Secangkir Cappucino dan Semua Kenangan di Dalamnya

  • October 07, 2013
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments



Aku sedang berada di sebuah kedai kopi malam ini, tak peduli ternyata aku hampir tiga jam berada di kedai tersebut. Pelayan kedai yang sudah terlihat tua sedang duduk di dekat meja kasir sesekali memalingkan tatapannya ke arahku dari koran terbitan pagi ini yang sedang dia baca. Mungkin dia sedang berpikir kalau aku adalah orang yang kesepian, di cuaca yang sedingin ini, ada seorang pria duduk sendiri dan hanya ditemani oleh secangkir cappucino di depannya. Tenang saja, pak tua, kataku dalam hati. Mungkin aku akan menghabiskan waktu lebih lama lagi disini dan memesan cappucino untuk yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Aku sungguh tak peduli.

Sluuurp... aku menikmatinya seteguk demi seteguk. Sambil meminum kopi yang sedang aku nikmati, mataku hanya menatap kosong ke suatu titik di pojok ruang kedai itu. Seketika kenangan-kenangan yang ada di ingatanku kembali muncul secara jelas, seperti sebuah film yang menampilkan adegan flashback dari sang aktor utama secara scene demi scene. Membuat hati dan pikiran ini menjadi campur aduk tak menentu, antara bahagia, sedih, dan menyesal. Memutar kembali ke semua rutinitas minum kopi ini dari mana asalnya, kalau bukan dari dirinya.


(4 tahun yang lalu di kedai kopi yang sama)

Wajahnya yang manis dan terlihat bersih, memakai hijab berwarna biru bermotif bunga, begitu cantik, dia tersenyum menatapku secara penasaran, menunggu pendapatku tentang cappucino yang baru semenit lalu aku cicipi.

“Gimana rasanya?”, tanyanya penasaran, raut wajahnya menunjukkan kalau dia begitu serius dan mulai mengerutkan dahi seakan ada yang salah dengan cappucino yang aku minum.

“Umm... Sebentar deh!”, aku menjawab sambil memutar bola mata seakan sedang berpikir serius untuk mendeskripsikan sesuatu yang sedang mengalir ke dalam tenggorokanku, lalu ku coba untuk meneguknya sekali lagi, berlagak seperti Pak Bondan Winarno di acara kuliner yang sering muncul di Tv.

“Umm... Gimana ya? Rasanya... enaaak!!!”, ucapku heboh.

Dia tersenyum kecil dan seketika mencubit pipi kananku, protes melihat ekspresi wajahku yang menipu. Aku pun segera mengusap pipiku yang dicubitnya.

Ya, dialah Adira Nova Azzahra. Zahra dan aku bertemu untuk yang pertama kali di depan kelas lantai empat Fakultas Adab dan Humaniora. Dia yang mengembalikan binderku yang lupa aku masukkan ke dalam tas dan tertinggal di atas meja. Saat itu dia ada mata kuliah dan kebetulan kelasnya sama dengan kelas yang baru saja aku tempati. Dari kejadian itulah akhirnya kami bisa berkenalan. Sebenarnya dia adalah juniorku di kampus, usianya hanya terpaut setahun lebih muda dari umurku dan kami berdua berada di jurusan yang sama, Bahasa dan Sastra Inggris.

Karena Zahra tahu kalau aku adalah seniornya di jurusan yang sama, akhirnya dia jadi sering bertanya tentang mata kuliah kepadaku. Aku pun dengan senang hati berbagi pengalamanku selama setahun ini menjadi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Sebagai imbalannya, dia sering mentraktirku secangkir cappucino. Berawal dari sebuah binder yang tertinggal di kelas dan secangkir cappucino di kafe kampus-lah hubungan pertemanan kami semakin akrab.

Zahra dan aku adalah sesosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang cocok. Dia adalah wanita yang punya hobi membuat kue, khususnya cake dan makanan manis lainnya, sedangkan aku adalah pria yang mempunyai hobi suka mencicipi makanan. Yah, namanya juga anak kos, kalau ada makanan enak yang dikasih secara gratis, pasti nggak akan nolak. Hehehe. Oh iya, hobi kami terlihat cocok, kan?

