Sebut Saja Dia Paijo

  • September 20, 2012
  • By Muhammad Agung Wicaksono
  • 0 Comments



Sudah sekitar dua minggu gue menjadi mahasiswa. Dari dua minggu itulah gue sudah lumayan banyak menemui kejadian-kejadian yang bisa dibilang “unik” di dalam kelas. Sebenarnya gue bisa mengalami kejadian seperti itu karena teman-teman gue yang kebanyakan punya sifat dan karakter yang beragam. Mulai dari salah satu teman gue (cowok) yang sebut saja bernama Edi. Dia suka dihubung-hubungkan oleh teman-teman gue di kelas sebagai jelmaan “Sasuke” (salah satu tokoh di animasi Naruto) karena model rambutnya itu yang dianggap agak mirip dengan karakter tersebut. Model rambutnya doang lho... Selain itu juga kebiasaan dia ketika di dalam kelas yang sering memainkan rambut dengan memutar-mutarkannya menggunakan jari, menjadi hiburan tersendiri bagi orang-orang yang melihatnya.

Tapi yang mau gue ceritakan kali ini bukanlah si Edi, tapi salah satu teman gue (cowok) juga yang bisa gue anggap “istimewa” daripada teman-teman gue lainnya di kelas. Bukan, dia sama sekali bukan salah satu penggila girlband Cherry Belle. Tapi gue bisa bilang dia “istimewa” karena sifat dan karakter yang dia punya.

Sebut saja namanya Mawar.. Ehh tunggu deh, dia kan cowok, masa dipanggil “Mawar”. Kesannya dia tuh kayak salah satu korban pelecehan seksual oleh Om-om hidung “Zebra”. Oke, gue ganti namanya jadi lebih keren. Panggil saja dia... Rez.. ah, iya... Paijo. Dia adalah cowok biasa yang mempunyai imajinasi luar biasa yang mulai semester satu ini menjadi teman kelas gue. Dia ini orang yang super-duper-hiper-aktif banget kalau urusan kuliah. Ya benar, dalam setiap mata kuliah, dia selalu menjadi mahasiswa yang menonjol. FYI, dia itu gak akan pernah melewatkan pertanyaan dari dosen begitu saja. Setiap kali dosen mengajar dan memberikan pertanyaan di kelas, si Paijo gak akan pernah absen untuk mengangkat tangannya dan menjawab pertanyaan itu dengan panjang lebar! Bisa dibilang, otaknya encer banget. Saking encernya, terkadang sampai keluar cairan dari hidungnya.

Kejadiannya ketika gue masuk kelas untuk pertama kalinya di kampus. Sewaktu ditanya siapa yang mau menjabat sebagai ketua kelas oleh salah satu teman gue, tiba-tiba Paijo yang datang sedikit telat siap sedia untuk menjabat jabatan tersebut. Karena pada saat itu hanya Paijo saja yang siap sedia, akhirnya mau gak mau gue bersama teman-teman di kelas sejak saat itu harus menerima dia sebagai ketua kelas.

Hal yang gak biasa akhirnya dimulai ketika Paijo menyebut dirinya sebagai Presiden dan menyusun program kerja yang begitu rumitnya untuk ukuran mahasiswa saat sehari setelah dia menjabat. Selain itu, dia memilih beberapa teman di kelas termasuk gue juga menjadi menteri di kabinetnya. Gue benar-benar merasa awkward pada saat itu karena ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan. Gue mulai bingung dengan semua ini, dan akhirnya gue memutuskan untuk bertanya ke dia tentang tugas yang harus gue lakukan sebagai Menteri Pertahanan.

“Jo, Menteri Pertahanan tugasnya ngapain aja sih di kelas?”

“Biasa, Gung. Seperti tugas-tugas Menteri Pertahanan lainnya, yaitu menjaga keamanan supaya kondisi dan situasi di kelas ini menjadi aman dan tenteram, tanpa adanya kerusuhan.”

“Ohh gitu.” (Dalam hati: “HAH? SUMPEH LO?!”)

Kebiasaan Paijo yang paling kurang disukai oleh gue dan teman sekelas adalah sifatnya yang “kaku” dan idealis. Sifatnya tersebut terlihat ketika beberapa hari menjabat sebagai ketua kelas. Jadi, kita harus selalu menuruti apa yang setiap dia katakan. Walaupun gue tahu bahwa apa yang dia katakan itu memang untuk kebaikkan, tapi caranya itu yang gue kurang suka. Akhirnya, teman-teman sekelas pun mulai kurang suka juga terhadapnya.

