untuk bahan galau. Lama kelamaan hal ini bisa menjadikan sebuah paradigma kalau bahasa asing tuh selalu lebih keren dibandingkan dengan bahasa negara sendiri, Bahasa Indonesia. (Ehh, kenapa tiba-tiba bahasa gue jadi tinggi gini?! -__-)

Gue merasa kalau westernisasi emang udah masuk secara luas ke dalam generasi muda Indonesia. Tapi seharusnya pemuda-pemuda Indonesia sadar kalau bahasa dan seluruh budaya yang ada di dalam negeri jauh lebih keren daripada budaya-budaya yang berasal dari luar negeri. Gue sendiri, sekarang udah mulai mencoba untuk ngegalau gak selalu mengutip lirik lagu yang berbahasa Inggris, melainkan mengutip dari lagu daerah atau lagu nasional. Pernah waktu itu gue galau gara-gara cewek yang gue suka ternyata jadian sama cowok lain, gue pun langsung update tweet dengan mengutip salah satu lagu daerah di Indonesia, “Kampuang nan jauh di mato~ Gunuang sansai bakuliliang~ Den takana jo kawan, kawan lamo~ Sangkek den basuliang suliang~ :'( ”

Ya, jika dilihat dari segi bahasa, Bahasa Inggris emang terlihat lebih keren. Contohnya aja kalau ada orang yang mau nge-tweet “Saya sedang mengupil dengan jempol kaki”, terus di-translate ke Bahasa Inggris, hasilnya jadi terlihat keren. Sama halnya dengan galau, ketika mengekspresikan rasa galau menggunakan Bahasa Inggris, pasti kegalauannya jadi terlihat lebih keren. Tapi ada juga lho beberapa orang yang sok-sokan ngegalau menggunakan Bahasa Inggris dengan terjemahin ke Google Translate. Contohnya, “Kali ini aku maafin kamu. Tapi kalau lain kali kamu seperti ini lagi, aku gak akan maafin kamu!”, ehh malah jadi gini, “This river I forgive you. But in other river you like this again, I don’t forgive you!”.

***

Sebenarnya post kali ini juga gue sampaikan bukan hanya untuk kalian, tapi juga sebagai teguran untuk gue. Setidaknya kalau mau mengekspresikan kegalauan tuh harus diteliti dulu, apakah galau yang diekspresikan ini udah benar dan baik? Jadilah penggalau yang cerdas, gak usah sok-sokan. Kalau misalnya gak bisa Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia aja udah cukup kok.. atau kalau ada yang bisa Bahasa Arab, boleh juga tuh dicoba. Siapa tau rasa galau yang lo ekspresikan bisa lebih syariah dan mendapatkan berkah..

You Might Also Like

2 comments

  1. sumpah ka.. gw lg galau.. dan setelah gw baca post lu yg ini.. galau gw jd bertambah krna gk bisa tidur nunggu post lu yg baru lainnya..... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa galau, yang penting ngegalauin hal yang bermanfaat. Hehe.
      Makasih atas kunjungannya. :))

      Delete