Nona Cappucino, adalah panggilan spesialku untuknya. Wanita bertubuh proporsional dan memiliki tinggi sedikit lebih pendek dari ku ini bisa dibilang sangat menyukai kopi, tapi bukan kopi hitam pekat yang sering diminum oleh kakek-kakek berusia lanjut ya, melainkan kopi yang beraroma cappucino. Maklum saja sih, kedua orangtuanya yang tinggal di Yogyakarta membuka kedai kopi yang sudah cukup terkenal di sana. Oh iya, aku belum menceritakan dengan siapa Zahra tinggal di sini (Jakarta), dia tinggal dengan saudaranya di daerah Pondok Indah. Oke kembali ke topik, mungkin karena kedua orangtuanya itulah, dia jadi suka minum cappucino. Karena hobi dan mimpinya ingin meneruskan usaha kedua orangtuanya, dia jadi suka bereksperimen membuat cappucino dengan keahliannya sendiri.

Zahra termasuk tipe wanita yang kalem dan tidak banyak bicara, bisa dibilang dia hanya bicara kalau ada yang penting saja untuk dibicarakan. Mungkin orang lain yang belum mengenalnya secara akrab, bisa menyimpulkan kalau dia adalah wanita yang jutek. Tapi tidak denganku yang sudah mengenalnya begitu akrab, bagiku dia adalah wanita yang humoris, enak diajak bicara, serta penuh dengan kejutan. Ya, menurutku jangan mudah untuk men-judge seseorang yang baru saja kita kenal langsung ke sisi negatifnya karena kita akan tahu sosok seseorang itu seperti apa ketika kita sudah mengenalnya lebih dekat.

***

Siang itu, Zahra tiba-tiba saja mengajakku yang baru saja selesai dengan kegiatan kuliah ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi. Ternyata dia membawaku ke kedai kopi yang katanya sudah ada sejak zaman pemerintahan Presiden Soekarno dulu. Setelah aku melihat ke seluruh ruangannya, ternyata memang benar. Bangunan kedai kopi itu memang sudah terlihat kuno dan interior-interiornya pun terlihat begitu klasik seperti yang ada di museum-museum Kota Tua Jakarta, contohnya saja kursi-kursi dan meja-meja untuk para pengunjung yang terbuat dari kayu berwarna cokelat kehitam-hitaman, entah kayu jenis apa, kemudian pintu yang agak tinggi, dan di meja kasir ada mesin antik yang dipergunakan untuk menyimpan uang. Di sisi kiri dan kanan terpajang etalase-etalase yang di dalamnya terdapat roti-roti yang baru saja diangkat dari oven, masih terasa hangat. Begitu pun pelayan kedai kopi tersebut, tidak ada yang muda, semua terlihat tua rata-rata berumur di atas 35 tahun. Aku pun jadi merasa tidak enak karena telah menyuruh orang yang sudah tua untuk menyediakan pesananku.

Setelah memilih tempat duduk untuk kami berdua, Zahra kemudian bercerita sambil kedua matanya menatap ke arah langit-langit kalau dia sering sekali makan roti dan minum secangkir cappucino di sini saat dia dan keduaorangtuanya berkunjung ke Jakarta, ke rumah saudaranya yang terletak di Pondok Indah di mana Zahra tinggal saat ini. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat kuno ini dan hobinya minum cappucino. Ternyata, alasan mengapa dirinya sangat menyukai cappucino adalah karena setiap dia meminumnya, hatinya jadi terasa tenang. Aku pernah mengatakan kalau minum kopi bisa membuat jantung jadi terasa deg-degan, tapi dia malah tertawa, lalu mengatakan, “Itu minum kopi atau diajak balikan sama mantan, sih? Kok jadi deg-degan gitu? Hehehe”.

Aku hanya bisa menatap wajahnya yang begitu putih dan bersih, mendengarkannya dengan setia karena ia bercerita sangat antusias tentang apa yang pernah ia lakukan di sini.

“Aku rasa hampir semua orang menyukai cappucino, iya kan?” dia bertanya sambil kedua matanya menatap ke arah wajahku. Sialnya, aku ketahuan tidak fokus karena menatap kosong wajahnya yang begitu cantik. Aku pun segera memalingkan mataku dan menyibukkan diri dengan mengambil roti tawar yang ada di depanku dan menyelupkannya ke dalam secangkir cappucino.