Si Paijo ini jadi kurang didekati oleh teman-teman di kelas sejak sifat “kaku”-nya itu muncul. Dari sedikit orang yang mau mendekatinya untuk berteman di kelas, gue termasuk di dalamnya. Gue termasuk tipe orang yang gak tegaan. Gue gak bisa ngejauhin orang karena alasan-alasan kecil. Bagi gue, banyak teman artinya banyak pengalaman. Salah satunya pengalaman absurd yang gue alami dengan Paijo sekitar dua minggu yang lalu. Jadi, ketika itu gue, Paijo, dan satu teman sekelas lain yang bernama Aliza memutuskan untuk makan siang. Dan akhirnya, kami memutuskan untuk makan siang di kafe kampus. Gue yang saat itu memesan ayam goreng dan sepiring nasi harus menunggu makanan tersebut lumayan lama supaya sampai ke meja. Paijo yang memesan nasi goreng ternyata lebih cepat diantar ke meja daripada pesanan gue, sedangkan waktu itu si Aliza cuma memesan segelas jus alpukat.

Akhirnya setelah cukup lama menunggu, pesanan gue datang. Ketika beberapa suap gue makan, gue melihat nasi goreng milik Paijo ternyata sudah habis gak tersisa. Mungkin kalau pada saat itu dia boleh memakan piring dan sendoknya, dia juga pasti nggak akan menolak untuk menghabiskannya. Ya kaliii...

Perut gue sudah mulai terasa kenyang, dan gue memilih untuk gak melanjutkan makan. Padahal saat itu, sisa daging ayam goreng punya gue masih lumayan banyak. Karena mbak-mbak penjaga kafe sudah mau mengambil piring punya gue dan Paijo, gue pun segera menyerahkannya. Tapi ketika gue ingin memberikan piring gue itu ke si mbak, tiba-tiba ada tangan yang bergerak cepat menyambar sisa daging ayam goreng punya gue yang ada di atas piring. Ya benar, ternyata tangan itu adalah milik... Paijo. Gue dan Aliza hanya bisa diam membisu melihat apa yang barusan Paijo lakukan. Kemudian, kami pun melihat Paijo memakan sisa daging ayam goreng tersebut dengan brutal tanpa rasa malu. Kalau saja saat itu mbak-mbak kafe menanyakan siapa Paijo, gue pun siap menjawab,

“Maaf mbak, saya gak kenal dia. Mungkin dia salah satu makhluk dari planet lain yang terdampar di bumi”.

Ya guys, gue dan Aliza merasa awkward moment banget pada saat itu. Gue gak nyangka bahwa Paijo bisa se-“liar” itu di tempat umum. Seenggaknya kalau dia mau mengambil sisa daging ayam punya gue, minta izin-lah ya. Gak langsung menyambar begitu saja. Tapi seketika itu gue sadar bahwa apa yang Paijo lakukan itu memang sebenarnya baik. Mungkin dia berpikir masih banyak orang di luar sana yang kelaparan, ingin makan saja susah, tapi kenapa ketika di depan dia ada makanan yang begitu enaknya, malah disia-siakan. Sungguh mulia sekali hati Paijo, tapi tetap saja... gak kayak gitu juga kaliii.

Kejadian itu pun sampai saat ini masih gue rahasiakan sebagai privasi. Gue akan merasa gak enak jika semua teman di kelas mengetahui kejadian tersebut. Akhirnya, gue dan Aliza pun gak menceritakan kejadian absurd itu ke teman-teman.

***

Paijo yang sudah beberapa hari menjabat sebagai ketua kelas, semakin hari bukannya semakin dihormati oleh teman-teman malah semakin hari semakin kurang disukai. Sifat idealis yang dia punya memang semakin menjadi-jadi. Dia lebih suka menyelesaikan masalah kecil dengan marah-marah gak jelas, padahal menurut gue masalah tersebut bisa diselesaikan secara lebih mahasiswawi.

Karena teman-teman di kelas sudah nggak tahan dengan kepemimpinan Paijo, kami pun mengatakan langsung ke dia bahwa kepemimpinannya masih “kaku” seperti itu, maka dia harus siap untuk dilengserkan dari jabatannya. Tapi ternyata setelah beberapa hari, dia masih tetap berperilaku seperti itu juga. Maka, seperti apa yang sudah dijanjikan, mau gak mau dia harus turun dari jabatannya sebagai ketua kelas. Posisi ketua kelas akhirnya digantikan oleh salah satu teman gue yang bernama... Fadli. Dan alhamdulillah, akhirnya kelas kami menjadi seperti kelas mahasiswa-mahasiswa lainnya yang penuh dengan keceriaan. Terimakasih klinik Tong Fang~

***

Oke, segitu dulu yang bisa gue ceritakan kali ini. Gue nulis post kali ini juga bukan untuk menyudutkan si Paijo dalam pergaulan di kelas, tapi gue cuma mau kalian mengambil hikmah pada kejadian yang gue ceritakan di atas. Jadi, walaupun kita mempunyai otak pintar, jangan sampai kepintaran yang kita miliki itu malah membuat kita dijauhi oleh teman-teman sekitar. Pintar itu perlu, tapi alangkah lebih baik kalau kepintaran yang kita miliki bisa ditularkan ke orang lain.

You Might Also Like

0 comments