“Iya, termasuk kamu yang seperti kakek-kakek, makan roti aja sambil dicelupin ke kopi. Hehehe,” protesnya sambil tersenyum kecil melihat apa yang baru saja aku lakukan.

“Yeee, kamu belum pernah coba ya? Ini enak tau,” aku langsung menyodorkan roti yang baru saja aku celupkan ke dalam cappucino sebagai usaha untuk menutupi salah tingkahku barusan. Zahra lalu mengambilnya, kemudian mengunyahnya secara sedikit demi sedikit. Setelah mencobanya, dia kembali tersenyum kepadaku. Nampaknya dia merasa setuju dengan kombinasi antara roti dan cappucino yang aku tawarkan barusan.

“Tuh, kan. Benar apa yang baru aja aku bilang... rasanya pasti enak. Berarti kamu sekarang seperti kakek-kakek juga, dong? Hahaha,” aku tertawa puas. Seketika Zahra mencubit pipiku, kali ini pipi bagian kiri. Kami pun kembali bercanda dan tertawa.

Mungkin bagi para pengunjung di kedai ini yang sedang melihat aku dan Zahra, mereka berpikir kalau kami adalah sepasang kekasih yang romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi apa yang mereka pikirkan benar-benar salah besar. Kami bukanlah sepasang kekasih, lebih jelasnya dia sudah mempunyai seorang pacar. Lebih jelasnya lagi, dia sedang menjalani hubungan spesial dengan Andika. Mengenai hubungan mereka berdua, aku tak banyak tahu karena dia sangat jarang sekali bercerita tentang pacarnya itu. Setahuku mereka sudah menjalin pertemanan sejak kelas satu SMA, kemudian mereka memutuskan untuk berpacaran. Andika adalah pria ganteng, pintar, dan terlihat kalem, bisa dibilang Andika adalah Zahra versi pria. Ya, hanya segitu yang aku tahu tentang dirinya.

“Udah hampir jam tiga sore nih, pulang yuk, Gung. Tadi pas di kampus kan kamu bilang kalau sore ini kamu ada janji untuk main futsal bareng teman-teman sekelas kamu,” ajak Zahra kepadaku sekaligus mengingatkan.

“Ohh iya, aku hampir aja lupa. Makasih ya udah ngingetin aku. Ayuuuk!” jawabku sambil berdiri dari kursi yang sudah satu setengah jam aku duduki, kemudian berjalan di samping Zahra meninggalkan kedai ini.


(3 tahun lalu di kedai kopi yang sama)

Zahra sedang tersenyum senang penuh arti dan ia terlihat lebih cantik dari biasanya dengan memakai dress berwarna merah muda dan memakai hijab dengan warna yang sama, tapi kali ini ia nampak membawa sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

Surpriseee!!! Selamat ulangtahun, yaa!!!” Zahra menunjukkan sesuatu itu dari balik punggungnya. Aku speechless, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut. Ternyata Zahra memberiku sebuah kejutan!

Malam itu di hari ketujuh belas di bulan Oktober, Zahra membuatkanku sebuah kue ulangtahun dengan motif bola dan didominasi oleh warna merah, seperti warna klub sepakbola favoritku, Manchester United, lengkap dengan tulisan “Happy Birthday, Agung. Glory-Glory Manchester United!” di atas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin menarik dan tak lupa ada sepasang lilin yang membentuk angka dua-puluh-satu.

“Kalau begitu, ayo cepat ditiup lilinnya. Jangan lupa berdoa dan make a wish-nya, ya!” kata Zahra sambil memasang senyumnya yang indah itu kepadaku.

Aku segera meniup sepasang lilin itu, kemudian memejamkan mata dan dalam tiga detik kemudian membuat sebuah permohonan. Kami hanya berdua saja merayakan ulangtahunku dan menikmati kue tart yang Zahra buat dan tentu saja cappucino yang kami pesan di kedai kopi yang sudah menjadi langganan kami itu.

“Yola belum menelepon kamu juga?” Zahra tiba-tiba bertanya dengan nada yang agak pelan.

Yola? Ahh, mengapa di saat situasi yang sedang membahagiakan seperti ini Zahra masih sempat-sempatnya menanyakan tentang Yola? Aku pun hanya menggelengkan kepala.

Sekilas info, Yola adalah pacarku. Tepatnya dua minggu yang lalu. Jadi sekarang aku dan dia sudah menjadi mantan pacar. Yola dan aku hanya bertahan pacaran selama empat bulan saja. Penyebabnya adalah karena kami menjalaninya secara LDR, kepanjangan dari Long Desperate Relationship, atau singkatnya adalah pacaran jarak jauh. Karena komunikasi kami semakin hari semakin tak lancar, menyebabkan kami menjadi sering salah paham. Apalagi ditambah dengan sikap Yola yang mudah ngambek tak jelas, menyebabkan hubungan kami semakin di ambang kehancuran. Kami pun merasa percuma saja untuk meneruskan hubungan spesial ini, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dan hanya menjadi teman biasa.

“Umm... maaf ya aku udah bertanya seperti itu. Mungkin dia sedang sibuk,” ucapnya sambil berusaha untuk menghiburku.

Lagipula, Yola tidak meneleponku pun tak akan menjadi masalah besar bagiku, gumamku dalam hati. Aku terdiam dan melanjutkan makan kue yang baru ku makan setengah di piringku.

“Tapi yang penting...,” kata Zahra tiba-tiba. Ada hening sejenak. Aku menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkannya.

“Ibu dan ayahmu sudah meneleponmu untuk mengucapkan selamat ulangtahun,” lanjutnya sambil tersenyum.

Aku langsung menatap dalam-dalam matanya, kemudian membalas senyuman yang telah dia berikan, “Yap, benar banget apa katamu. Itu yang paling penting,” jawabku kepadanya. Kehadiranmu di sini pun juga sangat penting, Nona Cappucino, lanjutku dalam hati.

Zahra merupakan wanita yang selalu peduli dan selalu berusaha ada di saat aku membutuhkannya. Seorang sahabat yang selalu menghiburku di saat aku sedang murung dan memberikan sebuah kejutan yang baru pertama kali aku rasakan seperti saat ini. Sejenak aku berpikir, aku bersyukur karena ternyata ada orang lain di luar anggota keluargaku yang sudah membuatkan perayaan ulangtahun seperti ini khusus hanya untuk diriku, dan seorang sahabat seperti Zahra-lah yang telah melakukannya. Sahabat? Lalu aku bertanya-tanya, bagaimana dengan Andika? Apakah dia juga sama memperlakukannya seperti yang ia lakukan kepada diriku?

Pertanyaan-pertanyaan aneh pun tiba-tiba muncul dari dalam pikiranku. Mengapa aku jadi ingin tahu segala hal tentang bagaimana Zahra memperlakukan Andika? Bukannya sejak pertama kali aku mengenalnya, aku memang sudah tidak peduli dengan hubungan spesial yang sedang dijalaninya?

“Hey, barusan kamu make a wish apa, Gung?” pertanyaan Zahra seketika menyadarkanku dari lamunan yang baru saja aku alami.

“Umm... rahasia dong!” aku menjawabnya secara tiba-tiba sambil memasang ekspresi jahil.

“Huuu... dasar Agung pelit!” Zahra langsung pura-pura ngambek. Terlihat sekali dari ekspresinya yang kurang bisa berakting.

“Ohh iya, Nona Cappucino. Terimakasih banget ya udah membuat perayaan ulangtahunku malam ini jadi begitu indah. Kamu memang yang terbaik,” kataku kepadanya. Aku memang merasa sangat bahagia malam ini. Aku juga merasa telah menjadi manusia paling beruntung karena sudah mengenal sesosok wanita seperti Zahra.

“Iya, sama-sama, Gung,” jawabnya sambil membalas senyumku.

Malam itu di sebuah kedai kopi bernuansa klasik dan di umurku yang sudah bertambah, aku menyadari seorang wanita yang sedang duduk di hadapanku seperti secangkir cappucino yang di atasnya terbalut busa-busa susu yang begitu lembut seperti sikapnya selama ini dan rasanya manis seperti senyuman yang sering terpancar dari wajahnya. Dia yang sudah memberikan banyak arti dalam kehidupanku, yang tak bisa kuuraikan seperti senyawa kimia, dan dihitung dengan rumus fisika. Aku yakin kalau arti yang telah dia berikan kepadaku ini akan selalu ada dan terus berdetak, tak jarang membuat dada ini jadi terasa sesak.

***

Sekumpulan awan berwarna gelap sedang menampakkan dirinya, menumpahkan tetes-tetes air yang begitu cepat turun ke bumi, menandakan begitu besarnya rindu yang dirasakan langit terhadap bumi. Air yang jatuh dari langit itu pun segera menempel bersama debu-debu yang ada di jalanan, ikut hanyut terbawa olehnya menghasilkan sebuah aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru saja aku pesan sore itu. Kedai itu sama sekali tak berubah, semua interiornya masih tetap kuno, begitu juga pelayan-pelayannya.

Tak terasa sudah tiga jam yang lalu, aku dan Zahra duduk bersama di kedai kopi ini (lagi). Wajahnya masih secerah dulu, memakai hijab dan dress yang matching. Nampaknya dia memang terlihat baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang menurutku berubah dari dirinya, senyumnya yang indah itu tak muncul lagi di hadapanku, sekarang dia bersikap dingin, sedingin air hujan yang sedang turun di luar sana.

“Kamu kenapa tiba-tiba menghilang begitu aja? Nggak ada kabar sama sekali,” Zahra bertanya serius kepadaku. Ekspresinya begitu dingin.

Sebagai pria, aku terlalu pengecut. Aku tak berani memandang wajahnya, hanya bisa menunduk dan diam. Sepertinya lidah ini menjadi kaku, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk memberikan alasan yang sebenarnya.

“Aku sedang sibuk, Ra,” aku menjawabnya dengan pelan. Iya, aku sedang berbohong kepadanya. “Maaf, Ra, aku memang salah. Aku menghilang begitu aja dan nggak ngasih kamu kabar,” ucapku sekali lagi. Mengambil nafas dalam-dalam dan berharap semua ini akan baik-baik saja.

Zahra langsung menyandarkan punggungnya ke kursi setelah mendengar kata “maaf” dariku, sepertinya dia masih tak percaya dengan kata “maaf” yang baru saja kukatakan. Seorang sahabat yang sudah hampir dua tahun menghilang seperti ditelan bumi dan hanya berpamitan lewat SMS. Iya aku tahu, pasti dia sangat marah kepadaku.

Semenjak perasaan ini muncul dan telah menguasai hati dan pikiranku, hubungan persahabatan yang aku jalani dengan Zahra jadi terasa begitu datar, tak ada lagi keseruan yang aku rasakan, lebih tepatnya hanya aku yang merasakannya. Aku tak sanggup lagi untuk menahan rasa kepura-puraanku terhadap sikap baik dan menyenangkan yang selalu dia berikan kepadaku. Karena dengan sikapnya yang seperti itu, sesuatu yang bernama “perasaan” ini seperti diberi makan, dan akan terus tumbuh. Walaupun aku sudah mencoba semampuku untuk membuatnya hilang, tapi tak tahu kenapa perasaan ini malah semakin tumbuh tinggi dan tak terkendali dan bisa-bisa akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Jadi setelah aku lulus S1 dan mendapatkan tawaran untuk mengajar di sebuah sekolah menengah atas yang berada di kota Malang pada saat itu, aku pun langsung menyetujuinya.

“Tapi kamu baik-baik aja, kan?” tanyanya dengan tenang.

Aku mengangguk, lalu menatap matanya dalam-dalam. Jika saja aku tak berpura-pura sok jantan di hadapannya, air mata yang aku tahan ini pun pasti akan jatuh. Ya, aku tak boleh menunjukkan ekspresi kesedihanku, apalagi sampai menangis. Ini hanya akan membuat keadaan semakin cemas.

Lidahku perlahan kembali bisa digerakkan, aku mencoba untuk berkata-kata, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk lagi. Kembali menunduk. Aku tahu perasaan Zahra saat ini, pasti sedang campur-aduk antara kesal dan cemas. Ya selama aku mengenalnya, dia selalu bersikap baik dan bisa memaafkanku setiap kali aku melakukan hal-hal bodoh.

“Umm... La-lalu bagaimana dengan kabarmu saat ini, Ra?” tanyaku dengan gugup.

Zahra terdiam, tak menjawab sepatah katapun atas pertanyaanku barusan, kemudian dia menatapku dalam-dalam. Ya, aku sadar, mungkin dia masih merasa penasaran atas sikapku yang terlihat aneh dan membingungkan ini. Jelas sekali terlihat dari wajahnya, nampaknya ia ingin menumpahkan ratusan pertanyaan atas sikapku ini. Namun dia menyerah, dia kembali meyandarkan punggungnya ke kursi. Perlahan-lahan, suasana yang begitu dingin di antara kami pun mulai menjadi hangat, seperti cappucino di cangkir ini; masih begitu hangat.

***

Sama halnya dengan langit, aku merasakan kerinduan yang sama. Duduk berjam-jam di kursi kuno dan menumpahkan kerinduan kepada kedai yang sudah menjadi saksi bisu atas keberadaanku bersama Zahra selama ini. Iya, aku rindu dengannya dan secangkir cappucino yang selalu aku minum bersamanya. Aku merasa scene-scene masa lalu yang ada di bola mataku sudah habis untuk menampilkan kejadian ini. Pandanganku pun kembali fokus kepada sebuah benda yang tergeletak di atas meja, benda berbentuk kotak yang terbuat dari kertas. Bentuknya sedikit tebal, berwarna putih dan dilapisi warna emas di setiap sisinya. Iya, Zahra memberikan benda itu kepadaku tiga jam yang lalu.

Ahh, aku tak tahu sudah berapa kali aku memutar-mutar dan membolak-balik benda itu. Aku juga sudah tak peduli berapa kali hatiku merasa dibolak-balik karena melihat isinya. Sebagai sahabat yang sudah lama dikenal oleh Zahra, ini adalah kabar gembira untukku. Tapi sebagai seseorang yang sedang dilanda perasaan aneh dan serba salah karena dia, ini merupakan kabar menyedihkan untukku. Lalu harus kepada siapa lagi aku menempatkan diriku ini?

Butuh dua tahun akhirnya aku bisa membuat antara hati dan logika ini menjadi satu tujuan. Iya, dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mendapatkan sebuah jawaban. Di secangkir cappucino yang ketiga kalinya aku pesan, aku pun baru mendapatkan pemahaman bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Zahra kepadaku. Dia selalu ada untukku, menemaniku, peduli kepadaku, dan menyayangiku... sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu pengecut, tak berani mengambil tindakan dan resiko untuk menyatakan perasaanku yang sebenarnya, tapi malah pergi menghilang secara tiba-tiba dari hadapannya sehingga membuat hatinya terluka.

***

Air yang jatuh dari langit di luar sana perlahan mulai reda, sepertinya langit sudah puas menyatakan kerinduannya kepada bumi. Aku segera melangkahkan kakiku dari kursi kedai ini menuju meja kasir yang desainnya sangat antik. Pelayan tua itu lalu menatap dan tersenyum kepadaku, tak lupa mengucapkan terimakasih. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman seadanya. Iya, hati dan pikiranku masih terasa tak menentu.

Aku menuju pintu keluar kedai dengan langkah kaki yang tak bersemangat. Tujuanku selanjutnya adalah pergi menuju stasiun kereta api dan bersegera untuk meninggalkan kota metropolitan ini. Dan aku telah berjanji kalau empat belas hari kemudian aku akan datang menginjakkan kakiku lagi di kota ini, menjadi salah satu saksi hidup ucapan janji suci dan abadi sehidup-semati antara Zahra dan Andika. Aku pasti bisa menghadapi semua ini. Iya, lari dari kenyataan bukanlah jawaban yang tepat karena sejauh apapun kita pergi, itu tak akan bisa membantu kita untuk melupakan seseorang yang kita sayang. Satu-satunya yang bisa membantu adalah sikap untuk menerima kenyataan.

Tak apa aku melewati masa sulit ini, Ra. Dan biarkan waktu yang akan menjawabnya. Karena aku tahu, masa sulit ini hanya berlangsung sementara. Secangkir cappucino-lah yang akan membuat hati ini menjadi terasa tenang, bukan?

TAMAT

You Might Also Like

0 comments